Mengenal Akidah Imam Asy Syafi’i dari Dekat

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta, selawat dan salam buat Nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, semoga selawat dan salam juga terlimpahkan buat keuarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk Mereka sampai hari kiamat.

Imam Syafi’i adalah orang yang sangat konsisten dalam beriman kepada Alquran dan berpegang teguh dengan sunnah. Hal ini sangat jelas bagi siapa saja yang membaca karya dan pendapat-pendapat beliau. Pada berikut ini kita sebutkan cuplikan dari perkataan-perkataan beliau yang diriwayatkan oleh murid-murid beliau tentang keyakinannya terhadap Alquran.



۩ Imam Syafi’i telah hafal Alquran semenjak usia kanak-kanak.

Kecintaan kepada Alquran sudah tertanam dalam hati beliau semenjak dari usia anak-anak. Sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab yang mengupas tentang biografi beliau bahwa beliau sudah hafal Alquran semenjak umur kanak-kanak.

قال المزني سمعت الشافعي يقول: “حفظت القرآن وأنا ابن سبع سنين وحفظت الموطأ وأنا ابن عشر

Al Muzani (murid Imam Syafi’i) berkata: ‘Aku mendengar Asy Syafi’i berkata, “Aku telah hafal Alquran saat berumur tujuh tahun. Dan Aku hafal Al-Muwatha’ (kitab hadis Imam Malik) saat berumur sepuluh tahun.”[1]

Demikianlah Imam Syafi’i dimasa kecil beliau telah hafal Alquran. Ini membuktikan kecintaan beliau yang amat dalam terhadap kitab Allah yang mulia.

Selayaknyalah bagi kita kaum muslimin untuk mencontoh bagaimana orang tua Imam Syafi’i dalam mendidik anaknya. Agar anak-anak kita di usia dini sudah bisa membaca Alquran serta menghafalnya. Kenyataan pada sebagian kaum mulimin jangankan untuk menghafal Alquran membaca saja tidak bisa. Sewaktu penulis masih kuliah di Madinah pada musim haji sering bertemu dengan sebagian jamaah yang tidak bisa membaca Alquran. Kita merasa sedih dan prihatin dengan keadaan sebagian kaum muslimin. Mereka sudah menunaikan rukun Islam yang kelima tapi membaca Alquran tidak bisa.

Demikian pula sebagian anak-anak dan generasi muda muslim, diusia dini kita lihat mereka sudah hafal banyak nyanyi-nyanyi bahkan dengan goyangnya sekalian. Tapi yang menjadi pertanyaan kita, sudahkah orang tua mereka mendidik anak-anak mereka untuk membaca Alquran dengan baik dan benar? Kalau untuk kursus bahasa ingris, berhitung, senam dan renang mereka siap mengeluarkan biaya berapapun yang dibutuhkan. Tetapi bila untuk belajar Alquran uang ngaji lima ribu rupiah dalam seminggu sering nunggak. Mereka berdalih dengan berbagai alasan. Sebatas inikah nilai Alquran dalam diri kaum muslimin? Sungguh sangat berbeda dengan generasi terdahulu umat ini (generasi kejayaan dan kebanggaan) anak-anak mereka dalam usia dini sudah mulai menghafal Alquran.

Namun, kita bangga dan salut dengan sebagian orang tua yang perhatian dengan anaknya dalam mempelajari Alquran. Sesungguhnya mereka telah menanam impestasi yang sangat menguntungkan di akhirat kelak. Kita berharap semoga yang lain juga mengikuti jejak mereka tersebut.

Simaklah sabda Rasulullah berikut ini,

عن أبي هريرة رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ( إذا مات الإنسان انقطع عنه عمله إلا من ثلاثة إلا من صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له ) رواه مسلم

Diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila manusia meninggal terputuslah segala amalannya kecuali tiga hal; sadaqah jariah, ilmu yang bermamfaat dan anak yang sholeh yang mendo’akannya.’“ (HR. Muslim).

Ketika ajal telah datang tidak satupun yang bisa kita banggakan dan dambakan kecuali apa yang telah kita persiapkan untuk hari kemudian. Salah satu yang dapat kita harapkan dan kita dambakan adalah do’a seorang anak. Kiriman do’a dari seorang anak akan melepaskan kita dari berbagai kesensaraan ketika di alam kubur dan di Alam akhirat kelak. Oleh sebab itu mari didik anak-anak kita dengan pendidikan Alquran mulai dari usia dini. Mari kita ciptakan generasi Qur’any, generasi yang berakhlak Alquran,

عن سعد بن هشام قال سألت عائشة فقلت أخبريني عن خلق رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت : ((كان خلقه القرآن)) رواه مسلم وأحمد واللفظ له

Diriwayat dari Sa’at bin Hisyaam, ia berkata, aku bertanya kepada Aisyah tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia menjawab: “Akhlak Rasulullah adalah Alquran”. (HR. Muslim dan Ahmad, lafazh ini disebutkan Ahmad).

