Memahami Nash-Nash yang Menerangkan Sifat Allah

Ayat sifat adalah sama kedudukannya dengan ayat-ayat lain yang wajib kita pahami dan hayati serta kita amalkan dalam kehidupan kita. Sebagaimana perintah Allah kepada kita untuk menghayati dan memahami Alquran dalam firman-Nya,
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ [ص/29]
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, agar mereka menghayati ayat-ayatnya, dan orang-orang yang mempunyai fikiran  mendapat pelajaran.”

Dalam ayat yang mulia ini Allah menerangkan tentang tujuan diturunkannya Alquran, yaitu agar umat manusia merenungkan dan menghayati ayat-ayatnya. Termasuk kedalamnya ayat-ayat yang menerangkan sifat dan nama-nama Allah. Dengan menghayati makna ayat-ayat yang menerangkan sifat-sifat Allah, seorang muslim akan semakin termotifasi untuk tunduk kepada perintah Allah. Dan akan semakin mendekatkan diri kepada-Nya, maka dengan demikian akan semakin meningkat pula keimanannya.
Oleh sebab itu, sering kita temukan dalam Alquran ayat-ayat yang menerangkan tentang sebuah hukum ditutup dengan nama Allah yang mulia.

Sebagai contoh ayat yang menerangakan tentang hukum pencuri,
وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ [المائدة/38]
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Ayat di atas ditutup dengan nama Allah “Al ‘Aziiz” (Maha Perkasa) dan “Al Hakiim” (Maha Bijaksana). Kedua nama Allah tersebut sangat memberikan makna yang dalam terhadap ayat di atas. Allah memiliki sifat ‘Izzah (keperkasaan) dimana tidak seorangpun dapat membatah dan menolak hukum yang ditetapkan-Nya. Dan Allah memiliki sifat hikmah (bijaksana) dimana hukum yang ditetapkan-Nya adalah hukum yang paling tepat dan adil serta penuh hikmah yang tidak mungkin bisa dibandingkan dengan hukum buatan manusia.
Oleh sebab itu dikisahkan ketika seseorang keliru dalam membaca ayat di atas dihadapan seorang a’raby (orang arab pedalaman). Orang tersebut menutup ayat tersebut dengan nama Allah “Al Ghafuur” (Maha Pengampun) dan “Ar Rahiim” (Maha Pengasih). Orang badui langsung menegur bahwa bacaan ayat yang dibaca orang tersebut keliru. Seraya berkata, “Yang anda baca bukan kalam Allah!” -Hal tersebut ia ketahui hanya dengan melihat kaitan antara makna awal ayat dengan makna sifat Allah yang menjadi penutup ayat-. Tatkala orang tersebut memeriksa hafalannya kembali, rupanya ia keliru dalam membaca potongan akhir ayat tersebut. Lalu orang a’raby tersebut berkata, “Allah Maha Perkasa maka Dia memberikan hukuman, maka dipotonglah tanganya. Jika Allah ampuni dan merahmatinya tentu Allah tidak menyuruh memotong tangannya.”
Imam Ibnul Qayyim mengomentari kisah di atas, “Apabila engkau merenungkan ayat-ayat yang ditutup dengan nama dan sifat-sifat Allah, niscaya engkau akan menemukan perkataan Allah tersebut ditutup dengan menyebutkan sifat yang sesuai dengan kedudukannya. Seolah-olah ia sebagai dalil dan hujjah atasnya.”[1]
Pada kali yang lain beliau katakan, “Karenanya apabila ayat yang menerangkan rahmat ditutup dengan nama yang menyatakan azab atau sebaliknya, perkataan tersebut akan terasa saling berbeturan dan tidak tersusun.”[2]
جلاء الأفهام – (ج 1 / ص 172)
Tetapi bila kita cermati ayat berikutnya setelah ayat diatas, akan semakin jelas bagi kita bahwa nama dan sifat Allah yang menutup sebuah ayat sangat erat hubungannya dengan makna ayat itu sendiri.
فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ [المائدة/39]
“Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ayat ini ditutup dengan nama Allah “Al Ghafuur” (Maha Pengampun) dan “Ar Rohiim” (Maha Pengasih) karena awal ayat bertemakan tetang taubat. Untuk menghilangkan sifat putus asa dalam diri orang yang terlanjur berbuat dosa, maka Allah menyebutkan bahwa diri-Nya Maha Pengampun terhadap segala dosa, lagi Maha Penyayang terhadap seluruh makhluk yang mau bertobat. Maka ayat tersebut merupakan dorongan sekaligus perintah untuk bertaubat bagi seseorang yang terlanjur melakukan dosa.
Dianatara bukti lain yang menunjukkan tentang pentingnya memahami dan menghayati ayat-ayat yang menerangkan sifat Allah. Dimana Allah menjadikan sifat-sifat-Nya yang Maha sempurna sebagai bukti keesaan-Nya dalam segala ibadah hamba-Nya. Seperti yang terdapat dalam beberapa ayat berikut,
وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ (19) وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ (20) أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ (21) إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآَخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ [النحل/19-22]
“Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan. Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan. Tuhan sembahanmu adalah sembahan Yang satu. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.”
Dalam ayat di atas Allah menjelaskan tentang keluasan dan kesempurnaan ilmu-Nya sebagai bukti bahwa yang behak diibadati. Adapun sesembahan selain Allah tidak memiliki ilmu yang sempurna.
Dalam ayat yang lain,
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24) [الحشر/22-24]
“Dialah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Mahadiraja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Dalam ayat diatas Allah menyebutkan nama dan sifat-sifat yang mulia sebagai bukti-bukti yang menunjukkan bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Dia semata. Diantara bukti tersebut adalah: kesempurnaan ilmu Allah, rahmat Allah, kerajaan Allah, kesujian Allah dari segala sifat yang kurang, yang memberi kedamaian, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dari uraian di atas semakin jelas bagi kita betapa pentingnya memahami dan menghayati sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran maupun Assunnah. Agar sampai pada tujuan tersebut kita perlu mengatahui kaedah-kaedah dalam memahami nash-nash sifat tersebut sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama kita. Berikut sekelumit tentang penjelasannya.
Kaedah Pertama: Memahami nash-nash yang menerangkan sifat Allah dengan makna yang tanpak secara lahir, tanpa mengecualikan satupun. Baik yang disebutkan dalam nash-nash mutawatir maupun ahaad (hadits shahih yang tidak sampai pada tingkat mutawatir).
Karena Allah mewajibkan kepada kita untuk menerima segala ajaran yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara utuh, tanpa terkecuali satupun. Begitu pula tanpa memilah-milah antara ayat Alquran dan hadits-hadits. Sekalipun derajat hadits-hadits tersebut kekuatannya tidak sampai kepada tingkat mutawatir. Menurut kesepakatan para ulama hadits syarat untuk sebuah nash bisa dijadikan sebagai hujjah (dalil) minimal memenuhi kriteria hasan ligharihi[3].
Maka oleh sebab itu, kita dilarang mendahulukan akal pikiran kita diatas nash-nash yang shohih. Apalagi sampai menolak dan menetang nash-nash yang shohih tersebut dengan akal kita.
Allah berfirman dalam Alquran,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ [الحجرات/1]
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Yang kita maksud dengan akal disini adalah akal pikiran yang rusak, yang menolak dan menentang nash-nash yang shohih. Karena akal kita sangat lemah sekali kemampuannya dalam mengetahui hal-hal yang ghaib apalagi tentang kaifiyah (bentuk/hakikat) sifat-sifat Allah. Maka akal kita harus tunduk kepada nash-nash syar’i, sebagaimana anggota badan kita tunduk kepada Allah.
Jika ada orang yang menolak nash-nash syar’i dengan akan pikiran mereka, terutama nash-nash yang menerangkan tetang sifat-sifat Allah berarti orang tersebut telah menutup pintu untuk mengenal Allah. Kemudian akan bermuara pada pembatalah ibadah kepada Allah. Bagaimana seseorang akan tetap beribadah, sementara ia tidak mengenal sifat-sifat yang menjadi sembahannya. Seseorang tidak akan timbul rasa tawakkal jika ia tidak mengenal tentang kebesaran dan kesempurnaan qudrat Allah. Demikian pula ibadah-ibadah lainnya seperti mahabbah, khauf, raja‘ sangat erat hubungannya dengan menganal sifat-sifat Allah.

