Tauhid

Wanita

Tazkiyatun Nufus

Belajar Sejarah

Portfolio

Belajar Islam

» » Kaidah Memahami Tauhid Asma Dan Sifat

Kaidah Memahami Tauhid Asma Dan Sifat

PENTINGNYA TAUHID ASMA’ DAN SIFAT

Sesungguhnya, termasuk yang penting bagi seorang pencari kebenaran, sebelum mempelajari sisi-sisi tauhid yang rinci dan mendetail dari Asma’ dan Sifat, hendaklah ia mengerti pentingnya tauhid ini, kedudukan, peranannya secara khusus dan dalam seluruh sisi agama ini secara umum.

Pembentukan pemahaman tentang penting dan agungnya kedudukan tauhid Asma' wa Sifat dalam benak seorang muslim, dengan izin Allah, manfaatnya akan kembali kepada diri seorang muslim dalam mengimani Allah Azza wa Jalla. Sehingga dapat menekuni sisi ini sesuai dengan proporsi kepentingan yang semestinya. Demikian pula dapat menambah kesenangannya untuk mempelajari, menekuni dan membahas masalah Asma' wa Sifat dengan segala cabangcabangnya, dimana seorang pencari kebenaran yang bersemangat meningkatkan ilmunya yang bermanfaat, tidak dapat mengabaikan persoalan tauhid Asma' wa Sifat.

Hanya saja sangat disesalkan, sebagian orang mempunyai pandangan meremehkan ketika melihat urgensi dan kedudukan tauhid ini. Mereka menyangka bahwa membahas masalah ini, tidak lebih dari (sekedar) menyebutkan perbedaan pendapat yang saling bertentangan tentang mana di antara nama dan sifat-sifat Allah yang di akui adanya atau tidak diakui. (Menurut mereka), perkaranya tidak melebihi hal itu dan tidak akan keluar darinya.

Perkataan dan pendapat demikian tidak akan lahir, kecuali dari salah satu di antara dua jenis manusia. Mungkin dari orang bodoh (jahil) yang tidak mengetahui bahwa dalam pembahasan ini terdapat masalah-masalah bermanfaat dan memiliki tingkat kepentingan yang untuk memahami permasalahannya tidak bisa diabaikan oleh seorang muslim.

Atau mungkin, dari orang yang menyimpang aqidahnya. Ia menyangka bahwa perkara ini tidak bertentangan dengan yang diyakini ahli bathil, yang (mereka itu), dalam permasalahan ini atau masalah lain tidak bernaung di bawah terangnya cahaya Al Qur'an dan Sunnah. Sebagai akibatnya, ketika mereka berbicara masalah (Asma' wa Sifat) ini, (pembicaraan mereka) tidak keluar dari kerangka caci makian terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah, serta membuat keragu-raguan tentang Asma' dan Sifat tersebut atau tentang sebagian besar darinya.

Oleh karena itu mereka enggan untuk memahaminya. Apalagi menerangkan pembahasan yang terdapat disana, berupa peran dan kedudukannya dalam aqidah seorang muslim dan keimanannya terhadap Allah

Dalam rangka membimbing pencari kebenaran dan mengajari orang-orang bodoh yang lalai, serta mengajak orang-orang yang menyimpang, juga sebagai pengingat kembali bagi orang alim, maka kami tulis bahasan ini, yang mengisyaratkan sebagian dari yang terdapat dalam tauhid ini, yaitu berupa faidah dan keistimewaan-keistimewaannya. Semoga Allah memberi manfaat dengan tulisan ini kepada orang yang sudi mentelaah serta mengkajinya.

Maka dengan taufiq Allah, dan hanya kepada-Nya saya memohon pertolongan serta kebenaran, saya ketengahkan secara ringkas apa yang ingin saya sampaikan pada poinpoin berikut:

TAUHID ASMA’ WA SIFAT ADALAH SEPARUH BAB IMAN KEPADA ALLAH

Bagi seorang muslim, sungguh sangat jelas pentingnya iman kepada Allah. Karena, rukun tersebut merupakan rukun iman pertama, bahkan terbesar. Rukun-rukun selainnya mengikut kepadanya dan cabang dari padanya. Itulah tujuan diciptakan makhluk, diturunkan kitab-kitab, diutus dan rasul-rasul, serta agama ini dibangun di atasnya. Jadi, iman kepada Allah merupakan asas segala kebajikan dan sumber hidayah serta sebab segala kebahagiaan.

Yang demikian itu, karena manusia sebagai makhluk yang diciptakan dan dipelihara, segala ilmu dan amalnya kembali (tergantung) kepada pencipta dan pemeliharanya. DariNya-lah petunjuk, untukNya beramal, dan kepadaNya akan dikembalikan. Manusia tidak bisa bebas dariNya. Berpaling dariNya, berarti kebinasaan dan kehancuran itu sendiri.

Seorang hamba tidak akan mendapat kebaikan dan tidak pula kebahagiaan, kecuali dengan mengenal Rabb-nya dan beribadah kepadaNya. Bila ia melakukan yang demikian itu, maka itulah puncak yang dikehendakiNya, yaitu untukNya ia diciptakan. Adapun selain itu, mungkin suatu yang utama dan bermanfaat, atau keutamaan yang tidak ada manfaatnya, atau suatu tambahan yang membahayakan. Oleh karena itulah, dakwah para rasul kepada ummatnya adalah (menyeru) untuk beriman kepada Allah dan beribadah kepadaNya. Setiap rasul memulai dakwahnya dari hal itu, sebagaimana (dapat) diketahui dari sejarah dakwah para rasul yang diterangkan dalam Al Qur’an.

Untuk memiliki kebahagiaan dan keselamatan serta keberuntungan, yaitu dengan merealisasikan tauhid yang dibangun di atas keimanan kepada Allah. Dan untuk mewujudkan keduanya, (maka) Allah mengutus utusanNya. Itulah yang didakwahkan para rasul, dari yang pertama (Nuh) hingga yang terakhir (Muhammad).

Pertama : Yaitu tauhid ‘ilmi khabari al i’tiqadi. Meliputi penetapan sifat-sifat kesempurnaan Allah dan menyucikanNya dari segala penyerupaan dan penyamaan, serta mensucikan dari sifat-sifat tercela.

Kedua : Yaitu beribadah kepadaNya saja, tidak menyekutukanNya dan memurnikan kecintaan kepadaNya, serta mengikhlaskan kepadaNya perasaan khauf, raja’, tawakal kepadaNya dan ridha terhadapNya sebagai Rabb, ilah dan wali. Tidak menjadikan untukNya tandingan dalam perkara apapun.

