Tauhid

Wanita

Tazkiyatun Nufus

Belajar Sejarah

Portfolio

Belajar Islam

» » Amalan "YASINAN" Sesuai Sunnah Rasulullah Kah?

Derajat hadits fadhilah surat yasin

MUQADDIMAH

Kebanyakan kaum muslimin membiasakan membaca surat Yasin, baik pada malam Jum’at, ketika mengawali atau menutup majlis ta’lim, ketika ada atau setelah kematian dan pada acara-acara lain yang mereka anggap penting. Saking seringnya surat Yasin dijadikan bacaan di berbagai pertemuan dan kesempatan, sehingga mengesankan, Al-Qur’an itu hanyalah berisi surat Yasin saja. Dan kebanyakan orang membacanya memang karena tergiur oleh fadhilah atau keutamaan surat Yasin dari hadits-hadits yang banyak mereka dengar, atau menurut keterangan dari guru mereka.




Al-Qur’an yang di wahyukan Allah adalah terdiri dari 30 juz. Semua surat dari Al-Fatihah sampai An-Nas, jelas memiliki keutamaan yang setiap umat Islam wajib mengamalkannya. Oleh karena itu sangat dianjurkan agar umat Islam senantiasa membaca Al-Qur’an. Dan kalau sanggup hendaknya menghatamkan Al-Qur’an setiap pekan sekali, atau sepuluh hari sekali, atau dua puluh hari sekali atau khatam setiap bulan sekali. (Hadist Riwayat Bukhari, Muslim dan lainnya).

Sebelum melanjutkan pembahasan, yang perlu dicamkan dan diingat dari tulisan ini, adalah dengan membahas masalah ini bukan berarti penulis melarang atau mengharamkan membaca surat Yasin.

Sebagaimana surat-surat Al-Qur’an yang lain, surat Yasin juga harus kita baca. Akan tetapi di sini penulis hanya ingin menjelaskan kesalahan mereka yang menyandarkan tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain itu, untuk menegaskan bahwa tidak ada tauladan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Yasin setiap malam Jum’at, setiap memulai atau menutup majlis ilmu, ketika dan setelah kematian dan lain-lain.

Mudah-mudahan keterangan berikut ini tidak membuat patah semangat, tetapi malah memotivasi untuk membaca dan menghafalkan seluruh isi Al-Qur’an serta mengamalkannya.

KELEMAHAN HADITS-HADITS TENTANG FADHILAH SURAT YASIN

Kebanyakan umat Islam membaca surat Yasin karena -sebagaimana dikemukakan di atas- fadhilah dan ganjaran yang disediakan bagi orang yang membacanya. Tetapi, setelah penulis melakukan kajian dan penelitian tentang hadits-hadits yang menerangkan fadhilah surat Yasin, penulis dapati Semuanya Adalah Lemah.

Perlu ditegaskan di sini, jika telah tegak hujjah dan dalil maka kita tidak boleh berdusta atas nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebab ancamannya adalah Neraka. (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya).

HADITS DHA’IF DAN MAUDHU’ SEBAGAI SANDARAN DALIL YASINAN

Adapun hadits-hadits yang semuanya dha’if (lemah) dan atau maudhu’ (palsu) yang dijadikan dasar tentang fadhilah surat Yasin diantaranya adalah sebagai berikut :

Hadist 1

Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum’at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya.” (Ibnul Jauzi, Al-Maudhu’at, 1/247).

Keterangan: Hadits ini Palsu.

Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata: Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. (Periksa: Al-Maudhu’at, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I’tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua’ah hal. 268 No. 944).

Hadits 2

Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari keridhaan Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya.

Keterangan: Hadits ini Lemah.

Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu’jamul Ausath dan As-Shaghir dari Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia munkarul hadits. Kata Ibnu Ma’in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). (Periksa: Mizanul I’tidal I:273-274 dan Lisanul Mizan I : 464-465).

Hadits 3

Artinya: “Siapa yang terus menerus membaca surat Yasin pada setiap malam, kemudian ia mati maka ia mati syahid.

