Kepercayaan Terhadap Benda-Benda Keramat

Kepercayaan terhadap Benda-Benda Keramat

Salah satu penyebab menyebarnya fenomena kemusyrikan seperti sekarang ini adalah adanya keyakinan masyarakat kita bahwa ada benda mati yang memiliki “kesaktian” atau “kekuatan ghaib” tertentu. Padahal, keyakinan seperti ini adalah keyakinan orang-orang bodoh pada masa jahiliyyah berabad-abad yang lampau. Namun, keyakinan seperti ini ternyata masih terpelihara dalam diri sebagian kaum muslimin. Bagaikan suatu penyakit kronis yang menggerogoti aqidah mereka yang sewaktu-waktu bisa menjadi “serangan akut” (kambuh lagi secara tiba-tiba). Tulisan ini kami maksudkan untuk menjelaskan bahwa keyakinan tersebut adalah keyakinan yang batil dan harus ditinggalkan. [1]

Percaya pada Benda Keramat Merupakan Karakteristik Jahiliyyah
Kalau kita mau merenung sejenak, salah satu akar permasalahan dari berbagai fenomena kemusyrikan di sekeliling kita adalah adanya kepercayaan sebagian kaum muslimin terhadap benda-benda mati. Mereka menganggap bahwa benda mati tertentu memiliki kekuatan, kesaktian, atau keistimewaan yang sangat dahsyat, sehingga bisa dijadikan sebagai jimat, senjata, obat, atau yang lainnya. Padahal, kepercayaan seperti ini hanyalah bersumber dari khurafat dan khayalan semata.

Keyakinan seperti ini masih mendarah daging dalam sebagian kaum muslimin di negeri kita ini. Tentu kita tidak asing lagi dengan sebutan “batu akik”, yang menurut sebagian orang memiliki kekuatan ghaib atau kekuatan supranatural tertentu sehingga bisa dipakai sebagai jimat atau senjata kesaktian. Atau keyakinan sebagian orang bahwa pusaka peninggalan kerajaan seperti keris, tombak, atau kereta raja memiliki kekuatan mistis tertentu. Bahkan ada yang rela mengeluarkan hartanya untuk mengoleksi benda-benda keramat tersebut untuk berbagai tujuan yang mereka inginkan.

Sekelompok masyarakat yang lain, apabila mereka melihat sebuah pohon yang besar, rindang, umurnya ratusan tahun, akar-akarnya besar, mereka pun mengeramatkannya, dan meyakini bahwa pohon tersebut dapat mendatangkan berkah. Sehingga janganlah kita heran kalau mereka pun kemudian mempersembahkan berbagai sembelihan yang diletakkan di bawah pohon tersebut.

Kepercayaan inilah yang merupakan salah satu ciri khas atau karakteristik masyarakat musyrik jahiliyyah sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka biasa menggantungkan harapan dan hidup mereka kepada benda-benda mati tertentu yang menurut mereka dapat mendatangkan manfaat dan menolak marabahaya. Keyakinan seperti itu pada akhirnya membawa mereka kepada penyembahan kepada benda-benda mati tersebut, sebagaimana yang nanti akan kami bahas di bagian ke dua.

Namun, kepercayaan khurafat seperti ini telah dihapus dengan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika beliau berkhutbah pada Haji Wada’,

أَلاَ كُلُّ شَىْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَىَّ مَوْضُوعٌ

Ketahuilah, seluruh perkara jahiliyyah terkubur di bawah kedua telapak kakiku.” [2]

An-Nawawi rahimahullah berkata,“Adapun perkatan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,’(Terkubur) di bawah kedua telapak kakiku’, (hal ini) merupakan isyarat akan terhapusnya perkara tersebut.” [3]

Demikianlah, karakteristik jahiliyyah tersebut telah dihapus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diganti dengan ajaran beliau yang berporos pada ajaran tauhid. Yaitu beribadah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah Ta’ala saja, hanya meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah Ta’ala saja, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

Jika Engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika Engkau memohon pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.” [4]

