Novi Effendi Blog

Manhaj

    Sebelas Karakter Ibadurrahman dalam Surat Al Furqon Ayat 63-77

    SEBELAS KARAKTER IBADURRAHMAN




    “Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka, dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.”

    Allah menceritakan sosok hamba-hamba teladan kepada kita untuk kita tiru kebaikan mereka. Mereka itulah yang dikenal dengan Ibadur-Rahman. Allah menyebutkan sebelas ciri mereka dengan rinci di dalam Al-Qur’an. Berikut ini keterangan yang kami sarikan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman [cetakan Mu’assasah ar-Risalah, hal. 586-588] karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah [Tafsir surat Al-Furqan ayat 63-77] dengan beberapa tambahan keterangan dari sumber yang lain, semoga bermanfaat.

    Ciri Pertama
    Rendah hati dan menyikapi kebodohan orang dengan cara yang baik


    Allah berfirman (yang artinya), “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan : 63)

    Ibadur-Rahman adalah orang-orang yang meniti kehidupan ini dengan sikap tawadhu’/ rendah hati terhadap Allah dan kepada sesama makhluk. Mereka bersikap tenang dan berwibawa. Senantiasa rendah hati kepada Allah dan bersikap santun kepada hamba-hamba-Nya. Apabila orang-orang pandir melontarkan kejahilan kepada mereka, hal itu tidak lantas membuat mereka membalas kebodohan dengan kebodohan serupa ataupun perbuatan dosa. Sikap inilah yang membuat mereka semakin terpuji, yaitu lemah lembut dan santun. Mereka mampu membalas kejelekan dengan berbuat ihsan dan kebaikan. Bahkan, mereka mau memaafkan orang yang pandir karena kejahilannya itu. Ini menunjukkan ketabahan hati mereka yang begitu mengagumkan sehingga dapat mengangkat mereka mencapai kemuliaan akhlak seperti ini.

    Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam tafsirnya tentang ‘Orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati’, “Artinya dengan sikap tenang dan berwibawa, tanpa rasa angkuh dan sombong” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, VI/27).

    Ciri Kedua
    Mengerjakan shalat malam dengan ikhlas

    Allah berfirman (yang artinya), “…Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka (maksudnya orang-orang yang sembahyang tahajjud di malam hari semata-mata Karena Allah).” (QS. Al-Furqan : 64)

    Ibadur-Rahman adalah orang-orang yang banyak mengerjakan shalat malam dan ikhlas dalam mengerjakannya demi Tuhan mereka serta senantiasa tunduk merendahkan diri kepada-Nya. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala di dalam ayat yang lain (yang artinya), “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (maksudnya mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur untuk mengerjakan shalat malam) dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah : 16).

    Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam tafsirnya tentang ‘orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka’ “artinya (mereka mengisi waktunya) dalam rangka ketaatan dan beribadah kepada-Nya” (Tafsir Al-Qur’an Al- ‘Azhim, VI/28)

    Ciri Ketiga
    Berdo’a kepada Allah untuk dijauhkan dari neraka

    Allah berfirman (yang artinya), “…Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al-Furqan : 65-66)

    Ibadur-Rahman adalah orang-orang yang berdo’a kepada Allah supaya dijauhkan dari sebab-sebab yang dapat menjerumuskan ke dalam neraka. Mereka juga senantiasa memohon ampun atas dosa yang pernah mereka lakukan, karena dosa-dosa itu jika tidak ditaubati maka akan menjebloskan diri mereka ke dalam kungkungan azab. Padahal, azab neraka sangatlah menakutkan, terus menerus menyiksa sebagaimana halnya lilitan hutang yang menyiksa hati orang yang berhutang namun tidak sanggup melunasinya.

    “Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman”.

    Ini menunjukkan ketundukan dan perendahan hati mereka di hadapan Allah Ta’ala, dan betapa butuhnya mereka kepada pertolongan Allah. Mereka sadar, bahwa mereka tidak akan sanggup menahan pedihnya azab. Hal ini juga mengingatkan mereka akan karunia Allah atas mereka, yaitu ketika kesulitan yang sangat berat dan menggoncangkan jiwa tersebut sirna, maka hati mereka pun semakin bergembira dan berbunga-bunga apabila telah berhasil selamat dari kungkungan azab.

    Ciri Keempat
    Tidak berlebih-lebihan dan tidak kikir dalam membelanjakan harta

    Allah berfirman (yang artinya), “…Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan : 67)

    Ibadur-Rahman adalah orang yang berinfak di jalan Allah, baik infak yang [hukumnya] wajib atau sunnah. Infak yang wajib seperti : zakat, membayar kafarah, dan memberi nafkah untuk anak dan isteri. Mereka tidak melanggar batas dalam berinfak. Tidak boros, sehingga tidak melalaikan kewajiban infak yang lain. Tapi mereka juga tidak lantas menjadi bakhil atau kikir. Demikianlah infak mereka, berada di antara boros dan kikir. Mereka membelanjakan harta dalam perkara-perkara yang semestinya dengan cara yang layak, tidak mengundang bahaya untuk diri pribadi maupun orang lain, ini menunjukkan sikap adil dan seimbang yang mereka miliki.

    Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam tafsirnya tentang ‘Orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebih-lebihan, tidak pula kikir’ “artinya mereka tidaklah termasuk orang-orang yang suka menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu yang sia-sia. Mereka curahkan harta mereka menurut kebutuhan. Namun, mereka tidak lantas menjadi kikir terhadap keluarganya sampai-sampai harus mengurangi hak-hak mereka dan tidak memenuhinya. Akan tetapi mereka senantiasa berlaku adil dan memilih sikap yang terbaik, sedangkan sebaik-baik urusan ialah yang pertengahan. Tidak condong ke sana maupun ke sini” (Tafsir Al- Qur’an Al-‘Azhim, VI/29)

    Beliau juga menukil perkataan Iyas bin Mu’awiyah yang mengatakan, “Segala sesuatu yang melampaui batas ketentuan Allah adalah pemborosan”. Ulama yang lain mengatakan, “Yang dimaksud dengan pemborosan yaitu membelanjakan harta dalam rangka bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla” Sedangkan Hasan Al-Bashri mengatakan, “Tidak ada pemborosan dalam hal membelanjakan harta di jalan Allah” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, VI/29)

    Ciri Kelima
    Tidak berbuat kesyirikan

    Allah berfirman (yang artinya), “…Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah…” (QS. Al-Furqan : 68).

    Ibadur-Rahman adalah orang-orang yang menyembah kepada Allah saja [bertauhid], mengikhlaskan agama dan ketaatan untuk-Nya. Mereka tinggalkan segala bentuk kesyirikan dan cenderung kepada tauhid. Menghadapkan segenap jiwa dan raga mereka hanya kepada Allah serta memalingkan ketergantungan hati dari segala sesuatu selain kepada-Nya.

    Imam Ahmad mengatakan, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami dari Syaqiq dari Abdullah yaitu Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang dosa apakah yang paling besar ? Beliau menjawab, “Engkau menjadikan sekutu untuk Allah padahal Dia lah yang menciptakanmu”. Orang itu bertanya lagi, ‘Lalu apa lagi ?’ Beliau menjawab, “Engkau membunuh anakmu karena khawatir dia ikut makan bersamamu” Orang itu bertanya lagi, ‘Lalu apa lagi ?’ Beliau menjawab, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu”. Abdullah mengatakan, ‘Allah pun menurunkan pembenar sabda beliau itu, “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain beserta Allah” (HR. Bukhari di dalam Kitab Tafsir/4477/Al -Fath, Muslim di dalam Kitabul Iman/86/Abdul Baqi, dinukil dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim VI/29)

    Ciri Keenam
    Tidak melakukan pembunuhan tanpa alasan yang benar

    Allah berfirman (yang artinya), “…dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar,” (QS. Al-Furqan : 68).

    Jiwa yang haram dibunuh adalah jiwa seorang muslim dan jiwa orang kafir mu’ahad, dzimmi dan musta’man. Kafir mu’ahad adalah orang kafir yang sedang memiliki ikatan perjanjian keamanan dengan kaum muslimin, baik jaminan itu berasal dari pemerintah maupun dari seorang muslim. Sedangkan kafir dzimmi adalah orang kafir yang menjadi warga negara sebuah pemerintahan Islam dan tunduk kepada aturannya serta mau membayar jizyah. Adapun kafir musta’man ialah orang-orang kafir yang mendapatkan jaminan keamanan atau suaka politik dari suatu negeri muslim.

    Orang-orang kafir semacam itu sama sekali tidak boleh diperangi, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang membunuh seorang kafir mu’ahad maka dia tidak akan bisa mencium baunya surga dan sesungguhnya baunya itu bisa tercium dari jarak perjalanan 40 tahun” (hadits riwayat Bukhari, Kitab Al Jizyah wal muwaada’ah, bab man qatala mu’aahadan bighairi jurmin, hadits no. 3166 dari Abdullah bin Amr) Dalam lafazh yang lain beliau bersabda, “Barangsiapa membunuh jiwa seorang mu’ahad dia tidak akan mencium bau surga, dan sesungguhnya baunya itu bisa tercium dari jarak perjalanan 40 tahun” (hadits riwayat Bukhari, Kitab Ad Diyaat, bab itsmu man qatala dzimmiyan bighairi jurmin, hadits no. 3166 dari Abdullah bin Amr) Adapun tindakan membunuh yang diperbolehkan menurut syari’at adalah membunuh pelaku pembunuhan (hukum qishash), membunuh pezina yang sudah memiliki suami/isteri (dengan dirajam), membunuh orang murtad serta membunuh orang kafir yang halal diperangi seperti ketika mereka menyerbu negeri muslim (kafir harbi) (lihat Syarah Arba’in Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal. 63)

    Ciri Ketujuh
    Tidak melakukan perzinaan

    Allah berfirman (yang artinya), “…dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,…” (QS. Al-Furqan : 68-69).

    Ibadur-Rahman adalah orang-orang yang senantiasa menjaga kemaluan mereka kecuali kepada isteri-isteri atau budak-budak mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada sahabat-sahabatnya, “Apa pendapat kalian tentang zina ?” Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya mengharamkannya maka ia tetap haram hingga hari kiamat’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sahabat-sahabatnya, “Sungguh, apabila ada seorang lelaki berzina dengan 10 perempuan itu lebih mudah baginya daripada menzinahi istri tetangganya”. Lalu beliau bertanya lagi, “Lalu apa pendapat kalian tentang mencuri ?” Mereka menjawab ‘Allah dan Rasul-Nya mengharamkannya maka ia tetap haram’ Maka beliau bersabda, “Sungguh, apabila ada seseorang mencuri 10 rumah orang itu lebih mudah baginya daripada mencuri harta tetangganya” (Hadits shahih, dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahihul Jaami’ (50430 dinukil dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim VI/30)

    Ciri Kedelapan
    Bertaubat, beriman dan beramal shalih

    Allah berfirman (yang artinya), “…Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, Maka Sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan Taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqan : 70-71).

    Yaitu orang-orang yang bertaubat dari kemaksiatan dan dosa-dosa yang lainnya dengan memenuhi syarat-syarat yang terkandung dalam ayat di atas : [1] dia segera meninggalkan perbuatan itu, [2] menyesali dosa yang pernah dilakukannya itu, [3] bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, [4] beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar, yaitu keimanan yang menuntut dirinya untuk meninggalkan berbagai macam kemaksiatan dan menuntutnya untuk melaksanakan berbagai macam ketaatan, [5] beramal shalih; melakukan amal yang diperintahkan syari’at dan mengikhlaskan niatnya dalam beramal hanya untuk mengharap keridhaan dan pahala melihat Wajah-Nya.

    Imam Nawawi rahimahullah berkata : “Para ulama mengatakan : Taubat itu wajib dilakukan untuk setiap dosa yang diperbuat” (Syarah Riyadhu Shalihin, I/56). Beliau juga berkata : “(Taubat) itu memiliki tiga rukun : meninggalkannya, menyesal atas perbuatan maksiatnya itu, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya selama-lamanya. Apabila maksiat itu berkaitan dengan hak manusia, maka ada rukun keempat yaitu membebaskan diri dari tanggungannya kepada orang yang dilanggar haknya. Pokok dari taubat adalah penyesalan, dan (penyesalan) itulah rukunnya yang terbesar” (Syarah Muslim, IX/12).

    Beliau rahimahullah juga mengatakan : “…Mereka (para ulama) telah sepakat bahwa taubat dari segala maksiat (hukumnya) wajib, dan (mereka juga sepakat) taubat itu wajib dilakukan dengan segera dan tidak boleh ditunda-tunda, sama saja apakah maksiat itu termasuk dosa kecil atau dosa besar. Taubat merupakan salah satu prinsip agung di dalam agama Islam dan kaidah yang sangat ditekankan di dalamnya, ..” (Syarah Shahih Muslim, IX/12).

    Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar : 53)

    Ciri Kesembilan
    Tidak ikut menyaksikan kebatilan dan meninggalkan kesia-siaan

    Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “…Dan orang-orang yang tidak mempersaksikan Az-Zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan : 72)

    Makna Az-Zuur adalah perkataan dan perbuatan yang diharamkan. Istilah ini mencakup banyak hal seperti; syirik dan penyembahan berhala, dusta, kefasikan, kekafiran, kesia-siaan, kebatilan, nyanyian, hari raya orang musyrik, kumpulan peminum khamr, persaksian palsu dan lain-lain (lihat Tafsir Ibnu Katsir VI/33).

    Ibadur-Rahman menjauhi semua pertemuan yang di dalamnya terdapat perkataan atau perbuatan yang diharamkan, seperti perbincangan dalam memperolok ayat-ayat Allah, perdebatan yang batil, menggunjing, mengadu domba, mencela, menuduh zina tanpa bukti, mengejek syari’at Allah, nyanyian yang haram, meminum khamr, menggunakan sutera, memajang gambar-gambar bernyawa, dan lain sebagainya. Apabila mereka tidak menghadiri az-Zuur, apalagi untuk mengatakan atau melakukannya tentu mereka lebih tidak mau. Persaksian palsu termasuk perbuatan yang pertama kali dikategorikan dalam cakupan az-Zuur.

    ”Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah/al laghwu”. Al-Laghwu adalah adalah perkataan yang tidak mengandung kebaikan, baik manfaat diniyah maupun manfaat duniawiyah. Seperti perkataan orang-orang pandir dan semacamnya.