Keterangan: Hadits ini Palsu.

Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu’jam Shaghir dari Anas, tetapi dalam sanadnya ada Sa’id bin Musa Al-Azdy, ia seorang pendusta dan dituduh oleh Ibnu Hibban sering memalsukan hadits. (Periksa: Tuhfatudz Dzakirin, hal. 340, Mizanul I’tidal II : 159-160, Lisanul Mizan III : 44-45).

Hadits 4

Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari) maka akan diluluskan semua hajatnya.

Keterangan: Hadits ini Lemah.

Ia diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari jalur Al-Walid bin Syuja’. Atha’ bin Abi Rabah, pembawa hadits ini tidak pernah bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab ia lahir sekitar tahun 24H dan wafat tahun 114H.

(Periksa: Sunan Ad-Darimi 2:457, Misykatul Mashabih, takhrij No. 2177, Mizanul I’tidal III:70 dan Taqribut Tahdzib II:22).

Hadits 5

Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an dua kali.” (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Keterangan: Hadits ini Palsu.

(Lihat Dha’if Jamiush Shaghir, No. 5801 oleh Syaikh Al-Albani).

Hadits 6

Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an sepuluh kali.” (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Keterangan: Hadits ini Palsu.

(Lihat Dha’if Jami’ush Shagir, No. 5798 oleh Syaikh Al-Albani).

Hadits 7

Artinya: “Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti, jantung, red) Al-Qur’an itu ialah surat Yasin. Siapa yang membacanya maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca Al-Qur’an sepuluh kali.

Keterangan: Hadits ini Palsu.

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 304 8) dan Ad-Darimi 2:456. Di dalamnya terdapat Muqatil bin Sulaiman. Ayah Ibnu Abi Hatim berkata: Aku mendapati hadits ini di awal kitab yang di susun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadits batil, tidak ada asalnya. (Periksa: Silsilah Hadits Dha’if no. 169, hal. 202-203). Imam Waqi’ berkata: Ia adalah tukang dusta. Kata Imam Nasa’i: Muqatil bin Sulaiman sering dusta.

(Periksa: Mizanul I’tidal IV:173).

Hadits 8

Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin di pagi hari maka akan dimudahkan (untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam (sore hari) maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi.

Keterangan: Hadits ini Lemah.

Hadits ini diriwayatkan Ad-Darimi 2:457 dari jalur Amr bin Zararah. Dalam sanad hadits ini terdapat Syahr bin Hausyab. Kata Ibnu Hajar: Ia banyak memursalkan hadits dan banyak keliru. (Periksa: Taqrib I:355, Mizanul I’tidal II:283).

Hadits 9

Artinya: “Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu.

Keterangan: Hadits ini Lemah.

Diantara yang meriwayatkan hadits ini adalah Ibnu Abi Syaibah (4:74 cet. India), Abu Daud No. 3121. Hadits ini lemah karena Abu Utsman, di antara perawi hadits ini adalah seorang yang majhul (tidak diketahui), demikian pula dengan ayahnya. Hadits ini juga mudtharib (goncang sanadnya/tidak jelas).

Hadits 10

Artinya: “Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di sisinya (maksudnya sedang naza’) melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya.

Keterangan: Hadits ini Palsu.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan I :188. Dalam sanad hadits ini terdapat Marwan bin Salim Al Jazari. Imam Ahmad dan Nasa’i berkata, ia tidak bisa dipercaya. Imam Bukhari, Muslim dan Abu Hatim berkata, ia munkarul hadits. Kata Abu ‘Arubah Al Harrani, ia sering memalsukan hadits. (Periksa: Mizanul I’tidal IV : 90-91).