Oleh karena itu, yang pertama kali dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kembali lagi ke kota Mekah adalah menghancurkan bentuk-bentuk kemusyrikan yang merupakan karakteristik masyarakat jahiliyyah dan menghancurkan simbol-simbol penyembahan kepada selain Allah Ta’ala. Hal ini bisa dilihat dari tindakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat memasuki kota Mekah, beliau bergegas menuju Ka’bah dan menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka’bah yang berjumlah sekitar 360 berhala dengan sebilah kayu di tangan beliau. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

دَخَلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مَكَّةَ وَحَوْلَ الْبَيْتِ سِتُّونَ وَثَلاَثُمِائَةِ نُصُبٍ فَجَعَلَ يَطْعُنُهَا بِعُودٍ فِى يَدِهِ وَيَقُولُ ( جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا ) ( جَاءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ )

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki kota Mekah dan di sekitar Ka’bah terdapat tiga ratus enam puluh buah patung. Maka beliau menusuk patung-patung itu dengan sebilah kayu yang ada di tangannya sambil mengatakan, “Dan katakanlah, ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap’. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isra’ [17]: 81) “Katakanlah, ’Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi’” (QS. Saba’ [34]: 49).” [5]

Kebenaran ajaran tauhid inilah yang kemudian ditanamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya selama bertahun-tahun beliau berdakwah. Oleh karena itulah, ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup bersama para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum dan menjumpai berbagai benda “aneh bin ajaib” baik yang berwujud batu, pohon, atau benda-benda mati lainnya, mereka sama sekali tidak pernah mengeramatkannya, menganggapnya memiliki kekuatan supranatural, mempunyai kesaktian, atau anggapan-anggapan khayalan lainnya. Tidak ada di antara para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang kemudian mencari, menyimpan, mengeramatkan, mengoleksi, atau bahkan menggunakannya sebagai jimat atau benda sakti, atau memujanya sebagai tempat meminta pertolongan agar sembuh dari penyakit.


Berikut ini sebagian dari benda-benda ajaib yang ada di zaman rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau masih hidup.

Batu di Mekah dan Batang Kurma yang Bisa Berbicara

Terdapat sebuah batu di Mekah yang bisa berbicara, dengan memberikan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum beliau diangkat menjadi Rasul. Beliau masih mengetahui keberadaan batu tersebut ketika beliau sudah diangkat menjadi Rasul, namun beliau dan para sahabat yang mengetahuinya tidak pernah berburu mencari batu tersebut, membawanya pulang, dan digunakan sebagai jimat. Jabir bin Samrah radhiyallahu ‘anhu menceritakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّى لأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَىَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ إِنِّى لأَعْرِفُهُ الآنَ

Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang memberi salam kepadaku, sebelum aku diangkat menjadi Nabi. Sesungguhnya aku masih mengetahuinya sampai sekarang.” [6]

Al-Manawi rahimahullah mengatakan,”Ucapan salam ini adalah ucapan salam yang hakiki (bukan kiasan, pent.). Allah Ta’ala membuatnya bisa berbicara sebagaimana Allah juga membuat batang kurma yang bisa bicara.” [7]

Syaikh Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan sabda Rasulullah ‘memberi salam kepadaku’ dengan mengatakan, ”Maksudnya, mengucapkan,’Assalaamu ‘alaika, Ya Rasulullah’ sebagaimana yang terdapat dalam sebuah riwayat.” [8]

Lihatlah “kehebatan” yang Allah Ta’ala berikan kepada batu ajaib tersebut, sehingga dia bisa berbicara mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, apakah dengan kemampuannya itu lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai batu keramat? Apakah para sahabat radhiyallahu ‘anhum kemudian berebut mencari keberadaan batu tersebut untuk memperoleh kesaktian?

