Ciri-Ciri dan Keistimewaan Adab Islami daripada Adab-adab selainnya

Ciri-Ciri dan Keistimewaan Adab Islami daripada Adab-adab selainnya

Salafush Shalih umat ini yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat radhiyallahu ‘anhum, tabi’in, dan yang mengikuti mereka sangat memerhatikan permasalahan adab. Karena adab adalah bagian dari syariat yang dengannya terwujud kemaslahatan dunia dan akhirat. Orang yang mencermati kehidupan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum akan mendapatkan para sosok yang sempurna akhlak dan adabnya. Sesungguhnya lembaran sejarah keemasan kita yang masih terlipat semestinya kita buka dan kita pahami untuk diambil petunjuk darinya. Umat Islam seyogianya bersyukur bahwa para pendahulu mereka telah melewati kehidupan dunia ini dengan menyuguhkan yang terbaik bagi umat manusia.

Orang-orang yang terbimbing dengan wahyu Ilahi tidaklah mengambil dari adab dan akhlak melainkan yang paling mulia. Sebagaimana mereka tidak mengambil dari aqidah dan ibadah kecuali yang terbersih. Inilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sosok teladan yang berbuat baik dan adil tidak hanya kepada para sahabatnya. Bahkan terhadap musuh sekalipun beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengesampingkan adab. Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak berhijrah ke Madinah, beliau memerintahkan sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu untuk tidur di rumah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengembalikan amanat/titipan orang-orang Quraisy. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengambil sedikitpun harta titipan orang-orang kafir tersebut, walaupun sekadar sebagai bekal untuk sampai di Madinah. Padahal beliau sangat membutuhkannya, apalagi merekalah yang menyebabkan beliau terusir dari Makkah. Maha Benar Allah ketika berfirman dengan memuji Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(Al-Qalam: 4)

Karena pentingnya permasalahan adab maka para ulama yang membukukan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuat dalam kitab-kitab mereka riwayat-riwayat yang berkaitan dengan adab dan akhlak. Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu misalnya di dalam Shahih-nya memuat lebih dari 250 hadits tentang adab. Bahkan beliau menulis kitab khusus tentang adab yang diberi judul Al-Adab Al-Mufrad, hanya saja kitab ini tidak disyaratkan semua haditsnya shahih, sehingga ada yang dhaif (lemah). Al-Imam Abu Dawud rahimahullahu,murid Al-Bukhari rahimahullahu, juga memuat sekitar 500 hadits tentang adab dalam Sunan-nya. Demikian pula Ibnu Hibban rahimahullahu memuat lebih dari 670 hadits adab dalam Shahih-nya.

Kitab-kitab adab secara khusus sendiri banyak sekali. Kita dapatkan kitab
  • Al-Adab An-Nabawi karya Al-Baihaqi rahimahullahu
  • Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih Al-Hanbali rahimahullahu
  • Makarimul Akhlaq karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu
  • Akhlaqul ‘Ulama karya Al-Ajurri rahimahullahu
  • Ash-Shamt karya Ibnu Abiddunya rahimahullahu
  • dan lain-lain.
Ulama memiliki andil yang besar dalam menjaga hadits-hadits adab dan menyebarkannya. Di tengah-tengah keterpurukan moralitas umat, sudah semestinya kita kenalkan kepada mereka kitab-kitab tersebut. Semoga mereka mau kembali ke jalan yang benar dan krisis moral bisa dihindarkan.

Adab-adab Islamiah memiliki keistimewaan besar di antaranya:

1. Bersifat menyeluruh, di mana syariat Islam telah mengatur segala sisi kehidupan muslimin dari yang terkecil hingga yang terbesar. Baik sebagai pribadi, di dalam keluarga, ataupun di tengah masyarakat. Sebagaimana kewajiban untuk berhias diri dengan adab Islam meliputi seluruh muslimin baik tua atau muda, laki-laki maupun perempuan.

2. Kokoh bersamaan dengan kokohnya nilai-nilai Islam.

Misalnya mengucapkan salam, berjabat tangan, jujur dan yang lainnya, termasuk adab-adab Islam yang tidak berubah dengan pergeseran waktu dan tempat.

3. Peduli terhadap orang lain.

Adab-adab Islam mendidik seorang muslim untuk memiliki kepekaan dan perhatian terhadap masyarakat sekitarnya dan manusia secara umum. Di dalam pergaulan seseorang dilarang untuk bersikap egois dan acuh tak acuh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ

Bukan seorang mukmin yang dia kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 82)

Tidak cukup seseorang hanya menahan dirinya dari mengganggu orang, sampai ia berbuat baik kepada orang lain. Bahkan berbuat baik kepada yang berbuat jelek kepada kita. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

 “Sambunglah orang yang memutuskan (hubungan) denganmu, berbuat baiklah kepada orang yang berbuat jelek kepadamu, dan ucapkanlah yang haq (benar) walau mengenai dirimu.” (HR. Ibnu An-Najjar, dan dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami’ no. 3769)

4. Adab-adab Islam dijalankan dengan sepenuh ketaatan.

Seorang muslim berpegang dengannya semata-mata ingin mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dalam rangka menyambut perintah-Nya.

Bukan karena peraturan manusia atau undang-undang yang dibuat oleh mereka yang menyelisihi Al-Qur`an dan hadits. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menjelaskan tentang orang-orang yang baik:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا. إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih’.”(Al-Insan: 8-9)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber:
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=719

Publish ulang
https://www.facebook.com/notes/pustaka-imam-asy-syafii/ciri-ciri-dan-keistimewaan-adab-islami-daripada-adab-adab-selainnya/10150215956000901

Komentar

Pos populer dari blog ini

Adab Makan Seorang Muslim Sesuai Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

Definisi, Nama, Tugas, Perbedaan Nabi dan Rasul Dilengkapi Tabel