Kedua: Tidak membenturkan atau mempertentangkan antara satu nash dengan nash yang lainnya. Dalam memahami dan menghayati ayat-ayat sifat kita tidak boleh membenturkan atu mempertentangkan antara ayat-ayat tersebut. Seperti membenturkan antara ayat-ayat yang menerangkan tentang ‘uluw dengan ayat-ayat ma’iyah dan antara nash yang merangkan tentang istiwaa‘ dengan nash yang menerangkan tentang sifat nuzul. Atau mengimani salah satu dari bentuk nash-nash tersebut dan mengikari yang lainnya.
Berikut kita berikan contoh dalam mengkompromikan antara dalil ‘uluw dengan dalil ma’iyah:
Ada orang yang meyakini bahwa Allah bersama makhluk dengan zat-Nya dan Allah berada dimana-mana dengan zat-Nya. Keyakinan seperti ini memiliki tiga model pemahaman: Wihdatulwujuud, Ittihaadiyah dan Huluuliyah[4].

Mereka ber-hujjah dengan firman Allah,
{ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ}   [الحديد/4]
” Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada.”
Dan firman Allah,
{ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا}[المجادلة/7]
“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada.”
Mereka memahami dari dua ayat diatas bahwa Allah bersama makhluk adalah dengan zat-Nya. Padahal ayat-ayat tersebut tidak menunjukkan apa yang mereka pahami. Dengan melihat ayat yang lain yang menyatakan kebersamaan Allah dengan sebagian makhluk saja. Seperti ketika Allah memerintah nabi Musa untuk menyeru Fir’aun untuk beriman kepada Allah.
قَالَ كَلَّا فَاذْهَبَا بِآَيَاتِنَا إِنَّا مَعَكُمْ مُسْتَمِعُونَ [الشعراء/15]
Allah berfirman, “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami; sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan).”
قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى [طه/46]
Allah berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.”
Dalam dua ayat ini Allah menyebutkan: bahwa Allah bersama nabi Musa dan nabi Harun, kalau seandainya dipahami bahwa kebersamaan Allah dengan makhluk diartikan kebersamaan dengan zat-Nya tentu Allah juga bersama Fir’aun!
Maka dari sini dapat kita pahami bahwa kebersamaan Allah dengan makhluk ada dalam dua bentuk; dalam umum dan khusus. Adapun dalam bentuk umum (ma’iyah ‘aammah) adalah  kebersamaan Allah dengan seluruh dengan segala sifat-sifat rububiyah-Nya, Serta sifat ilmu, qudrat, penglihatan, pendengaran-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam surat Al Hadiid ayat: 4 dan Al Mujaadilah ayat: 7 di atas.
Adapun dalam bentuk khusus (ma’iyah khaashah) adalah kebersamaan Allah dengan pertolongan dan bantuan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang dicintai-Nya. Serti para nabi dan rasul, orang-orang yang bertaqwa dan berbuat baik. Sebagaimana yang disebiutkan dalam kisah nabi Musa di atas dan juga dalam kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada ayat berikut ini,
إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا [التوبة/40]
“Di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.”
إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آَمَنُوا [الأنفال/12]
“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman.”
Maka maksud ayat dalam surat At Taybah di atas bukanlah bersama mereka berdua dengan zat-Nya. Kalau seandainya demikian tentu gua tersebut lebih besar dari Alla!
Demikian pulalah maksud hadits berikut ini,
عن أبي بكر رضي الله عنه قال  : قلت للنبي صلى الله عليه و سلم وأنا في الغار لو أن أحدهم نظر تحت قدميه لأبصرنا فقال ( ما ظنك يا أبا بكر باثنين الله ثالثهما ) متفق عليه
Dari Abu Bakar, ia berkata: aku berkata kepada Nabi r dan aku dalam gua: kalau salah seorang mereka melihat kearah bawah tumit mereka niscaya mereka akan melihat kita! Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Apa prasangkmu wahai Abu Bakar dengan dua orang, Allah yang ketiganya”.
  • Kemudian hal yang lain adalah bila kita mencermati ayat-ayat tersebut dengan utuh dan sempurna secara keseluruhan.