Allah telah mengumpulkan kedua jenis tauhid ini dalam surat Al Ikhlas dan Al Kafirun. Surat Al Kafirun mencakup ilmi khabari iradi dan surat Al Ikhlash juga mencakup tauhid ilmi khabari.

Di dalam surat Al Ikhlash terdapat keterangan yang wajib dimiliki Allah, yaitu berupa sifat-sifat sempurna. Juga menegaskan apa-apa yang wajib disucikan dariNya, yaitu berupa sifat-sifat tercela dan penyerupaan. Adapun surat Al Kafirun, menerangkan wajibnya beribadah hanya kepadaNya, tidak menyekutukanNya dan berlepas diri dari segala peribadatan kepada selainNya.

Salah satu dari dua tauhid diatas tidak akan terjadi, kecuali bila disertai tauhid yang satunya lagi. Oleh karena itu, Nabi sering membaca dua surat ini dalam shalat sunnah Fajar, Maghrib dan Witir. Karena kedua kedua surat itu merupakan pembuka amal dan penutup amal. Sehingga permulaan siang harinya (dimulai) dengan tauhid dan ditutup dengan tauhid. [Ijtima’ Al Juyus Al Islamiyah ‘Ala Ghazwi Al Mu’athilah Al Jahmiyah, hlm. 35-36]

Jadi, separuh (sebagian) tauhid yang dituntut dari seorang hamba, dan separuhnya adalah tauhid Asma’ wa Sifat.

TAUHID ASMA’ DAN SIFAT, SECARA MUTLAK ADALAH ILMU YANG MULIA DAN PENTING

Sesungguhnya mulianya suatu ilmu, tergantung pada isi ilmu itu sendiri, karena tingkat kepercayan seseorang pada dalil-dalil serta bukti-bukti tentang adanya. Disamping isi ilmu itu amat perlu difahami dan sangat besar manfaatnya bila difahami.

Tidak diragukan, bahwa sesuatu yang paling agung, paling mulia dan paling besar untuk diketahui adalah tentang Allah. Dzat yang tidak ada sesuatupun berhak diibadahi kecuali Dia, Rabb alam semesta, Pemelihara langit, Maha Raja Yang Haq, yang disifati dengan semua sifat sempurna. Dzat yang Maha Suci dari segala kekurangan dan cela, Maha Suci dari keserupaan serta kesamaan dalam kesempurnaanNya. Maka tidak diragukan bahwa mengilmui nama-nama dan sifat-sifat serta perbuatan-perbuatanNya merupakan pengetahuan paling agung dan paling utama. [Miftah Daar As Sa’adah, I/86]

Bila dikatakan bahwa ilmu adalah sarana bagi amal, ia dimaksudkan untuk diamalkan, dan amal adalah tujuan ilmu. Padahal telah diketahui, tujuan lebih utama dari sarana. Dengan demikian, bagaimana sarana lebih diutamakan daripada tujuannya?

Perlu dijawab, masingmasing ilmu maupun amal dibagi menjadi dua. Diantaranya ada yang menjadi sarana (wasilah), dan diantaranya ada yang menjadi tujuan (ghayah). Jadi, tidak seluruh ilmu adalah sarana untuk mendapatkan yang lainnya. Karena sesungguhnya ilmu tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya adalah ilmu yang paling mulia secara mutlak. Jadi ilmu ini adalah ilmu yang dituntut dan kehendaki itu sendiri. Allah berfirman.


اللهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ اْلأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ اْلأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًا

Allah yang telah menciptakan tujuh lapis langit dan bumi semisalnya. PerintahNya berlaku padanya. Agar kamu mengetahui, bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah, ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu. [Ath Thalaq : 12].

Allah telah mengabarkan, bahwa Dia menciptakan langit dan bumi, dan memberlakukan perintahNya kepadanya, supaya hamba-hambaNya mengetahui bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Jadi, ilmu ini sebagai puncak (tujuan) penciptaan yang dituntut (untuk diketahui). Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآإِلَهَ إِلاَّاللهُ

Ketahuilah, bahwasanya tidak ada yang diibadahi dengan benar, kecuali Allah. [Muhammad : 19].

Jadi, mengilmui ke-Maha-Esaan Allah menjadi keharusan, dan tidak cukup dengan itu saja, tetapi harus disertai dengan beribadah kepadaNya semata, tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Keduanya adalah dua perkara yang dituntut. Pertama, untuk mengenal Allah dengan nama-nama, sifat-sifat, perbuatan-perbuatan dan hukum-hukumnya. Kedua, untuk beribadah sebagai konsekwensi dan kewajibannya.

Jadi seperti halnya beribadah kepadaNya itu dituntut dan dikehendaki, demikian pula mengilmui tentangNya, karena sesungguhnya ilmu termasuk seutama-utama ibadah. [Miftah Daar As Sa’adah, I/178]

TAUHID ASMA’ DAN SIFAT ADALAH DASAR ILMU AGAMA

Tauhid asma’, sifat dan af’al, adalah ilmu yang paling agung, paling mulia dan paling mulia dan paling besar, yang merupakan ashlu (prinsip) agama. Semua ilmu mengikut pada ilmu ini dan sangat membutuhkannya. Sehingga mengilmui tentangnya termasuk prinsip keilmuan dan permulaannya. Karena, barangsiapa mengenal Allah, maka akan mengenal yang lainnya. Dan barangsiapa yang tidak mengenal Rabb-nya, maka terhadap yang lainnya (pun) dia tidak lebih mengetahui. Allah berfirman,

وَلاَتَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan janganlah engkau menjadi seperti orang-orang yang melalaikan Allah, lalu mereka melalaikan diri mereka sendiri. [Al Hasyr : 19].

