Istriku Bukan Bidadari, Tapi Akupun Bukan Malaikat – Bagian (I)

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulillah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, keluarga dan sahabatnya.

Anda telah berkeluarga? Bagaimana pengalaman anda selama mengarungi bahtera rumah tangga? Semulus dan seindah yang anda bayangkan dahulu?

Mungkin saja anda menjawab: Tidak.

Akan tetapi izinkan saya berbeda dengan anda: ya, bahkan lebih indah dari yang saya bayangkan sebelumnya.



Saudaraku! Kehidupan rumah tangga memang penuh dengan dinamika, lika-liku dan pasang surut. Kadang anda senang, dan kadang anda bersedih. Tidak jarang anda tersenyum di hadapan pasangan anda, dan kadang kala anda cemberut dan ber masam muka.

Bukankah demikian saudaraku?

Berbagai tantangan dan tanggung jawab dalam rumah tangga senantiasa menghiasi hari-hari anda. Semakin lama umur pernikahan anda, maka semakin berat dan bertambah banyak perjuangan yang harus anda tunaikan.

Tanggung jawab terhadap putra-putri, pekerjaan, karib kerabat, masyarakat dan lain sebagainya.

Dan diantara tanggung jawab yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan anda ialah tanggung jawab terhadap pasangan hidup anda.

Sebelum menikah, sah-sah saja anda sebagai calon suami membayangkan bahwa pasangan hidup anda cantik rupawan, bangsawan, kaya raya, patuh, pandai mengurus rumah, penyayang, tanggap, sabar dan berbagai gambaran indah.

Bukankah demikian saudaraku?
(تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ) متفق عليه

“Biasanya, seorang wanita dinikahi karena empat pertimbangan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaknya engkau lebih memilih wanita yang beragama, niscaya engkau beruntung.” Muttafaqun ‘alaih

Al Qurthubi menjelaskan makna hadits ini dengan berkata: “Empat pertimbangan inilah yang biasanya mendorong seorang lelaki untuk menikahi seorang wanita. Dengan demikian hadits ini sebatas kabar tentang fakta yang terjadi di masyarakat, dan bukan perintah untuk menjadikannya sebagai pertimbangan. Dan secara tekstual hadits ini, menunjukkan bahwa dibolehkan menikahi seorang wanita dengan keempat pertimbangan itu . Akan tetapi hendaknya pertimbangan agama lebih didahulukan.”

Keterangan Al Qurthubi ini semakna dengan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Amer Al ‘Ash radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
(لاَ تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ وَلاَ تَزَوَّجُوهُنَّ لأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ وَلأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ)

Janganlah engkau menikahi wanita hanya karena kecantikan parasnya, karena bisa saja parasnya yang cantik menjadikannya sengsara. Jangan pula engkau menikahinya karena harta kekayaannya, karena bisa saja harta kekayaan yang ia miliki menjadikan lupa daratan. Akan tetapi hendaknya engkau menikahinya karena pertimbangan agamanya. Dan sungguhlah seorang budak wanita berhidung pesek, dan berkulit hitam akan tetapi ia patuh beragama, lebih utama dibanding mereka semua.” Riwayat Ibnu majah dan oleh Al Albani dinyatakan sebagai hadits yang lemah.

Akan tetapi sekarang, setelah anda menikah, terwujudkah seluruh impian dan gambaran yang dahulu terlukis dalam lamunan anda?

Bila benar-benar seluruh impian anda terwujud pada pasangan hidup anda , maka saya turut mengucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat. Dan bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati atau kecewa.

Saudaraku! Besarkan hati anda, karena nasib serupa tidak hanya menimpa anda seorang, akan tetapi juga menimpa kebanyakan umat manusia.
عَنْ أَبِى مُوسَى – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ( كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ ، وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ ، وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ) متفق عليه

Abu Musa menuturkan: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: “Banyak lelaki yang berhasil menggapai kesempurnaan, sedangkan tidaklah ada dari wanita yang berhasil menggapainya kecuali Asiyah istri Fir’aun, dan Maryam binti Imran. Dan sesungguhnya kelebihan ‘Aisyah dibanding wanita lainnya bagaikan kelebihan bubur daging([1]) dibanding makanan lainnya.” Muttafaqun ‘alaih

Saudaraku! Berbahagia dan berbanggalah dengan pasangan hidup anda, karena pasangan hidup anda adalah wanita terbaik untuk anda.

Anda tidak percaya? Silahkan anda membuktikannya. Bacalah sabda Nabi r berikut ini, lalu terapkanlah pada istri anda.
(لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِىَ مِنْهَا آخَرَ) رواه مسلم

“Tidak pantas lelaki yang beriman meremehkan wanita yang beriman, bila ia tidak menyukai satu perangai darinya, pasti ia puas dengan perangainya yang lain.” Riwayat Muslim.

Saudaraku! Anda kecewa karena istri anda kurang pandai memasak? Tidak perlu kawatir, karena ternyata istri anda adalah penyayang.

Anda kurang puas dengan istri anda yang kurang pandai mengurus rumah, dan kurang sabar? Tidak usah berkecil hati, karena ia begitu cantik rupawan.

Anda berkecil hati karena istri anda kurang cantik? Segera besarkan hati anda, karena ternyata istri anda subur sehingga anda mendapatkan karunia keturunan yang sholeh dan sholehah. Coba anda bayangkan betapa besar penderitaan anda bila anda menikahi wanita cantik akan tetapi mandul?