۩ Imam Syafi’i memahami Alquran sesuai dengan yang dimaksud oleh Allah.

قال الإمام الشافعي رحمه الله تعالى : (آمنتُ باللهِ ، وبما جاءَ عن اللهِ على مرادِ اللهِ ، وآمنتُ برسول الله وبما جاء عن رسولِ اللهِ على مُراد رَسُولِ الله

Berkata Imam Syafi’i, “Aku beriman dengan Allah dan dengan apa yang datang dari Allah, sesuai menurut maksud Allah. Serta aku beriman dengan Rasulullah dan dengan apa yang datang dari Rasulullah, sesuai menurut maksud Rasulullah.”[2]

Dalam ungkapan beliau di atas, beliau mengikrarkan dan menjelaskan bahwa beliau benar-benar beriman dengan Allah secara total. Begitu pula terhadap segala apa yang datang dari Allah. Baik berupa perintah dan larangan maupun berita-berita ghaib, segala yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya beliau menyakininya. Tanpa ada yang terkecuali satupun. Dan beliau tidak merubah-rubah maksud dari apa yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya. Beliau mengimani sesuai dengan maksud Allah sebagaimana yang terdapat dalam ayat itu sendiri. Demikian pula dalam memahami hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berbeda dengan sikap sebagian orang yang mengaku sebagai intelektual. Mereka berani mengotak-atik dan memutar balikkan pengertian ayat-ayat Allah sesuai menurut kemauan mereka sendiri. Dan lebih sadis lagi sekelompok orang yang memakai metode penafsiran Injil dalam menafsirkan dan memahami Alquran. Mereka mengganti ilmu tafsir yang sudah dipakai oleh para ulama semenjak berabad-abad dalam menafsirkan Alquran dengan ilmu hermeneutika yang dipergunakan orang Nashara dan Yahudi dalam menafsirkan Taurat dan Injil. Akibatnya mereka keliru dan sesat dalam memahami Alquran sebagaimana sesatnya orang-orang Nashara dan Yahudi dalam memahami Taurat dan Injil. Mereka belajar untuk memahami Alquran kepada orang-orang kafir. mereka ibarat orang mau ahli dalam ilmu kedokteran tetapi belajar pada dukun. Oleh sebab itu pemahaman mereka sangat bertentang dengan seluruh pemahaman para ulama yang terdahulu. Inilah cita-cita orang kafir terhadap orang Islam. agar orang Islam sesat seperti mereka sesat karena kedengkian yang mereka miliki. sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,

{وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً} [النساء/89]

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka).”

{وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ} [البقرة/109]

“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.”

۩ Penghargaan Imam Syafi’i terhadap orang yang mempelajari Alquran

قال المزني يقول سمعت الشافعي يقول “من تعلم القرآن عظمت قيمته

Berkata Al Muzani: aku mendengar Syafi’i berkata, “Barangsiapa yang mempelajari Alquran telah tinggi kedudukannya.”[3]

Demikian Imam Syafi’i sangat menghargai orang-orang yang mempelajari Alquran. Sebagai motifasi bagi mereka agar bersungguh-sungguh untuk mempelajari Alquran. Sekaligus beliau menegaskan kepada kita untuk menghormati orang yang mempelajari dan mengamalkan hukum-hukum Alquran. Oleh sebab itu Allah mengangkat derajat orang yang mempelajari Alquran dan merendahkan derajat orang yang tidak mau mempelajari dan mengamalkan Alquran.

Sebagaimana sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

عن عمر بن الخطاب قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواما ويضع به آخرين” . رواه مسلم

Diriwayatkan dari Umar radhiallahu ‘anhu, ia berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah meninggikan dengan kitab ini (Alquran) kedudukan beberapa kaum dan merendahkan dengannya kedudukan yang lain.” (HR. Muslim).

Allah mengangkat derajat orang mau menerima ajaran Alquran dan berjuangan untuk menegakkannya di tengah-tengah umat manusia. Sebaliknya Allah hinakan dan rendahkan derajat orang yang menetang ajaran Alquran atau merendahkan orang-orang mengamalkannya dan berjuang untuk mengakkannya di tengah-tengah umat manusia.

Sebagian orang dimasa sekarang ada yang meremehkan orang-orang yang mempelajari dan mengamalkan Alquran dalam berakidah, beribadah, bermualah dan berakhlak. Apalagi mengajak untuk menjalankan Alquran dalam segala aspek kehidupan, mereka dianggap sebagai kaum terkebelakang dan anti moderenisme. Dan diejek dengan berbagai tuduhan-tuduhan dusta.

Sebaliknya mereka menyanjung dan memuji orang-orang yang merusak ajaran Alquran. Sebahagian mereka justru berani mengatakan bahwa sebab keterbelakangan adalah akibat orang menjalankan Alquran. Mereka memandang teori-teori mereka jauh lebih jitu dan hebat daripada Alquran. Demi Allah sesungguhnya ini adalah suatu kekufuran dan kebohongan yang nyata terhadap Alquran.