Amatilah ayat ini, engkau akan mendapatkan makna yang mulia dan agung. Yaitu, barangsiapa yang melalaikan diri dan pribadinya, sehingga ia tidak mengetahui hakikat dirinya dan tidak pula (mengetahui) kemaslahatan dirinya. Bahkan melalaikan kemaslahatan dan kebahagiaan dirinya di dunia dan di akhirat. Karena ia (telah) keluar dari fitrah, yang untuk itu ia diciptakan. Sehingga, karena ia melalaikan Rabb-nya, maka dilalaikanlah dia dari dirinya, sifatnya, (dilalaikan dari) apa saja yang dapat menyempurnakan diri dan membersihkan dirinya, serta apa saja yang dapat membahagiakan dirinya dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Allah berfirman,

وَلاَتُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan janganlah engkau mentaati orang-orang yang Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami dan mengikuti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya melewati batas. [Al Kahfi:28]

Jadi, lalai dari mengingat Rabb-nya akan mengakibatkan persoalan diri dan hatinya melampui batas. Sehingga ia terpalingkan dari menadapatkan kemaslahatan, kesempurnaan, dan apa yang dapat membersihkan jiwa dan hatinya. Bahkan yang demikian itu (dapat) mencabik-cabik hati dan menghancurkannya, membingungkannya dan tidak mengetahui jalan.

Begitulah, ilmu tentang Allah adalah pangkal semua ilmu. Dan ilmu ini merupakan pangkal ilmu pengetahuan seorang hamba tentang kebahagiaannya, kesempurnaanya, kemaslahatan dunia dan akhiratnya.

Sedangkan tidak berilmu tentang Allah, akan mengakibatkan kebodohan terhadap dirinya, kemaslahatannya, kesempurnaannya, dan apa saja yang dapat membersihkan serta membahagiakan dirinya. Maka memahami Allah, berarti kebahagiaan bagi seorang hamba. Dan bodoh terhadapNya berarti pangkal kebinasaan baginya. [Miftah Daar As Sa’adah, I/86]

Oleh
Dr. Muhammad bin Khalifah At Tamimi

(Naskah yang diterjemahkan oleh Abu Hawari ini, merupakan nukilan dari kitab Mu’taqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah Fi Tauhid As Asma’ Wa As Sifat, karya Dr. Muhammad bin Khalifah At Tamimi, Cet. Dar Al Hariri, Qahirah, hlm. 7-13)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Sumber: http://almanhaj.or.id/content/3027/slash/0



Madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Secara Ijmal Mengenai Sifat-Sifat Allåh

Iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yakni menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang sudah ditetapkan Allah untuk diri-Nya dalam kitab suci-Nya atau sunnah rasul-Nya dengan cara yang sesuai dengan kebesaran-Nya tanpa tahrif (penyelewengan), ta’thil (penghapusan), takyif (menanyakan bagaimana?), dan tamsil (menyerupakan).

1. Tahrif

Tahrif secara bahasa berarti merubah dan mengganti. Menurut pengertian syar’i berarti: mengubah lafazh Al Asma’ul Hisna dan Sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi atau makna-maknanya.

Tahrif ini dibagi menjadi dua:

a. Tahrif dengan cara menambah, mengurangi, atau merubah bentuk lafazh.

Hal ini dilakukan oleh yahudi, sebagaimana Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

Diperintahkan kepada Bani Israil: ‘masukilah pintu gerbang dengan bersujud dan katakanlah ‘hith-thah’ [bebaskan kami dari dosa], lalu mereka menggantinya (dengan hinthah [gandum]), maka mereka memasuki (pintu gerbang kota tersebut) dengan merangkak diatas ‘bokong’ mereka sembari berkata: ‘habbah fi sya’rah’ (sebiji dari gandum)”(HR. Bukhåry dan Muslim)

Hal yang sama pun dilakukan kaum sesat jahmiyyah, yang menta’wilkan ‘istawa’ (bersemayam) dengan istaula (menguasai) dalam firman Allåh yang artinya:

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy".(Taa-Haa: 5) dan ayat-ayat semisalnya, yang terdapat dalam (Al-Furqaan: 59), (As-Sajda: 4), (Al-Hadid: 4), (Ar-Ra’d: 2), (Yunus: 3), dan (Al-A’raaf: 54)

Contoh lain adalah perkataan Ahli Bid’ah yang memanshubkan[Maksudnya, lafazh Allah dibaca dengan harakat akhir fathah, padahal semestinya harakat akhirnya dibaca dengan dhammah . Dengan dimanshubkan, maka kedudukan lapazh Allah dalam ayat tersebut menjadi obyek, sehingga arti ayat tersebut berubah menjadi, Dan Musa berbicara kepada Allah secara langsung] lafazh Allah dalam ayat, yang artinya:

Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung.”[An-Nisa' : 164].

b. Tahrif dengan cara merubah makna

Artinya, tetap membiarkan lafazh sebagaimana aslinya, tetapi melakukan perubahan terhadap maknanya.

Contohnya adalah perkataan ahli bid’ah yang menafsirkan ghadhab (marah), dengan iradatul intiqam (keinginan untuk membalas dendam); Rahmah (kasih sayang), dengan iradatul in’am (keinginan untuk memberi nikmat); dan Al Yadu (tangan), dengan an ni’mah (nikmat).

2. Ta’thil

Ta’thil secara bahasa berarti meniadakan. Adapun menurut pengertian syar’i adalah : Meniadakan sifat-sifat Ilahiyah dari Allah Ta’ala, mengingkari keberadaan sifat-sifat tersebut pada Dzat-Nya, atau mengingkari sebagian darinya. Jadi, perbedaan antara tahrif dan ta’thil yaitu : ta’thil adalah penafian suatu makna yang benar, yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, sedangkan tahrif adalah penafsiran nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan interpretasi yang bathil.

Ta’thil ada bermacam-macam:
  1. Penolakan terhadap Allah atas kesempurnaan sifat-Nya yang suci, dengan cara meniadakan Asma’ dan Sifat-sifat-Nya, atau sebagian dari-nya, sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham Jahmiyah dan Mu’tazilah.
  2. Meninggalkan muamalah dengan-Nya, yaitu dengan cara meninggalkan ibadah kepada-Nya, baik secara total maupun sebagian, atau dengan cara beribadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya.
  3. Meniadakan pencipta bagi makhluk. Contohnya adalah pendapat orang-orang yang mengata-kan: Sesungguhnya, alamlah yang menciptakan segala sesuatu dan yang mengatur dengan sendirinya.
Jadi, setiap orang yang melakukan tahrif pasti juga melakukan ta’thil, akan tetapi tidak semua orang yang melakukan ta’thil melakukan tahrif. Barangsiapa yang menetapkan suatu makna yang batil dan menafikan suatu makna yang benar, maka ia seorang pelaku tahrif sekaligus pelaku ta’thil. Adapun orang yang menafikan sifat, maka ia seorang mu’athil, (pelaku ta’thil), tetapi bukan muharif, (pelaku tahrif).