PENJELASAN

Abdullah bin Mubarak berkata: Aku berat sangka bahwa orang-orang zindiq (yang pura-pura Islam) itulah yang telah membuat riwayat-riwayat itu (hadits-hadits tentang fadhilah surat-surat tertentu). Dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata: Semua hadits yang mengatakan, barangsiapa membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu SEMUA HADITS TENTANG ITU ADALAH PALSU. Sesungguhnya orang-orang yang memalsukan hadits-hadits itu telah mengakuinya sendiri. Mereka berkata, tujuan kami membuat hadits-hadits palsu adalah agar manusia sibuk dengan (membaca surat-surat tertentu dari Al-Qur’an) dan menjauhkan mereka dari isi Al-Qur’an yang lain, juga kitab-kitab selain Al-Qur’an. (Periksa: Al-Manarul Munffish Shahih Wadh-Dha’if, hal. 113-115).

KESIMPULAN

Dengan demikian jelaslah bahwa hadit-hadits tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin, semuanya LEMAH dan PALSU. Oleh karena itu, hadits-hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah untuk menyatakan keutamaan surat ini dan surat-surat yang lain, dan tidak bisa pula untuk menetapkan ganjaran atau penghapusan dosa bagi mereka yang membaca surat ini. Memang ada hadits-hadits shahih tentang keutamaan surat Al-Qur’an selain surat Yasin, tetapi tidak menyebut soal pahala(#1). Wallahu A’lam.

Yasinan, Bid'ah Yang Dianggap Sunnah

Ayo pak kita yasinan di rumahnya pak RT!” Kegiatan yang sudah menjadi tradisi di masyarakat kita ini biasanya diisi dengan membaca surat Yasin secara bersama-sama. Mereka bermaksud mengirim pahala bacaan tersebut kepada si mayit untuk meringankan penderitaannya. Timbang-timbang, daripada berkumpul untuk bermain catur, kartu apalagi berjudi, kan lebih baik digunakan untuk membaca Al-Qur’an (khususnya surat Yasin). Memang sepintas jika dipertimbangkan menurut akal pernyataan itu benar namun kalau dicermati lagi ternyata ini merupakan kekeliruan.

Al-Qur’an untuk Orang Hidup

Al-Qur’an diturunkan Alloh Ta’ala kepada Nabi Muhammad shallallohu’alaihi wa sallam sebagai petunjuk, rahmat, cahaya, kabar gembira dan peringatan. Maka kewajiban orang-orang yang beriman untuk membacanya, merenungkannya, memahaminya, mengimaninya, mengamalkan dan berhukum dengannya.
Hikmah ini tidak akan diperoleh seseorang yang sudah mati. Bahkan mendengar saja mereka tidak mampu.

Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati itu mendengar.” (Terjemah An-Nahl: 80).

Alloh Ta’ala juga berfirman di dalam surat Yasin tentang hikmah tersebut yang artinya,
Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan supaya dia memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup.” (Yasin: 69-70).

Alloh berfirman yang artinya, “Sesungguhnya seseorang itu tidak akan menanggung dosa seseorang yang lain dan bahwasanya manusia tidak akan memperolehi ganjaran melainkan apa yang telah ia kerjakan.” (An-Najm: 38-39).

Berkata Al-Hafizh Imam Ibnu Katsir rohimahulloh: “Melalui ayat yang mulia ini, Imam Syafi’i rahimahullah dan para pengikutnya menetapkan bahwa pahala bacaan (Al-Qur’an) dan hadiah pahala tidak sampai kepada orang yang mati, karena bacaan tersebut bukan dari amal mereka dan bukan usaha mereka. Oleh karena itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan umatnya, mendesak mereka untuk melakukan perkara tersebut dan tidak pula menunjuk hal tersebut (menghadiahkan bacaan kepada orang yang mati) walaupun hanya dengan sebuah dalil pun.”

Adapun dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan surat Yasin jika dibaca secara khusus tidak dapat dijadikan hujjah. Membaca surat Yasin pada malam tertentu, saat menjelang atau sesudah kematian seseorang tidak pernah dituntunkan oleh syari’at Islam. Bahkan seluruh hadits yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Yasin tidak ada yang sahih sebagaimana ditegaskan oleh Al Imam Ad Daruquthni.

