Kaidah Memahami Sifat-sifat Allah Yang Mulia

Sesungguhnya Alquran dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat banyak sekali menyebutkan tentang sifat-sifat Allah. Maka dari itu selayaknya kita sebagai seorang muslim mengerti dan memahami sifat-sifat tersebut sesuai dengan kebesaran Allah tanpa mengingkari dan tidak pula menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk. Serta kita mampu mengambil pelajaran imaniyah dan amaliyah dari makna sifat-sifat Allah tersebut. Dengan demikian kita akan mampu meningkatkan kualitas ibadah kita, meraih nilai peringkat ihsan, yaitu beribadah seolah-olah kita melihat Allah.



Tentu hal tersebut bisa kita raih apabila kita memahami sifat-sifat Allah tersebut sesuai dengan dengan pemahaman para sahabat dan ulama-ulama terkemuka yang mengikuti jejak mereka dari kalangan umat ini. Yaitu pemahaman para ulama Ahlussunnah Waljama’ah. Agar kita selamat dari dua bahaya dalam memahami sifat-sifat Allah tersebut; yaitu bahaya ta’thiil (pengingkaran) dan bahaya tasybiih (penyerupaan).

Dari sini betapa pentingnya bagi kita untuk mengetahui kaidah-kaidah yang disebutkan oleh para ulama dalam memahami sifat-sifat Allah tersebut. Dalam bahasan kali ini kami mencoba menyebukan kaidah-kaidah tersebut sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama Ahlussunnah dalam kitab-kitab mereka[1]:

Kaidah pertama: Sifat-sifat Allah adalah tauqifiyah (harus ada dalil yang menyatakannya).

Dalam menetukan sifat-sifat Allah kita mesti berpegang kepada Alquran dan hadits-hadits yang shahih. Kita dilarang menentukan sebuah sifat, apabila sifat tersebut tidak terdapat dalam Alquran dan hadits yang shahih. Baik dalam penyebutan terhadap sebuah sifat maupun dalam penetapannya, kita dilarang merubah lafazh-lafazh nama dari sifat-sifat Allah tersebut. Demikian pula kita dilarang menentukan sebuah sifat yang tidak ada dalilnya dalam nash-nash yang valid.

Barangsiapa yang menetapkan sebuah sifat tanpa ada dalil dari Alquran dan Sunnah. Atau merubah penyebutan terhadap sebuah sifat tertentu, seperti menyebut sifat Al ‘Uluw dengan istilah al jihah (arah) dan al makaan (tempat). Maka orang tersebut telah melakukan sebuah pencemaran terhadap kemulian Allah dan berbicara tanpa ilmu tentang Allah. Tindakan ini jelas diharamkan dalam agama Islam sebagaimana Allah tegas dalam firmannya,


قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ [الأعراف/33]

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.

Dalam ayat yang lain Allah sebutkan,


وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا [الإسراء/36]

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabannya.”

Bahkan berbicara tentang sesuatu terhadap Allah yang tidak didasarkan kepada ilmu adalah mengikuti perintah setan. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,


وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (168) إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ [البقرة/168، 169]

Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah sesuatu yang tidak kamu ketahui.”

Karena yang lebih tau tentang Allah adalah Allah itu sendiri kemudian Rasul-Nya . Oleh sebab itu kita dilarang untuk menetapkan suatu sifat bagi Allah atau memberi nama terhadap sebuah sifat Allah yang tidak diterangkan oleh Allah dan Rasul-Nya . Sebab Allah telah menentukkan lafazh yang pantas dalam menyebut sifat-sifat tersebut. Jika lafazh-lafazh tersebut diganti atau dirubah akan menimbulkan kerancuan dalam maknanya. Yang pada akhirnya bermuara kepada pengingkaran sifat itu sendiri. Hal ini sering dilakukan oleh orang-orang Mu’aththilah (sekte yang mengingkari sifat-sifat Allah).

Kaidah kedua: Semua sifat Allah adalah sifat yang sempurna.

Semua sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan hadits-hadits shahih adalah sifat yang sempurna. Tidak ada cacat dan kekurangan sedikitpun dalam segi kesempurnaannya, Allah Maha suci dari segala sifat-sifat yang kurang. Disamping itu sifat-sifat tersebut menunjukkan tentang keMahasempurnaan Allah itu sendiri, karena semua sifat-sifat yang sempurna hanyalah milik Allah semata. Sebagaimana Allah berfirman,


وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [النحل/60]

Dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Berkata Ibnu Katsiir,


{ وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الأعْلَى } أي: الكمال المطلق من كل وجه، وهو منسوب إليه

Maksud dari perkataan Allah: “ Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi” artinya kesempurnaan yang mutlak dari segala segi, yang dinisbahkan kepada-Nya[2]. ”

Dalam ayat lain Allah sebutkan,


وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى [الروم/27]

Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi.