3. Takyif

Takyif artinya bertanya dengan kaifa, (bagaimana). Adapun yang dimaksud takyif di sini adalah menentukan dan memastikan hakekat suatu sifat, dengan menetapkan bentuk/keadaan tertentu untuknya. Meniadakan bentuk/keadaan bukanlah berarti masa bodoh terhadap makna yang dikandung dalam sifat-sifat tersebut, sebab makna tersebut diketahui dari bahasa Arab. Inilah paham yang dianut oleh kaum salaf, sebagaimana dituturkan oleh Imam Malik Rahimahullah Ta’ala ketika ditanya tentang bentuk/keadaan istiwa’, -bersemayam-. Beliau Rahimahullah menjawab :

Istiwa’ itu telah diketahui (maknanya), bentuk/ keadaannya tidak diketahui, mengimaninya wajib, sedangkan menanyakan (bagaimana)nya (adalah) bid’ah.” [Fatawa Ibnu Taimiyyah, V/144]

Semua sifat Allah menunjukkan makna yang hakiki dan pasti. Kita mengimani dan menetapkan sifat tersebut untuk Allah, akan tetapi kita tidak mengetahui bentuk, keadaan, dan bentuk dari sifat tersebut. Yang wajib adalah meyakini dan menetapkan sifat-sifat tersebut maupun maknanya, secara hakiki, dengan memasrahkan bentuk/keadaannya. Tidak sebagaimana orang-orang yang tidak mau tahu terhadap makna-maknanya.

4. Tamtsil

Tamtsil artinya tasybih, menyerupakan, yaitu menjadikan sesuatu yang menyerupai Allah Ta’ala dalam sifat-sifat Dzatiyah maupun Fi’liyah-Nya.

Tamtsil ini dibagi menjadi dua, yaitu :
  1. Menyerupakan makhluk dengan Pencipta. Misalnya orang-orang Nasrani yang menyerupakan Al-Masih putera Maryam dengan Allah Ta’ala dan orang-orang Yahudi yang menyerupakan ‘Uzair dengan Allah pula. Maha Suci Allah dari itu semua.
  2. Menyerupakan Pencipta dengan makhluk. Contohnya adalah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai wajah seperti wajah yang dimiliki oleh makhluk, memiliki pendengaran sebagaimana pendengaran yang dimiliki oleh makhluk, dan memiliki tangan sebagaimana tangan yang dimiliki oleh makhluk, serta penyerupaan-penyerupaan lain yang bathil. Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan. [Al-Kawasyif Al-jaliyah an Ma'ani Al-Wasithiyah, hal.86]
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata : Ada tasybih jenis ketiga, yaitu menyerupakan Sang Pencipta dengan ma’dumat, (sesuatu yang tidak ada), tidak sempurna dan benda-benda mati. Inilah tasybih yang dilakukan oleh orang-orang yang menganut paham Jahmiyah dan Mu’tazilah.

Ilhad terhadap asma’ dan sifat-sifat Allåh

Pengertian ilhad terhadap Asma’ dan Sifat-sifat Allah adalah menyimpangkan nama-nama dan sifat-sifat Allah, hakekat-hakekatnya, atau makna-maknanya, dari kebenarannya yang pasti. Penyimpangan ini bisa berupa penolakan terhadapnya secara total atau pengingkaran terhadap makna-maknanya, atau pembelokannya dari kebenaran dengan menggunakan interpretasi yang tidak benar, atau penggunaan nama-nama tersebut untuk menyebut hal-hal yang bid’ah, sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham “Ittihad”. Jadi, yang termasuk dalam kategori ilhad adalah tahrif, ta’thil, takyif, tamtsil dan tasbih. [Lihat Al-Ajwibah Al-Ushuliyah, hal. 32 dan Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Al-Haras, hal. 24]

Metode Ahlus-sunnah wal jama’ah dalam meniadakan dan menetapkan asma’ dan sifat bagi Allåh

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diri-Nya secara tafshil, dengan landasan firman Allah, yang artinya:

Dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” [Asy-Syura : 11]

Karena itu, semua nama dan sifat yang telah ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya atau oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam, mereka tetapkan untuk Allah, sesuai dengan keagungan sifat-Nya. Sebaliknya, Ahlus Sunnah wal Jama’ah menafikan apa yang telah dinafikan oleh Allah dari diri-Nya, atau oleh rasul-Nya, dengan penafian secara ijmal, berdasarkan kepada firman Allah, yang artinya :

Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya…” [Asy-Syura : 11]

Penafian sesuatu menuntut penetapan terhadap kebalikannya, yaitu kesempurnaan. Semua yang dinafikan oleh Allah dari diri-Nya, berupa kekurangan atau persekutuan makhluk dalam hal-hal yang merupakan kekhususan-Nya, menunjuk-kan ditetapkannya kesempurnaan-kesempurnaan yang merupakan kebalikannya. Allah telah memadukan penafian dan penetapan dalam satu ayat. Maksud saya penafian secara ijmal dan penetapan secara tafshil yaitu dalam firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala, yang artinya:

Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dan Din Maha Mendengar lagi Melihat.” [Asy-Syura: 11]

Ayat ini mengandung tanzih, -penyucian- Allah dari penyerupaan dengan makhluk-Nya, baik dalam dzat, sifat, maupun perbuatanNya. Bagian awal ayat di atas merupakan bantahan bagi kaum Musyabbihah (yang menyerupakan Allah), yaitu firman Allah Ta’ala, yang artinya:

Tidak ada sesuatu pun yang scrupa dengan-Nya …

Adapun bagian akhir dari firman Allah tersebut merupakan bantahan bagi kaum Mu’athilah -yang melakukan ta’thil-, yaitu firman Allah, yang artinya:

Dan Dia Maha Mendengar lagi Melihat.”