Islam telah menunjukkan hal yang dapat dilakukan oleh mereka yang telah ditinggal mati oleh teman, kerabat atau keluarganya yaitu dengan mendo’akannya agar segala dosa mereka diampuni dan ditempatkan di surga Alloh subhanahu wa ta’ala. Sedangkan jika yang meninggal adalah orang tua, maka termasuk amal yang tidak terputus dari orang tua adalah do’a anak yang sholih karena anak termasuk hasil usaha seseorang semasa di dunia.

Biar Sederhana yang Penting Ada Tuntunannya

Jadi, tidak perlu repot-repot mengadakan kenduri, yasinan dan perbuatan lainnya yang tidak ada tuntunannya dari Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam. Bahkan apabila dikaitkan dengan waktu malam Jum’at, maka ada larangan khusus dari Rosululloh shollalohu’alaihi wa sallam yakni seperti yang termaktub dalam sabdanya, “Dari Abu Hurairah, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam: Janganlah kamu khususkan malam Jum’at untuk melakukan ibadah yang tidak dilakukan pada malam-malam yang lain.” (HR. Muslim). Bukankah lebih baik beribadah sedikit namun ada dalilnya dan istiqomah mengerjakannya dibanding banyak beribadah tapi sia-sia? Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beramal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim). Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala melindungi kita semua dari hal-hal yang menjerumuskan kita ke dalam kebinasaan(#2).

Kesimpulan

Saudaraku –yang kami sangat merindukanmu menuai sepercik cahaya kebenaran-
Ada beberapa point penting yang hendak kami sampaikan demi meluruskan beberapa tanggapan yang ada mengenai masalah bid’ah dan Yasinan

1. Saudaraku, Bid’ah itu layaknya seperti maksiat dan setiap bid’ah adalah tercela
Ingat Saudaraku karena dalam setiap hadits yang mencela bid’ah itu menyatakan bahwa setiap amalan bid’ah itu tertolak. Bagaimana mungkin sesuatu yang tertolak kok dilakukan lalu dikatakan bukan maksiat?!
Bukankah Nabi bersabda,
‘sesungguhnya sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama)” (HR. Muslim no. 867)?!
Dan bagaimana mungkin kita katakan bahwa ada bid’ah yang baik? Sedangkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dimaksudkan adalah umum karena menggunakan lafazh kullu (yang artinya ‘semua’). Jadi semua bid’ah adalah sesat dan tidak ada pengecualian.

2. Ibadah tidak cukup niat baik, tetapi harus ada dasarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Seandainya boleh kita beribadah asal-asalan tanpa ada dasar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bolehkah kita mengerjakan shalat shubuh 4 raka’at dengan dasar ‘Saya kan niatnya baik’, dengan banyak raka’at berarti kita akan banyak baca Qur’an dan akan lebih banyak memuji Allah? Apakah boleh semata-mata niat baik seperti ini?
Atau gampangnya lagi, apakah mungkin kita mengatakan ‘Saya mau shalat Zhuhur nanti malam saja (kalau sudah tengah malam) karena waktu malam akan lebih khusus, juga tidak banyak yang lihat’? Apakah mungkin kita mengatakan seperti ini dengan dasar niat yang baik semata?
Jawabannya insya Allah tidak. Maka demikian pula amalan ibadah yang lainnya, kita harus beribadah dengan dasar dalil.