Bila kesempurnaan yang multak dalam sifat hanya milik Allah semata, maka tentu tidak seorang dari makhluk yang serupa dengan Allah. Meskipun sebagian makhluk memiliki sifat yang sama penyebutannya dengan sifat Allah, akan tetapi sifat makhluk tersebut tidak sempurna.

Adapun makhluk adakalanya memiliki sifat yang baik tetapi tidak sempurna, selalu ada kekurangan dari berbagai segi. Dan adakalanya tidak memiliki sifat-sifat yang baik sama sekali seperti berhala dan patung-patung yang dijadikan sebagai sesembahan, maka ia adalah makhluk yang amat kurang dan hina. Oleh sebab itu ini adalah sebagai bukti yang nyata bahwa hanya Allah semata yang berhak kita sembah. Adapun selainnya adalah makhluk yang lemah dan memiliki berbagai bentuk kekurangan. Sebagaimana ungkapan nabi Ibrohim kepada bapanya,


يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا [مريم/42]

Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?

Maka oleh sebab itu orang yang mengingkari sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran maupun dalam sunnah, tanpa ia sadari ia telah mensifatkan Allah dengan lawan dari sifat yang ia nafikan (ingkari).

Apabila suatu sifat memiliki dua sisi; bila dilihat dari satu sisi ia adalah sifat terpuji dan apabila dari sisi yang lain ia adalah sifat yang tercela. Seperti sifat tipu daya (makar) dan berolok-olok (istihzaa’). Maka sifat-sifat semacam ini tidak boleh dinisbahkan kepada Allah kecuali pada saat kondisi sifat tersebut terpuji yaitu ketika mebalas perbuatan sejenis (muqobalah).

Sebagaimana dalam firman Allah berikut,


وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ [الأنفال/30]

Mereka melakukan tipu daya dan Allah-pun (membalas) melakukan tipu daya. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.

Demikian juga firman Allah,


قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ (14) اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ [البقرة/14، 15]

Mereka berkata: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok. Allah-pun (membalas) memperolok-olokan mereka.

Ini menunjukkan kesempurnaan sifat Allah, bahwa Allah mamapu membalas perbuatan orang-orang kafir sesuai dengan perbuatan mereka sendiri. Agar terbukti oleh mereka bahwa Allah Mahasempurna dalam segala sifat-Nya.

Oleh sebab itu, sifat-sifat yang seperti ini tidak Allah nisbahkan kepada-Nya kecuali hanya setelah menyebutkan sikap orang-orang kafir sebagai balasan atas perbuatan mereka.

Maka dalam mengungkapkan sifat-sifat Allah seperti ini harus ada kehati-hatian. Kita tidak boleh mengatakan: Allah memiliki sifat tipu daya atau melakukan tipu daya terhadap makhluk. Akan tetapi boleh dikatakan: Allah melakukakan tipu daya terhadap orang yang melakukan tipu daya terhadap-Nya, atau terhadap rasul-rasul-Nya dan orang-orang beriman. Demikian pula tidak boleh dikatakan: Allah berolok-olok dengan makhluk. Akan tetapi boleh dikatan: Allah memperolok-olokkan orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat-Nya, atau rasul-rasulnya dan orang-orang beriman.

Kaidah ketiga, Dalam mengimani sifat-sifat Allah harus waspada terhadap dua penyimpangan; tamtsiil (penyerupaan) dan takyiif (membayangkan bentuk).

Tamtsiil adalah menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk. Seperti mengatakan bahwa pendengaran Allah seperti pendengaran manusia.

Adapun Takyiif adalah menggambarkan bentuk sifat Allah tetapi tanpa menyerupakan dengan sifat makhluk.

Dalam mengimani segala sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan hadits-hadits yang shahih kita tidak boleh menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk. Tanpa terkecuali satupun dari sifat-sifat tersebut. Demikian pula tidak boleh membayangkannya dengan akal pikiran kita tentang bentuk dan hakikat sifat-sifat tersebut. Karena bagaimanapun kita membayangkannya sesungguhnya sifat Allah jauh lebih sempurna dari apa yang kita bayangkan.