Pertama ayat yang terdapat dalam surat Al Hadiid,
هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ [الحديد/4]
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Ayat ini mengumpulkan dua yang dianggap saling bertentang yaitu sifat istiwaa’ “Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy” dan sifat ma’iyah “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Ini sebagai bukti bahwa tidak ada pertentangan antara kedua sifat tersebut oleh sebab itu Allah mengumpulkannya dalam satu ayat. Dan bahwa yang dimaksud dengan ma’iyah (bersama) disini adalah  ma’iyatul ilmi (dengan ilmu) dan ma’itul bashr (penglihatan). Buktinya Allah sebutkan antara dua sifat tersebut (istiwaa’ dan ma’iyah); sifat ilmu “Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya” kemudian di tutup dengan sifat Al Bashr (melihat), “Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Begitu pula yang dimaksud dengan ayat dalam surat Al Mujjadilah berikut,
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة/7]
“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
Ayat di atas di mulai dengan sifat ilmu “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? dan diutup dengan sifat ilmu lagi, “Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” Sifat ma’iyah dalam ayat di atas diapit oleh sifat ilmu sebagai bukti bahwa maksud kebersamaan Allah dengan makhluk di sini adalah dengan ilmu-Nya.
  • Demikian pula yang ditunjukkan oleh ayat-ayat lain yang secara nyata menjelaskan bahwa zat Allah berada di tempat yang Maha Tinggi diatas seluruh makhluk. Seperti firman Allah,
مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ لِتَشْقَى (2) إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى (3) تَنْزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَا (4) الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى [طه/2-5]
“Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy.”
Dalam ayat ini ada dua hal yang menunjukkan bahwa Allah berada pada tempat yang Maha Tinggi di atas seluruh makhluk:
Pertama: Dinyatakan bahwa Alquran diturunkan dari Allah, ini menunjukkan bahwa Allah berada di atas seluruh makhluk.
Kedua: Dinyatakan bahwa Allah beristiwaa’ di atas ‘arsy, ini menunjukkan bahwa Allah berada di atas seluruh makhluk, karena ‘Arsy adalah makhluk yang paling tinggi, sebagaimana dijelaskan dalam nash-nash yang lain.
Demikian pula ayat-ayat lain seperti firman Allah:
يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ [النحل/50]
“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).”
Juga firman Allah,
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ (16) أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ [الملك/16، 17]
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di (atas) langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di (atas) langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?”
Sebab timbulnya pertentangan tersebut karena tidak memahami masing-masing nash sesuai dengan penafsiran para ulama salaf.
Sesungguhnya dalam nash-nash syar’i tidak ada kotradiksi antara satu dengan yang lainnya. Jika dipahami adanya kontradiksi dalam nash-nash syar’i disebabkan oleh beberpa faktor:
  1. Adakalanya kesalahan terdapat dalam menafsirkan nash-nash tersebut
  2. Adakalanya salah satu diantara nash tersebut tidak shohih, lalu dianggap shohih.
  3. Adakalanya salah satu diantara nash tersebut telah mansukh (dihapus).
  4. Adakalanya salah satu diantara nash tersebut bersifat khusus untuk permasalahan tertentu, lalu dianggap umum.
  5. Adakalanya kesalahan dalam memberikan makna secara bahasa dan istilah.

Kaedah Ketiga: Memahami nash-nash yang menerangkan sifat Allah dengan makna yang tanpak secara lahir, sesuai dengan gramatika bahasa Arab, tanpa menyerupakannya dengan makhluk.
Allah telah memilih bahasa Arab sebagai bahasa agama Islam. Maka oleh sebab itu, dalam memahami Alquran dan sunah kita tidak boleh mangabaikan gramatika bahasa Arab. Kecuali terdapat dalil syar’i lain yang menolak atau menjelaskannya.
Bahasa Alquran adalah bahasa yang jelas dan terang serta mudah dipahami oleh orang-orang memiliki kemampuan dalam bahasa Alquran tersebut.

Dalil-dalil yang membuktikan pernyatan kita di atas adalah ayat-ayat Alquran itu sendiri, diantaranya ayat berikut:
Allah menyatakan bahwa Alquran di turun dalam bahas arab yang jelas, sebagaimana dalam firman Allah,
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ [الشعراء/192-195]
Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.”
