Fenomena Ustadz Palsu

Hiruk pikuknya dunia modern dengan pernikperniknya menyebabkan manusia mengalami kekeringan rohani dan haus akan ilmu agama. Kecenderungan masyarakat yang haus ilmu agama ini diiringi dengan munculnya ustadz-ustadz muda di berbagai media massa yang menawarkan berbagai metode keagamaan. Ada yang menawarkan manajemen qolbu, ada pula yang menyemarakkan dzikir-dzikir bersama dan hal-hal lainnya yang bernuansa menyelisihi Sunnah.


Banyak dari kaum muslimin yang terhanyut di dalam buaian hidangan yang disuguhkan oleh ustadz-ustadz tersebut. Bagi mereka, yang penting rohani yang kering dapat terpuaskan. Karenanya, tidak mengherankan jika sekarang ini banyak orang-orang yang memanfaatkan peluang ini, sehingga ke dalam bidang ilmu dan dakwah masuklah orang-orang yang bukan ahlinya dengan berbagai latar belakang yang beraneka ragam seperti pelawak, penyanyi, fotomodel, dan ilmuwan yang jauh dari ilmu agama yang shohih.

Yang lebih memprihatinkan lagi, “ustadz-ustadz” tersebut termasuk orang-orang yang “ringan” berfatwa, dan bisa ditebak jika begitu banyak dari fatwa-fatwa mereka yang menyelisihi din yang shohih. Demikianlah, jika ada orang yang masuk ke dalam selain bidangnya maka akan mendatangkan hal-hal yang ajaib. Tentunya tidak semua orang yang mengaku ulama dapat berfatwa dan diikuti tindak-tanduknya. Kita harus kritis terhadap mereka sehingga kita tidak mudah terperangkap oleh orang yang disebut ustadz atau mengaku sebagai ulama.

Semua ini untuk mencegah agar tidak ada umat yang tersesat dan disesatkan, karena sebaik-baik petunjuk adalah yang selaras dengan al-Qur‘an dan as-Sunnah, serta contoh dari para sahabat rodliyallohu anhum, sebagai potret generasi terbaik umat ini — sebagaimana pujian yang diberikan oleh Alloh dan Rosul-Nya.

Masuknya para penyelundup di dalam bidang ilmu ini bukanlah hal yang baru. Bahkan fenomena ini telah terjadi pada zaman dahulu sehingga para ulama mutaqoddimin (ulama terdahulu) dan muta‘akhkhirin (ulama zaman sekarang) telah memperingatkan umat dari para penyelundup ini di dalam kitab-kitab mereka untuk membersihkan bidang ilmu dari orang-orang yang mengotorinya. Di antara para ulama muta‘akhkhirin yang telah membahas hal tersebut adalah Syaikh Bakr bin Abdulloh Abu Zaid di dalam kitab beliau yang berjudul at-Ta’alum wa Atsaruhu ’alal Fikri wal Kitab yang Insya Alloh akan kami petik faedah-faedah darinya di dalam bahasan kita kali ini sebagai nasihat kepada diri kita semuanya.
Ketika Segala Perkara Diserahkan Kepada Selain Ahlinya, Tunggulah Kiamat!
Di antara tanda-tanda kiamat yang dikabarkan oleh Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam adalah jika urusan-urusan diserahkan kepada orang-orang yang bukan ahlinya, fatwa diserahkan kepada orang jahil, pemerintahan diserahkan kepada orang yang dungu, amanat diserahkan kepada orang yang khianat. Rosululloh bersabda:
Jika urusan diserahkan kepada selain ahlinya maka tunggulah kiamat.” (Diriwayatkan oleh Bukhori dalam Shohih-nya 1/23)

Al-Allamah Badruddin al-’Aini rohimahulloh berkata: “Sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam ‘Jika urusan diserahkan’ maksudnya adalah jenis urusan-urusan yang berhubungan dengan agama seperti khilafah, qodho’ (hukum), fatwa, dan yang semacamnya, dan dikatakan yaitu dengan diserahkan kepada selain ahli din dan amanat dan orang-orang yang membantu mereka atas kezholiman dan kefajiran, dan pada saat itu jadilah para pemimpin telah menyianyiakan amanat yang Alloh wajibkan atas mereka hingga orang khianat diberi amanat dan orang yang diamanati berkhianat. Dan ini terjadi jika kebodohan menjadi dominan dan ahlil haq lemah di dalam menegakkan al-haq.” (’Umdatul Qori Syarh Shohih Bukhori 2/386 — Syamilah)
Al-Hafizh Ibnu Rojab al-Hanbali rohimahulloh berkata:
“… Berbaliklah segala keadaan-keadaan, orang yang dusta dibenarkan, orang yang jujur didustakan, pengkhianat dipercaya, orang yang amanat dianggap khianat, orang jahil (bodoh) bicara, orang alim (berilmu) diam atau tidak ada sama sekali, sebagaimana telah shohih dari Nabi n bahwasanya beliau bersabda:
‘Sesungguhnya di antara tanda kiamat adalah terangkatnya ilmu dan tampaknya kebodohan.’ (Shohih Bukhori 7/48 dan Shohih Muslim 8/58)