Hal ini Allah tegaskan dalam firman-Nya,


{فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ} [النحل/74]

Maka janganlah kalian membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah.”

Berkata Ibnu Jariir Ath Thabary, “Maka janganlah kamu menjadikan bagi Allah misal-misal (tertentu). Dan jangan pula menjadikan bagi-Nya rupa-rupa (tertentu). Sesungguhnya tiada bagi Allah perumpamaan dan peyerupaan.”

Dalam ayat lain Allah katakan,


{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ} [الشورى/11]

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia (Allah), dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.

Diterangkan oleh Ibnu Jariir ath Thabary dan Al Baqhwy, dalam ayat ini ada dua pengertian, salah satunya ,Allah tidak menyerupai sesuatu. Kedua, tiada sesuatupun yang menyerupainya.[1]

Bagaimana akan serupa antara sifat Allah yang amat sempurna dengan sifat makhluk yang penuh kekurangan! Betapa banyak kita lihat sesama makhluk yang memiliki sifat yang sama namanya tetapi bentuk dan hakikatnya jauh berbeda. Seperti sayap nyamuk dengan sayap burung, telinga gajah dengan telinga manusia, bentuk dan hakikatnya berbeda-beda meskipun sama-sama disebut sayap dan telinga.

Maka tentu perbedaan antara sifat Allah dengan sifat makhluk adalah merupakan suatu hal yang pasti, meskipun sifat tersebut sama dalam penyebutannya.

Barangsiapa yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk, maka sesungguhnya ia telah menyamakan Allah yang Mahasempurna dengan makhluk yang serba kurang. Maka tidak diragukan lagi bahwa ini adalah suatu kekufuran yang amat nyata.

Kaidah keempat, Beriman kepada sifat-sifat sebagaimana kita mengimani adanya zat Allah.

Sesungguhnya sifat Allah sesuai dengan zat-Nya sendiri. Sedangkan kita tidak melihat zat Allah bagaimana kita akan bisa menggambarkan dan membayangkan sifat-sifat-Nya. Untuk membandingkannya juga tidak mungkin karena tidak ada satupun makhluk yang sebanding Allah, baik dalam zat-Nya maupun dalam sifat-Nya.

Sebagaimana Allah katakan dalam firman-Nya,


وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ [الإخلاص/4]

Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (Allah).

Dalam Alquran dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak ada penjelas tentang bentuk dan hakikat sifat Allah tersebut. Oleh sebab itu kita hanya meyakini bahwa Allah memiliki sifat sesuai dengan yang disebut dalam Alquran maupun hadits-hsdits shahih. Hakikat dan bentuk sifat tersebut sesuai dengan kebesaran Allah itu sendiri. Dan hanya Allah yang mengatahui bagaimana bentuk dan hakikat sifat-Nya tersebut.

Allah hanya mewajibkan kepada kita sebatas beriman kepada sifat-sifat-Nya, tetapi tidak membebankan atau memerintah kita untuk mengetahui hakikat dan bentuk sifat-Nya. Dan ketidak tahuan kita tentang hakikat dan bentuk sifat tersebut tidak mengurangi nilai keimanan kita kepada Allah dan kepada sifat-Nya. Karena kita telah melakukan sesuai dan sebatas yang diperintahkan Allah kepada kita.

Sebagaimana kita meyakini Allah itu ada dengan Zat-Nya, walau kita tidak melihat zat tersebut. Demikian pula dalam mengimani sifat Allah, kita wajib meyakininya sekalipun tidak mengetahui bentuk dan hakikatnya. Jangankan untuk mengetahui hakikat sifat Allah. Untuk mengetahui sebagian sifat makhluk saja kita tidak bisa. Sebagaimana kita percaya tentang adanya roh, tetapi tidak kita ketahui hakikat dan bentuknya. Demikian pula kita beriman dengan segala nikmat yang ada dalam surga, tetapi kita tidak mengetahui bentuk dan hakikat dari berbagai nikmat tersebut.

Berkata Ibnu Abbas radhialllahu ‘anhu, “Tiada keserupaan apa yang ada dalam surga dari sesuatu yang ada di dunia kecuali hanya dari segi nama.”[2]

Kaidah kelima, Dalam beriman kepada sebagian sifat Allah adalah sebagimana kita mengimani lainnya, tanpa membeda-bedakan dari sifat tersebut.