Kisah batang kurma yang bisa bicara sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Manawi rahimahullah tersebut di atas diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ يَسْتَنِدُ إِلَى جِذْعِ نَخْلَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ فَلَمَّا صُنِعَ الْمِنْبَرُ وَاسْتَوَى عَلَيْهِ اضْطَرَبَتْ تِلْكَ السَّارِيَةُ كَحَنِينِ النَّاقَةِ حَتَّى سَمِعَهَا أَهْلُ الْمَسْجِدِ حَتَّى نَزَلَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاعْتَنَقَهَا فَسَكَتَتْ

Dulu jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah, beliau bersandar pada batang kurma di salah satu tiang masjid. Ketika mimbar selesai dibuat, dan beliau berdiri di atasnya, tiang tersebut menangis bagaikan tangisan seekor unta. Orang-orang yang berada di masjid mendengarnya, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turun mendatangi tiang itu, memeluknya, barulah dia diam.” [9]

Rasulullah mengusap batang kurma tersebut bukan untuk mencari berkah, namun beliau mengusapnya untuk membuat batang kurma itu diam. Hal ini juga menunjukkan bahwa Rasulullah tidak menganggap “batang kurma ajaib” tersebut memiliki kekuatan tertentu. Demikian pula, para sahabat tidak ada satu pun yang mengeramatkan “batang kurma ajaib” itu.

Hajar Aswad

Lalu, ada batu lagi yang seluruh umat Islam sepakat bahwa batu ini adalah batu yang paling mulia, yaitu Hajar Aswad. Jutaan jamaah haji berebut untuk dapat menciumnya pada saat menunaikan ibadah haji sebagai bentuk sikap mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menjelaskan keistimewaan batu tersebut,

نَزَلَ الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِى آدَمَ

Hajar aswad turun dari surga dalam kondisi yang jauh lebih putih dari susu, namun dosa-dosa manusia membuatnya menjadi hitam.“ [10]

Dalam riwayat yang lain disebutkan,

الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ مِنْ الْجَنَّةِ

Hajar aswad itu berasal dari surga.” [11]

Inilah keistimewaan hajar aswad, yaitu batu yang berasal dari surga. Namun, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum menganggap batu ini sebagai batu sakti? Tidak ada satu pun yang mempunyai anggapan –apalagi keyakinan- demikian. Batu itu tetaplah batu biasa, yang tidak bisa berbuat apa-apa, baik mendatangkan manfaat atau menolak bahaya.

Oleh karena itulah, salah seorang sahabat yang mulia, yaitu Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, berkata ketika mencium hajar aswad tersebut di hadapan kaum muslimin,

إِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ ، وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

Sesungguhnya aku mengetahui bahwa kamu itu hanyalah batu (biasa) yang tidak bisa mencelakakan dan tidak bisa pula memberikan manfaat. Seandainya aku tidak melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, tentu aku tidak akan menciummu”. [12]

Ath-Thabari rahimahullah berkata,“Umar mengatakan yang demikian itu hanyalah karena keadaan masyarakat saat itu yang baru saja (meninggalkan) peribadatan kepada berhala. Umar khawatir kalau orang yang masih bodoh menyangka bahwa menyentuh batu (hajar aswad) termasuk dari sikap pengagungan terhadap batu, sebagaimana yang terjadi pada bangsa Arab pada masa jahiliyyah. Umar bermaksud mengajarkan kepada masyarakat bahwa menyentuh hajar aswad adalah karena (semata-mata) mengikuti perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan karena batu itu dapat memberikan manfaat dan mencelakakan (menimpakan bahaya) dengan sendirinya sebagaimana kepercayaan orang jahiliyyah terhadap patung-patung.” [13]

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata ketika menjelaskan kandungan pelajaran dari perkataan Umar radhiyallahu ‘anhu di atas, “Perkataan Umar tersebut mengandung bantahan terhadap apa yang terjadi pada orang-orang bodoh yang meyakini bahwa hajar aswad mempunyai keistimewaan tertentu pada dzat-nya.” [14]

Demikianlah sikap yang seharusnya ketika kita mencium hajar aswad. Apa yang kita lakukan itu hendaklah semata-mata karena dilandasi keinginan untuk mencontoh perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan karena kepercayaan atau keyakinan “aneh-aneh” bahwa hajar aswad itu mampu mendatangkan berkah, sebagai penyembuh penyakit, mampu mendatangkan rizki, melancarkan usaha, dan kepercayaan-kepercayaan khurafat lainnya. Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengatakan bahwa hajar aswad itu dapat mendatangkan berkah, dapat digunakan untuk obat, atau dapat melancarkan usaha sehingga mendapatkan keuntungan yang banyak.