Pada bagian pertama terkandung penafian secara ijmal sedangkan pada bagian terakhir terkandung penetapan secara tafshil. Ayat di atas juga mengandung bantahan bagi kaum Asy’ariyah yang mengatakan bahwa Allah mendengar tanpa pendengaran dan melihat tanpa penglihatan. [Al-Ajwibah Al-Ushuliyah 'ala Al-Aqidah Al-Wasithiyah, hal.26]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah Ta’ala mencantumkan ayat diatas, berikut surah Al-Ikhlas dan ayat Al-Kursi, karena surah Al-Ikhlas dan ayat-ayat tersebut mengandung penafian dan penetapan. [Ar-Raudah An-Nadiyah, hal. 120 dan Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, Al-haras, hal.31]

Surah Al-Ikhlas memiliki bobot yang sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an, sebagai-mana dinyatakan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam [HR. Al-Bukhari, lihat Fathul Bari XIII / 347 dan Muslim I/556 no.811] Para ulama menyebutkan penafsiran sabda beliau itu, bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan tiga macam kandungan, yaitu : Tauhid, kisah-kisah, dan hukum-hukum, sedangkan surah Al-Ikhlas ini mengandung tauhid dengan ketiga macamnya, yaitu: Tauhid Uluhiyah, Tauhid Rububiyah, dan Tauhid Asma’ wa Shifat. Karena itulah ia dikatakan sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an. [Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Al-Haras, hal.21]

Ayat Al-Kursi adalah ayat yang agung, bahkan merupakan ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an [Muslim I/556 no.810, Ahmad V/142, dan lain-lain.] Itu disebabkan, ia mengandung nama-nama Allah Yang Maha Indah dan sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi. Nama-nama dan sifat-sifat tersebut terkumpul di dalamnya, yang tidak terkumpul seperti itu dalam ayat lainnya. Karena itu, ayat yang mengandung makna-makna agung ini layak untuk menjadi ayat yang paling agung dalam Kitabullah. [Al-Ajwibah Al-Ushuliyah ala Al-Aqidah Al-Wasithiyah, hal.40]

Oleh: Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qathani

[Disalin dari kitab Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah Li Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, Penulis Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathaniy, Edisi Indonesia Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Penerjemah Hawin Murtadho, Penerbit At-Tibyan].

Sumber: http://abuzuhriy.com/?p=51

Kaidah-Kaidah Umum Dalam Memahami Tauhid Asmaa’ was Sifat

Memahami nama dan sifat-sifat Allah memilki kedudukan yang sangat penting dalam meningkatkan keimanan seorang mukmin kepada Allah. Dengan memahami nama dan sifat-sifat Allah seorang mukmin akan mencapai tingkat ihsan dalam beribadah kepada Allah. Bila mana nama dan sifat-sifat Allah tersebut dipahami sesuai dengan kaidah-kaidah yang dijelaskan oleh para ulama Ahlussunnah yang berdasarkan kepada Alquran dan hadits-hadits shahih. Serta selamat dari dua bahaya; bahaya Ta’thiil (mengingkari sifat-sifat Allah) dan bahaya Tasybiih (menyerupakan Allah dengan makhluk).

Berkata Ibnul Qayyim, “Maka tidak diragukan lagi bahwa berilmu tentang nama dan sifat-sifat Allah serta perbuatan-Nya adalah seagung-agung ilmu dan semulia-mulianya ilmu. Perbandingannya dengan ilmu-ilmu lain sebagaimana perbandingan antara Allah itu sendiri dengan yang lain-Nya”[1].

Pada berikut ini akan kita jelaskan tentang kaidah-kaidah umum dalam memahami tauhid asmaa’ was sifat. Sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama Ahlussunnah dalam kitab-kitab mereka.[2]

Kaidah 1. Beriman (mempercayai) segala nama dan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran maupun dalam sunnah (hadits-hdits shahih).

Banyak sekali ayat maupun hadits-hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mewajibkan kita untuk beriman secara mutlak dengan segala isi Alquran. Baik yang berbentuk hukum-hukum, maupun yang berbentuk khabar (berita); tentang hal yang telah berlalu, maupun yang akan datang, dan berita tentang nama dan sifat-sifat Allah.

Sebagiamana Allah peringatkan dalam firman-Nya,

{أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ} [البقرة/85]

Apakah kalian beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian diantara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”(QS.Al Baqarah: 85)

Maka kita tidak boleh memilah-milah dalam beriman kepada isi Alquran. Seperti beriman dengan ayat-ayat menerangkan tentang hukum saja. Tetapi tidak beriman dengan ayat-ayat yang menerangkan tentang nama dan sifat-sifat Allah, atau merubah dan mentakwil maksud ayat-ayat tersebut. Maka kita tidak boleh membeda-bedakan anatara isi Alquran, antara ayat-ayat hukum dengan ayat-ayat yang menerangkan sifat-sifat Allah. Semua isi Alquran wajib kita imani dan kita yakini secara utuh, tanpa membeda-bedakan sedikitpun. Jika kita membeda-bedakan antara ayat yang berbicara tentang hukum dengan ayat yang menerangkan tentang nama dan sifat-sifat Allah. Maka kita telah terjerumus kedalam ancaman kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat akan dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.

Demikian pula halnya tentang wajibnya beriman dengan segala apa yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist-hadits beliau. Baik yang berbentuk hukum-hukum, maupun yang berbentuk khabar (berita); tentang hal yang telah berlalu, maupun yang akan datang, dan berita tentang nama dan sifat-sifat Allah.

Sebagiamana Allah tegaskan dalam firman-Nya,

{إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا (150) أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا} [النساء/150، 151]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dengan Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, “Kami beriman dengan sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (antara iman dan kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.”(QS.An-Nisa:150-151)

Maka kita tidak boleh membeda-bedakan dalam beriman, antara Alquran dan hadits-hadits Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti mempercayai nama dan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran saja, tetapi tidak mempercayai nama dan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam hadits-hadits Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan keduanya adalah wahyu yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Sebagaimana Allah tegaskan dalam firman-Nya,

{وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى} [النجم/3، 4]

Dan tiadalah apa yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Tiadalah yang diucapkanya itu melainkan wahyu yang diwahyukan (kepadanya”).

{وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [الحشر/7]

Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka ambillah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya.”

Demikian pula Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dalam sabda beliau,

عن المقدام بن معد يكرب عن رسول الله صلى الله عليه و سلم أنه قال ” ألا إني أوتيت الكتاب ومثله معه لا يوشك رجل شبعان على أريكته ( السرير ) يقول عليكم بهذا القرآن)) رواه أبو داود وصححه الشيخ الألباني

“Dari Miqdam bin Ma’dikarib, bahwasanya Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya aku diberi kitab dan yang seumpama dengannya, jangan sampai salah seorang kalian berkata sambil duduk diatas sofanya dalam keadaan kenyang, Cukup kalian berpegang dengan Alquran ini saja.