Dalam mengimani sifat Allah kita tidak boleh membeda-bedakan atau memilih dan memilah antara satu dan lainnya. Karena semuanya sifat Allah yang disebutkan dalam Alquran atau disebutkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-haditnya yang shahih. Jika kita memilah dan memilih maka kita tidak beriman kepada Alquran da kepa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam secara utuh dan konsekuen.

Allah telah berfirman,


أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ [البقرة/85]

Apakah kalian beriman dengan sebagian kitab dan kafir dengan bagian yang lain! Tiada balasan orang yang melakukan hal demikian diantara kalian, kecuali kehinaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada adzab yang keras. Allah tidak pernah lalai dari apa yang mereka perbuat.

Dalam ayat lain Allah katakan,


إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا (150) أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا [النساء/150، 151]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan (dalam beriman) antara Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.

Sebagian manusia ada yang meyakini adanya zat Allah, tetapi mereka mengingkari nama dan sifat-sifat Allah seperti sekte Jahmiyah. Sebahagian lagi ada yang beriman dengan zat dan nama-nama Allah, tetapi tidak beriman dengan sifat-sifat Allah seperti sekte Mu’tazilah. Kemudian ada lagi yang beriman dengan zat, nama dan sebahagian dari sifat Allah, tetapi mengingkari sebahagian sifat seperti sekte Asyaa’irah dan Maturidiyah.

Orang yang mengikari sifat-sifat Allah juga jatuh kepada Tasybiih (penyerupaan Allah dengan makhluk). Ketika mereka mengingkari sifat-sifat Allah, tanpa mereka sadari mereka telah menyerupakan Allah dengan makhluk yang cacat dan benda mati yang juga tidak memilki sifat-sifat tersebut. Maka Tasybih itu ada dua; bentuk pertama, menyerupakan Allah dengan makhluk yang hidup. Bentuk kedua, menyerupakan Allah dengan makhluk yang cacat dan benda mati.

Kaidah kenam, Sifat Allah dari segi penetapannya terbagi kepada dua macam, tsubutiyah (penetapan) dan mamfiyah (peniadaan).

Yang dimaksud dengan sifat-sifat tsubutiyah adalah sifat-sifat yang ditetapkan Allah untuk diri-Nya dalam Alquran. Atau disebutkan oleh Rasulullah dalam hadits-hadits beliau yang shahih. Seperti sifat Qudroh, Irodah, Hayaat, Istiwaa’, Nuzul dll. Dalam mengimani sifat-sifat tsubutiyah ini telah kita jelaskan Kaidah-Kaidah di atas.

Adapun yang dimaksud dengan sifat-sifat mamfiyah adalah sifat yang dinafikan Allah terhadap diri-Nya. Atau dinafikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits beliau yang shahih. Maka kita wajib mensucikan Allah dari sifat-sifat tersebut. Karena sifat-sifat tersebut adalah bertentangan dengan keagungan dan kesempurnaan sifat-sifat Allah. Seperti sifat ngantuk dan tidur, lemah, kematian dll.

Tetapi perlu diyakini bahwa Allah memiliki kesempurnaan sifat lawan dari sifat yang dinafikan tersebut. Sebab tujuan dinafikannya sifat tersebut untuk menunjukkan kesempurnaan Allah dalam sifat-Nya yang menjadi lawan dari sifat yang dinafikan tersebut.

Sebagaimana dalam firman Allah berikut,


اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ [البقرة/255]

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Hidup kekal lagi Maha pengatur (makhluk-Nya) terus menerus; tidak mengantuk dan tidak tidur.

Dalam ayat yang mulia ini Allah menafikan sifat ngantuk dan tidur, karena dua hal ini mengurangi kesempurnaan sifat hidup. Maka diantara bentuk kesempurnaan hidup Allah adalah tidak pernah ditimpa sifat ngantuk dan tidur. Adapun kehidupan makhluk tidak pernah luput dari dua sifat tersebut. Ini menunjukkan betapa sempurnanya sifat Allah tersebut.

Demikian pula firman Allah,


وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ [الفرقان/58]

"Dan bertawakkallah kepada Allah yang Maha hidup (kekal), yang tidak (akan penah) mati.

Ayat ini lebih menekankan lagi tentang kesempurnaan sifat Hayat Allah subhaanahu wata’ala. Dimana kehidupan Allah tidak akan diakhiri dengan kematian, akan tetapi kehidupan Allah adalah kehidupan yang sempurna, abadi dan kekal. Adapun kehidupan segala makhluk adalah dimulai dari ketiadaan dan akan berakhir dengan kematian.