Batu Khandak

Salah satu batu ajaib yang terdapat pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah batu Khandak, yaitu batu bersinar yang ditemukan para sahabat ketika sedang menggali parit untuk menghadapi perang Khandak. Dari ‘Amr bin Auf Al-Muzanni, beliau menceritakan,

“Rasulullah membuat garis untuk kami pada waktu (perang) Ahzab untuk dibuat khandak (parit yang dalam). Lalu kami menemukan di dalam parit tersebut sebuah batu putih berbentuk bulat. Batu tersebut membuat alat-alat kami rusak dan merepotkan kami. Kami pun mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Rasulullah pun mengambil linggis dari Salman Al-Farisi dan beliau memukul batu tersebut dengan sekali pukulan. Batu itu pun terbelah dan memancarkan cahaya yang menerangi segala penjuru kota Madinah, bagaikan sinar lampu (yang menerangi) malam hari yang gelap gulita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertakbir dan (diikuti pula) oleh seluruh kaum muslimin.

Rasulullah memukul lagi batu tersebut untuk ke dua kalinya, batu itu terbelah dan memancarkan cahaya yang menyinari kota Madinah. Rasulullah pun bertakbir dan (diikuti pula) oleh seluruh kaum muslimin. Rasulullah memukul lagi batu tersebut untuk yang ke tiga kalinya, batu itu terbelah dan memancarkan cahaya yang menyinari kota Madinah. Rasulullah pun bertakbir dan (diikuti pula) oleh seluruh kaum muslimin.

Maka kami (para sahabat) pun bertanya tentang hal itu. Rasulullah pun berkata,’Ditampakkan untukku (pada pukulan) yang pertama, istana Hirah (nama daerah jajahan Persia, pent.) dan kota Madain yang dikuasai oleh Kisra (gelar bagi raja-raja Persia, pent.), bagaikan gigi-gigi taring anjing. Jibril pun memberitahuku bahwa umatku akan menguasainya. Kemudian ditampakkan kepadaku (pada pukulan) yang ke dua, istana-istana merah dari bangsa Romawi, bagaikan gigi-gigi taring anjing. Jibril pun memberitahuku bahwa umatku akan menguasainya. Kemudian ditampakkan kepadaku (pada pukulan) yang ke tiga, istana-istana Shan’a (kota di Yaman), bagaikan gigi-gigi taring anjing. Jibril pun memberitahuku bahwa umatku akan menguasainya.’

Nabi bersabda, ‘Bergembiralah kalian dengan datangnya pertolongan Allah.’ Para sahabat pun merasa gembira dengan (datangnya) pertolongan, sehingga kaum muslimin pun menjadi optimis. Mereka berkata,’Segala puji bagi Allah, yang menepati janjinya. Allah menjanjikan kepada kita (dengan datangnya) pertolongan setelah pengepungan. Setelah itu, muncullah pasukan Ahzab. Kaum muslimin berkata,

“‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita’. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab [33]: 22)

Adapun orang-orang munafik, mereka berkata,’Tidakkah kalian heran? Dia (Muhammad) bercerita kepada kalian, menjanjikan, dan memberikan angan-angan kosong kepada kalian. Dia mengabarkan bahwasannya dia melihat dari kota Yatsrib (baca: Madinah) istana Hirah dan kota Madain Kisra, dan bahwa semua itu akan kalian kuasai. Padahal kalian sedang menggali parit dan kalian tidak mampu berhadapan dengan musuh secara langsung. Maka turunlah firman Allah Ta’ala dalam rangka membantah mereka,

Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.’” (QS. Al-Ahzab [33]: 12)” [15]

Lihatlah, betapa ajaibnya batu Khandak tersebut. Namun, apakah ada di antara para sahabat radhiyallahu ‘anhum atau bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang kemudian membawa pulang batu tersebut, menyimpannya, dan menjadikannya sebagai sumber kesaktian untuk mengalahkan musuh-musuhnya? Padahal saat itu mereka sedang merancang strategi dan membuat pertahanan untuk menghadapi perang Ahzab. Kalau mereka memiliki anggapan bahwa batu itu memiliki kesaktian, tentu mereka akan segera menggunakannya sebagai senjata melawan musuh-musuhnya. Namun, apakah kita mau mengambil pelajaran dari kisah batu Khandak ini?