عن أبي رافع أن النبي صلى الله عليه و سلم قال ” لا ألفين أحدكم متكئا على أريكته يأتيه الأمر من أمري مما أمرت به أو نهيت عنه فيقول لا ندري ما وجدنا في كتاب الله اتبعناه “)) رواه أبو داود والترمذي، وصححه الشيخ الألباني

Dari Abu Rofi’, bahwasanya Rasulullahl shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda, “Aku tidak ingin mendapati salah seorang kalian duduk bersandar di atas sofanya lalu disampaikan kepadanya tentang sebuah urusan dariku baik sesuatu yang aku perintahkan atau sesuatu yang aku larang. Maka ia berkata, kami tidak tau, kami hanya mengikuti apa yang kami dapatkan dalam kitab Allah.

Begitu pula kita tidak boleh membeda-bedakan antara hadist-hadits Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti menerima hadits-hadits yang mutawatir[3] saja dan tidak menerima hadits-hadits ahaad[4] (tidak mutawatir). Atau menerima hadits ahaad dalam persoalan hukum saja dan tidak menerima hadits ahaad dalam masalah aqidah. Cara-cara seperti ini tidak pernah dilakukan oleh generasi tauladan umat ini mulai dari para sahabat, tabi’iin, tabi’ at tabi’iin serta para ulama terkemuka setelah mereka. Pembahasan ini telah dikupas panjang lebar oleh imam Syafi’i dalam kitab beliau Ar Risalah.

Jika kita membeda-bedakan dalam menerima hadits-hadits Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam antara yang mutawatir dan yang ahaad, maka kita tidak mempercayai apa yang disampaikan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam secara utuh dan sempurna. Para ulama ahli hadits terkemuka tidak pernah membedakan antara hadits ahaad dan hadits mutawati dalam segi penerimaan dan pengamalan. Mereka hanya membedakan dalam segi pengkajian dari segi kekuatan sanad. Tujuannya tatkala terdapat dua hadits yang kontradiksi dalam konteksnya maka hadits mutawatir lebih valit dari hadits ahaad, jika tidak bisa dicarikan titik temu dari kandungan kedua hadits tersebut. Namun perlu diketahui bahwa hadits-hadits yang menerangkan tentang sifat-sifat Allah hampir tidak tidak termasuk kedalam kategori tersebut.

Kesimpulannya bahwa hadits-hadits sifat tidak ada yang kotradiksi, jika merujuk dalam memahminya kepada pemahaman para ulama Ahlussunnah.

Termasuk dari penjabaran kaidah di atas, penegasan tentang sumber yang menjadi pegangan kita dalam memahami dan mengimani nama dan sifat-sifat Allah hanyalah perkataan Allah dan perkataan Rasul-Nya. Yaitu Alquran dan hadits-hadits yang shahih.

Karena yang lebih mengetahui tentang Allah adalah Allah itu sendiri, maka segala nama dan sifat-sifat yang ditetapkan Allah untuk diri-Nya wajib kita percayai dan tidak boleh kita selewengkan pengertiannya. Kalau ada orang yang mengingkari atau menyelewengkan pengertian dari sifat-sifat Allah, maka orang tersebut seolah-olah ia lebih mengetahui dari Allah. Oleh sebab itu Allah sebutkan dalam firman-Nya,

{قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّه} [البقرة/140]

Katakanlah, “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah.”(QS.Al- Baqarah: 140)

Kemudian dikalangan manusia yang lebih mengetahui tentang Allah ada Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaiman beliau sebutkan dalam sabda beliau,

عن عائشة قالت كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ( إن أتقاكم وأعلمكم بالله أنا ) رواه البخاري

Sesungguhnya yang paling bertaqwa diantara kalian dan yang paling mengetahui tentang Allah adalah aku.

Maka kita tidak boleh berpegang kapada akal semata dalam menetapkan dan memahami nama dan sifat-sifat Allah. Apalagi menolak dengan akal nama dan sifat-sifat Allah yang tedapat dalam Alquran dan sunnah.

Karena akal manusia memiliki kemampuan yang terbatas, sebagaimana panca indra yang lainnya. Betapa banyaknya dalam kehidupan kita sehari-hari sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal manusia, seperti seperti hakikat dari ruh (nyawa) manusia itu sendiri. Pada hal ia adalah bagian yang paling terdekat kepada manusia.

Sebagian ulama memberikan perumpamaan akal dengan wahyu bagaikan mata dengan cahaya. Sebagaimana mata tidak dapat melihat sesuatu kecuali ketika ada cahaya, baik cahaya matahari di siang hari, atau cahaya lampu di malam hari. Demikian pula akal tidak akan bisa menentukan sesuatu terutama dalam hal yang ghaib, kecuali ada penjelasan dari wahyu.

Maka dari itu akal kita wajib tunduk dan menerima terhadap segala apa yang terdapat dalam Alquran dan sunnan. Baik berupa hukum-hukum maupun tentang nama dan sifata-sifata Allah. Sebagaimana diwajibkannya hati dan anggota badan kita untuk tunduk kepada segala hukum Alquran dan sunnah. Kita tidak boleh mendahulukan akal diatas Alquran dan sunnah, atau menjadikannya sebagai dasar untuk menentukan atau menetapkan nama dan sifat-sifat Allah. Apalagi menolak nama dan sifat-siafat Allah yang terdapat dalam Alquran dan hadits-hadits shahih.

Demikian pula kita tidak menjadi teori-teori filsafat sebagai dasar dalam memahami nama dan sifat-sifat Allah yang terdapat Alquran dan sunnah. Tetapi kita merujuk kepada pemahaman sahabat dan para ulama salaf dalam memahami Alquran dan sunnah secara umum dan dalam memahami nama dan sifat-sifat Allah secara khusus.

Kaidah 2. Mensucikan Allah dari menyerupai makhluk dalam segala sifat-sifat-Nya.

Dalam memahami nama dan sifat-sifat Allah kita tidak boleh menyerupakan sifat Allah dengan sifat para makhluk. Karena sifat Allah adalah sifata yang maha sempurna sedangkan sifat makhluk adalah sifat yang memiliki kekurangan. Jika ada orang yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk maka orang tersebut telah menyerupakan Allah dengan makhluk. Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk maka ia telah kafir dengan Allah. Karena bagaimana mungkin bisa disamakan antara Allah dengan makhluk. Sifat-sifat makhluk memiliki cacat dan kekurangan dalam berbagai segi. Sedangkan Allah Maha Suci dari segala kekurangan. Allah telah menegaskan dalam firman bahwa tiada sesuatupun dari makhluk yang menyerupaui-Nya.