Tujuan Allah menurunkan Alquran dalam bahasa Arab adalah untuk dipahami dan dihayati. Tentu termasuk di dalamnya ayat-ayat yang menerangkan tentang sifat-sifat Allah. Sebagaimana firman Allah,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ [يوسف/2]
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”
Disamping Allah menurunkan Alquran dalam bahasa Arab yang jelas, Allah juga memberi kemudahan dalam memahaminya, sebagaimana firman Allah,
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ [القمر/17]
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”
Ayat yang mulia ini terulang sebanyak empat kali dalam surat Al-Qamar yaitu pada ayat: 17, 22, 32, 40. Ini membuktikan bahwa Alquran tersebut benar-benar mudah untuk dipahami dan dipelajari.
  • Pengertian Tasybiih.
Musyabbihah adalah orang yang menyerupakan atau mengqiaskan sifat Allah dengan sifat makhluk. Yaitu mencontohkan sifat Allah dengan sifat makhluk atau menyerupakannya secara langsung, seperti mengatakan: tangan Allah seperti tanganku, pendengaran Allah seperti pendengarkanku, penglihatan Allah seperti penglihatanku dst.
Inilah tasybiih yang dicela dalam ungkapan para ulama salaf, seperti Perkataan Imam Ahmad,
” المشبهة تقول: بصر كبصري ويد كيدي وقدم كقدمي فقد شبه الله بخلقه”
Al Musyabbihah adalah orang yang mengatakan penglihatan seperti penglihatanku, tangan seperti tanganku, tumit seperti tumitku, barangsiapa yang mengatakan demikian sungguh ia telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.[6]
Berkata Nu’aim bin Hamd,
“من شبه الله بشيء من خلقه فقد كفر ومن أنكر ما وصف الله به نفسه فقد كفر فليس ما وصف الله به نفسه ورسوله تشبيه”
Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan sesuatu dari makhluk-Nya maka ia telah kafir. Barangsiapa yang mengingkari sifat yang tetapkan Allah untuk diri-Nya maka ia telah kafir. Tiada dalam sifat yang Allah tetapkan untuk dirin-Nya dan ditetapkan rasul-Nya merupakan Tasybiih.[7]
Disini perlu kita jelaskan bahwa tidak jarang orang Mu’athilah (para pengingkar sifat Allah) menuduh orang Ahlussunah sebagai Musyabbihah. Sedangkan Ahlussunah hanya beriman dengan sifat-sifat Allah akan tetapi mereka tidak menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk.
Oleh sebab itu salah satu ciri orang Jahmiyah adalah menuduh Ahlussunah sebagai Musyabbihah, sebagaimana ungkapan Ishaq bin Rahuyah,
“علامة جهم واصحابه دعواهم على أهل السنة وما اولعوا به من الكذب أنهم مشبهة بل هم المعطلة”
“Tanda orang Jahmiyah dan konco-konconya adalah tuduhan mereka terhadap Ahlussunah dan mereka senantiasa berbohong: bahwa mereka (Ahlussunah) adalah Musyabbihah, akan tetapi sebenarnya mereka (orang-orang Jahmiyah) adalah Mu’athilah (pengingkar sifat-sifat Allah).[8]
Demikian pula di ungkapkan Imam Abu Hatim Ar Razy,
“وعلامة أهل البدع الوقيعة في أهل الأثر وعلامة الزنادقة تسميتهم أهل السنة حشوية يريدون إبطال الآثار، وعلامة الجهمية تسميتهم أهل السنة مشهبة، وعلامة القدرية تسميتهم أهل الأثر مجبرة”
“Ciri Ahlu Bida’ (Pelaku bid’ah) adalah mencela para Ahli Atsar (hadits), ciri orang zindiq adalah menamakan Ahlussunah dengan Hasyawiyah (orang dungu) karena mereka berkeinginan membatalakan Atsar (hadits), ciri orang Jahmiyah adalah menamakan Ahlussunah sebagai Musyabbihah, ciri orang Qadariyah adalah menamakan Ahli Atsar sebagai Mujbirah (Jabariyah).[9]
Orang Mu’athilah ekstrim dalam dalam hal tanziih (kesucian) Allah dari menyerupai makhluk, sehingga mengakibatkan mereka jatuh kedalam jurang Ta’thiil (pengingkaran) sifat yang ditetapkan Allah untuk diri-Nya. Sebaliknya orang Musyabbihah ekstrim dalam Itsbaat (pengakuan) terhadap sifat-sifat Allah, sehingga berakibat mereka jatuh kadalam lembah tasybiih (menyerupakan) Allah dengan makhluk. Adapun Ahlussunah mereka mempercayai sifat-sifat Allah tetapi mensucikan Allah dari menyerupai makhluk dalam segala sifat-Nya. Yang lebih populer dengan dalam istilah mereka,
إثبات بلا تشبيه وتنزيه بلا تعطيل“: Mempercayai tanpa menyerupakan, mensucikan tanpa pengingkaran”"
  • Pembagian Tasybiih:
Tasybiih ada dua bentuk:
  1. Menyerupakan Allah dengan makhluk, maka ini adalah syirik dalam tauhid rububiyah dan asmaa wassifat. Mereka disebut orang Musyabbihah.