    “mereka lalui saja dengan menjaga kehormatan dirinya”.

    Ibadur-Rahman membersihkan jiwa dan menjaga kemuliakan diri mereka dengan tidak ikut campur dalam pembicaraan itu. Mereka meyakini bahwa berbicara tentang perkara yang tidak mengandung kebaikan semacam itu meskipun tidak mendatangkan dosa, tetapi itu termasuk sikap bodoh menurut pandangan nilai-nilai kemanusiaan dan kehormatan. Sehingga mereka lebih memilih untuk menjaga diri dari hal itu.

    Di dalam firman Allah (yang artinya), “Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah”, terdapat isyarat bahwa mereka itu sebenarnya tidak memiliki niat untuk menghadiri dan mendengaran perkataan itu, akan tetapi peristiwa itu terjadi secara kebetulan lalu mereka pun menjaga kemuliaan diri mereka dengan tidak ikut bergabung di dalamnya.

    Ciri Kesepuluh
    Mau mendengar peringatan-peringatan dari Allah, tidak bersikap cuek

    Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “… Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan : 73)

    Ibadur-Rahman adalah orang-orang yang tidak berpaling dari peringatan itu. Tidak menutup telinga supaya tidak mendengarnya. Tidak menutup mata dan hatinya dari memahami peringatan itu, sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang tidak mengimani peringatan itu dan tidak membenarkannya. Apabila mendengar peringatan itu, mereka bersikap sebagaimana yang difirmankan Allah (yang artinya), “Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud [maksudnya mereka sujud kepada Allah serta khusyuk] seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong”. (QS. As-Sajdah : 15).

    Ibadur-Rahman menerima peringatan-peringatan itu dengan sepenuhnya dengan disertai perasaan sangat membutuhkannya, tunduk serta pasrah terhadapnya. Anda jumpai, mereka memiliki telinga yang sangat terbuka, hati-hati yang sangat sadar; yang dengan sebab itu maka iman mereka semakin bertambah serta keyakinan mereka semakin sempurna. Dengan sebab peringatan itu tumbuhlah semangat mereka, mereka senang dan bergembira menyambutnya. Inilah sifat orang yang beriman, sebagaimana diterangkan Allah dalam firman-Nya (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (QS. Al-Anfaal : 2)

    Adapun orang-orang kafir, mereka sama sekali tidak terpengaruh apabila mendengar firman Allah. Bahkan mereka tetap berkeras dengan kekafiran dan kesesatannya. Hal ini sebagaimana diterangkan Alllah dalam ayat-Nya (yang artinya), “Dan apabila diturunkan suatu surat, Maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?” adapun orang-orang yang beriman, Maka surat Ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit [kekafiran, kemunafikan, keragu-raguan dan sebagainya], Maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir” (QS. At-Taubah : 124-125)

    Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya peringatan itu akan bermanfaat bagi kaum yang beriman” (QS. Adz-Dzariyaat : 55). Di dalam ayat ini Allah menginformasikan kepada kita bahwa peringatan akan membuahkan manfaat bagi kaum mukminin. Hal itu disebabkan di dalam jiwa mereka terdapat keimanan, rasa takut kepada Allah (khasy-yah), ingin kembali menaati Allah (inabah) dan juga ketundukan dalam menuruti keridhaan Allah. Itulah yang mendorong mereka sehingga mau memetik faedah dari peringatan tersebut dan bisa menempatkan nasehat yang sampai kepada mereka pada tempat yang semestinya (yaitu dilaksanakan sebaik-baiknya). Hal ini senada dengan ayat yang difirmankan Allah Ta’ala (yang artinya), “Maka berikanlah peringatan jika peringatan itu membuahkan manfaat. Orang yang takut niscaya akan mengambil pelajaran (darinya). Sedangkan orang yang binasa niscaya justru akan menjauhinya.” (QS. Al-A’la : 9-11).

    Adapun keadaan orang-orang yang di dalam jiwanya tidak terdapat keimanan dan juga tidak memiliki bekal kesiapan menerima peringatan (baca : masa bodoh), maka peringatan yang ditujukan kepada tipe orang semacam ini tidak akan banyak mendatangkan faedah (bagi dirinya sendiri). Sebagaimana tanah yang lembab serta asin tidak akan bisa menjadi subur barang sedikitpun walaupun diguyur hujan. Tipe-tipe orang seperti mereka ini, seandainya semua ayat datang kepada mereka, niscaya mereka tidak akan mau beriman sampai mereka benar-benar menyaksikan adzab yang amat menyakitkan, wal ‘iyaadzu billah (kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu).

    Ciri Kesebelas
    Berdo’a kepada Allah agar mendapatkan isteri dan keturunan yang salih-salihah, dan agar menjadikan diri mereka sebagai teladan bagi kaum yang bertakwa

    Allah berfirman (yang artinya), “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka Itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) Karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu” (QS. Al-Furqan : 74-77).

    Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan tentang mereka, “Mereka adalah orang-orang yang memohon kepada Allah supaya mengeluarkan dari tulang sulbi dan anak keturunan mereka orang-orang yang taat dan menyembah-Nya saja dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, VI/34)

    Apabila kita mencermati keadaan dan sifat Ibadur-Rahman ini maka kita dapat mengetahui ketinggian cita-cita dan kedudukan mereka. Mereka tidak bisa merasa tentram kecuali apabila anak-anak mereka mau taat dan patuh kepada Rabb mereka; berilmu dan mengamalkan ilmunya. Meskipun do’a ini ditujukannya untuk kebaikan isteri dan anak keturunannya, tetapi sesungguhnya itu adalah do’a untuk [kebaikan] dirinya sendiri. Karena manfaat do’a itu akhirnya juga akan kembali kepadanya. Oleh karenanya, di dalam do’a itu mereka menyebutnya sebagai ‘anugerah’ bagi mereka. Bahkan, manfaat do’a mereka juga kembali kepada keseluruhan kaum muslimin. Karena kebaikan isteri dan anak-anak akan menimbulkan kebaikan orang-orang yang berinteraksi dan menimba faidah dari mereka.

    Sosok Ibadur-Rahman juga berdo’a kepada Allah, “Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. Ibnu Abbas, Al-Hasan, As-Suddi, Qatadah dan Rabi’ bin Anas mengatakan tentang maknanya, yaitu “Menjadi pemimpin-pemimpin diantara kami yang patut menjadi teladan dalam kebaikan” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, VI/35).

    Artinya, Ibadur-Rahman senantiasa memohon supaya bisa meraih derajat yang tinggi ini. Yaitu derajatnya kaum shiddiqiin dan derajat kesempurnaan yang dimiliki oleh hamba-hamba yang saleh; itulah derajat kepemimpinan dalam agama. Mereka memohon supaya dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Sehingga perbuatan mereka layak untuk ditiru dan perkataan mereka membuahkan kedamaian. Dengan demikian para pelaku kebaikan akan berjalan mengikuti mereka. Mereka mendapatkan hidayah, dan juga menyebarkannya.

    Do’a untuk mendapatkan sesuatu berarti juga mencakup permintaan segala sesuatu yang menjadi syarat terpenuhinya. Sedangkan derajat kepemimpinan di dalam agama tidak bisa tercapai kecuali dengan bekal kesabaran dan keyakinan. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar, dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami” (QS. As-Sajdah : 24)

    Semoga kita termasuk di antara mereka…
    Demi Allah, betapa luhur sifat-sifat Ibadur-Rahman. Sungguh tinggi cita-cita mereka. Alangkah mulia tuntutan-tuntutan mereka, alangkah suci jiwa-jiwa mereka, dan betapa bersihnya hati mereka. Betapa bening [hati] orang-orang pilihan itu dan betapa kuat ketakwaan mereka. Demi Allah, betapa besar keutamaan dan nikmat yang dikaruniakan Allah kepada mereka…

    Demi Allah, betapa agung karunia Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah menjelaskan sifat-sifat Ibadur-Rahman, menyebutkan ciri-ciri mereka, dan Allah menerangkan cita-cita mereka. Allah juga menjelaskan pahala yang akan mereka terima supaya orang-orang berhasrat untuk bisa memiliki sifat-sifat tersebut, dan supaya mereka mengerahkan kesungguhannya untuk meraih sifat-sifat tersebut dan mendorong mereka agar mengerahkan segala kesungguhan mereka untuk meraihnya. Allah pun memerintahkan supaya mereka memohon karunia kepada Dzat yang bisa menganugerahkan sifat-sifat itu, Dzat yang memuliakan mereka, Dzat yang senantiasa memiliki keutamaan di setiap zaman dan di setiap tempat, dalam waktu dan situasi apapun. Mereka pun harus senantiasa memohon kepada Allah hidayah taufiq (untuk bisa beramal) sebagaimana halnya hidayah irsyad (untuk berilmu). Mereka memohon agar Allah menjaga dan membimbing mereka dengan tarbiyah khusus-Nya sebagaimana Allah telah memelihara dan membimbing mereka dengan tarbiyah umum-Nya.

    Allahumma, ya Allah! Hanya bagi-Mu seluruh pujian. Kepada-Mu tempat mengadu, Engkaulah Dzat yang layak dimintai pertolongan dan keselamatan. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu. Kami tidak sanggup menguasai sedikitpun manfaat atau bahaya bagi diri kami sendiri. Kami tidak menguasai sekecil apapun kebaikan jika Engkau tidak berikan kemudahan kepada kami untuknya, sesungguhnya kami-kami ini lemah dan tidak mampu dari segala sisi.

    Kami bersaksi, seandainya Engkau membiarkan kami bersandar kepada diri-diri kami sendiri sekejap mata saja maka itu berarti Engkau telah membiarkan kami bersandar kepada kelemahan, ketidakmampuan dan kesalahan. Kalau demikian, wahai Rabb kami! Sesungguhnya kami ini tidak mempercayakan sepenuhnya kecuali kepada rahmat-Mu; yang karena rahmat itulah Engkau menciptakan dan memberikan rizki kepada kami. Dengan rahmat itu pula, Engkau karuniakan nikmat kepada kami; nikmat lahir maupun batin. Dan karena rahmat-Mu-lah, Engkau memalingkan berbagai bencana yang seharusnya menimpa kami. Maka limpahkanlah kepada kami rahmat yang membuat kami cukup dan tidak membutuhkan lagi selain rahmat-Mu, niscaya tidak ada seorangpun yang rugi apabila meminta dan berharap kepada-Mu.

    Tidak ada artinya hidup tanpa tunduk beribadah
    Kemudian Allah Ta’ala memberitakan bahwa Dia tidak peduli dan tidak mengindahkan kepada selain orang-orang yang memperoleh rahmat tersebut [selain orang beriman]. Seandainya bukan karena ketundukan beribadah (do’a ibadah) dan permintaan (do’a mas’alah) yang kalian panjatkan kepada-Nya niscaya Dia tidak akan memperdulikan dan tidak mau mencintai kalian. Allah menyatakan (yang artinya), “Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): Tuhanku tidak mengindahkan Kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)” (QS. Al-Furqan : 77).

    Inilah balasan bagi orang-orang yang tidak mau tunduk beribadah kepada-Nya! Adzab Allah akan terus menerus menyiksa dirinya bagaikan siksaan berkepanjangan yang dirasakan oleh orang yang terlilit hutang dan tidak sanggup melunasinya, dan kelak Allah akan memberikan keputusan atas perselisihan yang terjadi antara orang yang durhaka ini dengan hamba-hamba-Nya yang beriman.

    Semoga Allah memasukkan kita dalam golongan Ibadur-Rahman; menjadi hamba yang tawadhu’, yang rajin shalat malam, yang rajin berdoa supaya selamat dari api neraka, tidak boros tapi tidak juga kikir dalam membelanjakan harta, tidak berbuat syirik, tidak menumpahkan darah tanpa hak, tidak berzina, selalu bertaubat dan beramal saleh, menjauhi majelis-majelis yang diharamkan dan kesia-siaan, mau menerima nasihat, dan selalu bercita-cita tinggi demi kebaikan diri dan anak keturunan. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

    [artikel ini diperbaharui http://abumushlih.com/ setelah sekian lama dan pernah dipublikasikan melalui situs muslim.or.id]

    Goresan Nasehat Untuk Wanita Karir

    Goresan Nasehat Untuk Wanita Karir

    Fenomena wanita berkarir sebenarmya bukanlah fenomena yang baru muncul kemarin sore, melainkan sejak zaman awal diciptakannya manusia. Hanya cara dan istilahnya yang berbeda pada masing masing zaman. Dan hal yang perlu diperhatikan oleh kita semua khususnya para Muslimah terkait fenomena tersebut adalah tentang bagaimana cara wanita berkarir dalam pandangan Islam. Apa–apa saja yang diperbolehkan dan dilarang dalam Islam terkait wanita berkarir.
    Gejolak tentang karir wanita dan wanita karir dewasa ini semakin hangat, juga di negara Indonesia yang kita cintai ini. Banyak kalangan yang serius mencurahkan perhatiannya akan masalah ini, termasuk juga komunitas yang menamakan diri mereka kaum Feminis dan pemerhati wanita.

    Mereka sering mengusung tema “pengungkungan” Islam terhadap wanita dan mempromosikan motto emansipasi dan persamaan hak di segala bidang tanpa terkecuali atau lebih dikenal dengan sebutan kesetaraan gender. Banyak wanita muslimah terkecoh olehnya, terutama mereka yang tidak memiliki basic ilmu pemahaman keagamaan yang kuat dan memadai.

    Semoga tulisan ini menggugah wanita-wanita muslimah untuk kembali kepada fithrah mereka dan memahami hak dan kewajiban Allah atas dirinya . Amîn.

    Kondisi Wanita di Dunia Barat

    Dari sisi historis, terjunnya kaum wanita ke lapangan untuk bekerja dan berkarir semata-mata karena unsur keterpaksaan. Ada dua hal penting yang melatarbelakanginya:

    Pertama, terjadinya revolusi industri yang mengundang arus urbanisasi kaum petani pedesaan, tergiur untuk mengadu nasib di perkotaan, karena himpitan sistem kapitalis yang melahirkan tuan-tuan tanah yang rakus. Berangkat ke perkotaan mereka berharap mendapatkan kehidupan yang lebih layak namun realitanya, justru semakin sengsara terpuruk dan menghinakan diri dengan menjadi budak pemilik harta. Mereka mendapat upah yang rendah,dan kadang diperlakukan dengan semena-mena layaknya budak dan tuan.