{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ} [الشورى/11]

Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Dia (Allah), dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(QS.Asy Syuraa: 11)

{فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ} [النحل/74]

Maka janganlah kalian menjadikan perumpamaan-perumpamaan bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”(QS.An Nahl: 74)

{وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ} [الإخلاص/4]

Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (Allah).”

Dalam Ayat-ayat di atas di tegaskan bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk-nya. demikian pula tidak satu makhlukpun yang mirip atau menyerupai Allah, baik dari segi zat dan nama maupun dari segi sifat dan perbuatan.

Sebagaimana zat Allah tidak sama dengan zat makhluk demikian pula sifat Allah tidak sama dengan sifat makhluk. Karena setiap sifat keadaannya sesuai dengan zat masing-masing sifat itu sendiri.

Kesamaan dalam penyebutan nama sifat tidaklah mesti sama pula dalam bentuk makna dan hakikat sifat tersebut. Dalam kehidupan kita banyak sekali sifat yang sama namanya, tetapi hakikatnya berbeda sesuai dengan zat masing-masing sifat tersebut.

Sebagai contoh manusia memiliki sifat melihat, kucing pun memiliki sifat melihat. Tapi penglihatan manusia dengan penglihatan kucing tidak sama. Manusia tidak bisa melihat pada waktu malam tanpa senter. Adapun kucing bisa berjalan di malam hari meskipun tanpa senter. Jika sifat sesama makhluk saja tidak sama dalam hakikat kwalitas makna, sekalipun sama dalam segi penamaan yaitu penglihatan. Maka perbedaan antara sifat Allah Yang Maha Sempurna dengan sifat makhluk yang kurang amat jauh dari pada perbedaan antara sifat sesama makhluk, meskipun sama dari segi lafaz penamaan. Yang membedakan makna adalah kemana sifat tersebut disandarkan, maka sifat tersebut memiliki makna dan bentuk sesuai dengat zat dimana ia disandarkan (digabungkan). Maka jangan dipahami ketika menyebut tetang sifat Allah digambarkan seperti sifat makhluk. Sebagaimana kita tidak memahami tentang telinga gajah seperti telinga kodok atau telinga manusia, sekalipun sama-sama disebut telinga. Sifat-sifat akan berbeda sesuai dengan zat masing-masing sifat tersebut. Bahkan pada zat yang sama sifat bisa berbeda. Seperti sifat pendengaran manusian tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Ada yang dapat mendengar dengan jarak cukup jauh sebaliknya ada yang tidak bisa mendengar kecuali dengan alat bantu, namanya tetap disebut pendengaran. Bahkan sifat bisa berubah-rubah kwalitas dan frekuwensinya pada satu zat, ketika seseorang berumur lima tahun pendengarannya tidak sama ketika telah berumur lima puluh tahun.

Demikianlah halnya dalam mengimani segala sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan hadits-hadits yang shahih. Dimana Allah memiliki sifat-sifat yang sempurna sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah itu sendiri tidak seperti sifat-sifat makhluk.

Sebagaimana Allah bersifat hidup (Al Hayyu) demikian pula makhluk juga bersifat hidup, tetapi hidup Allah tidak sama dengan hidup makhluk. Hidup Allah tidak butuh pada makan dan minum adapun hidup makhluk butuh makan dan minum serta memiliki berbagai kekurangan seperti sakit, capek, letih, haus, lapar dan seterusnya.. adapun hidup Allah tidak diawali dengan ketiadaan (‘adam) dan tidak pula diakhiri dengan kematian (al fanaa’). Adapun hidup makhluk diawali dengan ketiadaan dan diakhiri oleh kematian.

Sebagaimana terdapat dalam sabda Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول, (( أعوذ بعزتك الذي لا إله إلا أنت الذي لا يموت والجن والإنس يموتون)) متفق عليه

Diriwayatkan Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a, “Aku berlindung dengan keperkasaan Engkau. Yang tiada berhak disembah kecuali Engkau, Zat yang tidak akan pernah mati. Sedangkan jin dan manusia akan mati.” (HR. Bukhary dan Muslim).

Dalam sabda yang lain beliau katakan,

(اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ) رواه مسلم

Ya Allah Engkaulah Yang pertama Tiada sesuatupun sebelum Engkau. Dan Engkalah yang terakhir tiada sesuatupun setelah Engkau. (HR. Muslim)

Hidup Allah sangat sempurna dari segala segi, adapun hidup makhluk penuh dengan berbagai kekurangan.

Allah adalah Zat Yang Maha Hidup Sempurna, sebagaimana Allah katakan dalam firman-Nya,

اللهُ لآَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ البقرة, ٢٥٥

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak pernah ditimpa rasa ngantuk dan tidak pula tidur.”(QS. Al Baqarah: 255)

Demikianlah kita mengimani seluruh sifat-sifat Allah, kita tidak boleh menyerupakan Allah dengan makhluk sebaliknya kita juga tidak boleh mengingkari nama dan sifat-sifat Allah, yang Allah tetapkan untuk diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits beliau.

Dengan berlandaskan pada perkataan Allah,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءُُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ الشورى, ١١

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia (Allah), dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.”(QS. Asy Syuraa: 11)



Dalam ayat diatas ditegaskan bahwa tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah. Sebahagian orang memahami ayat tersebut bahwa Allah tidak memilki sifat-sifat lantaran ada kesamaan dalam penamaan dengan sifat-sifat makhluk. Aggapan tersebut bertentangan dengan penggalan akhir dari ayat tersebut. Dimana Allah menyatakan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat, sedangkan manusia juga mendengar dan melihat sebagaimana Allah katakan dalan firman-Nya,

إِنَّا خَلَقْنَا اْلإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا الإنسان, ٢

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), maka Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”(QS. Al Insan: 2)



Dari sini dapat kita pahami bahwa Allah memilki sifat-sifat sempurna sekalipun sifat-sifat tersebut terdapat pada sebahagian mahkluk namun maknanya tidak sama dengan kwalitas makna sifat-sifat Allah. Kalau seandainya yang dimaksud dalam ayat yang lalu menafikan sifat tentu konteknya tidak sebagaimana tersebut di atas. Pasti langsung Allah nafikan bahwa Dia tidak memiliki sifat. Jadi yang dinafikan adalah kesamaan hakikat makna sifat bukan sifat. Sekalipun dalam penamaan sifat tersebut ada kesamaan dengan sifat makhluk.

