Syarh Aqidah Wasithiyah(3)

Madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Tentang Asma’ Dan Sifat-Sifat Allah Secara Tafshil (1/4)

Memasuki pembahasan bab selanjutnya dari Syarh Aqidah Al-Wasithiyah, tiba saatnya untuk mengulas secara terperinci (tafshil) pemahaman ahlus sunnah terhadap sifat-sifat Rabb semesta alam. Mereka menetapkan sifat-sifat serta nama-nama Allah menurut apa yang Dia atau Rasul-Nya sebutkan. Ayat-ayat serta hadits-hadits apa saja yang berkaitan dengan penetapan ini?

4. Madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Tentang Asma’ Dan Sifat-Sifat Allah
Secara Tafshil


Madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah madzhab kaum salaf
HREF="#foot169">4.1 Rahimahumullah Ta’ala. Mereka beriman kepada apa saja yang disampaikan
oleh Allah mengenai diri-Nya di dalam kitab-Nya dan oleh Rasulullah
dengan keimanan yang bersih dari tahrif dan ta’thil serta dari takyif
dan tamtsil.


Mereka menyatukan pembicaraan mengenai sifat-sifat Allah dengan pembicaraan
mengenai Dzat-Nya, dalam satu bab. Pendapat mereka mengenai sifat-sifat
Allah sama dengan pendapat mereka mengenai Dzat-Nya. Bila penetapan
Dzat adalah penetapan tentang keberadaannya, bukan penetapan tentang
‘bagaimana’nya, maka seperti itu pulalah penetapan sifat.


Menurut mereka, wajib mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah yang
telah ditegaskan oleh Al Qur’an dan As Sunnah, atau oleh salah satu
dari keduanya. Nama-nama dan sifat-sifat tersebut wajib diimani sebagaimana
yang disebutkan dalam nash, tanpa takyif, wajib diimani berikut makna-makna
yang agung yang terkandung di dalamnya yang merupakan sifat-sifat
Allah Azza wa Jalla. Wajib mensifati Allah dengan makna sifat-sifat
tersebut, dengan penyifatan yang layak bagi-Nya, tanpa tahrif, ta’thil,
takyif atau tamtsil.
HREF="#foot389">4.2


Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak mengkiaskan Allah dengan makhluk-Nya,
karena mereka tidak memperbolehkan penggunaan berbagai kias (analogi)
yang mengandung konsekuensi penyerupaan dan penyamaan antara yang
dikiaskan dengan apa yang menjadi obyek pengkiasan dalam masalah-masalah
Ilahiyah.


Karena itu mereka tidak menggunakan kias tamtsil dan kias syumul terhadap
Allah Ta’ala. Terhadap Allah mereka menggunakan kias aula. Inti kias
ini adalah bahwa setiap kesempurnaan yang terdapat pada makhluk, tanpa
kekurangan dipandang dari berbagai segi, maka Al-Khaliq lebih layak
lagi untuk memilikinya, sebaliknya setiap sifat kekurangan dihindari
oleh makhluk, maka Al-Khaliq lebih layak untuk terhindar darinya.


4.1 Ayat-ayat Dan Hadits-hadits Tentang Sifat-sifat Allah


Setelah Syaikhul Islam Rahimahullah Ta’ala menyebutkan aqidah Firqah
Najiyah secara ijmal, yaitu: Iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Akhir, dan takdir yang baik
maupun yang buruk dari Allah, maka beliau mulai menjelaskan hal itu
secara mendetail.


Beliau Rahimahullah menyebutkan bahwa di antara manifestasi iman kepada
Allah adalah iman kepada apa yang disifatkan oleh-Nya untuk diri-Nya,
atau oleh rasul-Nya, tanpa tahrif, ta’thil, takyif atau tamtsil.


