Pos

Menampilkan postingan dari April, 2012

Menisbatkan Turunnya Hujan Kepada Bintang dan Syariat Istisqa'

Gambar
Menisbatkan Turunnya Hujan Kepada Bintang ( Al-Istisqa' bil Anwa')1
Secara bahasa (etomologi), istisqa’ (اَلإِسْتِسْقَاءُ) berarti memohon siraman hujan, dan anwa’ (اْلأَنْوَاءُ) adalah bentuk jamak dari naw-u (نَوْءٌ) yang berarti posisi bintang. Selanjutnya, kata ini dipakai untuk arti bintang saja (tanpa kata posisi). Ini adalah kebiasaan orang Arab menggunakan kata posisi atau tempat tersebut. Ini merupakan bentuk majaz mursal sehingga menurut istilah (terminologi) berarti memohon siraman hujan kepada bintang.

Maksudnya, menisbatkan perbuatan itu kepada bintang, baik perbuatan menurunkan hujan atau perbuatan lainnya.

Hal itu jelas perbuatan haram. Karena semua sebab harus dinisbatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ أ…

Potret Ideal Aqidah Akhlak Ukhuwah dan Ibadah

Gambar
Akidah Salafi, Akhlak Tablighi, Ukhuwah Ikhwani, Ibadah Sufi, Potret Idealkah?

Di suatu pagi, beberapa bulan lalu, penulis terlibat perbincangan dengan sesama da’i seputar perkembangan dakwah salafiyyah di tanah air yang cukup menggembirakan meski masih ada beberapa kekurangan di berbagai lini. Di tengah-­tengah perbincangan ringan tersebut, terlontar suatu pertanyaan yang bersumber dari sebuah keprihatinan rekan penulis, “Ustadz, bagaimana cara membuat Salafi memiliki semangat juang dakwah tinggi seperti Ikhwah Tablighiyyun (Jama’ah Tabligh)?” Saat itu penulis hanya diam dan tidak serta-merta menjawab pertanyaan tersebut. Lalu kami tenggelam dalam pembicaraan masalah lainnya. Hingga selesailah majelis tersebut, tanpa membahas jawaban dari pertanyaan tadi.

Permasalahan tersebut ternyata terus menggelayuti pikiran, dan ‘menantang’ untuk menemukan jawaban yang tepat dan berbobot. Apalagi memang sebelumnya penulis beberapa kali pernah dihadapkan kepada pertanyaan serupa. Sampai akhirnya …

Hukum Sesajen Digantung Saat Membangun Rumah

Gambar
Pertanyaan:
assalamu'alaikum wa rohmatullohi wa barokaatuhu,

Pa' ustadz, saya mau tanya masalah sesaji. Di daerah saya biasa di sebut "sajen." Misalnya ketika membangun rumah, di saat bangunan sudah tinggi dan hendak memasang atap, ada pisang, padi, kelapa, dan lain sebagainya yang di gantung di kayu.

Apakah hal ini dilarang di dalam agama atau di bolehkan? Karena yang melakukan ini bukan hanya orang' 'yg minim pengetahuan agamanya," tapi ada pa' ustadz, kiyai dan sesepuh yang paham masalah agama. jazakallah khoir.

Jawaban:

wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Hal tersebut diharamkan dalam agama Islam, karena beberapa hal:

Pertama, tujuan dan niat dari penyediaan sesajen adalah untuk meminta keselamatan, kelancaran membangun rumah, kekuatan rumah dan hal-hal baik lainnya. Semuanya ini adalah permintaan yang merupakan ibadah.

Dan syarat ibadah harus ikhlas dan sesuai dengan contoh dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan perbuatan i…

Nifaq (Munafik), Definisi dan Jenisnya

Gambar
NIFAQ ; DEFINISIDANJENISNYA

A. Definisi Nifaq
Nifaq (اَلنِّفَاقُ) berasal dari kata نَافَقَ-يُنَافِقُ-نِفَاقاً ومُنَافَقَةً yang diambil dari kata النَّافِقَاءُ (naafiqaa’). Nifaq secara bahasa (etimologi) berarti salah satu lubang tempat keluarnya yarbu’ (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, di mana jika ia dicari dari lobang yang satu, maka ia akan keluar dari lobang yang lain. Dikatakan pula, ia berasal dari kata النَّفَقُ (nafaq) yaitu lobang tempat bersembunyi.[ Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (V/98) oleh Ibnul Atsiir]