Kaidah 3. Menutup keinginan untuk mengetahui bentuk hakikat sifat-sifat Allah tersebur.

Allah subhanahu wa ta’ala hanya menyebutkan dalam kita-Nya mulia tetang; bahwa Allah memiliki sifat yang bermacam-macam. Tetapi Allah tidak menyebutkan tentang bentuk hakikat dari sifat-Nya. Maka oleh sebab itu yang harus kita yakini adalah bahwa Allah memiliki sifat sekalipun kita tidak mengetahu bentuk hakikat sifat Allah. Karena meyakini tentang keberadaan sesuatu meskipun tidak mengetahui bentuk hakikatnya tidak mengurangi nilai keyakinan kita. Sebagaimana kita meyakini tentang adanya ruh (nyawa) tetapi kita tidak mengetahui tentang hakikat ruh tersebut.

Sebagaimana kita tidak pernah ragu tentang adanya ruh (nyawa) meskipun kita tidak mengetahui tentang hakikat ruh tersebut. Demikian pula kita yakin tentang adanya surga serta segala bentuk nikmat yang terdapat dalamnya, sekalipun kita belum pernah melihatnya.

Begitu pula kita meyakini Allah itu memiliki zat dan sifat, tetapi kita tidak mengetahui bentuk zat dan sifat Allah. Dan Allah pun tidak mewajibkan kepada kita untuk mengetahui bentuk hakikat dari sifat-Nya tersebut.

Maka oleh sebab itu kita tidak boleh berambisi untuk mengetahui hakikat dari sifat-sifat Allah tersebut. Karena bila itu kita lakukan berarti kita melampui batas dan ketentuan yang wajibkan Allah kepada kita. Demikian pula Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyuruh kita untuk mengetahui hakikat dari sifat-sifat Allah.

Begitu pula akal manusia tidak akan bisa mengetahui hakikat dari sifat Allah. Jangankan untuk mengetahui hakikat dari sifat Allah, mengetahui sesuatu yang amat dekat dengan manusia itu sendiri yaitu ruh, akal tidak mampu mengetahui hakikatnya.

Karena untuk mengetahui bentuk hakikat sebuah sifat dapat kita lakukan dengan tiga hal,

Melihat zatnya, Sedangkan Allah tidak dapat kita lihat di dunia ini, maka sifat Allah tidak dapat kita ketahui bentuknya karena Allah itu ghaib, demikian pula sifat-Nya.
Atau ada sesuatu yang mirip denganya, sedangkan Allah tidak ada sesuatupun yang mirip dengan-Nya, maka tidak mungkin untuk kita qiaskan atau kita bandingkan dengan sifat makhluk.
Atau ada khabar shaadiq (berita yang akurat) yaitu wahyu, Alquran maupun hadits-hadits hanaya sebatas menyebutkan tentang bahwa Allah memilki sifat, tetapi tidak menerangkan tentang hakikat bentuk sifat Allah tersebut.

Allah telah mengharamkan kepada kita untuk mengatakan atau berbicara tentang sesuatu yang kita tidak memiliki ilmu tentangnya.

{وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا} [الإسراء/36]

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”(QS. Al Israa': 36)



قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ [الأعراف/33]

Katakanlah, “Sesungguhnya tuhanku mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”(QS. Al A'raaf: 33)



Maka kita diharamkan menggambarkan bentuk hakikat dari sifat-sifat Allah dalam bentuk tulisan dan lisan atau mengkhayalkannya dalam hati kita. segala rupa dan bentuk yang tergambar dalam benak kita tentang bentuk hakikat dari sifat Allah, sesungguhnya Allah jauh lebih indah, lebih besar dan lebih sempurna dari hal tersebut. Sesungguhnya kesempurnaan Allah dan kesmpurnaan sifat-Nya tidak akan mungkin untuk kita gambarkan rupanya dengan pemikiran kita sama sekali.

Apakah ini berarti bahwa sifat-sifat Allah itu tidak memiliki kaifiyah (bentuk)? Sifat-sifat Allah itu ada kaifiyahnya, tapi yang mengetahui bentuknya hanyalah Allah semata. Adapun makhluk tidak mengetahui bentuk kaifiyah sifat-sifat Allah. Yang dinafikan bukan kaifiyahnya, tetapi yang dinafikan adalah ilmu makhluk tentang kaifiyah tersebut.

Ketidak tahuan makhluk tentang bentuk hakikat sifat Allah, tidak merupakan sebuah kekurangan dalam meyakini atau mempercayai sifat Allah. Karena banyak diantara makhluk yang manusia tidak mengetahui hakikatnya, namun meyakini keberadaanya. Seperti keberadaan ruh, malaikat, jin, luh mahfuz, surga dan neraka dan lain-lain sebagainya.

Demikian pembahasan kaedahkali ini semoga bemanfaat bagi penulis dan pembaca serta segenap kaum muslimin. Wallahu A’lam.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت وأستغفرك وأتوب إليك

Penulis Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.

Artikel http://dzikra.com/mamahami-tauhid/

[1] “Miftah Darussa’adah”: 1/86.
[2] Pembahasan ini bisa dilihat dalam kitab: “Attadmuriyah” dan “fatawa al hamawiyah” karangan syeikh Islam Ibnu Taimiyah “Manhaj wa dirosat li ayat Asmma’ was sifat karangan syeikh Muhammad Amin Syangqithy, “Mu’taqad Ahlussunnah wal jama’ah fi tauhid Asmaa’ was sifat karangan Prof. Dr. Muhammad bin Kkhalifat Attamimy.
[3] Hadits Mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh para perawi hadits yang amat banyak dan tidak mungkin mereka bersepakat untuk melakukan kebohongan.
[4] Hadits ahaad adalah hadits yang tidak sampai jumlah perawinya pada tingkat mutawatir. Bila hadits ahaad memenuhi kriteria syarat-syarat hadits shahih meskipun diriwayatkan melalui jalan satu orang rawi,maka hadits tersebut wajib diterima menurut kesepakatan para ulama ahli hadits.

Novi Effendi

Alhamdulillah, mengenal Blogging dan menjadikannya sebagai wadah belajar dan sharing informasi tentang islam yang benar diatas pemahaman manhaj salafush shaleh, insya Allah. Semoga Allah memudahkan blog ini tetap exist sehingga bermanfaat bagi kaum muslimin dalam menguak ilmu, amal dan dakwahnya generasi salaf terbaik dalam menegakkan Sunnah.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar

Leave a Reply

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Select Menu