Maka dari sini ada dua hal yang menunjukkan kesempurnaan sifat-sifat Allah tersebut:

Pertama, dari segi makna sifat itu sendiri adalah makna yang amat sempurna dan paling dalam maknanya.

Kedua, dari segi terbebasnya sifat tersebut dari segala lawannya serta segala hal yang mengurangi kesempurnaan nilai dan maknanya.

Dan masih banyak sifat-sifat manfiyah lain yang disebutkan dalam Alquran dan sunnah. Maka kita mensucikan Allah dari segala sifat manfiyah serta wajib meyakini kesempurnaan Allah dalam lawan dari sifat tersebut.

Kaidah ketujuh, Sifat Allah dari segi keberadaan sifat tersebut terbagi kepada dua macam, sifat zatiyah dan sifat fi’liyah.

Yang dimaksud dengan sifat zatiyah yaitu sifat yang berlangsung setiap saat pada zat Allah, dan tidak berhubungan dengan masyi’ah. Seperti sifat Ilmu, Qudrat, Sama’, Bashar, ‘Uluw dll.

Adapun sifat fi’liyah adalah sifat Allah yang berhubungan dengan masyi’ah Allah. Maka sifat tersebut berlangsung pada zat Allah kadangkala saja, pada saat Allah kehendaki. Sebaliknya sifat tersebut tidak berlangsung jika Allah tidak berkehendak melakukannya. Seperti sifat istiwaa’ dan nuzul. Seluruh sifat yang berhubungan dengan masyi’ah Allah maka ia bergantung kepada hikmah Allah. Walaupun kita tidak mengetahui tentang hikmah-hikmah tersebut.

Diantara sebahagian sifat ada yang termasuk kedua jenis terseut sekaligus seperti sifat kalam. Dari satu sisi ia adalah sifat zatiyah namun dari sisi lain ia juga sifat fi’liyah. Dilihat dari segi asal sifat kalam maka Allah telah memiliki sifat kalam sejak azali, karena Allah mampu melakukan sifat kalam sejak azali. Namun dilihat dari segi berlaku dan terjadinya sifat kalam hanya pada saat dikehendaki Allah. Maka oleh sebab itu Allah berbicara kepada sebagian makhluk dalam waktu yang berbeda-beda.

Sebagaimana terdapat dalam firman Allah,


تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ [البقرة/253]

Demikian Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya.

Diantara rasul yang Allah berbicara langsung dengannya adalah nabi Musa ‘alaihissallam.

Sebagaimana dalam firman Allah,


وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ [الأعراف/143]

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada tempat yang telah Kami tentukan dan Tuhannya bebicara secara (langsung) kepadanya.

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa kalam Allah berlansung setelah saat nabi Musa ‘alaihissallam sampai pada tempat munjatnya dengan Allah, bukan sebelum itu. Maka disini menunjukkan bahwa kalam Allah sesuai dengan masyi’ahnya. Bukan berarti Allah tidak bisa berbicara sebelum itu, Allah telah memiliki siafat kalam sejak azali, namun keberlangsungannya sesuai dengan masyi’ah Allah.

Maka kesempurnaan Allah dalam sifat kalam adalah Allah berbicara kapan Ia kehendaki, dengan siapa yang Ia kehendaki baik dari rasul-rasul maupun dari para malaikat. Dan dengan cara yang Ia kehendaki, hanya Allah yang mengetahui bagaimana kaifiyah (bentuk) dan hakikat cara dari kalam Allah tersebut. Kalam Allah tidak serupa dengan kalam makhluk sedikitpun, baik dari segi susunan maupun makna dan kaifiyahnya[3].

Bukankah kita mengetahui bahwa batu memberi salam kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan ia tidak memiliki rongga dan lidah!. Kalau saja pada makhluk ada perbedaan dalam bentuk berbicara, tentu perbedaan antara kalam Allah dengan kalam makhluk sudah sangat pasti. Maka perbedaanya adalah seperti perbedaan antara zat makhluk dengan zat Allah itu sendiri.

Penulis, Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.
Artikel www.dzikra.com

[1] Lihat tafsir Ath Thabari, 21/507, dan tafsir Al Baqhwy, 7/186.
[2] Diriwayatkan Ibnu Jariir Ath Thabari dalam tafsirnya, 1/392.
[3] Insya Allah akan kita bahas secara rinci pada waktu yang lain.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Adab Makan Seorang Muslim Sesuai Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

Definisi, Nama, Tugas, Perbedaan Nabi dan Rasul Dilengkapi Tabel