Hal ini tidak beda dengan sikap kaum kafir, mereka sudah merasa cukup dengan ilmu pengetahuan yang ada pada mereka. Dan tidak merasa perlu lagi dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh rasul-rasul. Malah mereka memandang enteng dan memperolok-olokkan keterangan yang dibawa rasul-rasul itu. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,

{فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ} [غافر/83]

“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa ketarangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang senantiasa mereka perolok-olokkan.”

۩ Imam Syafi’i mewajibkan kepada orang yang berbicara tentang agama untuk berperdoman kepada Alquran dan Sunnah.

قال الشافعي : «كل متكلم على الكتاب والسنة فهو الحدّ الذي يجب، وكل متكلم على غير أصل كتاب ولا سنة فهو هذيان». (أخرجه البيهقي في «مناقب الإمام الشافعي»: 470)

Berkata Imam Syafi’I, “Setiap orang yang berbicara berdasarkan Alquran dan Sunnah, maka itu adalah ketentuan yang wajib diikuti. Dan setiap orang yang berbicara tidak berlandaskan kepada Alquran, dan tidak pula kepada Sunnah, maka itu adalah kebingungan.”[4]

قال المزني والربيع كنا يوما عند الشافعي إذ جاء شيخ فقال له أسأل قال الشافعي سل قال إيش الحجة في دين الله فقال الشافعي كتاب الله، قال وماذا قال سنة رسول الله…

Berkata Al Muzany dan Robi’: pada suatu hari saat kami berada di sisi Imam Syafi’i, tiba-tiba datang seorang orang tua lalu ia berkata kepada Imam Syafi’i: aku ingin bertanya. Jawab Imam Syafi’i silakan. Lalu ia berkata apakah hujjah dalam agma Allah? Maka Imam Syafi’i menjawab: kitab Allah (Alquran). Ia bertanya lagi: kemudian apa? Jawab Syafi’i: Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.“[5]

وقال أيضا رحمه الله تعالى ( شعرا )

( كل العلوم سوى القرآن مشغلة … إلا الحديث وإلا الفقه في الدين )

( العلم ما كان فيه قال حدثنا … وما سوى ذاك وسواس الشياطين )

Beliau ungkapkan dalam sebuah syair,

Setiap ilmu selain Alquran adalah melalaikan.

Kecuali ilmu hadits dan ilmu fiqh tentang agama.

Yang dikatakan ilmu adalah yang diriwayatkan.

Dan selain itu adalah bisikan-bisikan setan.[6]



Disini terlihat dimana Imam Syafi’i sangat mengagungkan Alquran dalam berdalil. Menurut Imam Syafi’i mestinya setiap orang menjadikan Alquran sebagai pedoman saat menentukan sebuah hukum atau berpendapat. Jika hal ini ia dilakukan maka pendapatnya berhak untuk diterima. Sebaliknya bila tidak pendapatnya adalah sebuah kebingungan. Orang tersebut adalah sibingung yang membuat kebingungan di tengah masyarakat.

Betapa banyaknya orang di zaman sekarang membuat kebingungan di tengah masyarakat dengan pendapat-pendapatnya. Baik dalam segi keyakinan dalam beragama maupun dalam segi kehidupan bernegara. Setiap orang bebas melontarkan setiap pendapat yang terlintas di benaknya, tanpa ada dasar pertimbangan terlebih dahulu.

Bahkan menurut Imam Syafi’i pendapat dan pemahaman yang tidak berdasarkan kapada dalil Alquran dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bisikan-bisikan setan. Betapa banyak dizaman sekarang orang yang mengikuti bisikan-bisikan setan. Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari fitnah mereka.

۩ Sikap Imam Syafi’i terhadap orang yang meragukan keaslian Alquran.

قال الشافعي “ومن كفر بآية من كتاب الله كان كافرا”. (الأم للشافعي : ج 2 / ص 119، 120)

Berkata Imam Syafi’i: “Dan barangsiapa yang kafir dengan satu ayat dari kitab Allah (Alquran), ia telah menjadi kafir.”[7]

Demikian keyakinan Imam Syafi’i tentang keaslian dan kemurnian Alquran. Ungkapan Imam Syafi’i diatas berlandaskan kepada dalil-dalil yang baku dan solid.

Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala,

{إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ} [الحجر/9]

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

Dalam ayat ini Allah telah menjamin menjaga kemurnian dan kesucian Alquran untuk selama-lamanya. Karena Alquran adalah kitab yang terakhir dan tidak ada lagi kitab suci setelah Alquran. Oleh sebab itu setiap ada usaha dari kaum kufar untuk merusak dan merubah keaslian Alquran senantiasa terbongkar dengan secepatnya. Jangan untuk merubah satu huruf dari Alquran satu titik huruf sekalipun tidak akan bisa dirubah.