Beliau Rahimahullah lalu menyebutkan sejumlah ayat dan hadits shahih
yang di situ Rasulullah menetapkan sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla,
dengan penetapan yang laik bagi-Nya. Dalam hal ini, beliau Rahimahullah
bermaksud menegaskan bahwa tidak ada jalan bagi seorang muslim untuk
mengetahui sifat-sifat Rabbnya yang Maha Tinggi dan Asma’-Nya yang
Maha Indah, melainkan melalui perantaraan wahyu.


Asma’ dan Sifat-sifat Allah itu bersifat tauqifiyah
(hanya bisa diketahui dari Allah). Maka, apapun yang ditetapkan oleh
Allah bagi diri-Nya, atau oleh Rasulullah, kita meyakininya. Demikian
pula, apa yang dinafikan oleh Allah dari diri-Nya, atau oleh Rasulullah,
maka kita menafikannya. Cukuplah bagi kita informasi yang datang dari
Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih ini.


Di antara ayat dan hadits yang disebutkan oleh beliau Rahimahullah
adalah sebagai berikut.




4.1.1 Sifat Al-’Izzah (Perkasa)


Maha Suci Rabbmu, Yang Memiliki Keperkasaan (‘Izzah), dari apa yang
mereka katakan. Keselamatan semoga dilimpahkan kepada para rasul.
Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam. (Ash-Shafat:
180 – 182).


Dalam ayat ini, Allah me-Mahasucikan diri-Nya dari apa yang disifatkan
oleh orang-orang yang menyelisihi rasul, kepada-Nya, serta memberikan
keselamatan kepada para rasul dikarenakan perkataan mereka bersih
dari kekurangan dan cela.




4.1.2 Sifat Al-Ihathah (Meliputi)



Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan
Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Hadid: 3).


Firman Allah di atas ditafsirkan dengan sabda Rasulullah,



Ya Allah, Engkaulah Al-Awwal, maka tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu;
Engkaulah Al-Akhir, maka tidak ada sesuatupun sesudah-Mu; Engkaulah
Azh-Zhahir, maka tidak ada sesuatu pun di atas-Mu; dan Engkaulah Al-Bathin,
maka tidak ada sesuatu pun di bawah-Mu.
HREF="#foot392">4.3


Ayat dan hadits di atas menunjukkan sifat Al-Ihathah Az-Zamaniyah
(meliputi waktu) yaitu pernyataan, "Dialah Al-Awwal
dan Al-Akhir." Serta Al-Ihathah Al-Makaniyah
(meliputi tempat), yaitu pernyataan, "Dan Azh-Zhahir
dan Al-Bathin."




4.1.3 Sifat Al-Ilmu (mengetahui), Sifat Al-Hikmah
(Bijaksana) dan Sifat Al-Khibrah (Mengetahui)




Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Yusuf:
100).



Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Al-An’am:
18)


Al-Ilmu merupakan salah satu sifat Dzatiyah yang tidak akan
pernah lepas dari Allah Ta’ala. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu,
secara global maupun terperinci.


Kebijaksanaan Allah berlaku di dunia maupun di akhirat. Apabila Allah
menyempurnakan sesuatu, maka sesuatu itu tidak mengandung kerusakan.
Allah telah menciptakan manusia dan Dia Maha Suci, Maha Bijaksana,
lagi Maha Mengetahui.
HREF="#foot396">4.4




4.1.4 Sifat Ar-Rizq (Memberi Rezki), Sifat Al-Quwwah
(Kuat) dan Sifat Al Matanah (Kokoh)




Sesungguhnya Allah Maha Pemberi Rezki, Yang Mempunyai Kekuatan, dan
Yang Sangat Kokoh. (Adz-Dzariyat: 58).


Ar-Razzaq artinya Yang banyak memberi rezki
secara luas (sebagaimana ditunjukkan oleh shighah mubalaghah)
bentuk kata yang menyangatkan. Adapun rezki yang ada di alam semesta
ini berasal dari Allah Ta’ala. Rezki itu ada dua:


1. Rezki yang manfaatnya berlanjut sejak di dunia hingga di akhirat,
yaitu rezki hati. Contohnya: ilmu, iman, dan rezki halal.