  2. Menyerupakan makhluk dengan Allah. Seperti berkeyakinan bahwa orang mati baik para nabi dan rasul maupun orang-orang sholeh dapat mengetahui dan mengabulkan permintaan mereka. Mereka kebanyakan dari sekte golongan sufi. Kedua jenis tasybiih tersebut termasuk hal yang dapat membatalkan keimanan seseorang.
  • Hal-hal yang membuktikan kebatilan mazhab Musyabbihah.
ü  Orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk, ia telah mengingkari kesempurnaan Allah dalam segala sifat-Nya. Karena sifat makhluk tidak luput dari kekurangn.
ü  Orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk, ia telah mengingkari nash-nash yang menyatakan ketidaksamaan Allah dengan makhluk. Seperti firman Allah,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى/11]
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.”
ü  Orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk, ia telah menyelewengkan nash-nash sifat dari makna yang sebenarnya. Karena konteks nash tentang sifat Allah, tetapi mereka pahami sesuai dengan makna yang terdapat pada makhluk. Ini suatu pemutarbalikkan tehadap makna nash-nash tersebut.
Kaedah Keempat: Memahami nash-nash sifat sesuai dengan konteksnya, tidak mentakwil dan tidak pula men-tafwidh (membekukan) maknanya.
Sebagian orang ada yang mentakwil dalam menafsirkan atau memahami nash-nash yang menerangkan tentang sifat-sifat Allah. Dan segian lagi ada yang mentafwidh (membekukan) makananya. Dengan alasan agar tidak terjerumus kedalam bahaya menyerupakan Allah dengan makhluk.
Tetapi jika kita meneliti kedua pendapat ini, terbukti mereka bagaikan orang lari dari terik panas matahari kedalam api unggun. Karena mereka justru jatuh kedalam lembah yang lebih hina yaitu menyerupakan Allah dengan makhluk-makhluk yang cacat atau benda mati. Dan menuduh Alquran penuh dengan lafaz-lafaz yang tidak jelas maknanya. Maka Alquran dalam menerangakan tentang sifat-sifat bagaikan rumus-rumus yang perlu diterjemahkan atau dibekukan saja maknanya.
Awal kekeliruan mereka adalah ketika mereka menetapkan makna yang salah terhadap nash-nash tersebut. Ketika mereka membaca nash-nash tersebut terbetik dalam pikiran mereka bahwa hakikat makna nash-nash sifat Allah adalah seperti bentuk yang terdapat pada makhluk. Pada hal kalau seandainya mereka meletakkan makna yang cocok dan sesuai dengan kebesaran Allah niscaya tidak perlu berpayah-payah untuk melakukan pentakwilan. Karena konteks ayat berbicara tentang sifat Allah bukan tetang sifat makhluk. Bentuk setiap sifat sesuai dengan zat masing-masing sifat. Seperti Kaki kuda tidak sama bentuknya dengan kaki kucing walau namanya sama-sama kaki. Tapi bentuk masing-masing sifat sesuai dengan zatnya masing-masing. Demikian pula segala sifat Allah tidak sama bentuknya dengan sifat makhluk walau disebut dengan nama yang sama. Pembahasan ini terberlalu kita bahas dengan panjang lebar pada kesempatan yang lalu.