3. Kita membahas Yasinan bukan berarti kami ingin memecah belah umat Islam.
Yang kita inginkan agar umat Islam ini bersatu di atas kebenaran, di atas ilmu, di atas petunjuk suri tauladan (panutan) kita. Kita tidak ingin Saudara kita yang lain terjerumus dalam kesalahan dan kekeliriuan dengan melakukan amalan yang tidak ada dasarnya. Kita memperingatkan ini, agar diketahui bahwa ini adalah kekeliruan sehingga dijauhi. Bid’ah memiliki dampak buruk yang sangat berbahaya sehingga kita selalu memperingatkan hal ini, berbeda dengan orang-orang yang notabene cuma membela bid’ah. Di antara dampak buruk bid’ah adalah :
  • Pertama, amalan bid’ah tertolak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)
  • Kedua, pelaku bid’ah tidak akan minum dari telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak akan mendapatkan syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui, mereka itu telah berbuat bid’ah sesudahmu.’ ” (HR. Bukhari no. 7049). Dalam riwayat lain dikatakan, “(Wahai Rabbku), mereka betul-betul pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu.” Kemudian aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku.” (HR. Bukhari no. 7051). Inilah do’a laknat untuk orang-orang yang mengganti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berbuat bid’ah.
  • Ketiga, Seluruh perkara bid’ah yang diada-adakan dalam perkara agama tidak diridhoi oleh Allah karena hal ini telah menyelisihi jalan kaum muslimin yang berada di atas kebenaran (al haq). Seluruh pelaku bid’ah termasuk orang-orang yang mengganti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang membuat-buat perkara baru dalam agama. Begitu pula orang yang berbuat zholim dan yang menyelisihi kebenaran, mereka semua telah membuat sesuatu yang baru dan telah mengganti dengan ajaran selain Islam. Oleh karena itu, mereka juga termasuk dalam hadits ini.” (Lihat Syarh Ibnu Baththol, 19/2, Maktabah Syamilah) –Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai perkara bid’ah dan menjadikan kita sebagai umatnya yang akan menikmati al haudh sehingga kita tidak akan merasakan dahaga yang menyengsarakan di hari kiamat, Amin Ya Mujibad Du’a-
  • Keempat, pelaku bid’ah akan mendapatkan dosa jika amalan bid’ahnya diikuti orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1017)
Itulah beberapa di antara bahaya bid’ah dan dampak buruknya Pembahasan lengkapnya bisa di lihat disini:
1. http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-1.html "Pengertian Bid’ah"
2. http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-2.html "Adakah Bid’ah Hasanah"
3. http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-3.html "Berbagai Alasan Dalam Membela Bid’ah"
4. http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-4.html "Dampak Buruk Bid’ah"

Wallohu a’lam bishshowab.

***
#1. [Penyusun: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Dipublikasikan kembali oleh http://muslim.or.id/manhaj/derajat-hadits-fadhilah-surat-yasin.html dari blog Abu Aufa ]
#2. [Penulis: Muhammad Ikrar Yamin, artikel pada http://muslim.or.id/manhaj/yasinan-bidah-yang-dianggap-sunnah.html

Novi Effendi

Alhamdulillah, mengenal Blogging dan menjadikannya sebagai wadah belajar dan sharing informasi tentang islam yang benar diatas pemahaman manhaj salafush shaleh, insya Allah. Semoga Allah memudahkan blog ini tetap exist sehingga bermanfaat bagi kaum muslimin dalam menguak ilmu, amal dan dakwahnya generasi salaf terbaik dalam menegakkan Sunnah.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

16 komentar for Amalan "YASINAN" Sesuai Sunnah Rasulullah Kah?

  1. Inilah kebodohan dalam memandang suatu kegiatan di Masyarakan. Sesuai sunahkah? Apa yg kita lakukan sdh sesuai sunah. Ada ormas Islam setiap minggu pagi jam 6 ngadakan kajian islam, sesuai sunahkah, apa Rosul jg stiap minggu pagi jam 6 selalu mengadakan pengajian. Kita me wiridkan amalan rutin Surat apapun dalam Al quran sangat bagus. Jangan sempit dalam mengkaji Islam

    BalasHapus
  2. Daripada dipakai maksiat..lebih baik baca yasin..asal kita tidak percaya pada yasin yg memberi fadilah..tapi keikhlasan kita untuk melantunkan kalamullah, niscaya Allah akan mengijabahi apa yang kita kerjakan tsb..

    BalasHapus
  3. Tolong postingan artikel anda ditelaah lagi,dan di klarifikasi dengan para ulama,jangan sampai apa yg anda tulis ini dapat menyesatkan banyak ummat...
    Imam Ghozali mengatakan bahwa perbuatan yg mengingatkan kita kepada allah,maka perbuatan itu dapat digolongkan menjadi bid'ah,(bid'ah khasanah)
    Tapi sungguh disayangkan banyak media yang menuliskan hanyalah bid'ah yg dholalah saja,seolah olah bid'ah itu semuanya sesat...oleh karena itu mohon di perhatikan dan dijadikan renungan buat kita bersama...