2. Rezki yang secara umum diberikan kepada seluruh manusia, yang shalih
maupun yang jahat, termasuk binatang dan lain-lain.


Allah memiliki sifat Al-Quwwah (Kekuatan), Al-Qawiy
artinya adalah Syadidul Quwwah (Sangat Kuat). Maka, Al-Qawiy
merupakan salah satu nama-Nya, yang berarti Yang Memiliki Sifat Kuat.
Adapun Al-Matin berarti Yang Memiliki Puncak Kekuatan dan Kekuasaan.

HREF="#foot398">4.5




4.1.5 As-Sam’u (Mendengar) dan Al-Bashar
(Melihat)



Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar
lagi Maha Melihat. (Asy-Syura: 11)


Di antara sifat-sifat Dzatiyah Allah adalah As-Sam’u dan Al-Bashar.
Jadi, Allah memiliki sifat mendengar dan melihat, sesuai dengan keagungan-Nya,
tidak sebagaimana medengar dan melihatnya makhluk-Nya. Bahkan, pendengaran-Nya
meliputi segala hal yang terdengar, dan Dia Melihat dan menyaksikan
segala sesuatu, sekalipun sesuatu tersebut tersembunyi secara lahir
maupun batin. Seorang penyair berkata:



Duhai Dzat Yang Melihat nyamuk,



ketika mengembangkan sayapnya



Di kegelapan malam yang pekat dan kelam



Dan Melihat urat syaraf di lehernya



Juga otak yang di dalam tulang-tulang nan amat mungil itu



Berikanlah kepadaku, ampunan yang menghapuskan



Dosa-dosa yang kulakukan, sejak kali pertama



Catatan Kaki


HREF="#tex2html35">4.1

Kaum salaf adalah tiga generasi terbaik dari umat ini, yaitu para
sahabat Rasulullah, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.



HREF="#tex2html36">4.2

Lihat Al ‘Aqidah Ash Shahihah wa maa Yudhaadhuha, Syaikh
Abdul Aziz bin Baz
, hal. 7 dan Syarh ‘Aqidah Al Wasithiyah,
Al Haras
hal. 25.



HREF="#tex2html40">4.3

Shahih Muslim IV/2084. Lihat juga Syarh Al-’Aqidah
Al Wasithiyah, Al Haras
, hal. 42.



HREF="#tex2html46">4.4

Lihat Al-Ajwibah Al-Ushuliyah, hal. 42.



HREF="#tex2html50">4.5

Ar-Raudhah An-Nadiyah, hal. 74.

Madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Tentang Asma’ Dan Sifat-Sifat Allah Secara Tafshil (2/4)

Simak terus dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah mengenai apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan dan apa-apa yang tidak. Pemaparan berikut merupakan contoh-contoh dari kaidah-kaidah yang telah dibahas pada bab sebelumnya. Dengan demikian kita tidak gegabah dalam mengenali nama dan sifat-sifat Allah. Selain itu juga terdapat penjelasan mengenai pembagian sifat Al-Iradah kepada Allah. Apa dan bagaimana?




4.1.6 Sifat Al-Iradah dan Sifat Al-Masyi’ah
(Menghendaki)



Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan
tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (Al-Baqarah:
253)



Barangsiapa yang Allah berkehendak untuk memberikan petunjuk kepadanya,
niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barangsiapa
yang Allah berkehendak untuk menyesatkannya, niscaya Allah menjadikan
dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit.
(Al-An’am: 125)


Iradah (kehendak) Allah terbagi menjadi dua:




4.1.6.1 Al-Iradah Al-Kauniyah
HREF="#foot237">4.6


Al-Iradah Al-Kauniyah ini bersinonim dengan Al-Masyi’ah. Iradah Al-Kauniyah
atau Masyi’ah ini berkenaan dengan apa saja yang hendak dilakukan
dan diadakan oleh Allah apabila Allah menghendaki terjadinya sesuatu,
maka sesuatu itu terjadi begitu Dia menghendakinya. Sebagaimana firman
Allah Ta’ala:



Sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah
berkata kepadanya "Kun" (Jadilah), maka terjadilah
ia. (Yasin: 82).