Inilah beberapa kisah tentang “benda-benda ajaib” di masa Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak memiliki keyakinan yang aneh-aneh tentang benda-benda mati tersebut. Benda-benda itu hanyalah benda mati biasa yang tidak memiliki kekuatan apa-apa, tidak bisa mendatangkan manfaat dan tidak bisa pula menghilangkan bahaya.

Sesembahan kaum musyrikin jahiliyyah yang tidak lain hanyalah bersumber dari keyakinan mereka terhadap benda-benda mati.

Dampak dari kepercayaan dan keyakinan terhadap benda-benda mati, seperti yang terjadi pada sebagian kaum muslimin, tentu saja adalah kemusyrikan (syirik akbar). Dan inilah yang terjadi pada masyarakat jahiliyyah dahulu sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan tersebut sangat berbahaya karena dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam syirik akbar. Berikut ini adalah contoh-contoh sesembahan kaum musyrikin jahiliyyah yang tidak lain hanyalah bersumber dari keyakinan mereka terhadap benda-benda mati tersebut.

1. Pohon Dzatu Anwath

Diriwayatkan dari Abu Waqid Al Laitsi radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Hunain. Kami adalah orang-orang yang baru saja masuk Islam. Ketika itu, orang-orang musyrik memiliki pohon yang digunakan untuk bersemedi dan menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu dinamakan dengan ‘dzatu anwath’. Ketika kami melewati pohon yang sejenis, kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, buatkanlah dzatu anwath untuk kami seperti mereka’. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

Subhanallah, ucapan kalian itu seperti ucapan bani Israil kepada Nabi Musa, ‘Buatkanlah sesembahan-sesembahan untuk kami sebagaimana mereka juga memiliki sesembahan yang banyak’ (QS. Al-A’raf [7]: 138). Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian.” [16]

Tentang pohon Dzatu Anwath ini, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Dzatu Anwath adalah sebuah pohon yang diagungkan oleh masyarakat jahiliyyah. Mereka menyembelih untuknya, dan ber-i’tikaf (baca: tirakat/semedi) di sekelilingnya selama sehari. Orang-orang jahiliyyah yang menunaikan ibadah haji ke ka’bah, mereka meletakkan bekalnya di sekelilingnya dan memasuki masjidil haram itu tanpa membawa bekal, dalam rangka mengagung-agungkan pohon tersebut.” [17]

Demikianlah, orang-orang musyrik ber-i’tikaf (bersemedi) di sekeliling pohon tersebut dalam rangka mencari berkah dengan perantaraan pohon itu dan mengagungkannya. Penyembahan mereka kepada pohon itu adalah dengan pengagungan (ta’zhim), melakukan i’tikaf, dan tabbaruk (mencari berkah). Dengan ketiga hal itulah, disembahlah pohon dan yang semacam itu. [18]

Mengagungkan pohon Dzatu Anwath seperti ini merupakan jalan atau sarana menuju syirik akbar. Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal tersebut. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,”Dzatu Anwath merupakan sarana menuju syirik akbar. Apabila mereka menggantungkan senjata-senjata mereka dan mencari berkah dengannya, maka secara bertahap setan akan membawa mereka untuk beribadah kepadanya dan meminta berbagai kebutuhan kepadanya secara langsung. Oleh karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup jalan tersebut.” [19]

2. Pohon Najran

Penduduk di daerah Najran menyembah semacam pohon kurma yang panjang. Mereka mengadakan perayaan hari raya untuknya setiap tahun. Jika hari raya telah tiba, mereka menggantungkan pakaian yang indah-indah dan perhiasan kaum wanita. Mereka juga berbondong-bondong mendatangi pohon tersebut untuk ber-i’tikaf di sekeliling pohon tersebut.