Barangsiapa yang meragukan kemurnian Alquran berarti orang tersebut telah kafir dengan ayat ini. Barang siapa yang kafir dengan satu ayat saja dari Alquran maka ia telah kafir denga seluruh isi Alquran.

Sebagaimana firman Allah,

{ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (85) أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآَخِرَةِ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ} [البقرة/85، 86]

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.”

Ayat ini adalah celaan terhadap orang-orang Yahudi dan orang-orang yang menyerupai prilaku mereka dalam beriman kepada kitab Allah. Mereka beriman pada sebahagiannya dan kafir terhadap bahagian yang lain.

Namun, ada di negeri ini yang dianggap sebahagai sorang ahli tafsir justru tidak memahami ayat-ayat ini dengan baik. Malah Ia mendukung pendapat orang-orang Syia’ah Rafidhah yang meragukan keaslian dan kemurnian Alquran.

Sifat orang seperti ini telah digambarkan Rasulullah dalam sabdanya,

عن أبي مالك الأشعري قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم (والقرآن حجة لك أو عليك) رواه مسلم

Diriwayatkan dari Abu Malik Al Asy’ary, ia berkata, telah bersabda rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Alquran sebagai hujjah bagi engkau atau menjadi hujjah di atas engkau.” (HR. Muslim).

Pada akhir-akhir ini banyak orang yang berani menghina dan mencela Alquran serta meragukan kemurnian dan keaslian Alquran. Bahkan ada sekelompok orang dari budak-budak orentalis ingin merefisi dan menamandemen Alquran. Mereka adalah orang-orang yang sudah buyar keimanannya ingin memposisikan Alquran sama dengan teori dan hukum buatan manusia.

Sebagaimana Allah berfirman,

{يُرِيدُونَ أَنْ يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ } [الفتح/15]

“Mereka hendak merobah perkataan (hukum-hukum) Allah.”

Sikap ini bila kita timbang dengan ayat-ayat Alquran, tentu akan jelas siapa mereka dan di mana posisi mereka. Pendahulu mereka dan guru mereka dalam hal ini adalah orang-orang Yahudi, sebagaiamana dalam firman Allah berikut ini,

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا [النساء/46]

“Diantara orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya Mereka berkata : “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula) : “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar. Dan (mereka mengatakan) : “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan : “Kami mendengar dan patuh, serta dengar dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman sedikit.”

Allah akan mengumpulkan mereka bersama-sama dalam neraka,

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ [البقرة/79]

“Maka kebinasaan (neraka) bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kebinasaan (neraka) bagi mereka akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri. Dan kebinasaan (neraka) bagi mereka akibat apa yang mereka kerjakan.”

۩ Sikap Imam Syafi’i terhadap orang yang meperolok-olokan Alquran.

قال الإمام الشافعي – رحمه الله – حين سئل عمن هزل بشيء من آيات الله تعالى: (هو كافر) واستدل بقول الله تعالى: { قُلْ أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ {65} لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Ketika Imam Syafi’i ditanya tentang orang yang berolok-olok dengan ayat-ayat Allah? Beliau menjawab: ia adalah kafir. Kemudian beliau berdalil dengan firman Allah subhaanahu wat’ala,

قُلْ أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ {65} لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ . التوبة: ٦٥ – ٦٦

“Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu berolok-olok? Jangan kamu mencari-cari alasan, sesungguhnya kamu telah kafir sesudah beriman.”[8]

Hendaklah seorang muslim berhati-hati dalam berucap dan berkata. Terutama ketika bila ucapan tersebut berhubungan dengan simbol-simbol agama. Karena hal ini bisa menyebabkan kekufuran sekalipun dalam hal sendagurau dan bercanda.

Imam Ath-Thabari meriwayatkan tentang sebab turun ayat di atas,

عن عبد الله بن عمر قال قال رجل في غزوة تبوك في مجلس ما رأينا مثل قرائنا هؤلاء أرغب بطونا ولا أكذب ألسنة ولا أجبن ثم اللقاء فقال رجل في المجلس كذبت ولكنك منافق لأخبرن رسول الله صلى الله عليه وسلم فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم ونزل القرآن قال عبد الله بن عمر فأنا رأيته متعلقا بحقب ناقة رسول الله صلى الله عليه وسلم تنكبه الحجارة وهو يقول يا رسول الله إنما كنا نخوض ونلعب ورسول الله صلى الله عليه وسلم يقول أبالله وآياته ورسوله كنتم تستهزءون لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم

Dari Abdullah bin Umar رضي الله عنه, ia berkata, seseorang berkata dalam sebuah majlis pada waktu perang Tabuk: “kami tidak melihat seperti mereka ini -para sahabat pembaca Alquran- orang yang paling banyak makan, orang yang paling dusta omongannya, orang yang paling pengecut ketika berperang”. Lalu seseorang dalam majlis tersebut berkata, “kamu telah berbohong, bahkan kamu adalah munafik, Sungguh saya akan beritahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Lalu berita itu sampai kepada Nabi صلى الله عليه وسلم. Dan turunlah ayat Alquran. Abdullah bin Umar berkata, saya melihat dia bergantung dengan pelana onta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sambil bebatuan melukai kakinya. Ia berkata, “kami hanya bersendagurau dan bermain-main”. Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apakah kalian berolok-olok dengan Allah, Ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya? Jangan cari-cari alasan, sesungguhnya kalian telah kafir.“[9]

Termasuk dalam larangan ini memperolok-olokan kisah dan hukum-hukum yang terdapat dalam Alquran. Seperti orang yang memperolok-olokan kisan nabi Luth, bahwa nabi Luth melarang homosex karena kaumnya tidak mau menikahi anak gadisnya. Demikian pula memperolok-olokan hukum qishash, rajam, poligami, hijab (jilbab) dan lain-lain. Hukum rajam dan qishahs dikatakan sebagai hukum sadis, kejam dan memperlakukan manusia seperti binatang. Memakai hijab dikatakan sebagai kebudayaan arab atau disebut wanita ninja dan lain-lain.

Pada zaman sekarang berbagai metode dan gaya dipergunakan untuk memperolok-olokan Alquran dan simbol-simbol agama. Ada yang bergaya sebagai peneliti dan pengkaji, ada bergaya sebagai pemikir terkemuka dan intelek. Mereka mencetuskan kalimat-kalimat kufur tanpa ada rasa malu dihadapan kelayak ramai. seperti ada yang berpendapat kitab yang begitu mulia ini dianggap sudah usang dan kuno, tidak cocok lagi untuk zaman ini. Alquran dituduh tidak adil dalam memperlakukan wanita. Atau yang lebih kufur lagi dianggab kitab yang terporno.

۩ Keyakinan Imam Syafi’i bahwa Alquran tidak sedikitpun dicampuri oleh kebatilan.

قال الشافعي: الحمد لله على جميع نعمه بما هو أهله وكما ينبغى له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمد عبده ورسوله بعثه بكتاب عزيز لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه تنزيل من حكيم حميد فهدى بكتابه”. (الأم : (7 / 309

Berkata Imam Syafi’i: “Segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya. Dengan segala pujian yang menjadi milik-Nya dan pujian yang sepantasnya bagi-Naya. Aku bersaksi bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Allah semata, yang tiada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Yang telah diutus dengan membawa kitab yang agung, yang tidak dicampuri oleh kebatilan dari arah depan dan tidak pula dari arah belakang. Yang diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Maka Allah memberi petunjuk dengan melalui kitab-Nya.”[10]

قال الربيع بن سليمان أخبرنا الشافعي رحمه الله في ذكر نعمة الله علينا برسوله بما أنزل عليه من كتابه فقال {وإنه لكتاب عزيز لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه تنزيل من حكيم حميد} فنقلهم به من الكفر والعمى إلى الضياء والهدى

Berkata Rabi’ bin Sulaiman: “Imam Syafi’i menceritakan kepada kami tentang nikmat Allah kepada kita melalui Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan apa yang diturunkan kepadanya dari kitab-Nya (Alquran). Lalu ia membaca firman Allah:

{وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ (41) لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ} [فصلت/41، 42]

“Dan sesungguhnya Alquran itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Alquran) kebatilan baik dari arah depan maupun dari arah belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.”

Maka Allah memindahkan mereka dengan kitab tersebut dari kekafiran dan kebutaan kepada cahaya dan petunjuk.”[11]

Sesungguhnya segala isi Alquran adalah hak (benar) tidak ada cacat sedikitpun. Baik ditinjau dari segi Aqidah, syari’ah, mu’amalah maupun akhlah. Hukumnya sangat sangat adil, beritanya sangat akurat, kisahnya sangat nyata, demikian pula janjianya sangat tepat.

Allah berfirman,

{وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثً} [النساء/87] {وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلا} [النساء/122]

“Dan siapakah orang yang lebih benar ucapan(nya) dari pada Allah ?”

“Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah ?”

Dari sini menjadi jelas bagi kita betapa hina dan nistanya orang yang mencela hukum-hukum Alquran. Seperti mencela hukum poligami, tata cara pembagian warisan, hukum memakai hijab (jilbab) dan hukum-hukum lainya. Hal tersebut telah menimbulkan kerusakan yang amat besar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Mereka bagaikan orang yang digambarkan Allah dalam firman-Nya,

{يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ} [التوبة/67]

“Mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf .”

۩ Imam Syafi’i membantah pelaku bid’ah dengan Alquran dan sunnah.