  • Pengertian takwil dan pembagiannya:
Pertama: Bahwa takwil adalah “pemindahan lafaz dari makna yang kuat kepada makna yang lemah karena ada dalil bersamanya“. Pengertian inilah yang dimaksud oleh kebanyakan orang-orang yang berbicara dari kalangan generasi belakangan mentakwil nash-nash sifat.
Kedua: Takwil dengan makna tafsir, istilah ini yang populer dikalangan para mufasir. Seperti ungkapan Ibnu Jarir dan yang semisalnya dari para penulis tafsir: “berkata Ahlu takwil” yang mereka maksud adalah ahli tafsir.
Ketiga: Takwil dengan makna hakikat sebenarnya yang dituju dalam sebuah ungkapan. Seperti hakikat kejadian-kejadian peristiwa hari kiamat. Maka tiada yang dapat mengetahui bagaimana bentuk kejadian yang sebenarnya kecuali Allah, atau menyaksikan ketika peristiwa tersebut terjadi[10].
Seperti firman Allah,
هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا تَأْوِيلَهُ يَوْمَ يَأْتِي تَأْوِيلُهُ يَقُولُ الَّذِينَ نَسُوهُ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ [الأعراف/53]
“Tiadalah yang mereka tunggu-tunggu kecuali kejadian sebenarnya (peristiwa hari kiamat). Pada hari datangnya kejadian sebenarnya (peristiwa hari kiamat), berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: “Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak.”
  • Hal-hal yang menunjukkan kebatilan takwil:

  1. Orang yang mentakwil nash-nash sifat, secara tidak langsung telah menuduh bahwa Alquran dan Sunah membawa kepada kesesatan karena secara lahir menyerupakan Allah dengan makhluk.
  2. Orang yang membuka pintu takwil terhadap nash-nash sifat, berakibat membuka pintu selebar-lebarnya bagi orang yang ingin mentakwil isi Alquran dengan semaunya. Sebagaiman perbuatan sekte Al Bathiniyah.
  3. Orang yang mentakwil nash-nash sifat Allah, terjerumus kepada sikap menyerupakan Allah dengan makhluk yang cacat atau benda mati. Seperti orang mentakwil sifat istiwaa’ dengan istilaa’. Yang melazimkan bahwa Allah hanya mengusai ‘Arsy semata, atau menjadikan Allah ber-istiwaa’ diatas seluruh makhluk[11].
  4. Bila mentakwil perkataan seseorang atau undang-undang tertentu saja sudah merupaka sikap tercela,  tentu akan lebih amat tercela lagi mentakwil perkataan Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  5. Orang yang mentakwil nash-nash sifat secara tidak langsung telah menuduh bahwa Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mampu mengungkapkan sebuah kebenaran dengan bahasa yang jelas.
  • Pengertian tafwidh
Tafwidh adalah meyakini bahwa nash-nash sifat tidak menunjukkan tentang sifa-sifat Allah dan menyerahkan maknanya kepada Allah. Kebanyakan para Ahli Kalam menyangka ini adalah mazhab salaf dalam memahami nash-nash sifat. Anggapan mereka tersebut amat jelas sekali kebohongannya karena para ulama salaf menerangkan makna nash-nash sifat. Yang mereka tafwidh adalah kaifiyah bukan makna[12]. Tidak sedikit ungkapan salaf yang menerangkan tentang makna nash-nash sifat. Bahkan banyak yang mengumpulkan tentang perkataan-perkataan mereka dalam menerangkan makna nash-nash sifat. Seperti Imam Al Laakaai dalam kitanya Syara I’tQad Ahlussunah, Imam Al Ajurry dalam kitab Asy Syari’ah, Imam Ibnu Khuzaimah dalam kita At Tauhid, Imam Ibnu Mandah dalam kitab At Tauhid, Imam Ibnu Baththah dalam kita Al ibaanah. Dan masih banyak lagi kitab-kitab para ulama lain yang diberi judul As Sunah.
