Novi Effendi Blog

Manhaj

    Hukum Menggabungkan Aqiqah dengan Qurban

    Hukum Menggabungkan Aqiqah dengan Qurban

    Menggabungkan Aqiqah dengan Qurban

    Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Ada yang membolehkan dan menganggapnya sah sebagai aqiqah sekaligus qurban dan ada yang menganggap tidak bisa digabungkan.

    Pendapat pertama

    Berqurban tidak bisa digabungkan dengan aqiqah. Ini adalah pendapat Malikiyah, Syafi’iyah, dan salah satu pendapat Imam Ahmad rahimahullah.

    Dalil pendapat ini antara lain, bahwa aqiqah dan qurban adalah dua ibadah yang berdiri sendiri, sehingga dalam pelaksanaannya tidak bisa digabungkan. Disamping itu, masing-masing memiliki sebab yang berbeda. Sehingga tidak bisa saling menggantikan.

    Al-Haitami berkata dalam Tuhfah Al-Muhtaj Syarh Al-Minhaj (9/371):

    وَظَاهِرُ كَلَامِ َالْأَصْحَابِ أَنَّهُ لَوْ نَوَى بِشَاةٍ الْأُضْحِيَّةَ وَالْعَقِيقَةَ لَمْ تَحْصُلْ وَاحِدَةٌ مِنْهُمَا ، وَهُوَ ظَاهِرٌ ; لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا سُنَّةٌ مَقْصُودَةٌ

    “Lahiriah pendapat teman-teman kami (ulama Syafi’iyah) adalah: Seandainya seseorang berniat dengan satu ekor kambing untuk qurban dan sekaligus untuk ‘aqiqah maka keduanya dihukumi tidak syah. Inilah pendapat yang lebih tepat, karena masing-masing dari kedua ibadah ini adalah sunnah yang maqshudah (punya tujuan tersendiri).”

    Abu Bakr Al-Fihri rahimahullah berkata mengenai hukum menggabungkan antara niat aqiqah, qurban, sekaligus walimah (resepsi pernikahan):

    إذَا ذَبَحَ أُضْحِيَّتَهُ لِلْأُضْحِيَّةِ وَالْعَقِيقَةِ لَا يُجْزِيهِ ، وَإِنْ أَطْعَمَهَا وَلِيمَةً أَجْزَأَهُ ، وَالْفَرْقُ أَنَّ الْمَقْصُودَ فِي الْأَوَّلَيْنِ إرَاقَةُ الدَّمِ ، وَإِرَاقَتُهُ لَا تُجْزِئُ عَنْ إرَاقَتَيْنِ ، وَالْمَقْصُودُ مِنْ الْوَلِيمَةِ الْإِطْعَامُ ، وَهُوَ غَيْرُ مُنَافٍ لِلْإِرَاقَةِ ، فَأَمْكَنَ الْجَمْعُ

    “Jika dia menyembelih hewan qurbannya dengan niat qurban sekaligus aqiqah, maka itu tidak syah. Namun jika dia menghidangkan hewan qurbannya dalam walimah, maka itu syah. Perbedaan antara kedua penggabungan ini adalah: Tujuan dari kedua ibadah yang pertama (qurban dengan aqiqah) adalah pengaliran darah, sehingga satu pengaliran darah tidak bisa menggantikan posisi dua pengaliran darah. Sementara tujuan dari walimah adalah member makan, dan tujuan ini tidak bertentangan dengan pengaliran darah (yang menjadi tujuan qurban), karenanya keduanya bisa digabungan (dalam satu niat).” Dinukil oleh Al-Haththab rahimahullah berkata dalam Mawahib Al-Jalil (3/259)

    Pendapat kedua

    Boleh menggabungkan antara qurban dengan aqiqah. Ini merupakan pendapat madzhab Hanafi, salah satu pendapat Imam Ahmad, dan pendapat beberapa tabi’in seperti Hasan al-Bashri, Muhammad bin Sirrin, dan Qatadah rahimahumullah.

    Dalil pendapat ini, bahwa tujuan qurban dan aqiqah adalah beribadah kepada Allah dengan menyembelih. Sehingga aqiqah bisa digabungkan dengan qurban. Sebagaimana tahiyatul masjid bisa digabungkan dengan shalat wajib, bagi orang yang masuk masjid dan langsung mengikuti jamaah. Disebutkan Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (5/534) beberapa riwayat dari para tabi’in, diantaranya:

    Hasan al-Bashri pernah mengatakan,

    إذَا ضَحُّوا عَنْ الْغُلَامِ فَقَدْ أَجْزَأَتْ عَنْهُ مِنْ الْعَقِيقَةِ

    “Jika ada orang yang berkurban atas nama anak maka qurbannya sekaligus menggantikan aqiqahnya”

    Dari Hisyam dan Ibn Sirrin, beliau berdua mengatakan,
    “qurban atas nama anak, itu bisa sekaligus untuk aqiqah.”

    Qatadah mengatakan,
    “qurban tidak sah untuknya, sampai dia diaqiqahi.”