    Kedua, kaum kapitalis dan tuan-tuan tanah yang rakus sengaja menggunakan momen terjunnya kaum wanita dan anak-anak, dengan lebih memberikan porsi kepada mereka di lapangan pekerjaan, karena mau diupah lebih murah daripada kaum lelaki, meskipun dalam jam kerja yang panjang dan melelahkan.

    Kehidupan yang dialami oleh wanita di Barat yang demikian mengenaskan, sehingga menggerakkan nurani sekelompok pakar untuk membentuk sebuah organisasi kewanitaan yang diberi nama Humanitarian Movement yang bertujuan untuk membatasi eksploitasi kaum kapitalis terhadap para buruh, khususnya dari kalangan anak-anak. Organisasi ini berhasil mengupayakan undang-undang perlindungan anak, akan tetapi tidak demikian halnya dengan kaum wanita. Mereka tetap saja dihisap darahnya oleh kaum kapitalis tersebut. Laksana lintah menghisap mangsa yang tidak akan dilepas hingga tidak ada tempat diperutnya.

    Hingga saat ini pun, kedudukan wanita karir di Barat belum terangkat dan masih saja mengenaskan, meskipun sudah mendapatkan sebagian hak mereka. Di antara indikasinya, mendapatkan upah lebih kecil daripada kaum laki-laki, keharusan membayar mahar kepada laki-laki bila ingin menikah, keharusan menanggung beban penghidupan keluarga bersama sang suami, dan lain sebagainya yang jelas keluar dari fitrah wanita .

    Beberapa Dampak Negatif dari Terjunnya Wanita untuk Berkarir


    Di antara dampak-dampak negatif tersebut adalah:
    1. Penelitian kedokteran di lapangan (dunia Barat) menunjukkan telah terjadi perubahan yang amat signifikan terhadap bentuk tubuh wanita karir secara biologis, sehingga menyebabkannya kehilangan naluri kewanitaan. Meskipun jenis kelamin mereka tidak berubah menjadi laki-laki, namun jenis wanita semacam ini dijuluki sebagai jenis kelamin ke tiga. Menurut data statistik, kebanyakan penyebab kemandulan para istri yang merupakan wanita karir tersebut bukan karena penyakit yang biasa dialami oleh anggota badan, tetapi lebih diakibatkan oleh ulah wanita di masyarakat Eropa yang secara total, baik dari aspek materiil, pemikiran maupun biologis lari dari fithrahnya (yakni sifat keibuan).
    2. Penyebab lainnya adalah upaya mereka untuk mendapatkan persamaan hak dengan kaum laki-laki dalam segala bidang. Hal inilah yang secara perlahan melenyapkan sifat keibuan mereka, banyaknya terjadi kemandulan serta mandegnya air susu ibu (ASI) sebagai akibat perbauran dengan kaum laki-laki.
    3. Di barat, muncul fenomena yang mengkhawatirkan sekali akibat terjunnya kaum wanita sebagai wanita karir, yaitu terjadinya tindak kekerasan terhadap anak-anak kecil berupa pukulan yang keras, sehingga dapat mengakibatkan mereka meninggal dunia, gila atau cacat fisik. Majalah-majalah yang beredar di sana menyebutkan nama penyakit baru ini dengan sebutan Battered Baby Syn (penyakit anak akibat dipukul). Majalah Hexagon dalam volume No. 5 tahun 1978 menyebutkan bahwa banyak sekali rumah – rumah sakit di Eropa dan Amerika yang menampung anak-anak kecil yang dipukul secara keras oleh ibu-ibu mereka atau terkadang oleh bapak-bapak mereka.
    4. DR. Ahmad Al-Barr mengatakan, “Pada tahun 1967, lebih dari 6500 anak kecil yang dirawat di beberapa rumah sakit di Inggris, dan sekitar 20% dari mereka berakhir dengan meninggal, sedangkan sisanya mengalami cacat fisik dan mental secara akut. Ada lagi, sekitar ratusan orang yang mengalami kebutaan dan lainnya ketulian setiap tahunnya, ada yang mengalami cacat fisik, idiot dan lumpuh akibat pukulan keras.”
    5. Para wanita karir yang menjadi ibu rumah tangga tidak dapat memberikan pelayanan secara berkesinambungan terhadap anak-anak mereka yang masih kecil, karena hampir seluruh waktunya dicurahkan untuk karir mereka. Sehingga anak-anak mereka hanya mendapatkan jatah sisa waktu dalam keadaan cape dan loyo.
    6. Berkurangnya angka kelahiran, sehingga pemerintah negara tersebut saat ini menggalakkan kampanye memperbanyak anak dan memberikan penghargaan bagi keluarga yang memiliki banyak anak. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan kondisi yang ada di dunia Islam saat ini.

    Saksi: Mereka Berbicara

    1. Seorang Filosof bidang ekonomi, Joel Simon berkata, “Mereka (para wanita) telah direkrut oleh pemerintah untuk bekerja di pabrik-pabrik dan mendapatkan sejumlah uang sebagai imbalannya, akan tetapi hal itu harus mereka bayar mahal, yaitu dengan rontoknya sendi-sendi rumah tangga mereka.”
    2. Sebuah lembaga pengkajian strategis di Amerika telah mengadakan ‘polling’ seputar pendapat para wanita karir tentang karir seorang wanita. Dari hasil ‘polling’ tersebut didapat kesimpulan: “Bahwa sesungguhnya wanita saat ini sangat keletihan dan 65% dari mereka lebih mengutamakan untuk kembali ke rumah mereka.”

    Karir Wanita dalam Perspektif Islam

    Allah Ta’ala menciptakan laki-laki dan wanita dengan karakteristik yang berbeda. Secara alami (sunnatullah), laki-laki memiliki otot-otot yang kekar, kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang berat, pantang menyerah, sabar dan lain-lain. Cocok dengan pekerjaan yang melelahkan dan sesuai dengan tugasnya yaitu menghidupi keluarga secara layak.

    Sedangkan bentuk kesulitan yang dialami wanita yaitu: Mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh mendidik anak, serta menstruasi yang mengakibatkan kondisinya labil, selera makan berkurang, pusing-pusing, rasa sakit di perut serta melemahnya daya pikir, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an:

    وَوَصَّينَا الإِنسٰنَ بِوٰلِدَيهِ حَمَلَتهُ أُمُّهُ وَهنًا عَلىٰ وَهنٍ وَفِصٰلُهُ فى عامَينِ أَنِ اشكُر لى وَلِوٰلِدَيكَ إِلَىَّ المَصيرُ – سورة لقمان

    Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang, Ibu Bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.” (Qs. Luqman: 14)

    Ketika dia melahirkan bayinya, dia harus beristirahat, menunggu hingga 40 hari atau 60 hari dalam kondisi sakit dan merasakan keluhan yang demikian banyak. Ditambah lagi masa menyusui dan mengasuh yang menghabiskan waktu selama dua tahun. Selama masa tersebut, si bayi menikmati makanan dan gizi yang dimakan oleh sang ibu, sehingga mengurangi staminanya.

    Oleh karena itu, Dienul Islam menghendaki agar wanita melakukan pekerjaan/karir yang tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaannya dan tidak mengungkung haknya di dalam bekerja, kecuali pada aspek-aspek yang dapat menjaga kehormatan dirinya, kemuliaannya dan ketenangannya serta menjaganya dari pelecehan dan pencampakan.

    Dienul Islam telah menjamin kehidupan yang bahagia dan damai bagi wanita dan tidak membuatnya perlu untuk bekerja di luar rumah dalam kondisi normal. Islam membebankan ke atas pundak laki-laki untuk bekerja dengan giat dan bersusah payah demi menghidupi keluarganya.

    Maka, selagi si wanita tidak atau belum bersuami dan tidak di dalam masa menunggu (‘iddah) karena diceraikan oleh suami atau ditinggal mati, maka nafkahnya dibebankan ke atas pundak orangtuanya atau anak-anaknya yang lain, berdasarkan perincian yang disebutkan oleh para ulama fiqih kita.

    Bila si wanita ini menikah, maka sang suamilah yang mengambil alih beban dan tanggung jawab terhadap semua urusannya. Dan bila dia diceraikan, maka selama masa ‘iddah (menunggu) sang suami masih berkewajiban memberikan nafkah, membayar mahar yang tertunda, memberikan nafkah anak-anaknya serta membayar biaya pengasuhan dan penyusuan mereka, sedangkan si wanita tadi tidak sedikit pun dituntut dari hal tersebut.

    Bila si wanita tidak memiliki orang yang bertanggung jawab terhadap kebutuhannya, maka negara Islam yang berkewajiban atas nafkahnya dari Baitul Mal kaum Muslimin.

    Solusi Islam Terhadap Fenomena Karir Wanita

    Ada kondisi yang teramat mendesak yang menyebabkan seorang wanita terpaksa diperbolehkan bekerja ke luar rumah, namun tetap dengan persyaratan sebagai berikut:
    1. Disetujui oleh kedua orangtuanya atau wakilnya atau suaminya, sebab persetujuannya adalah wajib secara agama dan qadla’ (hukum).
    2. Pekerjaan tersebut terhindar dari ikhtilath (berbaur dengan bukan mahram), khalwat (bersunyi-sunyi, menyendiri) dengan laki-laki asing. Sebab ada dampak negatif yang besar jika hal tersebut sampai terjadi,. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

      Artinya: “Tidaklah seorang lak-laki bersepi-sepian dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) kecuali setan mejadi yang ketiganya.”‌ (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Fitan 2165, Ahmad 115)

      “Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat (bersunyi-sunyi, menyendiri) dengan seorang wanita, kecuali bila bersama laki-laki (yang merupakan) mahramnya.” (HR. Bukhari)
    3. Menutupi seluruh tubuhnya di hadapan laki-laki asing dan menjauhi semua hal yang memicu timbulnya fitnah, baik di dalam berpakaian, berhias atau pun berwangi-wangian (menggunakan parfum).
    4. Komitmen dengan akhlaq Islami dan hendaknya menampakkan keseriusan dan sungguh-sungguh di dalam berbicara, alias tidak dibuat-buat dan sengaja melunak-lunakkan suara.Firman Allah: “Maka janganlah sekali-kali kalian melunak-lunakan ucapan sehingga membuat condong orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit dan berkata-katalah dengan perkataan yang ma’ruf/baik.” (Qs. Al-Ahzab:32)
    5. Hendaknya pekerjaan tersebut sesuai dengan tabi’at dan kodratnya seperti dalam bidang pengajaran, kebidanan, menjahit dan lain-lain.

    Beberapa fatwa ulama berkenaan dengan masalah ini.


    Pertanyaan:

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:

    Apa lahan pekerjaan yang diperbolehkan bagi perempuan muslimah yang mana ia bisa bekerja di dalamnya tanpa bertentangan dengan ajaran-ajaran agamanya?

    Jawaban:

    Lahan pekerjaan seorang wanita adalah pekerjaan yang dikhususkan untuknya seperti pekerjaan mengajar anak-anak perempuan baik secara administratif ataupun secara pribadi, pekerjaan menjahit pakaian wanita di rumahnya dan sebagainya. Adapun pekerjaan dalam lahan yang dikhususkan untuk orang laki-laki maka tidaklah diperbolehkan baginya. Karena bekerja pada lahan tersebut akan mengundang ikhtilath sedangkan hal tersebut adalah fitnah yang besar yang harus dihindari.

    Perlu diketahui bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda:

    Artinya: “Saya tidak meninggalkan fitnah (godaan) yang lebih berbahaya bagi seorang laki-laki daripada fitnah perempuan‌.”

    Maka seorang laki-laki harus menjauhkan keluarganya dari tempat-tempat fitnah dan sebab-sebabnya dalam segala kondisi.

    (Fatawa Mar’ah, 1/103)

    Pertanyaan:

    Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya: Apa hukum wanita yang bekerja? Dan lapangan pekerjaan apa saja yang diperbolehkan bagi seorang wanita untuk bekerja di dalamnya?

    Jawaban:

    Tidak seorang pun yang berselisih bahwa wanita berhak bekerja, akan tetapi pembicaraan hanya berkisar tentang lapangan pekerjaan apa yang layak bagi seorang wanita, dan penjelasannya sebagai berikut:

    Ia berhak mengerjakan apa saja yang biasa dikerjakan oleh seorang wanita biasa lainnya dirumah suaminya dan keluarganya seperti memasak, membuat adonan kue, membuat roti, menyapu, mencuci pakaian, dan bermacam-macam pelayanan lainnya serta pekerjaan bersama yang sesuai dengannya dalam rumah tangga.

    Ia juga berhak mengajar, berjual beli, menenun kain, membuat batik, memintal, menjahit dan semisalnya apabila tidak mendorong pada perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh syara seperti berduaan dengan selain mahram atau bercampur dengan laki-laki lain, yang mengakibatkan fitnah atau menyebabkan ia meninggalkan hal-hal yang harus dilakukannya terhadap keluarganya, atau menyebabkan ia tidak mematuhi perintah orang yang harus dipatuhinya dan tanpa ridha mereka.

    (Majalatul Buhuts Al-Islamiyah 19/160)

    Penutup

    Sudah waktunya kita memahami betapa agungnya dien Islam di dalam setiap produk hukumnya, berpegang teguh dengannya, menjadikannya sebagai hukum yang berlaku terhadap semua aturan di dalam kehidupan kita serta berkeyakinan secara penuh, bahwa ia akan selalu cocok dan sesuai di dalam setiap masa dan tempat.

    Ustadz Yusuf Iskandar

    Sumber:
    1. Amal al-Mar’ah Baina Al-Islam wa Al-Gharb” tulisan Ibrahim an-Ni’mah – Abu Hafshoh)
    2. Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerbit Darul Haq
    Disalin dari: http://www.hang106.or.id publish ulang http://pengusahamuslim.com

    Bahaya Dan Dampak Negatif Akibat Wanita Bekerja Di Luar Rumah

    Bahaya Dan Dampak Negatif Akibat Wanita Bekerja Di Luar Rumah

    Isteri Diperintahkan Untuk Tinggal Di Rumah Dan Mengurus Rumah Tangga Dengan Baik.
    Perbuatan ihsan (baik) seorang suami harus dibalas pula dengan perbuatan yang serupa atau yang lebih baik. Isteri harus berkhidmat kepada suaminya dan menunaikan amanah mengurus anak-anaknya menurut syari’at Islam yang mulia. Allah ‘Azza wa Jalla telah mewajibkan kepada dirinya untuk mengurus suaminya, mengurus rumah tangganya, mengurus anak-anaknya. Menurut ajaran Islam yang mulia, isteri tidak dituntut atau tidak berkewajiban ikut keluar rumah mencari nafkah, akan tetapi ia justru diperintahkan tinggal di rumah guna menunaikan kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan kepadanya.