    BalasHapus
  4. @Aris_syechersGK فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

    "Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (as-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka".

    Yang mengatakan semua bid'ah itu sesat adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri, seperti penggalan dari khutbatul hajjah di atas dan Ketahuilah wahai sauadaraku -semoga Allah memberkahimu- bahwa khutbah berbarokah ini diriwayatkan dari enam sahabat, yaitu Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdullah, Nubaith bin Syarith dan Aisyah, serta seorang tabi’in yaitu Zuhri.

    Dan karena khutbah inilah yang mendorong sahabat mulia Dhimad al-Azdi untuk memeluk agama Islam?! Dia mengucapkan syahadat masuk Islam usai mendengar Nabi membacakan khutbah hajat kepadanya, lalu dia berkomentar:
    “Aku telah mendengar ucapan para dukun, para penyihir dan para penyair. Namun saya belum pernah mendengar kata-kata engkau tersebut. Sungguh, kata-kata itu telah sampai ke dasar lautan (karena kedalaman makna yang dikandungnya -pent)”.(Muslim: 868)

    Demikianlah sabda Nabi yang tegas, sekalipun hal itu dianggap baik oleh kebanyakan manusia dan menamainya dengan bid’ah hasanah!! Aduhai, dari manakah mereka mendapatkan wahyu pengecualian tersebut?!! Bukankah ini berarti sebuah kritikan kepada hadits Nabi dan pengkhususan dari keumuman tanpa dalil?!! Sekali lagi, janganlah engkau tertipu dengan label “bid’ah hasanah” dalam agama karena istilah itu sendiri merupakan sebuah istilah yang bid’ah!!(http://abiubaidah.com)

    Agar tidak salah memahami apa itu bid'ah maka perlu mendudukkan dan memahami definisi Bid'ah tersebut:

    silahkan klik link berikut:

    1. Mengenal Seluk Beluk BID’AH (1): Pengertian Bid’ah
    2. Mengenal Seluk Beluk BID’AH (2): Adakah BID’AH HASANAH?
    3. Mengenal Seluk Beluk BID’AH (3): Berbagai Alasan Dalam Membela Bid’ah
    4. Mengenal Seluk Beluk BID’AH (4): Dampak Buruk BID’AH

    BalasHapus
  5. فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

    "Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (as-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka".

    Hadits ini 100% tidak ada yang mengingkari matannya. Tetapi obyektiflah dalam memahami makna hadits tersebut, agar Anda tidak terjebak dalam berfatwa. Kalau Anda bersikeras berarti fatwa itu dari Anda, dan kelak Anda akan dimintai pertanggungjawaban atas fatwa Anda. Kalau Anda benar, maka Anda mendapat dua pahala. Jika salah Anda mendapat satu pahala, dengan syarat tidak menyalahkan fatwa orang lain. Karena membuat fatwa harus semata-mata mencari ridho Allah SWT semata, bukan untuk memuaskan hawa nafsu pribadi agar dikatakan sebaga mufaqih/fuqoha/muhaqiq. Itu sudah jelas dapat dosa, AL-HAQQU MIN AMRI ROBBIH.

    Wallahu'alam bisshowab...

    BalasHapus
  6. Bila Anda mengatakan bahwa "Yang mengatakan semua bid'ah itu sesat adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri," itu adalah penafsiran Anda sendiri yang jumud/sempit dan penuh hawa nafsu (karena bernada arogan). Karena para ulama yang sudah dikenal sebagai mujaddid tidak menafsirkan hadits tersebut bermakna seperti yang Anda tafsirkan. Maka kalau mau taklid/ittiba' dengan ulama yang hafal hadits, menguasai lughoh/bahasa Arab, menguasai ilmu hadits dan menguasai beberapa cabang ilmu agama. Jangan taklid kepada pembaca hadits yang membanding-bandingkan literatur dari antar kitab. Saya juga bisa, tinggal buat program/aplikasi sanad hadits jadi deh saya muhadits, bahkan lebih canggih karena tidak perlu ada koreksian sanad. Everything Automatically..