عن أبي ثور قال لما ورد الشافعي العراق جاءني حسين الكرابيسي وكان يختلف معي الى أصحاب الرأي فقال قد ورد رجل من أصحاب الحديث يتفقه فقم بنا نسخر به فذهبنا حتى دخلنا عليه فسأله الحسين عن مسألة فلم يزل الشافعي يقول قال الله وقال رسول الله حتى أظلم علينا البيت فتركنا بدعتنا واتبعناه (حلية الأولياء: 9/103

Berkata Abu Tsaur, “Tatkala Syafi’i datang ke Bahgdad, datang kepadaku Husain Al Karabisy. Dia dan aku sering datang ketempat Ahlu Ra’yi (Ahlu bid’ah). Maka ia berkata kepadaku: telah datang ke Bahgdad seorang Ahli hadits untuk belajar. Mari kita pergi mempeolok-olokannya. Maka kami berangkat dan bertemu dengannya. Lalu Husain bertanya kepadanya tentang satu persoalan. Senantiasa Syafi’i menyebutkan perkataan Allah dan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sampai rumah terasa gelab oleh kami. Sehingga kami meninggalkan bid’ah kami dan kami mengikutinya.”[12]

Sebagaimana yang menjadi pokok pegangan Ahlussunnah wal jama’ah. Bahwa bid’ah tidak boleh ditolak dengan bid’ah pula. Imam syafi’i adalah tokoh termuka Ahlussunnah. Beliau telah menjelaskan berbagai kaedah Ahlussunnah baik dalam bentuk lisan, tulisan maupun perbuatan. Perdebatan beliau dengan pelaku bi’ah sangat mashur sekali.

Berkata Syeikh Islam Ibnu Taimiyah, “Keutamaan Imam Syafi’i dan perjuangannya dalam mengikuti Alquran dan sunnah serta membantah orang yang menetang akan hal demikian sangat banyak sekali.”[13]

Beliau dalam mengemukan dalil-dalil baik dari Alquran maupun dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat cepat dan telaten. Sehingga hujjah yang beliau kemukan sangat kuat dan tepat.

Berkata Ibnu Katsir, “Sesunguhnya Syafi’i termasuk diantara manusia yang paling berilmu tentang makna-makna Alquran dan sunnah. Dan diantara manusia yang sangat cepat menangkap dalil-dalil dari keduanya. Serta termasuk diantara manusia yang paling baik tujuan dan keikhlasannya.”[14]

Ketika seseorang tidak berpegang kepada Alquran dan hadits dalam mengomentari pelaku bid’ah, ia akan tergelincir pada kesesatan lain. Maka oleh sebab itu istilah “memukul lawan dengan senjata lawan” adalah keliru. Karena kita memiliki senjata yang lebih ampuh dari senjata mereka. Kenapa kita harus memakai senjata lawan sedangkan kita memiliki senjata yang lebih kuat.

Lahirnya paham sesat dalam Islam seperti jahmiya dan mu’tazilah adalah karena mereka tidak berpegang kepada Alquran dan sunnah dalam mengomentari lawan-lawan mereka.

۩ Pernyataan Imam Syafi’i terhadap orang yang mengatakan Alquran adalah makhluk.

قال الربيع بن سلييمان سمعت الشافعي يقول: “من قال القرآن مخلوق فهو كافر”. (اعتقاد أهل السنة: 2/252)

Berkata Rabi’ bin Sulaiman, “Aku mendengar Syafi’i berkata, “Barangsiapa yang mengatakan Alquran adalah makhluk maka ia dalah kafir.”[15]

Dasar pengangungan seseorang kepada Alquran berangkat dari pandangannya terhadap Alquran itu sendiri. Jika orang tersebut menganggap bahwa Alquran adalah Perkataan Allah. niscaya orang tersebut akan menghormati dan menganggungkan Alquran. Karena Perkataan Allah adalah sifat Allah yang sempurna dalam segala segi baik dari segi lafazh maupun makna serta susunan kalimatnya. Oleh sebab itu tidak satupun dari makhluk mampu menandinginya walau satu surat saja.

Dari sini nyata kebatilan pendapat-pendapat yang mengatakan,

* Alquran adalah makhluk, pernyataan ini bertentangan dengan Alquran.

Karena Alquran dinyatakan sebagai Kalam Allah dalam firman-Nya,

أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ [البقرة/75]

“Mereka mendengar Kalam (perkataan) Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui.”

Juga firman Allah,

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ [التوبة/6]

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar Kalam Allah.”

Kalam Allah adalah sifat Allah, barangsiapa yang mengatakan sifat Allah adalah makhluk maka ia adalah kafir. Karena ia meyakini bahwa pada Zat Allah ada makhluk sebab sifat Allah terdapat pada Zat-Nya.

* Alquran hikaayah atau ‘ibaarah dari Kalam Allah (maknanya dari Allah, lafazhnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pandangan jelas kebatilannya, karena menyamakan antara Alquran dengan hadits Rasulullah. Sebab hadits maknanya dari Allah lafaznya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau seandainya lafaznya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu orang yang berhadas besar tidak dilarang menyentuh Alquran seperti hadits.