    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

    وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

    Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang Jahiliyyah dahulu, dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” [Al-Ahzaab : 33]

    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    اَلْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ.

    Wanita adalah aurat. Apabila ia keluar, syaitan akan menghiasinya dari pandangan laki-laki.” [1]

    Isu emansipasi yang digembar-gemborkan telah menjadikan sebagian besar kaum wanita terpengaruh untuk keluar rumah dan melalaikan kewajiban yang paling utama sebagai seorang isteri dan ibu rumah tangga. Bahkan, mereka berani berdalih dengan tidak cukupnya penghasilan yang diperoleh suaminya, meskipun dia telah memiliki rumah atau kendaraan atau harta lainnya yang banyak. Hal ini menjadi sebab timbulnya malapetaka di dalam rumah tangga.

    Tidak jarang justru keluarganya menjadi berantakan karena anaknya terlibat kasus narkoba, atau kenakalan, atau hubungan suami isteri menjadi tidak harmonis karena isteri lebih sibuk dengan urusan kantornya, bisnis, dagang, dan sebab-sebab lain yang sangat banyak disebabkan lalainya sang isteri.

    Dalam Islam, yang wajib memberikan nafkah adalah suami. Dan suami diperintahkan untuk keluar rumah mencari nafkah. Wanita tidak diperbolehkan keluar rumah kecuali dengan izin suami.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah berkata, “Tidak boleh baginya untuk keluar dari rumahnya kecuali mendapat izin dari suami. Seandainya ia keluar tanpa izin dari suaminya, maka ia telah berlaku durhaka dan bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan wanita tersebut berhak mendapatkan hukuman.” [2]

    Allah Ta’ala memberikan rizki kepada seluruh makhluk-Nya. Isteri dan anak dikaruniai rizki oleh Allah dengan perantaraan suami dan orang tua. Karena itu, seorang isteri harus bersyukur dengan nafkah yang diberikan suami. Sekecil apa pun wajib disyukuri dan harus merasa cukup (qana’ah) dengan apa yang telah diberikan.

    Sedangkan bagi orang yang tidak bersyukur, maka Allah ‘Azza wa Jalla justru akan membuat dirinya seakan-akan serba kekurangan dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang dia dapatkan.

    Allah ‘Azza wa Jalla akan mencukupkan rizki seseorang, manakala ia bersyukur dengan apa yang ia peroleh dan ia usahakan. Dia akan merasa puas (qana’ah) dengan apa yang dikaruniakan kepadanya.

    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ.

    Barangsiapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan jaga dirinya dan barangsiapa yang merasa cukup, maka Allah akan memberikan kecukupan kepada dirinya.” [3]

    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memuji orang-orang yang qana’ah (merasa puas) dengan apa yang Allah Ta’ala karuniakan, beliau bersabda:

    قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ.

    Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, rizkinya cukup, dan Allah memberikan kepuasan terhadap apa yang telah dikaruniakannya.” [4]

    Bahaya Dan Dampak Negatif Akibat Wanita Bekerja Di Luar Rumah:

    1. Bahaya bagi wanita itu, yaitu akan hilangnya sifat dan karakteristik kewanitaannya, menjadi asing dengan tugas rumah tangga dan kurangnya perhatian terhadap anaknya.

    2. Bahaya bagi diri suami, yaitu suami akan kehilangan curahan kelembutan, keramahan, dan kegembiraan. Justru yang didapat adalah keributan dan keluhan-keluhan seputar kerja, persaingan karir antar teman, baik laki-laki maupun wanita. Bahkan, tidak jarang suami kehilangan kepemimpinannya lantaran gaji isteri lebih besar. Wallaahul Musta’aan.

    3. Bahaya (dampak) bagi anak, yaitu hilangnya kelembutan, kasih sayang dan kedekatan dari seorang ibu. Semua itu tidak dapat digantikan oleh seorang pembantu atau pun seorang guru. Justru yang didapati anak adalah seorang ibu yang pulang dalam keadaan letih dan tidak sempat lagi memperhatikan pendidikan anak-anaknya.

    4. Bahaya (dampak negatif) bagi kaum laki-laki secara umum, yaitu apabila semua wanita keluar dari rumahnya untuk bekerja, maka secara otomatis mereka telah menghilangkan kesempatan bekerja bagi laki-laki yang telah siap untuk bekerja.

    5. Bahaya (dampak negatif) bagi pekerjaan tersebut, yaitu bahwa fakta di lapangan menunjukkan bahwa wanita lebih banyak memiliki halangan dan sering absen karena banyaknya sisi-sisi alami (fitrah)nya yang berpengaruh terhadap efisiensi kerja, seperti haidh, melahirkan, nifas, dan lainnya.

    6. Bahaya (dampak negatif) bagi perkembangan moral, yaitu hilangnya kemuliaan akhlak, kebaikan moral serta hilangnya rasa malu dari seorang wanita. Juga hilangnya kemuliaan akhlak dan semangat kerja dari kaum suami. Anak-anak pun menjadi jauh dari pendidikan yang benar semenjak kecil.

    7. Bahaya (dampak negatif) bagi masyarakat, yaitu bahwa fenomena ini telah mengeluarkan manusia dari fitrahnya dan telah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Sehingga mengakibatkan rusaknya tatanan hidup dan timbulnya kekacauan serta keributan. [5]

    [Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006, http://almanhaj.or.id/content/1661/slash/0/isteri-diperintahkan-untuk-tinggal-di-rumah-dan-mengurus-rumah-tangga-dengan-baik/ ]
    _______
    Footnote
    [1]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1173), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Shahiihul Jaami’ (no. 6690).
    [2]. Majmuu' Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (XXXII/281).
    [3] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1427) dan Muslim (no. 1034). Lihat Fat-hul Baari (III/294), dari Shahabat Hakim bin Hizam radhiyallaahu ‘anhu.
    [4]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1054), dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma.
    [5]. Shahiih Washaaya Rasuul lin Nisaa' (hal. 469-470).

    Sebelas Adab Tidur dan Doa-doanya sesuai Petunjuk Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam

    Sebelas Adab Tidur dan Doa-doanya

    Sebelas Adab Tidur dan Doa-doanya sesuai Petunjuk Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam:

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

    1. Apa yang harus dilakukan saat hendak tidur:


    عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((أطفئوا المصابيح بالليل إذا رقدتم، وأغلقوا الأبواب، وأوكئوا الأسقية، وخمروا الطعام والشراب)) متفق عليه

    Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu `anhuma bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: "Padamkanlah lampu-lampu bila engkau hendak tidur, kunci pintu, tutup bejana air, dan tutup makanan serta minuman." [Muttafaq ‘alaih]

    2. Mencuci tangan dari lemak (yang menempel) sebelum tidur:


    عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((إذا نام أحدكم وفي يده ريح غمر، فلم يغسل يده فأصابه شيء فلا يلومن إلا نفسه)) أخرجه الترمذي وابن ماجه

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Apabila salah seorang diantara kalian tidur sedang di tangannya masih ada lemak (sisa makanan) dan belum dicucinya, lalu dia ditimpa sesuatu maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri." [HR. At-Tirmizi dan Ibnu Majah]

    3. Keutamaan tidur dalam keadaan suci:


    عن معاذ بن جبل عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((ما من مسلم يبيت على ذكر طاهرا، فيتعار من الليل فيسأل الله خيرا من الدنيا والآخرة إلا أعطاه إياه)) أخرجه أبو داود وابن ماجه

    Dari Mu’azd bin Jabal radhiyallaahu’anhu, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Tidaklah seorang muslim yang tidur malam dengan berzikir sebelumnya disertai wudhu', lalu terbangun di tengah malam dan berdoa kepada Allah agar diberi kebaikan dunia dan akhirat, kecuali Allah akan mengabulkan permohonan itu untuknya." [HR. Abu Daud dan Ibnu Majah]

    عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((من بات طاهرا بات في شعاره ملك، فلم يستيقظ إلا قال الملك: اللهم اغفر لعبدك فلان؛ فإنه بات طاهرا)) أخرجه ابن حبان.

    Dari Ibnu Umar radhiyallahu`anhuma bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci maka seorang malaikat akan bermalam di dekatnya, tidaklah dia terbangun kecuali malaikat mendoakannya: "Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini karena dia tidur dalam keadaan suci".” [HR. Ibnu Hibban]

    4. Bacaan Al-Quran saat hendak tidur:


    • Membaca Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nash kemudian ditiup ke kedua telapak tangan lalu menyapukan kedua telapak tangan tersebut ke seluruh badan (dilakukan tiga kali):

    Dari Aisyah radhiyallahu`anha, “Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pada setiap malam apabila menuju ranjangnya beliau merapatkan kedua telapak tangannya lalu meniupnya seraya membacakan pada kedua telapak tangan tersebut: Surat Al-Ikhlas, surat Al-Falaq dan Surat An-Naas, kemudian beliau menyapukan kedua tangannya ke seluruh anggota tubuhnya semampunya, mulai dari kepala, muka, dan tubuh bagian depan, dia melakukan hal tersebut sebanyak tiga kali.” [HR. Bukhari]

    • Membaca Surat Al-Kafirun:

    عن نوفل الأشجعي قال: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((اقرأ قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ثم نم على خاتمتها فإنها براءة من الشرك)) أخرجه أبو داود والترمذي

    Dari Naufal Al-Asyja'i radhiyallahu’anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadaku: "Bacalah surat Al-Kafirun, “Katakanlah: "Hai orang-orang kafir" (dan seterusnya sampai akhir surat). Kemudian tidurlah setelah membaca surat tersebut, karena ia mengandung baro'ah (berlepas diri) dari kesyirikan." [HR. Abu Daud dan Tirmizi]

    • Membaca Ayat Al-Kursiy:

    عن أبي هريرة قال: وكلني رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بحفظ زكاة رمضان، فأتاني آت فجعل يحثو من الطعام فأخذته فقلت: لأرفعنك إلى رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فقال: إذا أويت إلى فراشك فاقرأ آية الكرسي: ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ ... ؛ فإنك لن يزال عليك من اللَّه حافظ، ولا يقربك شيطان حتى تصبح ... قال النبي صلى الله عليه وسلم : (أما إنه قد صدقك، وهو كذوب، ذاك شيطان). رواه البخاري

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mempercayakanku untuk menjaga harta zakat bulan Ramadhan, lalu seseorang datang mencuri makanan itu, akhirnya aku mengkapnya dan berkata: “Demi Allah, engkau akan kuadukan kepada Rasulullah… (Singkat cerita) Orang tersebut berkata: “Bila engkau berada di atas tempat tidurmu, bacalah ayat kursi:

    ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ

    (Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (mahluk-Nya)...hingga akhir ayat al-kursiy, sesungguhnya engkau akan selalu berada di dalam penjagaan Allah, dan tidak akan mendekatimu setan hingga waktu pagi”, maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ia berkata jujur kepadamu (dalam hal ini), padahal dia pendusta, Itulah setan”.” [HR. Al-Bukhari]

    • Membaca Allaahu Akbar (34 kali), Subhaanallaah (33 kali) dan Alhamdulillaah (33 kali):

    عن علي أن فاطمة رضي الله عنها جاءت تسأل النبي صلى الله عليه وسلم خادما فلم توافقه قالت... فأتانا وقد أخذنا مضاجعنا ... فقال : (ألا أدلكما على خير مما سألتماني؟ إذا أويتما إلى فراشكما أو إذا أخذتما مضاجعكما فكبرا -أربعا وثلاثين-، وسبحا -ثلاثاً وثلاثين-، واحمدا -ثلاثاً وثلاثين- فإن ذلك خير لكما مما سألتماه) متفق عليه

    Dari ‘Ali radhiyallahu’anhu bahwa Fatimah radhiyallahu`anha datang kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam meminta seorang pembantu, akan beliau tidak mendapatkannya… kemudian pada malam harinya saat kami hendak tidur Nabi shallallahu’alaihi wa sallam datang seraya bersabda: "Maukah kalian aku beritahu sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian pinta? Apabila kalian hendak menuju ranjang kalian (atau apabila kalian telah berada di atas tempat tidur), bertakbirlah tigapuluh empat kali, bertasbihlah tigapuluh tiga kali, dan bertahmidlah tigapuluh tiga kali. Sungguh itu lebih baik dari apa yang kalian minta.” [Muttafaq ‘alaih]

    5. Larangan memiliki kasur yang banyak kecuali ada hajat:


    عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال له: ((فراش للرجل، وفراش لامرأته، والثالث للضيف، والرابع للشيطان)) أخرجه مسلم

    Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu`anhuma bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Satu kasur untuk suami, satu kasur untuk istri, kasur yang ketiga untuk tamu dan yang keempat adalah untuk setan (maka tidak dibolehkan)." [HR. Muslim]

    (Keterangan: Memiliki kasur lebih dari kebutuhan adalah termasuk berlebih-lebihan, maka dinisbatkan kepada setan, Pen)

    6. Larangan bercengkrama setelah shalat Isya kecuali ada tujuan yang benar:


    عن أبي برزة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يحب النوم قبلها ولا الحديث بعدها. متفق عليه

    Dari Abu Barzah radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak menyukai tidur sebelum shalat Isya dan bercengkrama setelah shalat Isya." [Muttafaq ‘alaih]

    7. Mengibas ranjang tiga kali (dan membaca dzikir dalam hadits berikut ini):


    عن أبي هريرة قال : قال رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: (إذا أوى أحدكم إلى فراشه؛ فلينفض فراشه بداخلة إزاره؛ فإنه لا يدري ما خلفه عليه، ثم يقول: بِاسْمِكَ رَبِّيْ وَضَعْتُ جَنْبِيْ وَبِكَ أَرْفَعُهُ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِيْ فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang kalian menuju ranjangnya maka kibaslah ranjang tersebut dengan ujung bagian dalam sarungnya, karena sesungguhnya ia tidak mengetahui apa yang mengotori ranjang tersebut sepeninggalnya tadi, kemudian hendaklah ia membaca:

    بِسْمِكَ رَبِّيْ وَضَعْتُ جَنْبِيْ وَبِكَ أَرْفَعُهُ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِيْ فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