Jadi, apapun yang dikehendaki oleh Allah, niscaya terjadi. Sedangkan
apapun yang dikehendaki Allah untuk tidak terjadi, niscaya tidak terjadi.




4.1.6.2 Al-Iradah Asy-Syar’iyah
HREF="#foot247">4.7


Iradah ini berkaitan dengan apa saja yang diperintahkan oleh Allah kepada
hamba-hamba-Nya, berupa hal-hal yang dicintai dan diridhai-Nya. Iradah
ini disebutkan, musalnya, dalam firman Allah Ta’ala,



Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran
bagimu. (Al-Baqarah: 185).


Perbedaan Antara Kedua Iradah Ini


Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah bersifat
umum, meliputi seluruh peristiwa dan apapun yang terjadi di jagad
raya ini, entah berupa kebaikan maupun keburukan, kekafiran maupun
keimanan, ketaatan maupun kemaksiatan.


Adapun Al-Iradah Ad-Diniyah Asy-Syar’iyah bersifat
khusus, berkaitan dengan apa saja yang dicintai dan diridhai oleh
Allah, yang dijelaskan di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah.


Kedua Iradah di atas berpadu pada diri seorang hamba yang taat. Adapun
orang yang bermaksiat dan kafir hanya mengikuti Al-Iradah Al-Kauniyah
Al-Qadariyah.


Artinya, ketaatan seseorang (muslim -red) itu sesuai dengan
iradah (kehendak) Allah, baik Al-Iradah Ad-Diniyah Asy-Syar’iyah maupun
Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah. Adapun orang kafir, perbuatannya
itu sesuai dengan iradah kauniyah qadariyah, tetapi tidak sesuai
dengan iradah diniyah syar’iyah.
HREF="#foot405">4.8




4.1.7 Sifat Al-Mahabbah (Cinta) dan Al-Mawaddah
(Cinta yang Murni)



Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang
berbuat baik. (Al-Baqarah: 195)


Cinta Alah itu merupakan sifat yang sesuai dengan keagungan-Nya, sebagaimana
telah dijelaskan di muka. Ia merupakan sifat Fi’liyah, yang muncul
disebabkan dilaksanakannya perintah Allah, yaitu ibadah kepada Allah
dengan baik dan perbuatan baik kepada hamba-hamba-Nya. Demikian halnya
sifat Mawaddah. Karena Allah berfirman,



Dan Dia Maha Pengampun dan Maha Pencipta dengan kecintaan yang murni.
(Al-Buruj: 14)


Al-Wudd artinya kecintaan yang bersih dan murni.




4.1.8 Sifat Ar-Rahmah (Kasih Sayang) dan Al-Maghfirah
(Mengampuni)
.



Wahai Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu. (Ghafir:
7).



Dan Dia Yang memberikan ampunan dan kasih sayang. (Yunus:
107).


Pada ayat pertama, Allah menetapkan sifat rahmah bagi diri-Nya, sedangkan
pada ayat kedua, Allah menetapkan sifat Maghfirah. kita menetapkan
apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya, dengan artian
yang layak bagi-Nya




4.1.9 Sifat Ar-Ridha, Al-Ghadhab (Marah),
As-Sukht (Murka), Al-La’n (Melaknat),
Al-Karahiyah (Benci), Al-Asaf
(marah) dan Al-Maqt (Murka)




Allah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. (Al-Bayyinah:
8)



Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin secara sengaja, maka balasannya
adalah Jahannam, ia kekal di dalamnya, sedangkan Allah marah dan melaknatnya.
(An-Nisa’: 43)



Itu dikarenakan mereka mengikuti apa yang menjadikan Allah murka dan
mereka membenci keridhaan-Nya. (Muhammad: 28)



Maka ketika mereka telah menyebabkan kami marah, maka Kami menghukum
mereka. (Az-Zukhruf: 55)