Dan Nabi shollallohu 'alaihi wassalam mengabarkan bahwasanya:
Sesungguhnya Alloh tidak mencabut ilmu (agama) dengan serta-merta dari hamba-hambaNya. Akan tetapi, Alloh mencabut ilmu dengan mewafatkan (mematikan) ulama, sehingga Alloh tidak menyisakan orang berilmu. Maka, manusia mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Lalu, mereka ditanya, dan mereka memberi fatwa tanpa ilmu. Maka, mereka sesat dan menyesatkan.’ (Diriwayatkan oleh Bukhori dalam Shohih-nya 1/36 dan Muslim dalam Shohih-nya 8/60)
Asy-Sya’bi berkata: ‘Tidaklah tegak kiamat hingga jadilah ilmu sebagai kejahilan dan kejahilan sebagai ilmu.’

Ini semua di antara pemutarbalikan realita-realita di akhir zaman dan terbaliknya perkara-perkara.” (Jami’ul Ulum wal Hikam 1/120–121)

Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini rohimahulloh berkata: “Nabi shollallohu 'alaihi wassalam bersabda dalam hadits ini: ‘Jika urusan diserahkan kepada selain ahlinya maka tunggulah kiamat’, sungguh telah terbukti realita makna hadits ini di zaman ini, di sana ada serangan membabi buta kepada ashhabul hadits, hingga masuk para wanita di dalam serangan membabi buta ini, seorang wanita mengatakan bahwa tidak shohih dari Nabi shollallohu 'alaihi wassalam kecuali 17 hadits saja!” (Syarh Shohih Bukhori 4/8 — Syamilah)

Para Penyelundup Dalam Bidang Fatwa

Pada hari ini kita mendengar betapa beraninya manusia berfatwa, berbicara atas Alloh tanpa ilmu, berdasar atas persangkaan, bahkan ada yang menjawab pertanyaan sebelum selesai soal dibacakan, menoleh ke kanan dan ke kiri membanggakan jawabannya, berfatwa secepat kilat dalam masalah-masalah yang dahulu para imam tawaqquf padanya.

Al-Imam Malik rohimahulloh berkata: “Telah mengabarkan kepadaku seorang laki-laki bahwa dia masuk kepada Robi’ah bin Abdurrohman, ternyata dia dapati sedang menangis, maka dia bertanya: ‘Apakah yang membuatmu menangis?’ Dia takut dengan tangisannya, maka dia berkata kepada Robi’ah: ‘Apakah ada musibah yang menimpamu?’ Robi’ah menjawab: ‘Tidak. Akan tetapi, orang yang tidak punya ilmu telah dimintai fatwa dan telah muncul di dalam Islam perkara yang besar.’ Robi’ah berkata: ‘Dan untuk sebagian yang berfatwa di sini lebih pantas untuk dipenjara daripada para pencuri.’ ”

Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata: “Sebagian ulama berkata: ‘Bagaimana jika Robi’ah melihat zaman kita, dan lancangnya orang yang tak berilmu atas fatwa, begitu bersemangat di dalamnya, mempersulit diri kepadanya, dia masuki bidang fatwa dengan kejahilan dan keberanian dengan sedikitnya pengetahuan dan jeleknya perilaku serta kejelekan niat. Dalam keadaan dia di kalangan ahli ilmu diingkari atau orang asing. Tidaklah dia punya bagian di dalam ma’rifat al-Kitab, as-Sunnah, dan atsar salaf…’ Barang siapa yang lancang pada yang dia bukan ahlinya dalam bidang fatwa, hukum, atau pengajaran, maka dia pantas untuk dicela, serta fatwa dan hukumnya tidak halal diterima; inilah hukum agama Islam.” (I’lamul Muwaqqi’in 4/207–208)

Adapun para salafush sholih maka mereka begitu waro’ dan berhati-hati dalam berfatwa. Ibnu Abi Laila rohimahulloh berkata: “Aku telah mendapati 120 sahabat Rosululloh shollallohu 'alaihi wassallam, tidak ada satu pun dari mereka
yang menyampaikan hadits kecuali berharap agar saudaranya yang mencukupinya (menggantikannya) dalam menyampaikan hadits tersebut, dan tidak ada yang berfatwa kecuali berharap agar saudaranya mencukupinya dari fatwa tersebut, seorang dari mereka ditanya tentang suatu masalah maka mengalihkannya kepada yang lainnya, dan yang lainnya kepada yang lainnya, dan yang lainnya kepada yang lainnya, hingga kembali kepada yang pertama.”