    “Bismika Rabbiy wadho’tu janbiy, wa-bika arfa’uhu in amsakta nafsiy farhamhaa wa-in arsaltahaa fahfazh-haa bi-maa tahfazhu bihi ‘ibaadaKas shaalihiina”

    (Dengan nama-Mu ya Rabb, aku membaringkan tubuhku, dan dengan (nama)-Mu aku bangun, jika Engkau menahan jiwaku (mematikanku) maka curahkanlah kepadanya rahmat, dan jika Engkau mengirimnya kembali (yaitu memasukkannya ke dalam tubuhku) maka perilaharalah dia seperti Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih).” [Muttafaq ’alaih]

    وفي لفظ: ((فلينفضه بصنفة ثوبه ثلاث مرات)) أخرجه البخاري

    Dalam riwayat yang lain: kibaslah kasur dengan ujung bagian dalam bajunya tiga kali." [HR. Al-Bukhari]

    8. Berwudhu lalu (mengawali) tidur miring ke bagian tubuh yang kanan (dan membaca dzikir dalam hadits berikut ini):


    Dari Al-Barra bin ‘Azib radhiyallahu’anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Bila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu, berwudhu’lah seperti wudhu'mu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas tubuhmu yang sebelah kanan dan ucapkan:

    اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَى مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ، وَنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ

    “Allaahumma aslamtu nafsiy ilayka, wa wajjahtu wajhiy ilayka, wa fawwadhtu amriy ilayka, wa alja’tu zhohriy ilayka roghbatan wa rohbatan ilayka, laa malja-a wa laa manjaa minka illaa ilayka, aamantu bikitaabikalladziy anzalta, wabinabiyyikalladziy arsalta”

    (Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku hadapakan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, aku serahkan punggungku kepada-Mu dengan rasa harap dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan bernaung dari-Mu kecuali kepada-Mu, aku beriman dengan kitab yang Kau turunkan dan dengan Nabi yang Kau utus)

    Jika engkau mati (saat itu) niscaya engkau mati dalam fitrah, dan jadikanlah ia sebagai ucapan terakhirmu.” [Muttafaq ’alaih]

    9. Doa hendak tidur dan bangun:


    Dari Anas radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam selalu bila menuju ranjangnya, beliau lalu mengucapkan:

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا فَكَمْ مِمَنْ لاَ كَافِيَ لَهُ وَلاَ مُؤْوِيَ

    “Alhamdulillaahilladziy ath’amanaa wa saqoonaa wa kafaanaa wa aawaanaa, fa-kam mimman laa kaafiya lahu wa-laa mu’wiya”

    (Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, dan telah mencukupi kami dan telah memberi kami tempat tinggal, berapa banyak orang yang tidak memiliki yang mencukupinya dan memberinya tempat tinggal).” [HR. Muslim]

    Doa yang lainnya:

    اللَّهُمَّ إِنَّكَ خَلَقْتَ نَفْسِي وَأَنْتَ تَوَفَّاهَا، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا، إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا، وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْلَهَا، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ

    “Allaahumma innaka khaloqta nafziy wa Anta tawaffaahaa, laka mamaatuhaa wa mahyaaha, in ahyaytahaa fahfazh-haa, wa-in amattahaa faghfir lahaa, Allaahumma inniy as-alukal ‘aafiyah”

    “Ya Allah, Sesungguhnya Engkau yang menciptakan diriku, dan Engkaulah yang akan mematikannya. Mati dan hidupnya hanya milik-Mu. Apabila Engkau menghidupkannya, maka peliharalah ia. Apabila Engkau mematikannya, maka ampunilah ia. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu keselamatan.“ [HR. Muslim]

    Doa yang lainnya:

    اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ وَرَبَّ الأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنـَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَـرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

    “Ya Allah, Rabb yang menguasai langit yang tujuh dan Rabb yang menguasai bumi, Rabb yang menguasai 'arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu, yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al Qur'an). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkaulah yang pertama, dan tidak ada sesuatu apapun sebelum-Mu. Engkaulah yang terakhir dan tidak ada sesuatu apapun setelah-Mu. Engkaulah yang dzahir, dan tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu. Engkaulah yang batin, tidak ada sesuatu apapun yang lebih bathin dari-Mu, lunasilah hutang kami dan berilah kami kekayaan hingga kami terlepas dari kefakiran.” [HR. Muslim]

    Doa yang lainnya:

    اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ

    (Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nampak, Pencipta lamgit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan Penguasanya, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Engkau, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, dan kejahatan setan dan perangkap kesyirikannya) [HR. Ath-Thayalisy dan At-Tirmizi]

    Doa yang lainnya:

    عن البراء بن عازب أن رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كان إذا نام وضع يده اليمنى تحت خده؛ ثم يقول: ( اَللَّهُمَّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ) رَوَاهُ أحمد

    Dari Al-Barra' bin 'Azib radhiyallaahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam apabila hendak tidur maka beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya kemudian mengucapkan:

    اَللَّهُمَّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ

    (Ya Allah lindungilah aku dari azab-Mu, di hari Engkau bangkitkan hamba-hamba-Mu).” [HR. Ahmad]

    Doa yang lainnya:

    عن أبي الأزهر الأنماري أن رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كان إذا أخذ مضجعه من الليل قال: ((بِسْمِ اللهِ وَضَعْتُ جَنْبِيْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ ، وَأَخْسِئْ شَيْطَانِيْ، وَفُكَّ رِهَانِيْ، وَاجْعَلْنِيْ فِي النَّدِيِّ الأَعْلَى)) أخرجه أبو داود

    Dari Abul Azhar Al-Anmari radhiyallahu’anhu, bahwa apabila Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam hendak tidur di malam hari, beliau berdoa:

    بِسْمِ اللهِ وَضَعْتُ جَنْبِيْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ، وَأَخْسِئْ شَيْطَانِيْ، وَفُكَّ رِهَانِيْ، وَاجْعَلْنِيْ فِي النَّدِيِّ الأَعْلَى

    “Dengan nama Allah aku meletakkan lambungku, Ya Allah ampunilah dosaku, usirlah setan yang mendampingiku, lepaskan tanggunganku dan jadikanlah aku berada di tempat yang tertinggi." [HR. Abu Daud]

    Doa yang lainnya:

    عن حذيفة قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا أخذ مضجعه من الليل؛ وضع يده تحت خده؛ ثم يقول: (اَللَّهُمَّ! بِاسْمِكَ أَمُوْتُ وَأَحْيَا) وإذا استيقظ؛ قال: (اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ) رَوَاهُ البُخَارِيُّ

    Dari Huzaifah radhiyallaahu’anhu, ia berkata: “Bahwa apabila Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berada di tempat tidurnya di malam hari, beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya, kemudian mengucapkan:

    اَللَّهُمَّ! بِاسْمِكَ أَمُوْتُ وَأَحْيَا

    “Ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan aku mati”,

    Apabila bangun beliau mengucapkan:

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ

    “Segala puji bagi Allah, yang menghidupkan kami setelah mematikan dan kepada-Nyalah kami akan kembali.” [Muttafaq ’alaih]

    Doa yang lainnya:

    عن أبي هرير أن رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال: ... فإذا استيقظ فليقل: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِيْ وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ . أخرجه الترمذي

    Dari Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: "Apabila seseorang terbangun maka ucapkanlah:

    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِيْ وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

    “Segala puji bagi Allah Yang telah memberikan kesehatan kepadaku pada jasadku, mengembalikan ruhku dan mengizinkanku untuk berdzikir kepada-Nya.” [HR. At-Tirmidzi]

    10. Hendaklah tidur dalam keadaan hati yang terbebas dari iri dan dengki kepada siapa pun juga:


    عن أنس بن مالك أن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول في رجل من الأنصار ثلاثا: ((يطلع عليكم الآن رجل من أهل الجنة)) ... فبات عنده عبد الله بن عمرو بن العاص ثلاث ليال، فقال له: أردت أن آوي إليك لأنظر ما عملك فأقتدي به فلم أرك تعمل كثير عمل فما الذي بلغ بك ما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ فقال: ما هو إلا ما رأيت، قال: فلما وليت دعاني، فقال: ما هو إلا ما رأيت غير أني لا أجد في نفسي لأحد من المسلمين غشا ولا أحسد أحدا على خير أعطاه الله إياه، فقال عبد الله: هذه التي بلغت بك وهى التي لا نطيق. أخرجه أحمد

    Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwa Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu`anhuma berkata: "Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda tiga kali tentang seorang laki-laki Anshar: "Akan datang sekarang kepada kalian seseorang dari penduduk surga" … maka Abdullah bin Amru menginap di rumah orang tersebut selama tiga malam, kemudian dia berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku menginap di rumahmu untuk mencari tahu amalanmu agar aku menirunya, akan tetapi aku tidak melihat engkau melakukan amalan yang banyak, namun apakah yang menyebabkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengatakan bahwa engkau adalah penduduk surga? Orang itu berkata: "Aku tidak mempunyai amalan selain apa yang engkau lihat. Kemudian Abdullah berpaling untuk mohon diri. Tiba-tiba orang itu memanggilnya seraya berkata: "Amalanku hanyalah apa yang engkau lihat akan tetapi aku tidak pernah menyimpan dendam di hatiku kepada seorang muslim pun dan tidak pernah iri dengan karunia yang diberikan Allah kepada siapa pun". Maka Abdullah berkata: "Inilah yang telah membawamu kepada derajat yang tinggi dan ini yang kami tidak mampu melakukannya".” [HR. Ahmad]

    11. Doa ketika terbangun di tengah malam:


    Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Barangsiapa yang terbangun di tengah malam lalu mengucapkan:

    لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَـرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسُبْحَانَ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ رَبِّ اغْفِرْ ليِ

    “Tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, yang satu saja, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan pujian. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Maha suci Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Wahai Rabbku, ampunilah dosaku.”

    Atau apabila selanjutnya dia berdoa niscaya do'anya dikabulkan, dan jika dia berwudhu, lalu shalat niscaya shalatnya diterima." [HR. Al-Bukhari]

    [Dinukil dengan sedikit penambahan dari Mukhtashor Al-Fiqh Al-Islam karya Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri hafizhahullah]

    وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

    Oleh:
    Ust. Sofyan Chalid bin Idham Ruray

    Sumber:
    https://www.facebook.com/sofyanruray.info

    Hukum Menggabungkan Aqiqah dengan Qurban

    Hukum Menggabungkan Aqiqah dengan Qurban

    Menggabungkan Aqiqah dengan Qurban

    Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Ada yang membolehkan dan menganggapnya sah sebagai aqiqah sekaligus qurban dan ada yang menganggap tidak bisa digabungkan.

    Pendapat pertama

    Berqurban tidak bisa digabungkan dengan aqiqah. Ini adalah pendapat Malikiyah, Syafi’iyah, dan salah satu pendapat Imam Ahmad rahimahullah.

    Dalil pendapat ini antara lain, bahwa aqiqah dan qurban adalah dua ibadah yang berdiri sendiri, sehingga dalam pelaksanaannya tidak bisa digabungkan. Disamping itu, masing-masing memiliki sebab yang berbeda. Sehingga tidak bisa saling menggantikan.

    Al-Haitami berkata dalam Tuhfah Al-Muhtaj Syarh Al-Minhaj (9/371):

    وَظَاهِرُ كَلَامِ َالْأَصْحَابِ أَنَّهُ لَوْ نَوَى بِشَاةٍ الْأُضْحِيَّةَ وَالْعَقِيقَةَ لَمْ تَحْصُلْ وَاحِدَةٌ مِنْهُمَا ، وَهُوَ ظَاهِرٌ ; لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا سُنَّةٌ مَقْصُودَةٌ

    “Lahiriah pendapat teman-teman kami (ulama Syafi’iyah) adalah: Seandainya seseorang berniat dengan satu ekor kambing untuk qurban dan sekaligus untuk ‘aqiqah maka keduanya dihukumi tidak syah. Inilah pendapat yang lebih tepat, karena masing-masing dari kedua ibadah ini adalah sunnah yang maqshudah (punya tujuan tersendiri).”

    Abu Bakr Al-Fihri rahimahullah berkata mengenai hukum menggabungkan antara niat aqiqah, qurban, sekaligus walimah (resepsi pernikahan):

    إذَا ذَبَحَ أُضْحِيَّتَهُ لِلْأُضْحِيَّةِ وَالْعَقِيقَةِ لَا يُجْزِيهِ ، وَإِنْ أَطْعَمَهَا وَلِيمَةً أَجْزَأَهُ ، وَالْفَرْقُ أَنَّ الْمَقْصُودَ فِي الْأَوَّلَيْنِ إرَاقَةُ الدَّمِ ، وَإِرَاقَتُهُ لَا تُجْزِئُ عَنْ إرَاقَتَيْنِ ، وَالْمَقْصُودُ مِنْ الْوَلِيمَةِ الْإِطْعَامُ ، وَهُوَ غَيْرُ مُنَافٍ لِلْإِرَاقَةِ ، فَأَمْكَنَ الْجَمْعُ

    “Jika dia menyembelih hewan qurbannya dengan niat qurban sekaligus aqiqah, maka itu tidak syah. Namun jika dia menghidangkan hewan qurbannya dalam walimah, maka itu syah. Perbedaan antara kedua penggabungan ini adalah: Tujuan dari kedua ibadah yang pertama (qurban dengan aqiqah) adalah pengaliran darah, sehingga satu pengaliran darah tidak bisa menggantikan posisi dua pengaliran darah. Sementara tujuan dari walimah adalah member makan, dan tujuan ini tidak bertentangan dengan pengaliran darah (yang menjadi tujuan qurban), karenanya keduanya bisa digabungan (dalam satu niat).” Dinukil oleh Al-Haththab rahimahullah berkata dalam Mawahib Al-Jalil (3/259)

    Pendapat kedua

    Boleh menggabungkan antara qurban dengan aqiqah. Ini merupakan pendapat madzhab Hanafi, salah satu pendapat Imam Ahmad, dan pendapat beberapa tabi’in seperti Hasan al-Bashri, Muhammad bin Sirrin, dan Qatadah rahimahumullah.

