Pentingnya Tauhid: Terselamatkan karena Memiliki Satu Kartu.?

Dari Sahabat Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah kalimat ‘laa ilaha illallah’, pasti masuk surga” (HR. Abu Dawud, shahih). Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan RasulNya, dan bahwa Isa adalah hamba dan RasulNya, dan kalimatNya yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dari padaNya, dan surga adalah haq, neraka juga haq, maka Allah pasti memasukkannya ke dalam surga, betapapun amal yang telah diperbuatnya” (HR. Bukhari dan Muslim)


Sebagian kaum muslimin memahami hadits di atas ‘seadanya’, yaitu siapa saja yang hingga akhir hayatnya “berhasil” mengucapkan kalimat tauhid, atau sekedar mengucapkannya sekali seumur hidup saja, akan masuk surga. Tidak peduli seburuk apapun amalan yang telah ia kerjakan, bahkan terjatuh dalam dosa syirik sekalipun.

Padahal, dalam hadits lain yang semakna dengan hadits ini, disebutkan bahwa salah satu syarat yang mengikat janji surga tersebut, adalah keikhlasan. Dari Sahabat ‘Itban bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang-orang yang mengucapkan “laa ilaaha illallaah” dengan ikhlas dan hanya mengharapkan ganjaran berupa (melihat) wajah Allah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pemaknaan hadits-hadits yang mengandung pernyataan muthlaq (tanpa syarat) seperti dalam hadits pertama dan kedua -berdasarkan keseluruhan dalil yang ada- haruslah dibawa kepada makna yang muqayyad (bersyarat), yaitu terikat dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi dan penghalang-penghalang yang harus dinafikan. Salah satu syaratnya, berdasarkan hadits ‘Itban, adalah diamalkan dalam bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala semata, dan tidak berbuat syirik kepada selain-Nya. (lihat Asy Syarh Al Muyassar dan Hasyiyah Kitab At Tauhid).

Sungguh indah perkataan Wahb bin Munabbih ketika ditanya, “Bukankah laa ilaha illallah adalah kunci surga?”, maka beliau menjawab, “Ya, akan tetapi setiap kunci memiliki gerigi. Barangsiapa yang datang dengan membawa kunci yang bergerigi tersebut, barulah pintu terbuka, namun jika tidak, pintu tersebut tidak akan terbuka.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)

Berikut Kisah Seseorang Terselamatkan Karena Memiliki Satu "Kartu"

إِنَّ اللهَ سَيُخْلِصُ رَجُلاً مِنْ أُمَّتِيْ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ سِجِلاًّ كُلُّ سِجِلٍّ مَثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُوْلُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا أَظَلَمَكَ كَتَبَتِيْ الْحَافِظُوْنَ فَيَقُوْلُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُوْلُ أَفَلَكَ عُذْرٌ فَيَقُوْلُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُوْلُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتُخْرَجُ بِطَاقَةٌ فِيْهَا أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ فَيَقُوْلُ أَحْضِرْ وَزْنَكَ فَيَقُوْلُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ البِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ فَقَالَ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ قَالَ فَتُوْضَعُ السِّجِلاَّتُ فِيْ كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِيْ كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh Allah akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari kiamat. Ketika itu dibentangkan 99 gulungan (dosa) miliknya. Setiap gulungan dosa panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian Allah berfirman, ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua catatan ini, apakah (para) malaikat pencatat amal telah menganiayamu?’ Dia menjawab, ‘Tidak, wahai Rabbku’. Allah bertanya, ‘Apakah engkau memiliki udzur (alasan)?’ Dia menjawab, ‘Tidak wahai Rabbku’. Allah berfirman, ‘Bahkan sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh pada hari ini engkau tidak akan dianiaya sedikit pun’. Kemudian dikeluarkanlah sebuah bithaqah (kartu) bertuliskan ‘asyhadu an laa ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh’. Lalu Allah berfirman, ‘Datangkan timbanganmu’. Dia berkata, ‘Wahai Rabbku, apalah artinya kartu ini dibandingkan seluruh gulungan (dosa) itu?’ Allah berfirman, ‘Sungguh kamu tidak akan dianiaya’. Kemudian diletakkanlah gulungan-gulungan tersebut pada satu daun timbangan dan kartu itu pada daun timbangan yang lain. Maka gulungan-gulungan (dosa) tersebut terangkat dan kartu (laa ilaha illallah) lebih berat. Demikianlah, tidak ada satupun yang lebih berat dari sesuatu yang padanya terdapat nama Allah.”(1)

Namun, apakah fenomena masuk surga tanpa siksa karena bithaqah (kartu) ini bisa berlaku bagi setiap orang yang mengucapkan laa ilaha illallah?

Pertama, hendaklah diingat bahwa dhahir hadits ini digunakan kata “rojulun”, bentuk tunggal yang menunjukkan makna “seseorang”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hadits ini -bisa jadi- hanya berlaku untuk satu orang saja (faedah dari pelajaran Ust. Abu Isa*).

Kedua, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Asy Syaikh, keutamaan ini tidaklah didapat melainkan oleh seseorang yang kadar tauhid dalam hatinya sangat besar, demikian pula dengan rasa cintanya kepada Allah Jalla wa ‘Alla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, ikhlas kepada Allah, bertauhid baik dalam rububiyah (ketuhanan), uluhiyah (peribadahan), dan asma’ wa shifat (nama-nama dan sifat-sifatNya) (Fadhlu Tauhid wa takfiruhu li adz dzunub)

sumber:
http://buletin.muslim.or.id/aqidah/tauhid-penghapus-dosa *
http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1471

================================================
(1) Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd no.371, Ahmad 2/213, Tirmidzy no.2639, Ibnu Majah no.4300, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no.225, Al-Hakim 1/46 dan 1/710, Ath-Thobarany dalam Al-Ausath 5/79 no.4725, Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman no.283, Hamzah bin Muhammad Al-Kinany dalam Juz`ul Bithoqoh no.2, Al-Khatib Al-Baghdady dalam Mudhih Auham Al-jam’i Wat Tafriq 2/204, Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kamal, Adz-Dzahaby dalam Mu’jamul Muhadditsin 1/47-48 dan As-Suyuthi dalam Tadrib Ar-Rawy 2/409.

Dan hadits ini adalah hadits yang shohih, dishohihkan oleh Hamzah Al-Kinany dalam Juz`ul Bithoqoh hal.35, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany rahimahullah dalam Silsilah Ahadits Ash-Shohihah no.135 dan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy rahimahullah dalam Ash-Shohih Al Musnad Mimma Laisa Fii Ash-Shohihain 1/534-535.





Komentar

Pos populer dari blog ini

Adab Makan Seorang Muslim Sesuai Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

Definisi, Nama, Tugas, Perbedaan Nabi dan Rasul Dilengkapi Tabel