* Alquran adalah perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Orang yang mengatakan Alquran adalah perkataan Nabi Muhammad, ia telah diancam oleh Allah dalam firman-Nya,

{إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ (25) سَأُصْلِيهِ سَقَر} [المدثر/25، 26]

“(Ia berkata): Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia. Aku akan memasukkan dia (yang berkata demikian) ke dalam (neraka) Saqar.”

Penjelasan lebih luas akan kita kupas insya Allah dalam topik keyakinan Imam Syafi’i dalam beriman tehadap sifat-sifat Allah.

۩ Bagi Imam Syafi’i Alquran adalah jalan keluar dari berbagai permasalahan yang terjadi.

قال الشافعي: “فليست تنزل بأحد من أهل دين الله نازلة إلا وفي كتاب الله الدليل على سبل الهدى فيها قال الله عز و جل {آلر كتاب أنزلناه إليك لتخرج الناس من الظلمات إلى النور بإذن ربهم إلى صراط العزيز الحميد} وقال تعالى {ونزلنا عليك الكتاب تبيانا لكل شيء وهدى ورحمة وبشرى للمسلمين} وقال تعالى {وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم ولعلهم يتفكرون}

Telah berkata Imam Asy Syafi’I, “Maka tiada satupun permasalahan yang menimpa seseorang dari pemeluk agama Allah. Kecuali dalam kitab Allah ada dalil yang menjelaskan jalan petunjuk dalam permasalahan tersebut. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,

{آلر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ} [إبراهيم/1]

“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”

Dan firman Allah Ta’ala lagi,

{وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ} [النحل/89]

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim.”

Juga firman Allah Ta’ala,

{وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ} [النحل/44]

“Dan Kami turunkan kepadamu Alquran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”.[16]

Demikian Imam Syafi’i mendapatkan Alquran setelah beliau membaca dan menelaah kandungannya. Pernyataan ini lahir dari beliau bukan sekedar polesan bibir dan wacana. Tapi berdasarkan fakta dan ilmu yang beliau miliki tentang Alquran itu sendiri. Demikian pula para ulama-ulama dan setiap orang yang menelaah dan memahami Alquran dengan baik dan benar. Alquran tidak hanya berbicara tentang urusan akhirat saja tapi justru menerangkan segala persoalan yang dibutuhkan manusian dalam kehidupan di dunia. Alquran tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan pencipta mereka. Tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam lain. Demikian pula Alquran tidak sekedar mengatur hubungan antar umat yang seagama. Tetapi Alquran juga mengatur hubungan umat yang berbeda agama. Isi Alquran tidak terbatas pada ruang lingkup tertentu yang dibatasi oleh masa dan tempat. Akan tetapi isi Alquran kompleks dan global, Alquran mengatur segala aspek sisi kehidupan manuisa dalam segala kondisi dan situasi. Alquran mengatur hubungan antara rakyat dan pemerintah sebagaimana ia mengatur hubungan antara sesama pribadi masyarakat. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا} [النساء/59]

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Sudah semestinya kita menyelesaikan segala persoalan diantara kita dan persoalan negara ini dengan ajaran Alquran. Karena Alquran tidak sebagaimana yang dikenal oleh kaum liberal dan skuler hanya sekedar mengatur rumah tangga muslim dan persoalan beribadah di masjid semata. Mereka menganggap Islam tidak punya konsep dalam mengatur kehidupan bernegara yang majemuk dan plural dalam berbagai hal. Anggapan ini lahir dari orang yang buta tetang Alquran dan sejarah Islam. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,

{مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآَبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا} [الكهف/5]

“Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.”

۩ Pernyataan Imam Syafi’i bahwa Alquran diturunkan dalam bahasa Arab.

قال الشافعي رحمه الله ومن جماع كتاب الله عز و جل العلم بأن جميع كتاب الله إنما نزل بلسان العرب …. ثم ساق الكلام إلى أن قال والقرآن يدل على أن ليس في كتاب الله شيء إلا بلسان العرب قال الله عز و جل {وإنه لتنزيل رب العالمين نزل به الروح الأمين على قلبك لتكون من المنذرين بلسان عربي مبين} وقال الله عز و جل {وكذلك أنزلناه حكما عربيا} وقال تعالى {وكذلك أوحينا إليك قرآنا عربيا لتنذر أم القرى ومن حولها} فأقام حجته بأن كتابه عربي ثم أكد ذلك بأن نفى عنه كل لسان غير لسان العرب في آيتين من كتابه فقال تبارك وتعالى {ولقد تعلم أنهم يقولون إنما يعلمه بشر لسان الذي يلحدون إليه أعجمي وهذا لسان عربي مبين} وقال تعالى ولو جعلناه قرآنا أعجميا لقالوا لولا فصلت آياته إعجمي وعربي}

Berkata Imam Syafi’i, “Diantara isi kitab Allah Allah (Alquran) ialah ilmu, bahwa seluruh kitab Allah (Alquran) diturunkan dalam bahasa Arab….(kemudian beliau lanjutkan pembicaraan), beliau berkata, “Alquran menunjukkan bahwa tiada sesuatupun dalam kitab Allah kecuali dengan bahasa Arab.