Demikianlah seterusnya.

Tidak etis dan tidak manusiawi bila anda hanya pandai mengorek kekurangan istri, akan tetapi anda tidak mahir dalam menemukan kelebihan-kelebihannya. Buktikan saudaraku, bahwa anda benar-benar seorang suami yang berjiwa besar, sehingga anda peka dan lihai dalam membaca kelebihan pasangan anda.
[1] ) Para ulama’ pensyarah hadits menjelaskan bahwa bubur daging adalah makanan paling istimewea di zaman Nabi r, terlebih-lebih bubur daging mudah pembuatannya dan selanjutnya mudah pula menelannya.

Dahulu Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam begitu peka dan mahir dalam membaca segala hal, termasuk suasana hati istrinya. ‘Aisyah mengisahkan:
قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – : (إِنِّى لأَعْلَمُ إِذَا كُنْتِ عَنِّى رَاضِيَةً ، وَإِذَا كُنْتِ عَلَىَّ غَضْبَى) . قَالَتْ: فَقُلْتُ مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذَلِكَ فَقَالَ: ( أَمَّا إِذَا كُنْتِ عَنِّى رَاضِيَةً فَإِنَّكِ تَقُولِينَ لاَ وَرَبِّ مُحَمَّدٍ ، وَإِذَا كُنْتِ غَضْبَى قُلْتِ لاَ وَرَبِّ إِبْرَاهِيمَ) . قَالَتْ: قُلْتُ أَجَلْ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا أَهْجُرُ إِلاَّ اسْمَكَ. متفق عليه

“Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda kepadaku: “Sungguh aku mengetahui bila engkau ridha kepadaku demikian pula bila engkau sedang marah kepadaku.” Spotan ‘Aisyah bertanya: Darimana engkau dapat mengetahui hal itu? Rasulullah menjawab: “Bila engkau sedang ridha kepadaku, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata: Tidak, demi Tuhan Muhammad, dan bila engkau sedang dirundung amarah, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata, tidak demi Tuhan Ibrahim. Mendengar penjelasan ini, ‘Aisyah menimpalinya dan berkata: Benar, sungguh demi Allah, wahai Rasulullah, ketika aku marah, tiada yang aku tinggalkan, kecuali namamu saja.” Muttafaqun ‘alaih

Demikianlah teladan Nabi r, beliau begitu peka dnegan suasana hati istrinya, sehingga beliau bisa membaca isi hati istrinya dari ucapan sumpahnya. Walaupun ‘Aisyah berusaha untuk menyembunyikan isi hatinya, tetap bermanis muka, senantiasa berada di sanding Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, dan berbicara seperti biasa, akan tetapi Nabi r dapat menebak suasana hatinya dari perubahan cara bersumpah. Luar biasa, perhatian, kejelian dan kepekaan yang tidak ada bandingnya.

Tidak heran bila beliau bersabda:
(خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى) رواه الترمذي

“Orang terbaik diantara kalian ialah orang yang terbaik dalam memperlakukan istrinya, dan aku adalah orang terbaik dari kalian dalam memperlakukan istriku.” Riwayat At Tirmizy.

Bagaimana dengan anda saudaraku! Dengan apa anda dapat mengenali dan meraba suasana hati pasangan anda?

Saudaraku, tidak ada salahnya bila sejenak anda kembali memutar lamunan dan gambaran tentang istri ideal dan idaman yang pernah singgah dalam benak anda. Selanjutnya bandingkan gambaran istri idaman anda dengan gambaran Rasulullah r tentang kaum wanita berikut ini:
« الْمَرْأَةُ كَالضِّلَعِ ، إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا ، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ » متفق عليه

“Wanita itu bagaikan tulang rusuk, bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah, dan bila engkau bersenang-senang dengannya, niscaya engkau dapat bersenang-senang dengannya, sedangkan ia adalah bengkok.” Muttafaqun ‘alaih

Pada riwayat lain, beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
لاَ تَسْتَقِيمُ لَكَ الْمَرْأَةُ عَلَى خَلِيقَةٍ وَاحِدَةٍ وَإِنَّمَا هِىَ كَالضِّلَعُ إِنْ تُقِمْهَا تَكْسِرْهَا وَإِنْ تَتْرُكْهَا تَسْتَمْتِعْ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ رواه أحمد .

“Tidak mungkin istrimu kuasa bertahan dalam satu keadaan, sesungguhnya wanita itu bak tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskan, niscaya engkau menjadikannya patah. Dan bila engkau biarkan begitu saja, maka akau dapat bersenang-senang dengannya, (akan tetapi hendaknya engkau ingat) ia adalah bengkok. Riwayat Ahmad

Nah, sekarang, silahkan anda mengorek memori anda tentang wanita pendamping hidup anda. Temukan berbagai kelebihan padanya, dan selanjutnya tersenyumlah, karena ternyata istri anda memiliki banyak kelebihan.

bersambung...
artikel http://artikel.imam-syafii.or.id

Komentar

Pos populer dari blog ini

Adab Makan Seorang Muslim Sesuai Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

Definisi, Nama, Tugas, Perbedaan Nabi dan Rasul Dilengkapi Tabel