    BalasHapus
  7. saya orang awam yang hanya baca dan memperhatikan. saya tidak tahu apa-apa. Tapi yang saya tahu, kalian semua tuh hanya debat dan merasa paling benar. Mana titk terangnya?????? kita tuh umat muslim, 1 agama. kita punya Tuhan dan Nabi yang sama. Saya kira setelah baca ini akan dapat pembelajaran, tapi setelah lihat komentar kalian semua, jadi nihil.

    BalasHapus
  8. Setiap manusia mempunyai keyakinan masing2...
    anggaplah kebenran Mutlak Alloh SWT itu adalah Lautan...
    Jika kita mengambil air laut dengan cangkir yang sama, belum tentu air laut dalam cangkir tersebut mempunyai kadar garam yang sama...
    Jadi dari pada kita ribut masalah keyakinan
    mendingan kita bersatu memberantas perjudian, perjinahan, koruptor, pencurian dll yg jelas2 itu adalah perbuatan Setan...

    BalasHapus
  9. masalah bid'ah memang agak rumit kalau dilihat dalam kondisi sekarang.. cobalah teliti kembali hadis itu mgk ada penyebabnya hingga rasul berkata pada saat itu... andaikan rasul hidup zaman ini apakah rasul juga ingin berjalan kaki atau naik unta sedankan ada kendaraan yang bisa dipakai lebih praktis , bukankah ilmu digunakan untuk memudahkan dan berkembang..asalkan tidak digunakan untuk maksiat... lah..kalau semua perubahan yg terjadi yg tidak pernah rasul kerjakan anda sendiri tentu sdh mengerjakan bid'ah..

    BalasHapus
  10. @semuanya, Banyak orang yang salah faham akan makna bid’ah yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mengatakan bahwa semua bid’ah adalah kesesatan.

    Pemahaman yang rancu semacam ini muncul dari ketidaktahuan mereka akan uslub (gaya bahasa) Al Qur’an, Hadits, atau ucapan para ulama yang senantiasa membedakan pengertian suatu kata dari segi etimologis (bahasa) dan terminologis (istilah/syar’i).

    Harap bedakan antara definisi lughawi (bahasa) dan syar’i. dan dlm konteks hadits ‘kullu bid’atin dholalah, wa kullu dholalatin finnaar’ yang dimaksud adalah pengertian syar'i bukan bahasa..dlm artian bid'ah yg dimaksudkan oleh nabi adalah dlm hal agama bukan duniawi..

    ada artikel bagus yg udah ana publish di blog ini yakni Mana Dalilnya? Ini Dalilnya..! (1) dan akan berlanjut mengenai masalah bid'ah di artikel selanjutnya ...dtggu ya....

    BalasHapus
  11. Artikel yang menarik, saya sangat setuju dengan artikel yang Anda tulis, insya Allah itu adalah suatu kebenaran. Banyak juga komentar yang yang membela bid'ah, biasanya mereka itu rutin melaksanakan bid'ah dan emosi bila bid'ah yang mereka kerjakan dikritik. Golongan ini sulit menerima kebenaran sesuai dalil karena menganggap bid'ah yang mereka kerjakan itu adalah benar. Berdakwah kepada pelaku bid'ah lebih sulit dibanding berdakwah kepada pelaku maksiat, semoga Allah memberi penulis kesabaran dan ketabahan dan memberi hidayah kepada para pelaku bid'ah. Fastabiqul khairat.

    BalasHapus
  12. aku ga tau apa yg kalian ucapkn.
    dgn mengatakan ini bid'd ini syirik dsb.
    aku berharap kita bisa mebuka diri dan intropeksi.
    yg jelas sejelek2 nya orng pasti ga mau di salahkan.
    jd menurut saya..
    '' dri pada ngurusi ini bid'ah ini sirik mlah ga selesai-selesai.
    menduing soltny sdh tepat waktu aapa belum...
    keluargamu, nderes kitapmu, solat tahajud mu..
    soal bid'ah, sirik biar di urusi orang lain.
    soalnya dr dulu jg ga rampung-rampung.
    itu menurut saya, kalo situ ga nurut ya terserah.