Salah seorang laki-laki yang paling mulia di daerah tersebut membeli seorang budak yang shalih. Apabila budak tersebut terbangun di malam hari, dia menunaikan shalat malam di rumah yang disediakan oleh tuannya untuknya. Rumah itu tiba-tiba memancarkan cahaya yang terang benderang sampai waktu subuh tiba, padahal tidak ada lampu. Tuannya melihat hal itu, sehingga dia pun merasa heran.

Kemudian dia bertanya kepada budaknya tersebut tentang agamanya. Budaknya tersebut lalu menceritakan tentang agamanya kepada tuannya. Setelah itu, dia berkata kepada tuannya,

إنّمَا أَنْتُمْ فِي بَاطِلٍ إنّ هَذِهِ النّخْلَةَ لَا تَضُرّ وَلَا تَنْفَعُ وَلَوْ دَعَوْت عَلَيْهَا إلَهِي الّذِي أَعْبُدُهُ لَأَهْلَكَهَا، وَهُوَ اللّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ

Sesungguhnya kalian berada di atas kebatilan. Pohon ini tidaklah mampu mendatangkan manfaat dan juga (tidak mampu) menghilangkan bahaya. Seandainya aku berdoa meminta kepada Tuhan yang aku sembah, sungguh dia akan menghancurkannya. Dia-lah Allah, Yang Maha esa, tidak ada sekutu baginya.”

Maka tuannya berkata,”Lakukanlah. Jika Engkau mampu melakukannya kami semua akan masuk ke dalam agamamu. Dan kami akan meninggalkan kepercayaan kami saat ini.”

Budak tersebut kemudian berdiri, berwudhu, dan menunaikan shalat dua rakaat, lalu berdoa kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala pun kemudian mengirimkan angin yang mencabut pohon tersebut dari akarnya dan menumbangkannya. Kemudian penduduk Najran mengikuti agamanya, yaitu agama ‘Isa bin Maryam ‘alaihis salaam. [20]

3. Al-‘Uzza

Al-‘Uzza merupakan salah satu berhala sesembahan kaum musyrikin Arab. Al-‘Uzza berada di daerah Nakhlah (suatu daerah antara kota Mekah dan Thaif) dan merupakan berhala yang paling besar. Kaum musyrikin Arab biasa mempersembahkan berbagai macam ibadah kepada Al-‘Uzza tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى

Maka apakah patut kamu (wahai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-‘Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah).“ (QS. An-Najm [53]: 19-20)

Lalu apakah bentuk sebenarnya dari Al-‘Uzza ini? Ternyata, Al-‘Uzza “hanyalah” sebuah pohon. Ibnu Jarir rahimahullah berkata,”(Al-‘Uzza) adalah pohon yang di atasnya dibangun rumah dan ditutupi dengan kelambu. Pohon itu terletak di antara kota Mekah dan Thaif. Dahulu, orang-orang Quraisy sangat mengagungkannya.” [21]

Karena mereka sangat mengagungkan pohon tersebut, maka pada waktu perang Uhud, Abu Sufyan, yang saat itu masih kafir, mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَنَا الْعُزَّى وَلاَ عُزَّى لَكُمْ

Kami memiliki Al-‘Uzza, sedangkan kalian tidak punya ‘Uzza.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قُولُوا اللَّهُ مَوْلاَنَا وَلاَ مَوْلَى لَكُمْ

Katakanlah, ‘Allah-lah pelindung kami, sedangkan kalian tidak memiliki pelindung.’” [22]

Demikianlah salah satu bentuk tradisi jahiliyyah, mereka sangat mengagungkan pohon tersebut dan mereka pun mendekatkan diri kepadanya dengan berbagai macam ibadah.

4. Al-Lata

Al-Lata merupakan salah satu sesembahan kaum musyrikin jahiliyyah yang berada di daerah Thaif. Orang-orang Quraisy dan semua orang Arab sangat mengagungkannya dan mempersembahkan berbagai macam ritual ibadah kepadanya. Lalu, apakah bentuk sebenarnya dari Al-Lata ini?