  • Hal-hal yang menunjukkan kebatilah paham Tafwiidh
  1. Secara tidak langsung merka telah menuduh para sahabat dan ulama-ulama terdahulu tidak memahami Alquran secara utuh, terlebih khusus ayat-ayat yang menerangkan tentang sifat sifat Allah.
  2. Secara tidak langsung mereka telah menghina dan mencela Alquran dan Sunah karena di dalamnya terdapat lafaz-lafaz yang kosong dari faedah dan makna.
  3. Orang yang mentafwidh nash-nash sifat, sikap mereka sangat kontradiksi, sebab mereka menilai nash-nash tersebut tidak diketahui maknanya, lalu mengingkari makna yang terdapat dalam konteks nash-nash tersebut. Bagaimana mereka bisa mereka mengingkari makna nash sedangkan mereka tidak mengetahui makna yang sebenarnya. Karena boleh jadi makna yang mereka ingkari tersebut adalah makna yang benar.
  • Apakah nash-nash sifat termasuk nash-nash yang mutasyaabihaat?
Nash-nash sifat dari satu segi bisa disebut nash mutasyabih, dari segi lain ia tidak termasuk kedalam nash-nash yang mutasyabihaat. Tatapi para ulama salaf tidak pernah menyebut nash-nash sifat sebagai nash-nash yang mutasyabihaat. Karena makna dan maksudnya sangat jelas walaupun hakikatnya tidak dapat kita ketahui. Sebagaimana kita mengimani segala peristiwa yang akan terjadi pada hari kiamat. Kita percaya dengan adanya surga dan segala bentuk nikmat yang terdapat di dalamnya. Demikian pula kita percaya tentang adanya neraka dan berbagai azab yang terdapat di dalamnya. Tapi kita tidak dapat mengetahui dan membayangkan seberapa jauh nikmat surga dan seberapa panasnya api neraka tersebut saat di dunia ini.
Yang di anggap mutasyaabih dalam nash-nash sifat adalah kaifiah (bentuk) hakikat yang sebenarnya tentang sifat-sifat Allah tersebut. Adapun makna dari nash-nash sifat tersebut jelas dan terang tidak termasuk nash-nash yang metasyabihaat.
Hal ini telah dijelaskan oleh Imam Malik dalam sebuah jawaban beliau terhadap sebuah pertanyaan yang dilontarkan seseorang kepada beliau: bagaimana bentuk Allah beristiwaa‘?
Beliau menjawab:              “الإستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة
Istiwaa’ adalah diketahu (maknanya), dan kaifiyah (bentuk hakikatnya) adalah tidak diketahui, beriman dengannya adalah wajib, bertanya tentang kaifiyah (bentuk hakikatnya) adalah bid’ah[13].”
Disini Imam malik membedakan antara makna sifat dengan kaifiyah sifat. Semoga perbedaan ini bisa dipahami dan dimengerti oleh MuawwilahMufawwidhah serta Musyabihah.
Wallahu A’lam.

Penulis: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.
Artikel www.dzikra.com


[1] Lihat Syifa’ul ‘Aliil: 200.
[2] Lihat Jalaaul Afhaam: 172.
[3] Pembahasan ini dapat dilihat dalam kitab-kitab mushthalah hadits.
[4] Insya Allah pada kesempatan lain kita kupas pembahasannya. [5] Insya Allah pada kesempatan lain kita kupas pembahasannya.
[6] Lihat Ibthaal At Takwiilaat, Abu Ya’la: 45.
[7] Lihat Al ‘Uluw, Az Zahaby; 116.
[8] Lihat Syarah Ushul I’tqad Ahlussunnah, Al Lakaai: 3/532.
[9] Ibid: 1/179.
[10] Lihat Majmu’ Fataawa, Ibnu Taimiyah: 3/55-56.
[11] Lihat kitab Jinayah At Takwiil Al Faasid, oleh: Dr. Muhammad luuh.
[12] Lihat kitab Mazhab Ahli At Tafwidh, oleh Ahmad bin Abdurrahman Al Qadhy.
[13] Lihat Aqaawil Ats Stiqaat/ Al Karmy: 103.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Adab Makan Seorang Muslim Sesuai Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

Definisi, Nama, Tugas, Perbedaan Nabi dan Rasul Dilengkapi Tabel