    BalasHapus
  13. @Siban Ua Allâh Ta'âla mengutus para rasul-Nya dengan tugas yang sama, menyeru manusia agar beribadah kepada Allâh Ta'âla semata dan menjauhi thâghût dan syirik(lawan dari tauhid
    silahkan lihat Kesamaan Dalih Para Penentang Dakwah Para Rasul

    untuk inilah rasul diutus....silahkan dibaca

    Bahaya Syirik

    BalasHapus
  14. Assalamu'alaikum Wr,wb
    Sangat setuju dengan paparan penulis.....
    kita sebagaiummat Nabi Muhammad SAW yang berada di akhir zaman, bagi saya tidak terlalu aneh, tentang pendapat yang menghalalkan terhadap bid'ah, karena mereka bukan beragama secara ikhlas lillahita'ala, namun mereka pake hawa nafsu..... seyogyanya kalau mereka berkeinginan menjadi mu'min yang beriman dengan i'tikad beribadah yang benar menurut syari'at, seharusnya berpegang teguh kepada Kitabulloh (Al-Qur'an) dan Sunnah yang shoheh.....
    Kami mendukung penulis teruskan dawah, sabar dan sabar, karena kearoganan mereka karena ketidak tahuan....... tentang pengertian-pengertian tentang Bid'ah baik bid'ah hasanah maupun dolallah..... maaf setahu saya pengertian bid'ah hasanah atau dolallah itu terbagi dua :
    1. Semua Bid'ah yang berhubungan dengan ibadah ma'doh itu Dolallah.
    2. sedangkan dalam mua'malah (keduniaan) ada bid'ah dolallah dan hasanah, sesuai manfaatnya.
    - bahwa seluruh aktifitas manusia hidup di dunia adalah ibadah, bagi ummat muslim.
    jadi segala segi kehidupan tidak terlepas dari beribadah, maka kita mesti belajar tentang Islam mana ibadah Ma'doh atau ghoer ma'doh.
    Ada kisah sedikit pengalaman saya :
    ada orang berdebat tentang Niat Sholat yaitu USholi.
    kata si A bahwa usholi itu diboleh karena satu kesatuan dari niat blaaa.blaaa
    kata si B bukan sunnah karena tidak ada contoh rasul
    kata si C bebas mau pake mau tidak tak masalah yang gak benar orang yang tidak sholat.
    kata si D udahlah jangan ribut Usholi itu cuma Sunnah.
    Saya cuma menjadi pendengar saja........ perlu diketahui yang debat kecil itu Si A bertitel Haji.
    karena agak rada ribut coba saya masuk memberi pertanyaan kepada mereka :
    Maaf pahaji apakah SUNNAH itu hukum atau bukan ?
    Pa Haji jawab ... enda tahu
    yang tahu mah sunnah itu apabila dikerjakan berpahla tidak dikerjakan tidak berdosa....
    kata saya Betul.... tapi bukan itu pahaji maksudnya, "Jangan kita bilang itu Sunnah kalau tidak ada conto Nabi" karena sunnah itu adalah Pekerjaan dan Perkataan nabi, mau dibilang usholi itu Sunnah wong Tidak ada perkataan atau perbuatan Rassul. diam semua.... diakhiri .... saya sarankan belajar-belajar-terus belajar tentang islam dengan ikhlas dan cari kebenaran dari siapapun.... agar tahu tentang syariat...sebenarnya..... jangan mencibir pada pendapat orang lain.... sipa tahu pendapat itu benar.... ciri orang yang menolak pendapat orang lain hususnya dalam kebenaran berarti orang itu dalam beragamanya tidak karena Alloh.
    Wassalam......

    BalasHapus
  15. blog di zaman nabi ada ga ya? bid'ah dong heheh

    BalasHapus
  16. @Unknown yang namanya bid'ah dalam perkara agama coy...

    BalasHapus

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Select Menu