Dari Uqbah bin Muslim rohimahulloh, dia berkata: Aku menemani Abdulloh bin Umar rodliyallohu anhu selama 34 bulan maka yang banyak dia ucapkan ketika ditanya: ‘Saya tidak tahu’ Kemudian dia menoleh kepadaku seraya berkata: ‘Tahukah kamu apa yang mereka kehendaki? Mereka hendak menjadikan punggung-punggung kami sebagai jembatan bagi mereka ke Jahannam.’ ”

Dari Ayyub rohimahulloh, bahwasanya orang-orang di Mina berbondong-bondong mendatangi al-Qosim bin Muhammad v untuk bertanya kepadanya, maka al-Qosim berkata: “Saya tidak tahu.” Kemudian dia berkata: “Demi Alloh, tidaklah kami tahu semua yang kalian tanyakan kepada kami. Seandainya kami mengetahuinya, tidak akan kami sembunyikan kepada kalian.” (Diriwayatkan oleh Darimi dalam Sunan-nya 1/48 dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi 2/836 dengan sanad yang shohih)

Abdurrohman bin Mahdi rohimahulloh berkata: “Kami berada di sisi al-Imam Malik bin Anas rohimahulloh, tiba-tiba datanglah seseorang kepadanya seraya berkata:
‘Aku datang kepadamu dari jarak enam bulan perjalanan. Penduduk negeriku menugasiku untuk menanyakan kepadamu suatu permasalahan.’ Al-Imam Malik berkata: ‘Tanyakanlah!’ Maka orang tersebut bertanya kepadanya suatu permasalahan, lalu al-Imam Malik menjawab: ‘Saya tidak bisa menjawabnya.’ Orang tersebut terhenyak, sepertinya dia membayangkan bahwa dia telah datang kepada seseorang yang tahu segala sesuatu, orang tersebut berkata: ‘Lalu apa yang akan aku katakan kepada penduduk negeriku jika aku pulang kepada mereka?’ Al-Imam Malik berkata: ‘Katakan kepada mereka: Malik tidak bisa menjawab.’ ”

Para Penyelundup Dalam Bidang Tafsir

Pada hari ini, begitu besar musibah yang terjadi di dalam bidang tafsir. Telah menyelundup ke dalamnya, orang-orang jahil yang tidak tahu as-Sunnah dan tidak hafal al-Kitab. Orang-orang jahil itu begitu percaya diri dengan perasaan dan akalnya sehingga menyeret dan memelintir ayat-ayat Alloh kepada hasil pemikiran-pemikiran sesatnya.

Syaikh Ahmad bin Muhammad Syakir rohimahulloh berkata: “Adapun pada zaman kita, telah muncullah musibah-musibah, dan tumbuhlah generasi-generasi dari orang-orang yang diperbudak oleh pemikiran-pemikiran misionaris dan hawa-hawa nafsu mereka, dari orang-orang yang bodoh terhadap bahasa Arab kecuali bahasa-bahasa pasaran dan yang semacam mereka. Mereka jahil akan al-Qur’an dan tidak membacanya, dan tidaklah memperdengarkannya kecuali sedikit. Mereka jahil akan Sunnah bahkan merupakan musuh-musuhnya. (Mereka) dari orang-orang yang mengejek ilmu para ulama Islam dan menganggap mereka (para ulama tersebut) dungu. Lisan-lisan mereka begitu lancang mengucapkan ucapan-ucapan yang jelek terhadap salaf kita yang sholih dari kalangan sahabat, tabi’in, dan yang datang sesudah mereka, bahkan tidaklah mereka beriman kepada yang ghoib kecuali sedikit. Mereka ini dan yang serupa dan semisal mereka, begitu berani berbuat iseng terhadap al-Qur’an dan mempermainkan Sunnah. Mereka masuk kepada tafsir al-Qur’an dan menyangka diri mereka memiliki ijtihad yang jahil, mereka memfitnah manusia dan mengajari mereka perbuatan iseng dan permainan, dan mereka cabut keimanan dari dalam hati mereka. Tidaklah saya katakan mereka ini dan mereka yang lain menafsirkan al-Qur’an dengan hawa-hawa nafsu mereka, karena mereka lebih lemah dan lebih bodoh dari memiliki hawa nafsu, bahkan mereka menafsirkan al-Qur’an dengan hawa-hawa nafsu majikan-majikan mereka dan guru-guru mereka dari para misionaris dan para penjajah musuh-musuh Islam.”