Terdapat dua pendapat ulama dalam masalah ini. Jumhur (mayoritas) ulama membaca Al-Lata tanpa tasydid pada huruf ta’ (Al-Lata). Sedangkan Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan lain-lain membaca Al-Lata dengan tasydid pada huruf ta’ menjadi Al-Latta.

Adapun Al-Lata, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, ”Al-Lata adalah batu (besar) berwarna putih yang diukir, di atasnya dibuat rumah, dan terletak di daerah Thaif. Rumah itu dihiasi dengan kelambu dan ada juru kuncinya. Di sekelilingnya terdapat lapangan luas. Batu ini diagung-agungkan oleh penduduk Thaif, yaitu Bani Tsaqif dan suku-suku lain yang mengikutinya. Mereka sangat membanggakannya di atas suku bangsa Arab lainnya selain Quraisy.” [23]

Sedangkan Al-Latta, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كَانَ الَّلاَتُ رَجُلاً يَلُتُّ سَوِيقَ الْحَاجِّ

Al-Latta adalah seorang lelaki yang mengaduk tepung untuk (diberikan kepada) jamaah haji.” [24]

Mujahid rahimahullah mengatakan,“Al-Latta adalah seorang laki-laki pada masa jahiliyyah yang (duduk) di atas sebuah batu di daerah Thaif. Dia memiliki kambing. Dia mengambil air susu kambing tersebut, mencampurnya dengan anggur dari daerah Thaif dan keju, dan membuatnya menjadi roti hais (sejenis makanan tertentu). Kemudian dia memberikan makanan tersebut kepada orang-orang yang lewat. Ketika dia meninggal, orang-orang pun menyembahnya.“ [25] Dengan kata lain, Al-Latta ini adalah orang shalih.

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah mengatakan,”Tidak ada pertentangan di antara kedua pendapat tersebut. Sesungguhnya mereka (orang musyrik jahiliyyah) menyembah batu dan kubur (orang shalih), menjadikannya sebagai sesembahan dan mengagungkannya.” [26]

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa keyakinan bahwa benda-benda mati memiliki kekuatan atau kesaktian tertentu akhirnya menyeret dan menjerumuskan mereka ke dalam penyembahan dan peribadatan kepada sesuatu tersebut. Kepercayaan masyarakat jahiliyyah itulah yang tampaknya mulai bangkit dan hidup kembali dalam diri sebagian kaum muslimin saat ini. Seolah-olah manusia modern saat ini ingin kembali lagi ke “zaman batu”.

Padahal katanya, kehidupan saat ini sudah serba canggih, teknologi sangat maju, dan manusia berada dalam kehidupan yang serba modern. Akan tetapi sayangnya, untuk urusan agama, mereka masih sangat primitif. Buktinya, mereka justru masih mengikuti tradisi masyarakat jahiliyyah yang hidup ratusan tahun yang lalu. Oleh karena itu, benarlah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian.” [27]

Mungkin karena “benda-benda keramat” itulah, akhirnya Al-Lata dan Al-‘Uzza akan disembah lagi oleh manusia menjelang hari kiamat. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللاَّتُ وَالْعُزَّى » فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُ لأَظُنُّ حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ (هُوَ الَّذِى أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ) أَنَّ ذَلِكَ تَامًّا قَالَ « إِنَّهُ سَيَكُونُ مِنْ ذَلِكَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ رِيحًا طَيِّبَةً فَتَوَفَّى كُلَّ مَنْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَيَبْقَى مَنْ لاَ خَيْرَ فِيهِ فَيَرْجِعُونَ إِلَى دِينِ آبَائِهِمْ »