Nifaq menurut syara’ (terminologi) berarti menampakkan keislaman dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Dinamakan demikian karena dia masuk pada syari’at dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain. Karena itu Allah memperingatkan dengan firman-Nya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Sesungguhnya orang-orang munafiq itu mereka adalah orang-orang yang fasiq.” [At-Taubah: 67]

Yaitu mereka adalah orang-orang yang keluar dari syari…

Dauroh dan Tabligh Akbar " Tamasya ke Taman Surga 2" di Padang

Dauroh dan Tabligh Akbar " Tamasya ke Taman Surga 2" di Padang

Alhamdulillah, Forsil UNAND [Forum Studi Islam Ilmiah Universitas Andalas] kembali mengadakan:
Dauroh Syar’iyyah dan Tabligh Akbar "TAMASYA KE TAMAN SURGA 2" Kota Padang, 25 , 26 dan 27 Mei 2012
Pemateri :Ustadz Abul Abbas Thobroni (Alumnus Darul Hadits Yaman, Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Imam Syafi’i, Pekalongan – Jawa Tengah)
TALBIS IBLIS (JERAT-JERAT IBLIS)
(Karya ulama besar abad ke-6 H Imam Ibnul Jauzi Al Hambalirahimahullah)
Hari/Tgl :
Jumat, 25 Mei 2012 Pukul 02.00 PM– 09.00 PM WIBSabtu, 26 Mei 2012 Pukul 08:00 AM- 05:30 PM WIB Tempat : Masjid Nurul Islam (Jln. Surabaya, Komplek Asratek, Ulak Karang, Padang)


MA'RIFATULLAH Hari/Tgl : Ahad, 27 Mei 2012 Pukul 08.30 AM– 03.00 PM Tempat : Masjid Jami'atul Huda, Ketaping Jl Bypass, Kel Pasa Ambacang, Kec Kuranji, Padang
Silahkan Hubungi Contact Person:
Genta 085363081764
Ridho 085365170722
dll

Aku Hamba Yang Berlumuran Dosa

Gambar
Untaian syair : Jamaluddin Yahyaa bin Yuusuf Ash-Shorshori Al-Hambalirahimahullah

Syair ini telah dinukil oleh Ibnu Muflih Al-Maqdisi Al-Hanbalirahimahullah (wafat tahun 763 H) di penghujung kitabnya yang sangat masyhuur Al-Aadaab As-Syar'iyah 3/562-563





أَنَا الْعَبْدُ الَّذِي كَسَبَ الذُّنُوبَا ***** وَصَدَّتْهُ الْأَمَانِي أَنْ يَتُوبَا
Aku adalah hamba yang telah bergelimang dosa
Angan-angan telah menghalanginya untuk bertaubat


أَنَا الْعَبْدُ الَّذِي أَضْحَى حَزِينًا ***** عَلَى زَلَّاتِهِ قَلِقًا كَئِيبَا

Aku adalah hamba yang sangat bersedih
Atas kesalahan dan ketergelinciran, gelisah dan cemas


أَنَا الْعَبْدُ الَّذِي سُطِرَتْ عَلَيْهِ ***** صَحَائِفُ لَمْ يَخَفْ فِيهَا الرَّقِيبَا

Aku adalah hamba yang lembaran-lembaran catatan amal…
telah mencatat dosa-dosanya akan tetapi ia tetap tidak takut kepada Allah yang Maha Mengawasi


أَنَا الْعَبْدُ الْمُسِيءُ عَصَيْتُ سِرًّا ***** فَمَا لِي الْآنَ لَا أُبْدِي النَّحِيبَا

Aku adalah hamba yang bersalah…aku telah bermaksiat tatkala bers…

Sepuluh (10) Sebab Kebinasaan Umat Terdahulu

Gambar
Di antara sifat orang yang bijaksana adalah bercermin dari sebuah pengalaman. Bahkan, hal itu adalah salah satu sifat seorang mukmin. Memang indah wejangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau bersabda,

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ
Tidaklah seorang muslim tersengat bisa dari satu lubang (binatang buas) sebanyak dua kali.” [1]

Sungguh, dalam kisah umat-umat terdahulu, terdapat pelajaran yang sangat mendalam dan renungan yang harus selalu menggetarkan hati orang-orang yang hidup setelah mereka. Bagaimana tidak, kisah-kisah kehancuran mereka diuraikan pada berbagai surah dalam Al-Qur`an. Kemudian, Allah ‘Azza wa Jalla memberi peringatan kepada umat ini dengan nasihat yang sangat mendalam. Di antaranya, Allah Jalla fi ‘Ulahu berfirman,

فَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَشِيدٍ. أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آ…