    Dalil pendapat ini, bahwa tujuan qurban dan aqiqah adalah beribadah kepada Allah dengan menyembelih. Sehingga aqiqah bisa digabungkan dengan qurban. Sebagaimana tahiyatul masjid bisa digabungkan dengan shalat wajib, bagi orang yang masuk masjid dan langsung mengikuti jamaah. Disebutkan Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (5/534) beberapa riwayat dari para tabi’in, diantaranya:

    Hasan al-Bashri pernah mengatakan,

    إذَا ضَحُّوا عَنْ الْغُلَامِ فَقَدْ أَجْزَأَتْ عَنْهُ مِنْ الْعَقِيقَةِ

    “Jika ada orang yang berkurban atas nama anak maka qurbannya sekaligus menggantikan aqiqahnya”

    Dari Hisyam dan Ibn Sirrin, beliau berdua mengatakan,
    “qurban atas nama anak, itu bisa sekaligus untuk aqiqah.”

    Qatadah mengatakan,
    “qurban tidak sah untuknya, sampai dia diaqiqahi.”

    Al-Buhuti mengatakan,
    “Jika aqiqah dan qurban waktunya bersamaan, dan hewannya diniatkan untuk keduanya maka hukumnya sah untuk keduanya, berdasarkan keterangan tegas dari Imam Ahmad.” (Kasyaful Qana’, 3/30)

    Sementara itu, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh memilih pendapat yang membolehkan menggabungkan aqiqah dan qurban. Beliau menyatakan dalam fatwanya,
    “Andaikan aqiqah dan qurban terjadi secara bersamaan maka satu sembelihan itu bisa mencukupi untuk orang yang menyembelih. Dia niatkan untuk qurban atas nama dirinya, kemudian menyembelih hewan tersebut, dan sudah tercakup di dalamnya aqiqah. Menurut keterangan sebagian ulama dapat disimpulkan bahwa aqiqah dan qurban bisa digabung jika ‘atas namanya’ sama. Artinya qurban dan aqiqahnya tersebut atas nama salah seorang anak. Sementara menurut keterangan ulama lain, tidak ada syarat hal itu. Artinya, jika seorang bapak hendak berqurban maka qurbannya bisa atas nama bapak, dan sekaligus untuk aqiqah anaknya. Ringkasnya, jika ada orang menyembelih hewan, dia niatkan untuk berqurban, dan itu sudah mencukupi untuk aqiqah.” (Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 6/159)

    Pendapat yang rajih

    Sebenarnya, jawaban dari permasalahan ini dibangun di atas salah satu masalah ushuliah, yaitu: Hukum menggabungkan dua ibadah dalam satu niat. Apakah hal ini diperbolehkan atau tidak?

    Ringkasnya, para ulama ushul menyebutkan 2 syarat akan bolehnya menggabungkan 2 ibadah dalam 1 niat, yaitu:
    1. Kedua ibadah itu sama jenis dan waktunya. Adapun jika kedua ibadah itu tidak sama jenis dan berbeda waktu pelaksanaannya, maka keduanya tidak boleh digabungkan.
    2. Ibadah yang mau digabungkan itu bukanlah ibadah yang berdiri sendiri (arab: Laysat maqshudah li dzatiha), dalam artian ibadah itu bisa diwakilkan pelaksanaannya dengan ibadah lain yang sejenis. Adapun jika kedua ibadah itu berdiri sendiri (arab: Maqshudah li dzatiha), dalam artian keduanya dituntut pelaksanaannya sendiri-sendiri karena maksud dan tujuan kedua ibadah itu berbeda, maka yang seperti ini tidak boleh menggabungkan keduanya.

    Contoh yang memenuhi syarat:

    Shalat 2 rakaat setelah azan dengan meniatkannya sebagai sunnah rawatib sekaligus tahiyatul masjid.
    Tahiyatul masjid bukanlah ibadah yang berdiri sendiri (arab: Laysat maqshudah li dzatiha), dalam artian tahiyatul masjid adalah shalat 2 rakaat (apapun jenisnya) sebelum seseorang duduk di dalam masjid. Karenanya, kapan seseorang sudah shalat 2 rakaat sebelum duduk, maka dia telah melakukan tahiyatul masjid, apapun jenis shalat 2 rakaat yang dia lakukan itu. Karenanya ketika seseorang mengerjakan sunnah rawatib 2 rakaat sebelum duduk, maka itu sudah teranggap sebagai tahiyatul masjid baginya.

    Puasa 6 hari di bulan syawal dengan puasa senin kamis.
    Yang dituntut dari puasa 6 hari di bulan syawal adalah pokoknya berpuasa 6 hari di dalamnya, hari apapun itu. Karenanya, jika seseorang berpuasa pada hari senin atau kamis di bulan syawal, maka itu bisa sekaligus dia jadikan sebagai puasa syawal baginya.

    Mandi junub dengan mandi jumat, karena maksud dari mandi jum’at adalah mandi sebelum pergi shalat jum’at, maka barangsiapa yang junub sebelum jumatan kemudian dia mandi dengan niat mandi junub maka mandi tersebut sudah mencukupi dari mandi jum’at.

    Demikian pula menggabungkan thawaf ifadhah (thawaf haji) dengan thawaf wada’ (thawaf perpisahan ketika meninggalkan Mekkah setelah ibadah haji), karena maksud dari thawaf wada’ adalah menjadikan thawaf amalan terakhir sebelum meninggalkan Mekkah, oleh karena itu apabila dia lakukan thawaf ifadhah ketika mau meninggalkan Mekkah maka thawaf tersebut sekaligus menjadi thawaf wada’ karena dilakukan terakhir kali sebelum meninggalkan Mekkah.

    Contoh yang tidak memenuhi syarat:

    Shalat 2 rakaat di akhir malam menjelang subuh, dengan niat shalat tahajud sekaligus shalat sunnah fajar. Ini tidak boleh, karena asal waktu pengerjaan kedua shalat sunnah berbeda. Satu sebelum subuh dan yang lainnya setelah masuknya waktu subuh.

    Seseorang yang mempunyai hutang fidyah 10 hari dan sekaligus mempunyai kewajiban bayar kaffarat sumpah. Lalu dia memberi makan 10 orang miskin dengan niat fidyah sekaligus kaffarat sumpah. Maka ini tidak syah digabungkan, karena kedua jenis ibadah ini (fidyah dan kaffarat) adalah ibadah yang berdiri sendiri (arab: Maqshudah li dzatiha), dalam artian keduanya mempunyai maksud dan tujuan dasar yang berbeda. Satu sebagai pengganti puasa, sementara yang lainnya sebagai penggugur dosa karena telah melanggar sumpah.

    Nah, bertolak dari uraian di atas, kita bisa mengetahui kalau jawaban dari pertanyaan di atas adalah:

    TIDAK BOLEH MENGGABUNGKAN NIAT ANTARA AQIQAH/NASIKAH DENGAN QURBAN/UDHHIAH

    Kenapa? Karena kedua ibadah ini berdiri sendiri (arab: Maqshudah li dzatiha), dimana keduanya disyariatkan untuk maksud dan tujuan yang berbeda sehingga tidak bisa saling mewakilkan. Aqiqah/nasikah disyariatkan sebagai rasa syukur dan tebusan untuk anak yang baru lahir, sementara qurban/udh-hiah disyariatkan sebagai tebusan untuk diri sendiri.Dan ini adalah pendapat Malikiyyah (Lihat Mawaahibul Jaliil 4/393), Syafi’iyyah (Lihat Al-Fatawa Al-Kubraa Al-Fiqhiyyah 4/256), dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad (Lihat Furu’ 6/112).–wallahu a’lam-

    Kesimpulannya:


    Tidak boleh menyembelih hewan dengan niat qurban sekaligus untuk aqiqah karena alasan di atas.

    Ini adalah mazhab Al-Malikiah dan Asy-Syafi’iyah, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad rahimahumullah.

    Pendapat ini yang dipilih oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Al-Huda wa An-Nur, kaset no. 689. Namun alasan yang beliau gunakan adalah karena suatu ibadah yang wajib tidak bisa menggantikan ibadah wajib yang lainnya. Hal itu karena beliau memandang aqiqah dan qurban adalah wajib.

    Asy-Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah berkata menjawab pertanyaan mengenai hukum menggabungkan udhhiah dengan aqiqah dalam satu sembelihan, jika Idul Adhha bertepatan dengan hari ketujuh kelahiran anak:

    “Sebagian ulama berpendapat, jika hari Idul Adh-ha bertepatan dengan hari ketujuh kelahiran anak, kemudian dilaksanakan udhhiah, maka tidak perlu lagi melaksanakan aqiqah. Sebagaimana pula jika seseorang masuk masjid dan langsung melaksanakan shalat fardhu, maka tidak perlu lagi dia melaksanakan shalat tahiyatul masjid. Hal itu karena kedua ibadah tersebut adalah ibadah yang sejenis dan waktu pelaksanaannya sama. Maka satu ibadah sudah menutupi ibadah yang lainnya.

    Hanya saja, saya sendiri memandang bahwa: Jika Allah memberi kecukupan rezeki, maka hendaknya dia berqurban dengan satu kambing, ditambah beraqiqah dengan satu kambing (jika anaknya perempuan) atau beraqiqah dengan dua kambing (jika anaknya laki-laki).” (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il: 25/287-288)

    Tanya:
    Trus, jika saya ingin menyembelih pada hari raya qurban dalam keadaan saya atau anak saya belum aqiqah, atau hari raya qurban bertepatan dengan hari ke-7 kelahiran anak saya. Apa yang harus saya lakukan?
    Jawab:
    Jika anda mempunyai keluasan rezeki, maka tidak diragukan jika anda menyembelih untuk keduanya, sembelihan untuk qurban sendiri dan sembelihan untuk aqiqah juga sendiri.

    Tanya:
    Jika uang saya tidak cukup, mana yang saya dahulukan: Qurban dulu atau aqiqah (untuk anak atau untuk diri sendiri) dulu?
    Jawab:
    Sebaiknya anda lebih mendahulukan qurban daripada aqiqah, karena waktu pelaksanaan qurban itu terbatas, yakni hanya 4 hari dalam setahun (10-13 Dzulhijjah). Sementara waktu pelaksanaan aqiqah bisa kapan saja sepanjang tahun. Wallahu a’lam.


    Sumber:
    - Ustadz Abdullah Roy di http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com/2009/11/menggabungkan-antara-aqiqah-dan-qurban.html

    - Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah) di http://www.konsultasisyariah.com/menggabungkan-akikah-dengan-kurban/ Disadur dari: http://www.islamqa.com/ar/ref/106630

    - http://al-atsariyyah.com/hukum-menggabungkan-aqiqah-dan-qurban-dalam-satu-sembelihan.html

    Sunnah atau Adab Ketika Bersin

    Sunnah Ketika Bersin

    Semua orang normal pasti pernah bersin, namun banyak di antara mereka yang tidak mengetahui sunnah-sunnah yang dilakukan ketika bersin. Berikut akan disebutkan beberapa riwayat yang menyebutkan tuntunan adab tersebut, semoga bermanfaat.

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ وَزِيرٍ الْوَاسِطِيُّ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ، عَنْ سُمَيٍّ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَطَسَ غَطَّى وَجْهَهُ بِيَدِهِ أَوْ بِثَوْبِهِ وَغَضَّ بِهَا صَوْتَهُ

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waziir Al-Waasithiy : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Sa’iid, dari Muhammad bin ‘Ajlaan, dari Sumaiy, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila bersin, beliau menutupi wajahnya dengan tangannya atau dengan pakaiannya, seraya merendahkan suara (bersin)-nya [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2745, dan ia berkata : ‘hadits hasan shahih’].

    حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ، وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ، فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ، فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ، وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِذَا قَالَ: هَا ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ

    Telah menceritakan kepada kami Aadam bin Abi Iyaas : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi’b : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid Al-Maqburiy, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Oleh karena itu, apabila salah seorang dari kalian bersin lalu ia memuji Allah, maka kewajiban bagi setiap muslim yang mendengarnya untuk bertasymit (mengucapkan yarhamukallaah). Adapun menguap, maka tidaklah ia datang kecuali dari setan. Maka, hendaklah menahannya (menguap) semampunya. Jika ia sampai mengucapkan ‘haaah’, maka setan akan tertawa karenanya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6223].

    حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَإِذَا قَالَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ "

    Telah menceritakan kepada kami Maalik bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Abi Salamah : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Diinaar, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan : ‘Alhamdulillah (segala puji hanya untuk Allah)’. Dan saudara atau rekannya (yang mendengar ucapan tersebut) hendaknya mengucapkan kepadanya : ‘yarhamukallaah (semoga Allah memberikan rahmat kepadamu)’. Apabila rekannya tersebut mengucapkan kepadanya ‘yarhamukallah’, hendaknya ia membalas : ‘yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberikan hidayah kepa kalian dan memperbaiki keadaan kalian)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6224].

    حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيل، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ: الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ، وَلْيَقُلْ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، وَيَقُولُ هُوَ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ "

    Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin ‘Abdillah bin Abi Salamah, dari ‘Abdullah bin Diinaar, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan : ‘Alhamdulillahi ‘alaa kulli haal (segala puji bagi Allah dalam segala kondisi)’. Dan saudara atau rekannya (yang mendengar ucapan tersebut) hendaknya mengucapkan : ‘yarhamukallaah’. Dan hendaknya ia (yang bersin) membalas : ‘yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 5033; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan Abi Daawud, 3/236].

    حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا رِفَاعَةُ بْنُ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيُّ، عَنْ عَمِّ أَبِيهِ مُعَاذِ بْنِ رِفَاعَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَطَسْتُ، فَقُلْتُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ، فَقَالَ: " مَنِ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ؟ " فَلَمْ يَتَكَلَّمْ أَحَدٌ ثُمَّ قَالَهَا الثَّانِيَةَ: " مَنِ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ؟ " فَلَمْ يَتَكَلَّمْ أَحَدٌ ثُمَّ قَالَهَا الثَّالِثَةَ: " مَنِ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ " فَقَالَ رِفَاعَةُ بْنُ رَافِعٍ ابْنُ عَفْرَاءَ: أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: " كَيْفَ قُلْتَ؟ " قَالَ: قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدِ ابْتَدَرَهَا بِضْعَةٌ وَثَلَاثُونَ مَلَكًا أَيُّهُمْ يَصْعَدُ بِهَا ".