Amat besarlah kemurkaan di sisi Allah, jika kamu mengatakan apa-apa
yang tiada kamu kerjakan. (Ash-Shaf: 3)



Tetapi Allah membenci keberangkatan mereka. (At-Taubah: 46)


Dalam ayat-ayat ini, Allah menetapkan bagi diri-Nya sifat Al-Ghadhab
(marah), As-Sukht (murka), Ar-Ridha, Al-La’n
(melaknat), Al-Karahiyah (benci), Al-Asaf (marah), serta
Al-Maqt (murka). Ini semua merupakan sifat-sifat Af’al
(perbuatan) yang dilakukan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, bila Dia menghendaki.


Selain menetapkan sifat-sifat Dzatiyah bagi Allah, Ahlus Sunnah wal
Jama’ah juga menetapkan sifat-sifat Fi’liyah-Nya yang bersifat ikhtiyari,
dengan makna yang laik dengan keagungan-Nya.
HREF="#foot410">4.9




4.1.10 Sifat Al-Maji’ (Tiba) dan Sifat Al-Ityan
(Datang)



Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan kedatangan Allah dan malaikat
(pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya.
(Al-Baqarah: 210)



Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut.
Dan tibalah Rabbmu sedangkan malaikat berbaris-baris. (Al-Fajr:
21-22)


Ayat-ayat yang disebutkan oleh penulis ini, juga ayat-ayat yang lain,
membuat penetapan sifat Al-Maji’ (Tiba) dan Al-Ityan
(datang), demikian pula sifat An-Nuzul (turun),
sesuai dengan makna yang laik dengan keagungan Allah Ta’ala. Perbuatan-perbuatan
ikhtiari ini dilakukan berkaitan dengan Al-Masyi’ah (kehendak) dan
Al-Qudrah (kemampuan) Allah.




4.1.11 Sifat Al-Wajhu (Wajah), Al-Yadain
(Dua Tangan) dan Al-’Ainain (Dua Mata)



Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
(Ar-Rahman: 27)



Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabbmu, sesungguhnya kamu
berada dalam penglihatan Mata Kami. (Ath-Thur: 48)



Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada (Adam) yang telah Ku-ciptakan
dengan kedua tangan-Ku? (Shad: 75)


Dalam ayat-ayat ini terkandung penetapan wajah, dua tangan dan dua
mata bagi Allah Ta’ala, dengan sifat yang sesuai dengan kebesaran-Nya.
Adapun hadits yang menunjukkan sifat dua mata ini, adalah sabda Nabi,


Sesungguhnya Rabbmu tidak buta sebelah matanya.
HREF="#foot317">4.10




4.1.12 Sifat Al-Makru (Makar) dan Al-Kaid
(Tipu Daya)




Mereka (orang-orang kafir itu) membuat makar, dan Allah membalas makare
mereka. Dan Allah sebaik-baik pembuat makar. (Ali Imran: 54).



Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir itu) merencanakan tipu daya
yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Aku pun merencanakan tipu
daya pula, dengan sebenar-benarnya. (Ath-Thariq: 15 – 16).



Dan Dia-lah Dzat Yang Maha keras tipu daya-Nya. (Ar-Ra’d:
13).


Allah telah menetapkan bagi diri-Nya sifat-sifat yang tersebut dalam
ayat-ayat tersebut, yaitu: Makar, Al-Kaid (tipu daya) dan Al-Mumahalah
(tipu daya). Ini semua merupakan sifat fi’liyah yang ada pada Allah,
dengan makna yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.