Di antara contoh-contoh mereka di zaman ini adalah seruan “penyegaran” Islam dengan menyuguhkan cara baru di dalam menafsirkan agama Islam sebagaimana dikatakan oleh seorang dari mereka: “Saya mengemukakan sejumlah pokok pikiran di bawah ini sebagai usaha sederhana menyegarkan kembali pemikiran Islam yang cenderung membeku, menjadi ‘paket’ yang sulit didebat dan dipersoalkan: paket Tuhan yang disuguhkan kepada kita dengan cara sederhana: take it or leave it! Islam yang disuguhkan dengan cara demikian, amat berbahaya bagi kemajuan Islam itu sendiri. Jalan satu-satunya menuju kemajuan Islam adalah dengan mempersoalkan cara kita menafsirkan agama ini.”

Para Penyelundup Dalam Bidang Sunnah

Nabawiyyah Bidang sunnah Nabawiyyah telah dimasuki pula oleh orang-orang yang bukan ahlinya. Al-Imam al-Khothib al-Baghdadi rohimahulloh menceritakan tentang keadaan mereka:
“Sungguh aku telah melihat orang-orang dari penghuni zaman ini menisbatkan diri kepada hadits, dan menganggap diri-diri mereka termasuk ahlinya, memiliki spesialisasi mendengar hadits dan menukilnya, padahal mereka adalah orang yang paling jauh dari dakwaan mereka, paling sedikit ma’rifatnya akan apa yang mereka nisbatkan diri mereka kepadanya. Seorang dari mereka memandang jika telah menulis jumlah yang sedikit dari juz-juz, menyibukkan diri mendengar hadits dalam waktu sedikit, bahwa dia adalah ahli hadits secara mutlak, dan tidak pernah mengupayakan jiwanya dan memaksanya untuk mencarinya, dan tidak pernah bersusah payah menghafal macam-macamnya dan bab-babnya…

Dan mereka—dengan sedikitnya apa yang mereka tulis dari hadits dan ketiadaan ma’rifat mereka tentangnya—adalah orang yang paling besar kesombongannya, paling sesat lagi ’ujub, tidak memperhatikan kehormatan guru, dan tidak mewajibkan tanggung jawab kepada murid. Mereka melecehkan para perowi dan mereka kasar terhadap para penuntut ilmu. (Mereka) menyelisihi konsekuensi ilmu yang mereka dengarkan, dan lawan dari kewajiban yang mengharuskan mereka untuk mengerjakannya…” (al-Jami’ LiakhlaqiRowi wa Adabis Sami’ hlm. 1 dan 4)

Syaikh Bakr bin Abdulloh Abu Zaid rohimahulloh menceritakan contoh-contoh fenomena orang-orang yang berlagak tahu padahal bodoh di dalam ilmu hadits, beliau berkata:
“Sesungguhnya kitab-kitab Sunnah yang mulia, di dalam sebagian naskahnya ada perbedaan, karena perbedaan para perowinya. Kadang perbedaan terjadi dalam satu bab secara keseluruhan, atau di dalam satu hadits atau di dalam lafazh suatu hadits, dan seterusnya…

Telah terjatuh banyak orang di dalam banyak kesalahan karena kelalaian mereka tentang hal ini.

Suatu contoh, seorang imam menyandarkan kepada Sunan Abu Dawud riwayat Ibnu Dasah, kemudian datanglah seorang pentahqiq zaman ini yang merujuk kepada Sunan Abu Dawud yang telah dicetak, ternyata ia dari riwayat al-Lu‘lu‘i maka dia katakan bahwa imam tersebut telah waham (keliru) karena hadits tersebut tidak ada di dalam Sunan Abu Dawud yang dicetak tersebut, padahal dia (pentahqiq) sendirilah yang waham.” (at-Ta’alum wa Atsaruhu ’alal Fikri wal Kitab hlm. 51–52)

Para Penyelundup Dalam Bidang Fiqih

Ilmu fiqih juga telah dimasuki oleh berbagai macam penyelundup. Ada yang begitu mudah mengambil keringanan, ada yang begitu senang memakai pendapat-pendapat yang syadz (ganjil), ada yang tidak tahu istilah seorang faqih di dalam ungkapan-ungkapannya, dan ada lagi yang fiqihnya mengikuti hawa nafsunya.

Kemudian, di sisi lain, adalah para murid “madrasah fiqih modern” yang masuk di dalamnya orang-orang yang terkenal. Orang-orang kafir pun menjadikan mereka mereka ini sebagai corong-corong mereka, sehingga orang kafir berhasil memasukkan makar-makar mereka dengan jalan orang-orang ini, dengan menjadikan syari’at baru dan yang telah diselewengkan sebagai ganti syari’at Alloh.
Inilah di antara jalan-jalan mereka:


..................selengkapnya di Majalah Al Furqon edisi 106. Langganan hubungi: 081 332 756 071 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Adab Makan Seorang Muslim Sesuai Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

Definisi, Nama, Tugas, Perbedaan Nabi dan Rasul Dilengkapi Tabel