    Telah menceritakan kepada kami Qutaibah : Telah menceritakan kepada kami Rifaa’ah bin Yahyaa bin ‘Abdillah bin Rifaa’ah bin Raafi’ Az-Zuraqiy, dari paman ayahnya, dari ayahnya, ia berkata : Aku pernah shalat di belakang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku bersin. Aku mengucapkan : ‘Alhamdulillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu Rabbunaa wa yardlaa (segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak, baik, diberkahi di dalamnya serta diberkahi di atasnya, sebagaimana Rabb kami senang dan ridla)’. Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, beliau berpaling seraya bersabda : “Siapakah yang berbicara tadi waktu shalat?”. Tidak ada seorang pun yang menjawab, sehingga beliau bertanya untuk kedua kalinya : “Siapakah yang berbicara tadi waktu shalat?”. Tidak ada seorang pun yang menjawab, sehingga beliau bertanya untuk ketiga kalinya : “Siapakah yang berbicara tadi waktu shalat?”. Maka Rifaa’ah bin Raafi’ bin ‘Afraa’ berkata : “Aku wahai Rasulullah”. Beliau bersabda : “Apa yang engkau ucapkan tadi?”. Aku menjawab : “Aku mengucapkan : ‘Alhamdulillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu Rabbunaa wa yardlaa”. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ada tiga puluh lebih malaikat saling berebut untuk membawa naik kalimat tersebut” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 404, dan ia berkata : ‘hadits hasan’].

    أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، حَدَّثَنَا هُدْبَةُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لَمَّا نَفَخَ فِي آدَمَ، فَبَلَغَ الرُّوحُ رَأْسَهُ عَطَسَ، فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَقَالَ لَهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَرْحَمُكَ اللَّهُ "

    Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Hasan bin Sufyaan : Telah menceritakan kepada kami Hudbah bin Khaalid : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Tsaabit Al-Bunaaniy, dari Anas bin Maalik : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ketika Allah meniup ruuh pada diri Aadam, maka sampailah ruh di kepalanya, Aadam pun bersin. Lalu ia mengucapkan : ‘Alhamdulillahi Rabbil-‘aalamiin (segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam)’. Allah tabaaraka wa ta’alaa berfirman kepadanya : ‘Yarhamukallah” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 6165; dishahihkan oleh Al-Arna’uth dalam takhriij Shahiih Ibni Hibbaan 14/37].

    حَدَّثَنَا حَامِدُ بْنُ عُمَرَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ أَبِي جَمْرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ، يَقُولُ إِذَا شمّت عَافَانَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ النَّارِ، يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ "

    Telah menceritakan kepada kami Haamid bin ‘Umar, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awaanah, dari Abu Jamrah, ia berkata : Aku mendengar Ibnu ‘Abbaas mengucapkan tasymiit : ‘’Aafaanallaahu wa iyyaakum minan-naar, yarhamukumullah (semoga Allah menyelamatkan kami dan kalian dari api neraka, dan semoga Allah memberikan rahmat kepada kalian)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad no. 929; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Al-Adabil-Mufrad hal. 343-344].

    عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا عَطَسَ، فَقِيلَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، قَالَ: " يَرْحَمُنَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ وَيَغْفِرُ لَنَا وَلَكُمْ "

    Dari Naafi’ : Bahwasannya ‘Abdullah bin ‘Umar apabila bersin, lalu dikatakan kepadanya : ‘Yarhamukallah’. Ia (Ibnu ‘Umar) berkata : “Yarhamunallaahu wa iyyaakum wa yaghfiru lanaa wa lakum (semoga Allah memberikan rahmat kepada kami dan kepada kalian, dan semoga Allah memberikan ampunan kepada kami dan kepada kalian)” [Diriwayatkan oleh Maalik no. 1939; dishahihkan oleh Saliim Al-Hilaaliy dalam Takhrij Al-Muwaththa’ 4/443].

    أَخْبَرَنَا أَبُو طَاهِرٍ الْفَقِيهُ، أنا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ الْقَطَّانُ، نا أَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ السَّلَمِيُّ، نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أنا سُفْيَانُ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّلَمِيِّ، أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ، كَانَ يَقُولُ: " إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَلْيَقُلْ مَنْ يَرُدُّ عَلَيْهِ: يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ، وَلْيَقُلْ: يَغْفِرُ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ ".هَذَا مَوْقُوفٌ، وَهُوَ الصَّحِيحُ

    Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Thaahir Al-Faqiih : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain Al-Qaththaan : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yuusuf As-Sulamiy : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq : Telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan, dari ‘Athaa’ bin As-Saaib, dari Abu ‘Abdirrahmaan As-Sulamiy : Bahwasannya Ibnu Mas’uud pernah berkata : “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan : ‘Alhamdulillahi rabbil-‘aalamiin’. Dan orang yang menjawabnya hendaklah mengucapkan : ‘Yarhamukumullah (semoga Allah memberikan rahmat kepada kalian)’. Orang yang bersin tadi hendaknya mengucapkan : ‘Yaghfirullaahu lii wa lakum (semoga Allah memberikan ampunan kepadaku dan kepada kalian)’” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan no. 9342; dan ia berkata : ‘Riwayat ini mauquuf, dan itulah yang shahih’].

    Dalam riwayat Al-Haakim, Ibnu Mas’uud berkata:

    إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ، فَلْيَقُلِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلْيُقَلْ لَهُ: يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ، فَإِذَا قِيلَ لَهُ: يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ، فَلْيَقُلْ: يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ

    “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan : ‘Alhamdulillah’. Dan hendaklah dikatakan kepadanya : ‘Yarhamukumullah’. Dan apabila dikatakan kepadanya ‘yarhamukumullah, hendaklah ia mengucapkan : ‘Yaghfirullaahu lanaa wa lakum (semoga Allah memberikan ampunan kepada kami dan kepada kalian)” [Al-Mustadrak, 4/262-263].

    حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الأَحْمَرُ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ: " كَانَ أَصْحَابُ عَبْدِ اللَّهِ إِذَا عَطَسَ الرَّجُلُ، فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، قَالُوا: يَرْحَمُنَا اللَّهُ وَإِيَّاكَ، وَيَقُولُ هُوَ: يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ

    Telah menceritakan kepada kami Abu Khaalid Al-Ahmar, dari Al-A’masy, dari Ibraahiim (An-Nakha’iy), ia berkata : “Adalah shahabat-shahabat ‘Abdullah (bin Mas’uud) apabila ada seseorang bersin mengucapkan ‘alhamdulillah’, mereka mengucapkan : ‘yarhamunallaahu wa iyyaaka’. Dan orang yang bersin itu menjawab : ‘yaghfirullaahu lanaa wa lakum” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 26400; sanadnya hasan].

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي ابْنُ شِهَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلَامِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ، وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ "

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad : Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Abi Salamah, dari Al-Auzaa’iy, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Ibnu Syihaab, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Sa’iid bin Al-Musayyib : Bahwasannya Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu pernah berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada lima : menjawab salam, menjenguk orang yang sakit, mengikuti jenazah (hingga ke kuburnya), memenuhi undangan, dan mengucapkan tasymiit terhadap orang yang bersin” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1240].

    حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ، عَنْ إِيَاسِ بْنِ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " يُشَمَّتُ الْعَاطِسُ ثَلَاثًا فَمَا زَادَ، فَهُوَ مَزْكُومٌ "

    Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Muhammad : Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari ‘Ikrimah bin ‘Ammaar, dari Iyaas bin Salamah bin Al-Akwa’, dari ayahnya, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Orang bersin dibacakan tasymiit sebanyak tiga kali. Selebih dari itu maka ia sedang kena flu" [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 3714; dishahihkan oleh Basyaar ‘Awwaad Ma’ruuf dalam Takhriij Sunan Ibni Maajah 4/5/285].

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ حَكِيمِ بْنِ دَيْلَمَ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: " كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ: " يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ، فَيَقُولُ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ "

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyaar : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan bin Mahdiy : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Hakiim bin Dailam, dari Abu Burdah, dari Abu Muusaa, ia berkata : “Dulu ada seorang Yahudi bersin di sisi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan mengharapkan agar beliau mengucapkan kepada mereka ‘yarhamukumullah’. Namun beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan : ‘yahdikumullahu wa yushlihu baalakum” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2739, dan ia berkata : ‘hadits hasan shahih’].

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلامٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَخْلَدٌ، قَالَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ: عَطَسَ ابْنٌ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ إِمَّا أَبُو بَكْرٍ، وَإِمَّا عُمَرُ، فَقَالَ: آبَّ، فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: " وَمَا آبَّ؟ إِنَّ آبَّ اسْمُ شَيْطَانٍ مِنَ الشَّيَاطِينِ جَعَلَهَا بَيْنَ الْعَطْسَةِ وَالْحَمْدِ "

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salaam, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Makhlad, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Juraij : Telah mengkhabarkan kepadaku Ibnu Abi Najiih, bahwasannya ia mendengar Mujaahid berkata : “Seorang anak dari ‘Abdullah bin ‘Umar – mungkin ia Abu Bakr atau ‘Umar (perawi ragu – Abul-Jauzaa’) - bersin, lalu mengucapkan : ‘aaabba’. Ibnu ‘Umar berkata : “Apa itu Aaabba ?. Sesungguhnya Aabba adalah nama setan di antara setan-setan yang sengaja ditempatkan antara bersin dan ucapan tahmiid” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad no. 937; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Al-Adabil-Mufrad, hal. 347].

    Sebagian faedah yang dapat diambil:

    1. Sesungguhnya Allah mencintai bersin.

      Bersin dapat menyehatkan dan menyegarkan badan karena berkaitan dengan proses imunitas.
    2. Disunnahkan untuk menutup wajah dengan tangan atau kain, serta memelankan suara ketika bersin.
    3. Disunnahkan untuk mengucapkan tahmiid ketika bersin, dan wajib bagi yang mendengarnya untuk bertasymit kepadanya.
    4. Mengucapkan tasymiit merupakan hak yang harus ditunaikan seorang muslim apabila ia mendengar muslim lainnya yang bersin (dan mengucapkan tahmiid). Hukumnya adalah fardlu ‘ain bagi setiap yang mendengarnya. Ibnul-‘Utsaimiin rahimahullah berkata:

      أنه ذهب بعض العلماء إلى أن التشميت فرض كفاية، فإذا كنا جماعة وعطس رجل وقال: الحمد لله؛ فقال أحدنا له: يرحمك الله، كفى، وقال بعض العلماء: بل تشميته فرض عين على كل من سمعه؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((كان حقًا على كل من سمعه أن يقول: يرحمك الله)) وظاهر هذا أنه فرض عين؛ فعلى هذا كل من سمعه يقول له: (يرحمك الله)

      “Bahwasannya sebagian ulama berpendapat ucapan tasymiit hukumnya fardlu kifaayah. Apabila kita sekelompok orang dan salah seorang bersin seraya mengucapkan ‘alhamdulillah, dan kemudian salah seorang di antara kita mengucapkan yarhamukallaah, mencukupi. Sebagian ulama lain berpendapat ucapan tasymiit hukumnya fardlu ‘ain bagi setiap orang yang mendengarnya, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘wajib bagi setiap orang yang mendengarnya untuk mengucapkan yarhamukallaah’. Dan yang dhahhir hukum permasalahan ini adalah fardlu ‘ain. Oleh karena itu, setiap orang yang mendengarnya mengucapkan padanya yarhamukallaah” [Syarh Riyaadlish-Shaalihiin, 1/272].
    5. Disunnahkan untuk mengeraskan suara pujian kepada Allah (tahmiid) sekedar untuk terdengar oleh orang-orang yang ada di sekitarnya sehingga mereka dapat mengucapkan tasymit kepadanya. Al-Baghawiy rahimahullah berkata setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah:

      وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي أَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ بِالتَّحْمِيدِ حَتَّى يُسْمِعَ مَنْ عِنْدَه حَتَّى يَسْتَحِقَّ التَّشْمِيتَ

      “Dalam hadits tersebut merupakan dalil bahwa orang yang bersin hendaknya mengeraskan suaranya dengan tahmiid hingga terdengar oleh orang yang ada di sisinya hingga ia berhak mendapatkan ucapan tasymiit” [Syarhus-Sunnah, 12/307]. Tetap disunnahkan mengucapkan tahmiid ketika bersin meskipun sedang shalat, namun orang yang mendengarnya dilarang mengucapkan tasymiit jika ia sedang shalat karena dapat membatalkan shalatnya.

      حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ، أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَتَقَارَبَا فِي لَفْظِ الْحَدِيثِ، قَالَا: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيل بْنُ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ حَجَّاجٍ الصَّوَّافِ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ هِلَالِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ، قَالَ: بَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ، فَقُلْتُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ، فَقُلْتُ: وَا ثُكْلَ أُمِّيَاهْ، مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ؟ فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ، فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي، لَكِنِّي سَكَتُّ، فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي، مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ، وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ، فَوَاللَّهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي، قَالَ: إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ، لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ، إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ

      Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Ash-Shabbaah (حِ), dan Abu Bakr bin Abi Syaibah – dan keduanya berdekatan dalam lafadh haditsnya - , mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ibraahiim, dari Hajjaaj Ash-Shawwaaf, dari Yahyaa bin Abi Katsiir, dari Hilaal bin Abi Maimuunah, dari ‘Athaa’ bin Yasaar, dari Mu’aawiyyah bin Al-Hakam As-Sulamiy, ia berkata : Saat aku shalat bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba ada seseorang bersin. Aku kemudian berkata : ‘Yarhamukallaah’ (semoga Allah merahmatimu). Maka orang-orang saling memandangku. Aku pun berkata : ‘Kenapa kalian memandangku demikian ?’. Mereka menepuk-nepuk paha dan aku lihat mereka mengisyaratkan agar aku diam. Akhirnya aku pun diam. Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan shalatnya, demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya, aku belum pernah melihat seorang pendidik yang lebih baik dari beliau sebelumnya. Beliau tidak menghardikku, tidak memukulku, dan tidak pula mencemoohku. Beliau (hanya) bersabda : ‘Sesungguhnya shalat ini tidak boleh sedikitpun dicampuri dengan pembicaraan manusia. Ia hanyalah berisi tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur’an” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 537].

      An-Nawawiy rahimahullah berkata:

      وَفِي هَذَا الْحَدِيث : النَّهْي عَنْ تَشْمِيت الْعَاطِس فِي الصَّلَاة ، وَأَنَّهُ مِنْ كَلَام النَّاس الَّذِي يَحْرُم فِي الصَّلَاة وَتَفْسُد بِهِ إِذَا أَتَى بِهِ عَالِمًا عَامِدًا

      “Dalam hadits ini merupakan larangan mengucapkan tasymiit bagi orang yang bersin dalam shalat, karena ia termasuk pembicaraan manusia yang diharamkan diucapkan dalam shalat, dan dapat membatalkan shalat apabila dilakukan dalam keadaan mengetahui dan sengaja”.