Namun, dari sifat-sifat Fi’liyah ini tidak boleh diambil nama, sehingga
tidak boleh mengatakan: bahwa salah satu nama-Nya adalah Al-Makir
(Maha Makar), atau Al-Kaaid (Yang Maha Menipu Daya), karena
nama tersebut tidak disebutkan. Kita berhenti pada apa yang tersebut
saja, yaitu bahwa Dia adalah sebaik-baik pembuat makar dan bahwa Dia
merencanakan tipu daya terhadap musuh-musuh-Nya yang kafir itu.
HREF="#foot425">4.11


Jadi Allah mensifati diri-Nya dengan sifat makar dan menipu daya sebagai
balasan, sebagaimana dalam firman-Nya,



Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. (Asy-Syura:
40)


Sifat tersebut termasuk dalam kategori ini, yaitu menimpakan makar
dan tipu muslihat kepada siapa yang layak, sebagai hukuman baginya.
Allah telah mengakui untuk diri-Nya perbuatan-perbuatan, akan tetapi
Dia tidak menamai diri-Nya dengan isim fa’il dari perbuatan-perbuatan
tersebut.


Misalnya, Araada (menghendaki), syaa’a (menghendaki),
ahdatsa (mengadakan), akan tetapi Allah tidak menyebut diri-Nya
dengan nama Asy-Syaa’i (Yang Menghendaki), Al-Murid
(Yang Menghendaki) dan Al-Muhdits (Yang Mengadakan). Dia juga
tidak menyebut diri-Nya dengan nama Ash-Shani’
(Yang Membuat), Al-Fa’il (Yang Berbuat), Al-Mutqin
(Yang Membuat dengan kokoh), dan nama-nama lain yang diambil dari
perbuatan-perbuatan yang dinyatakan Allah sebagai perbuatan diri-Nya.


Jadi, bab af’al (perbuatan-perbuatan), lebih luas dari pada bab asma’
(nama-nama). Tetapi, apa yang dinyatakan oleh Allah untuk diri-Nya,
maka kitapun meyakininya, misalkan firman-Nya,



Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (Al-Buruj: 16)



Begitulah perbuatan Allah yang membuat kokoh segala sesuatu. (An-Naml:
88)



Catatan Kaki



HREF="#tex2html59">4.6

Kehendak Allah yang pasti terjadi, semakna dengan takdir. -edit



HREF="#tex2html61">4.7

Kehendak Allah yang berupa agama; yang kadang terjadi dan terkadang
tidak terjadi.



HREF="#tex2html62">4.8

Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 116; Syarh Al-Wasithiyah,
Al- Haras,
hal. 52; dan Al-Ajwibah Al-Ushuliyah, hal. 48.



HREF="#tex2html75">4.9

Lihat Al-Kawasyif Al-Jaliyah, hal. 210 dan Ar-Raudhah
An-Nadiyah,
hal. 94.



HREF="#tex2html82">4.10

Fathul Bari XIII/91 dan Muslim IV/2248.



HREF="#tex2html93">4.11


Madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Tentang Asma’ Dan Sifat-Sifat Allah Secara Tafshil (3/4)

Melanjutkan pembahasan selanjutnya bab keempat dari Syarh Aqidah Al-Wasithiyah, masih berupa dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah mengenai apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan dan apa-apa yang tidak. Mari, kita kenali Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya melalui firman-Nya dan sabda rasul-Nya. Tidak luput juga keterangan dari para ulama’.




4.1.13 Sifat Al-’Afwu (Memaafkan), Al-Maghfirah
(Mengampuni), Al-’Izzah (Mulia) dan Sifat Al-Qudrah
(Kuasa, Mampu)



Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan, menyembunyikan atau memaafkan
suatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf
lagi Maha Kuasa. (An-Nisa’: 149)



Padahal, kemuliaan hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang
beriman. (Al-Munafiqun: 8)



Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampuni? Dan Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. (An-Nur: 22)


Dalam ayat-ayat di atas, Allah menetapkan bagi diri-Nya sifat Al-’Afwu
(memaafkan), Al-Maghfirah (mengampuni), Al-’Izzah (mulia)
dan Al-Qudrah (kuasa, mampu), karena itu kita pun meyakininya sebagai
sifat Allah, dengan makna yang layak bagi-Nya, tidak ada satupun dari
makhluk-makhluk-Nya yang menyerupai sifat-sifat tersebut.
HREF="#foot598">4.10




4.1.14 Sifat Al-Istiwa’ (Bersemayam) dan Al-’Uluw
(Tinggi)



Allah Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy (Thaha:
5)


Sifat itu disebutkan oleh Allah di tujuh tempat dalam kitab-Nya dan
kita meyakini apa yang telah ditegaskan oleh Allah bagi diri-Nya.
Kita mengatakan bahwa Dia benar-benar bersemayam, dengan sifat semayam
yang layak dengan kebesaran-Nya.