Kemudian beliau sebutkan ayat-ayat berikut ini,

Berfirman Allah ‘Azza wajalla

{وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ} [الشعراء/192-195]

“Dan sesungguhnya Alquran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.”

Dan berfirman Allah ‘Azza wajalla

{وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا} [الرعد/37]

“Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Alquran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab.”

Dan berfirman Allah Ta’ala,

{وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا} [الشورى/7]

“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Alquran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya.”

Maka Allah tegakkan hujjah bahwa kitab-Nya (Alquran) adalah berbahasa Arab. Kemudian Allah nafi-kan (ingkari) darinya segala bahasa selain bahasa Arab. Dalam dua ayat dalam kitab-Nya (Alquran),

Maka Allah Tabaaroka wata’ala berfirman,

{وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ} [النحل/103]

“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya Alquran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Alquran adalah dalam bahasa Arab yang terang.”

Dan berfirman Allah Ta’ala,

,{وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآَنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آَيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ} [فصلت/44]

“Dan jikalau Kami jadikan Alquran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan, ‘Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?’ Apakah (patut Alquran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab?.’” [17]

Penulis pernah membaca dalam sebuah majalah bulanan di negeri ini yang mengatakan bahwa bahasa asli Alquran bukanlah bahasa Arab. Ini semua tidak terlepas dari propaganda untuk merusak keimanan kaum muslimin terhadap Alquran. Dalil yang mereka pakai hanya penemuan sebuah manuskrip disalah satu masjid di Yaman. Sungguh bodoh sekali orang tersebut, karena dalam Alquran sudah disebutkan sendiri tentang bahasa Alquran tersebut. Kebatilan opini sesat ini lebih jelas daripada matahari di siang bolong. Bagaimana pula Alquran tidak berbahasa Arab sedangkan nabi yang diturunkan kepadanya Alquran itu sendiri adalah dari bangsa Arab. Kalau bukan dengan bahasa Arab tentu nabi tersebut tidak akan mengerti tentang apa yang diwahyukan kepadanya. Karena itu Allah sebutkan dalam firmannya bahwa setiap rasul diutus dengan bahasa kaumnya.

{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ} [إبراهيم/4]

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.”

Alquran diturunkan dalam bahasa Arab itu, bukanlah berarti bahwa Al Qu’an untuk bangsa Arab saja tetapi untuk seluruh manusia.

Berbeda dengan kitab-kitab orang Yahudi dan Nashara tidak satupun tertinggal dari kitab mereka yang tertulis dalam bahasa aslinya. Taurat dan Injil yang berada sekarang ditangan mereka tidak dalam bahasa aslinya. Dan kitab-kitab tersebut khusus untuk Bani Israil dan sudah mansukh (tidak berlaku) hukum-hukumnya. Setelah turunya kitab suci yang terakhir yaitu Alquranul karim.

Demikian sekilas tentang keyakinan Imam Syafi’i terhadap Alquran. Keyakinan yang bersumber pada Alquran dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keyakinan yang wajib diimani oleh setiap orang yang mengaku sebagai muslim.

Wallahu A’lam, washalallahu ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wasallam.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت وأستغفرك وأتوب إليك

Penulis: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra,M.A.
Artikel www.dzikra.com

[1] Lihat, Tarikh Baghdad: 2/63, Siyar A’laam Nubalaa’: 10/11 dan Thabaqaat Al Hufaaz: 1/157.
[2] Lihat, Lum’atul I’tiqad: 7 dan Al Wajiz fi Aqidah As salaf: 51.
[3] Lihat, Al Muntazhim: 10/137 dan Shafwatush shafwah: 2/254.
[4] Lihat Manaqib Asy Syafi’I, 470.
[5] Lihat Ahkaamul Qur’an, 39.
[6] Lihat Syarah Ath Thahawiyah, 69.
[7] Lihat Al Umm: 2/120.
[8] Lihat: Ash Shaarim Al Masluul, 3/956.
[9] Lihat Tafsir Ath Thabari: 10/172.
[10] Lihat Al Umm, 7/309.
[11] Lihat Ahkaamul Qur’an, 20.
[12] Lihat Hilyatul Auliyaa’, 9/103.
[13] Lihat Majmu’ Al fataawa, 20/330.
[14] Lihat Al Bidaayah wan Nihaayah, 10/253.
[15] Lihat I’tiqaat Ahlissunnah, 2/252.
[16] Lihat Ahkaamul Qur’an, 21.
[17] Lihat Idem , 22.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Adab Makan Seorang Muslim Sesuai Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

Definisi, Nama, Tugas, Perbedaan Nabi dan Rasul Dilengkapi Tabel