Malam dan siang tidak akan pergi (kiamat tidak akan terjadi, pent.) sampai Al-Lata dan Al-‘Uzza disembah kembali.” Maka aku (‘Aisyah) berkata,”Wahai Rasulullah, dulu sungguh aku menyangka ketika Allah menurunkan (ayat),’Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai’ (QS. At-Taubah [9]: 33), bahwa hal itu telah selesai.” Rasulullah bersabda,”Kemenangan Islam akan terjadi dalam waktu yang sangat lama. Allah kemudian mengirim angin yang harum, maka matilah orang-orang yang di dalam hatinya terdapat keimanan seberat biji sawi. Tersisalah orang-orang yang tidak memiliki kebaikan apa pun, sehingga mereka pun kembali lagi ke dalam agama nenek moyang mereka.” [28]

Kesimpulan

keyakinan sebagian muslimin saat ini tentang berbagai macam benda-benda mati tersebut adalah keyakinan yang batil dan sarana menuju syirik akbar. Karena kuatnya harapan dan ketergantungan kepada benda-benda mati tersebut, maka akhirnya mereka pun meyakini bahwa benda-benda itu adalah benda ajaib, benda sakti yang dapat mendatangkan manfaat atau menolak bahaya dengan kekuatan dan kesaktian yang dia miliki, tanpa ada taqdir Allah Ta’ala. Keyakinan seperti ini tentu saja termasuk syirik akbar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari keyakinan semacam ini.



Referensi:

[1] Pada bagian pertama, penulis banyak mengambil faidah dari tulisan Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, di Majalah As-Sunnah, Edisi 01 Tahun XIII, Rabi’ul Tsani 1430 H.

[2] HR. Muslim no. 3009.

[3] Syarh Shahih Muslim, 4/312.

[4] HR. Tirmidzi no. 2516. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Tirmidzi.

[5] HR. Bukhari no. 4720.

[6] HR. Muslim no. 6078 dan Ahmad dalam Al-Musnad, 5/89.

[7] At-Taisiir bi Syarhi Al-Jami’ Ash-Shaghir, 1/747.

[8] Tuhfatul Ahwadzi, 10/69.

[9] HR. An-Nasa’i no. 1396. Dishahihkan oleh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An-Nasa’i.

[10] HR. Tirmidzi no. 877. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi.

[11] HR. An-Nasa’i no. 2935. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa’i.

[12] HR. Bukhari no. 1597.

[13] Fathul Baari, 5/255.

[14] Fathul Baari, 5/255.

[15] Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawaih, Abu Nu’aim, dan Al-Baihaqi. Lihat Ad-Durul Mantsuur, 6/574; Tafsir Ath-Thabari, 20/224-225; Sirah Nabawiyyah li Ibni Katsir, 3/192-193; dan Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, hal. 314-316. Penulis tidak mendapatkan kisah ini di kitab Shahiihul Musnad min Asbaabin Nuzuul karya Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah. Sehingga tidak tertutup kemungkinan bahwa kisah ini adalah kisah yang lemah (dha’if). Wallahu a’lam.

[16] HR. Tirmidzi no. 2180 Tirmidzi berkata,“Hadits hasan shahih”. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Tirmidzi.

[17] Akhbaaru Makkah lil Azraqi (1/179) no. 149.

[18] Lihat Fathul Majiid, 1/260.

[19] Al-Qoulul Mufiid, 1/209.

[20] Lihat Sirah Nabawiyyah Ibnu Hisyam, 1/31 dan Sirah Nabawiyyah li Ibni Katsir, 1/26-27.

[21] Fathul Majiid, 1/255.

[22] HR. Bukhari no. 4043.

[23] Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 7/455.

[24] HR. Bukhari no. 485.

[25] Ad-Durrul Mantsuur, 9/323.

[26] Fathul Majiid, 1/255.

[27] Telah di-takhrij sebelumnya (hadits pada referensi no. 1)

[28] HR. Muslim no. 7483.



Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc.

[Artikel ini bersumber dari buku penulis yang berjudul: “Kesaktian Batu Ajaib, Bukti Runtuhnya Aqidah Umat” yang diterbitkan oleh Maktabah Al-Hanif, Yogyakarta tahun 2010]

Dua Artikel dari www.muslim.or.id

Komentar

Pos populer dari blog ini

Adab Makan Seorang Muslim Sesuai Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

Definisi, Nama, Tugas, Perbedaan Nabi dan Rasul Dilengkapi Tabel