Bersemayam itu telah diketahui artinya, bagaimananya tidak diketahui,
mengimaninya merupakan kewajiban, sedangkan bertanya mengenainya adalah
bid’ah dan inilah madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
HREF="#foot600">4.11



Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih
dinaikkan-Nya. (Fathir: 10)


Al-’Uluw (Tinggi) merupakan sifat Dzatiy bagi Allah Ta’ala.
Dia memiliki ketinggian absolut: katinggian dzat, ketinggian kekuasaan,
dan ketinggian pemaksaan
HREF="#foot601">4.12 dalam hadits disebutkan,



‘Arsy itu di atas air, sedangkan Allah di atas ‘Arsy dan Dia mengetahui
apa yang kamu di atasnya.
HREF="#foot602">4.13




4.1.15 Sifat Al-Ma’iyah (Kebersamaan) Bagi Allah Ta’ala



Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian
Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam
bumi dan apa yang keluar darinya, juga apa yang turun dari langit
dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu
berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjaan. (Al-Hadid:
4)



Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang
yang berbuat kebaikan. (An-Nahl: 128)


Dalam ayat-ayat ini, kita menemukan bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan
bagi diri-Nya sifat Al-Ma’iyah (kebersamaan). Ma’iyah
ini terbagi menjadi dua macam:


1. Kebersaman Allah dengan seluruh makhluk, yang konsekuensinya
berupa sifat Al-Ilmu (mengetahui), Al-Ihathah (meliputi),
dan Al-Ithla’ (melihat). Dalil kebersamaan ini adalah apa yang
terkandung dalam surah Al-Hadid di depan.

2. Kebersamaan Allah khusus dengan orang-orang yang beriman dan
bertakwa, yang konsekuensinya berupa penjagaan, perhatian, dan pertolongan.
Kebersamaan yang umum, termasuk salah satu sifat Dzatiyah,
sedangkan kebersamaan yang khusus, termasuk salah satu sifat Fi’liyah.
Nabi bersabda,



Sesungguhnya, bila seseorang dari kamu berdiri dalam shalat, maka
ia sesungguhnya bermunajat kepada Rabbnya. Rabbnya berada di antara
dirinya dan kiblat. Karena itu, janganlah salah seorang dari kamu
meludah di hadapan wajahnya, tetapi hendaklah ia meludah di sebelah
kirinya atau di bawah kedua telapak kakinya. Dalam riwayat lain, …atau
di bawah telapak kaki kirinya.
HREF="#foot604">4.14



Yang kamu seru dalam doamu lebih dekat kepada salah seorang dari kamu,
daripada leher kendaraan tunggangan salah seorang dari kamu.
HREF="#foot605">4.15






4.1.16 Sifat Al-Kalam (Berbicara)



Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung. (An-Nisa’:
164)


Ayat ini, juga ayat-ayat lain yang disebutkan oleh penulis, menunjukkan
bahwa Allah benar-benar berbicara dengan pembicaraan yang sesuai dengan
kebesaran-Nya. Dia berbicara bila Dia menghendaki, tentang apa yang
Dia kehendaki, dan kapan saja Dia menghendaki.


Dia benar-benar telah berbicara dengan Al-Qur’an dan kitab-kitab lain
yang diturunkan kepada para nabi ‘alaihimush shalatu wassalam. Al-Qur’an
adalah kalam-Nya, diturunkan, bukan makhluk, bermula dari-Nya dan
akan kembali kepada-Nya. Bila manusia menulis Al-Qur’an di mushaf
atau membacanya, maka hal itu tidak berubah keberadaannya sebagai
Kalam Allah. Karena perkataan itu disandarkan kepada siapa yang mengatakannya
pertama kali, bukan kepada siapa yang menyampaikannya.