      وَأَمَّا الْعَاطِس فِي الصَّلَاة فَيُسْتَحَبّ لَهُ أَنْ يَحْمَد اللَّه تَعَالَى سِرًّا ، هَذَا مَذْهَبنَا ، وَبِهِ قَالَ مَالِك وَغَيْره ، وَعَنْ اِبْن عُمَر وَالنَّخَعِيّ وَأَحْمَد - رَضِيَ اللَّه عَنْهُمْ - أَنَّهُ يَجْهَر بِهِ ، وَالْأَوَّل أَظْهَر ؛ لِأَنَّهُ ذِكْر ، وَالسُّنَّة فِي الْأَذْكَار فِي الصَّلَاة الْإِسْرَار إِلَّا مَا اِسْتَثْنَى مِنْ الْقِرَاءَة فِي بَعْضهَا وَنَحْوهَا

      “Adapun orang yang bersin dalam shalat, maka disunnahkan baginya untuk menggucapkan tahmiid kepada Allah ta’ala secaa pelan (sirr). Inilah madzhab kami. Dan pendapat itulah yang dipegang oleh Maalik dan yang lainnya. Adapun dari Ibnu ‘Umar, An-Nakha’iy, Ahmad – radliyallaahu ‘anhum – berpendapat untuk mengeraskan tahmiid. Pendapat pertama yang lebih benar, karena ia merupakan dzikir. Dan sunnah dalam dzikir-dzikir dalam shalat adalah diucapkan secara pelan, selain yang dikecualikan dari qira’at (Al-Qur’an) di sebagiannya dan yang semisalnya" [Syarh Shahiih Muslim, 5/21]. Namun yang nampak dalam hadits, bacaan tahmiid tersebut dilakukan secara keras sebagaimana jika dilakukan di luar shalat. Tidaklah Mu’aawiyyah bin Al-Hakam mengucapkan tasymiit kecuali karena ia mendengar tahmiid orang yang bersin tadi, wallaahu a’lam.
    6. Barangsiapa yang tidak mengucapkan tahmiid atau mengucapkan dengan suara pelan sehingga tidak terdengar, maka ia tidak berhak mendapatkan ucapan tasymiit.

      حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: " عَطَسَ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَمَّتَ أَحَدَهُمَا وَلَمْ يُشَمِّتِ الْآخَرَ، فَقَالَ الرَّجُلُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، شَمَّتَّ هَذَا وَلَمْ تُشَمِّتْنِي، قَالَ: إِنَّ هَذَا حَمِدَ اللَّهَ وَلَمْ تَحْمَدِ اللَّهَ "

      Telah menceritakan kepada kami Aadam bin Abi Iyaas : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah : Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan At-Taimiy, ia berkata : Aku mendengar Anas radliyallaahu ‘anhu berkata : “Dua orang bersin di sisi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau bertasymit kepada salah seorang dari keduanya, namun tidak bertasymit kepada yang lain. Berkatalah orang yang tidak diucapkan tasymit oleh beliau : "Wahai Rasulullah, engkau bertasymit pada orang ini, namun engkau tidak bertasymit kepadaku". Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya orang ini mengucapkan tahmid, sedangkan engkau tidak mengucapkan tahmid” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6225].
    7. Bacaan tahmiid bagi orang yang bersin antara lain adalah :
      1. Alhamdulillah
      2. Alhamdulillahi rabbil-‘aalamiin
      3. Alhamdulillahi ‘alaa kulli haal.
      4. Alhamdulillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu Rabbunaa wa yardlaa.

      Semua bacaan tahmiid merupakan pilihan yang kesemuanya benar.

      An-Nawawiy rahimahullah berkata:

      اتفق العلماء على أنه يستحب للعاطس أن يقول عقب عطاسه الحمد لله , ولو قال الحمد لله رب العالمين لكان أحسن ,فلو قال الحمد لله على كل حال كان أفضل

      “Para ulama sepakat bahwa disunnahkan bagi orang yang bersin untuk mengucapkan setelah bersinnya : Alhamdulillah. Seandainya ia mengucapkan ‘alhamdulillahi rabbil-‘aalamiin’, lebih baik. Dan apabila ia mengucapkan ‘alhamdulillahi ‘alaa kulli haal’, maka lebih utama” [Al-Adzkaar, hal. 231].

      قَالَ الْقَاضِي : وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاء فِي كَيْفِيَّة الْحَمْد وَالرَّدّ ، وَاخْتَلَفَتْ فِيهِ الْآثَار ، فَقِيلَ : يَقُول : الْحَمْد لِلَّهِ . وَقِيلَ : الْحَمْد لِلَّهِ رَبّ الْعَالَمِينَ ، وَقِيلَ : الْحَمْد لِلَّهِ عَلَى كُلّ حَال ، وَقَالَ اِبْن جَرِير : هُوَ مُخَيَّر بَيْن هَذَا كُلّه ، وَهَذَا هُوَ الصَّحِيح وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ مَأْمُور بِالْحَمْدِ لِلَّهِ.

      “Al-Qaadliy berkata : Para ulama berselisih pendapat tentang kaifiyyah ucapan tahmiid dan menjawabnya. Beberapa riwayat dalam masalah tersebut menyebutkan berbeda-beda. Dikatakan, orang yang bersin mengucapkan : Alhamdulillah. Dikatakan pula : ‘alhamdulillahi rabbil-‘aalamiin’. Dikatakan pula : ‘alhamdulillahi ‘alaa kulli haal’. Ibnu Jariir berkata : ‘Semua itu merupakan pilihan, dan inilah yang benar. Dan mereka (para ulama) bersepakat bahwa orang yang bersin diperintahkan untuk mengucapkan pujian terhadap Allah” [Syarh Shahiih Muslim, 18/120].
    8. Bacaan tasymiit bagi orang yang mendengar tahmiid dari orang yang bersin antara lain adalah:
      1. Yarhamukallaah.
      2. Yarhamukumullaah.

      Inilah yang marfuu’.

      Ucapan ‘Yarhamunallaahu wa iyyaaka’ sebagaimana diriwayatkan dari shahabat-shahabat Ibnu Mas’uud, secara makna tidak berbeda, hanya saja doa tersebut ditambahkan permohonan limpahan rahmat kepada diri sendiri. Namun demikian, riwayat marfuu’ dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tetap lebih diutamakan.

      Adapun ucapan tasymiit :
      1. ’Aafaanallaahu wa iyyaakum minan-naar, yarhamukumullah’ - dari riwayat Ibnu ‘Abbaas;
      2. Yarhamunallaahu wa iyyaakum wa yaghfiru lanaa wa lakum – dari Ibnu ‘Umar

      Maka kemungkinan tambahan merupakan ijtihad mereka berdua. Sebagaimana sebelumnya, riwayat marfuu’ lebih didahulukan karena siapapun selain Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ada kemungkinan keliru atau tidak mengetahui sebagian ilmu yang diketahui oleh yang lain. Dan khususnya Ibnu ‘Umar, jika tambahan tersebut merupakan kelaziman baginya, maka besar kemungkinan ucapan tersebut berasal dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang ia ketahui, karena ia (Ibnu ‘Umar) pernah melarangan tambahan bacaan shalawat ketika bersin.

      حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ، حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ الرَّبِيعِ، حَدَّثَنَا حَضْرَمِيٌّ مَوْلَى آلِ الْجَارُودِ، عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ رَجُلًا عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ، فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، قَالَ ابْنُ عُمَرَ: وَأَنَا أَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَنَا، أَنْ نَقُولَ: " الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ "

      Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mas’adah : Telah menceritakan kepada kami Ziyaad bin Ar-Rabii’ : Telah menceritakan kepada kami Hadlramiy maulaa Aali Al-Jaaruud, dari Naafi’ : Bahwasannya ada seseorang bersin di samping Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, lalu dia berkata : “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasulihi (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasul-Nya)”. Maka Ibnu ‘Umar berkata : “Dan saya mengatakan, alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah. Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Akan tetapi beliau mengajari kami untuk mengatakan : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2738; dihasankan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/93-94].

      Sebagaimana diketahui, Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu adalah salah seorang shahabat yang paling bersemangat dalam meniru Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahkan hingga pada hal-hal yang hanya merupakan kebiasaan beliau saja. Kemungkinan ini sangat kuat.

      An-Nawawiy rahimahullah berkata:

      وَأَمَّا لَفْظ ( التَّشْمِيت ) فَقِيلَ : يَقُول : يَرْحَمك اللَّه ، وَقِيلَ ، يَقُول : الْحَمْد لِلَّهِ يَرْحَمك اللَّه ، وَقِيلَ : يَقُول : يَرْحَمنَا اللَّه وَإِيَّاكُمْ .

      “Al-Qaadliy berkata : Adapun lafadh tasymiit; dikatakan, ia mengucapkan : ‘yarhamukallah’. Dikatakan pula, ia mengucapkan : ‘alhamdulillah, yarhamukallaah’. Dikatakan pula, ia mengucapkan : ‘yarhamunallaah wa iyyaakum’” [Syarh Shahiih Muslim, 18/120].

      Catatan :
      Saya belum menemukan riwayat yang menyebutkan pensyari’atan lafadh tasymit : ‘alhamdulillah, yarhamukallaah’.

    9. Balasan ucapan tasymiit adalah : ‘yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum’.
      Adapun ucapan yang ternukil dari Ibnu Mas’uud dan shababat-shahabatnya :
      1. Yaghfirullaahu lii wa lakum
      2. Yaghfirullaahu lanaa wa lakum

      maka kemungkinan:
      1. merupakan ijtihad pribadi Ibnu Mas’uud yang kemudian diikuti oleh murid-muridnya, sehingga riwayat marfu’ tetap lebih diutamakan;
      2. merupakan riwayat marfuu’ yang ia ketahui berasal dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, karena ia (Ibnu Mas’uud) – sebagaimana Ibnu ‘Umar – juga merupakan shahabat yang paling ketat dalam pengamalan sunnah. Ia pernah mengoreksi tambahan huruf alif dan wawu dalam bacaan tasyahud yang dilakukan oleh Al-Aswad dan murid-murid Ibnu Mas’uud yang lain.

        وَحَدَّثَنَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، قَالَ: نا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ الأَسْوَدِ، قَالَ: كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ فِي الصَّلاةِ، فَيَأْخُذُ عَلَيْنَا الأَلِفَ وَالْوَاوَ

        Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Fudlail, dari Al-A’masy, dari Ibraahiim, dari Al-Aswad, ia berkata : “Ibnu Mas’uud mengajari kami tasyahud dalam shalat, dan ia mengambil (tambahan) huruf alif dan wawu dari kami” [Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam Musnad-nya no. 1629; shahih].
        Kemungkinan ini sangat kuat.

      An-Nawawiy rahimahullah berkata:

      قَالَ : وَاخْتَلَفُوا فِي رَدّ الْعَاطِس عَلَى الْمُشَمِّت ، فَقِيلَ : يَقُول : يَهْدِيكُمْ اللَّه وَيُصْلِح بَالكُمْ ، وَقِيلَ : يَقُول : يَغْفِر اللَّه لَنَا وَلَكُمْ ، وَقَالَ مَالِك وَالشَّافِعِيّ : يُخَيَّر بَيْن هَذَيْنِ ، وَهَذَا هُوَ الصَّوَاب ، وَقَدْ صَحَّتْ الْأَحَادِيث بِهِمَا .

      “Al-Qaadliy : berkata : Para ulama juga berselesih pendapat dalam jawaban orang yang bersin terhadap orang yang mengucapkan tasymiit. Dikatakan, ia mengucapkan : ‘yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum’. Dikatakan pula, ia mengucapkan : ‘yaghfirullaahu lanaa wa lakum’. Maalik dan Asy-Syaafi’iy berkata : ‘Diberikan kebebasan memilih diantara dua bacaan ini’. Inilah pendapat yang benar. Telah shahih beberapa hadits yang menyebutkan dua bacaan tersebut” [Syarh Shahiih Muslim, 18/120-121].

    10. Orang bersin hanya dibacakan tasymit maksimal tiga kali (yaitu untuk tiga kali bersin). Selebih dari itu, maka tidak lagi menjadi kewajiban untuk mengucapkannya, karena orang yang bersin tersebut menderita flu – atau sebab lainnya.

      An-Nawawiy rahimahullah berkata:

      إذا تكرر العطاس من الإنسان متتابعاً , فالسنة أن يشمته لكل مرة إلى أن يبلغ ثلاث مرات

      “Apabila seseorang bersin berulang kali secara berturutan, maka disunnahkan mengucapkan tasymiit kepadanya untuk setiap kali bersin hingga maksimal tiga kali” [Al-Adzkaar, hal. 233].

    11. Tidak diperbolehkan mengucapkan tasymiit kepada orang kafir yang bersin meskipun ia mengucapkan tahmiid.

    12. Tidak diperbolehkan mendoakan rahmat kepada orang kafir, namun boleh mendoakan agar mereka diberikan hidayah (Islam) dan kebaikan dalam perkara dunia

    13. Dilarang mengucapkan aaabba ketika bersin, karena ia merupakan salah satu nama diantara nama-nama setan. Diriwayat lain, nama Aabba disebutkan dengan sebutan Asyhaab.

      حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، قَالَ: عَطَسَ رَجُلٌ عِنْدَ ابْنِ عُمَرَ، فَقَالَ: أَشْهَبُ، فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: " أَشْهَبُ اسْمُ شَيْطَانٍ، وَضَعَهُ إِبْلِيسُ بَيْنَ الْعَطْسَةِ وَالْحَمْدِ لِيُذْكَرَ "

      Telah menceritakan kepada kami ‘Iisaa bin Yuunus, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Najiih, dari Mujaahid, ia berkata : “Ada seorang laki-laki bersin di sisi Ibnu ‘Umar, lalu laki-laki tersebut berkata : “Asyhab”. Maka Ibnu ‘Umar berkata : “Asyhab adalah nama setan yang diletakkanIbliis antara bersin dan ucapan tahmiid agar namanya diingat” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Adab no. 337; shahih].
    Wallaahu a’lam.

    Semoga artikel ini ada manfaatnya.

    Oleh: Ustad Doni Arif Wibowo
    di http://abul-jauzaa.blogspot.com/2014/08/bersin.html

Tauhid