Allah telah berbicara dengan huruf-hurufnya dan makna-maknanya, dengan
lafazh dari diri-Nya sendiri, tidak sedikit pun dari hal itu yang
berasal dari selain-Nya. Jadi, Allah berbicara dengan perkataan yang
dari segi jenisnya adalah Qodim, akan tetapi dari segi satu persatunya
adalah Hadits (baru), dan Dia terus menerus berbicara dengan huruf,
suara, dan perkataan yang didengar oleh siapa saja di antara makhluk-Nya
yang Dia kehendaki.


Dia akan berbicara kepada orang-orang mukmin pada Hari Kiamat dan
sebaliknya mereka berbicara kepada-Nya. Pembicaraan-Nya terjadi dengan
dzat-Nya dan merupakan sifat Dzati sekaligus sifat perbuatan, karena
itu ia masih dan akan terus berbicara apabila Ia menghendaki, dengan
pembicaraan yang sesuai dengan kebesaran-Nya.
HREF="#foot607">4.16 Nabi telah bersabda:



Tidak ada seorang pun di antara kamu, kecuali Rabb-nya akan berbicara
dengannya, tanpa perantara seorang penterjemah.
HREF="#foot608">4.17


Beliau juga bersabda,



Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, "Wahai Adam!" Adam
‘alaihissalam menjawab, "Kupenuhi panggilan-Mu, saya sangat
berbahagia menjumpai-Mu, dan segala kebaikan berada di kedua tangan-Mu."
Lalu Allah berfirman, "Keluarkanlah utusan Naar!"
Adam bertanya, "Apakah utusan Naar itu?" Allah menjawab,
Untuk setiap 1000 orang, ada 999 orang." Itulah hari dimana
anak kecil beruban, setiap wanita yang hamil melahirkan kandungannya,
dan kemu melihat manusia mabuk padahal mereka tidak mabuk, akan tetapi
siksa Allah itu sangat keras.
HREF="#foot609">4.18

<<pref

next>>

Catatan Kaki


HREF="#tex2html92">4.10

Ar-Raudhah An-Najiyah, hal. 115; Al-Kawasyif Al-Jaliyah,
hal. 267; dan Mukhtashar Ash-Shawa’iq Al-Mursalah ‘Ala Al-Jahmiyah
wal Mu’athilah
, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah II/31-35.



HREF="#tex2html95">4.11

Fatawa Ibnu Taimiyah V/144.



HREF="#tex2html96">4.12

Ar-Raudhah An-Nadiyah, hal. 131.



HREF="#tex2html97">4.13

Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud. Lihat ‘Aunul
Ma’bud
, XIII/14. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Mukhtashar
Al-’Uluw lil ‘Aliyyi Al-Ghaffar
, hal. 103.



HREF="#tex2html99">4.14

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Fathul Bari I/84 dan
Muslim IV/2303.



HREF="#tex2html100">4.15

Fathul Bari XI/500 dan Muslim IV/2077. Lafazh ini
milik Muslim. Lihat Fatawa Ibnu Taimiyah V/103.



HREF="#tex2html102">4.16

Ar-Raudhah An-Nadiyah, hal. 146; Al-Ajwibah Al-Ushuliyah,
hal. 93; dan Syarh Al-Wasithiyah, Al-Haras, hal. 96.



HREF="#tex2html103">4.17

Diriwayatkan Al-Bukhari, Fathul Bari XI/377 dan
Muslim I/201.



HREF="#tex2html104">4.18

Diriwayatkan Al-Bukhari, Fathul Bari XI/377 dan
Muslim I/201.

diambil dari artikel
http://blog.vbaitullah.or.id/

Komentar

Pos populer dari blog ini

Adab Makan Seorang Muslim Sesuai Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

Definisi, Nama, Tugas, Perbedaan Nabi dan Rasul Dilengkapi Tabel