    Al-Buhuti mengatakan,
    “Jika aqiqah dan qurban waktunya bersamaan, dan hewannya diniatkan untuk keduanya maka hukumnya sah untuk keduanya, berdasarkan keterangan tegas dari Imam Ahmad.” (Kasyaful Qana’, 3/30)

    Sementara itu, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh memilih pendapat yang membolehkan menggabungkan aqiqah dan qurban. Beliau menyatakan dalam fatwanya,
    “Andaikan aqiqah dan qurban terjadi secara bersamaan maka satu sembelihan itu bisa mencukupi untuk orang yang menyembelih. Dia niatkan untuk qurban atas nama dirinya, kemudian menyembelih hewan tersebut, dan sudah tercakup di dalamnya aqiqah. Menurut keterangan sebagian ulama dapat disimpulkan bahwa aqiqah dan qurban bisa digabung jika ‘atas namanya’ sama. Artinya qurban dan aqiqahnya tersebut atas nama salah seorang anak. Sementara menurut keterangan ulama lain, tidak ada syarat hal itu. Artinya, jika seorang bapak hendak berqurban maka qurbannya bisa atas nama bapak, dan sekaligus untuk aqiqah anaknya. Ringkasnya, jika ada orang menyembelih hewan, dia niatkan untuk berqurban, dan itu sudah mencukupi untuk aqiqah.” (Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 6/159)

    Pendapat yang rajih

    Sebenarnya, jawaban dari permasalahan ini dibangun di atas salah satu masalah ushuliah, yaitu: Hukum menggabungkan dua ibadah dalam satu niat. Apakah hal ini diperbolehkan atau tidak?

    Ringkasnya, para ulama ushul menyebutkan 2 syarat akan bolehnya menggabungkan 2 ibadah dalam 1 niat, yaitu:
    1. Kedua ibadah itu sama jenis dan waktunya. Adapun jika kedua ibadah itu tidak sama jenis dan berbeda waktu pelaksanaannya, maka keduanya tidak boleh digabungkan.
    2. Ibadah yang mau digabungkan itu bukanlah ibadah yang berdiri sendiri (arab: Laysat maqshudah li dzatiha), dalam artian ibadah itu bisa diwakilkan pelaksanaannya dengan ibadah lain yang sejenis. Adapun jika kedua ibadah itu berdiri sendiri (arab: Maqshudah li dzatiha), dalam artian keduanya dituntut pelaksanaannya sendiri-sendiri karena maksud dan tujuan kedua ibadah itu berbeda, maka yang seperti ini tidak boleh menggabungkan keduanya.

    Contoh yang memenuhi syarat:

    Shalat 2 rakaat setelah azan dengan meniatkannya sebagai sunnah rawatib sekaligus tahiyatul masjid.
    Tahiyatul masjid bukanlah ibadah yang berdiri sendiri (arab: Laysat maqshudah li dzatiha), dalam artian tahiyatul masjid adalah shalat 2 rakaat (apapun jenisnya) sebelum seseorang duduk di dalam masjid. Karenanya, kapan seseorang sudah shalat 2 rakaat sebelum duduk, maka dia telah melakukan tahiyatul masjid, apapun jenis shalat 2 rakaat yang dia lakukan itu. Karenanya ketika seseorang mengerjakan sunnah rawatib 2 rakaat sebelum duduk, maka itu sudah teranggap sebagai tahiyatul masjid baginya.

    Puasa 6 hari di bulan syawal dengan puasa senin kamis.
    Yang dituntut dari puasa 6 hari di bulan syawal adalah pokoknya berpuasa 6 hari di dalamnya, hari apapun itu. Karenanya, jika seseorang berpuasa pada hari senin atau kamis di bulan syawal, maka itu bisa sekaligus dia jadikan sebagai puasa syawal baginya.

    Mandi junub dengan mandi jumat, karena maksud dari mandi jum’at adalah mandi sebelum pergi shalat jum’at, maka barangsiapa yang junub sebelum jumatan kemudian dia mandi dengan niat mandi junub maka mandi tersebut sudah mencukupi dari mandi jum’at.

    Demikian pula menggabungkan thawaf ifadhah (thawaf haji) dengan thawaf wada’ (thawaf perpisahan ketika meninggalkan Mekkah setelah ibadah haji), karena maksud dari thawaf wada’ adalah menjadikan thawaf amalan terakhir sebelum meninggalkan Mekkah, oleh karena itu apabila dia lakukan thawaf ifadhah ketika mau meninggalkan Mekkah maka thawaf tersebut sekaligus menjadi thawaf wada’ karena dilakukan terakhir kali sebelum meninggalkan Mekkah.

    Contoh yang tidak memenuhi syarat:

    Shalat 2 rakaat di akhir malam menjelang subuh, dengan niat shalat tahajud sekaligus shalat sunnah fajar. Ini tidak boleh, karena asal waktu pengerjaan kedua shalat sunnah berbeda. Satu sebelum subuh dan yang lainnya setelah masuknya waktu subuh.

    Seseorang yang mempunyai hutang fidyah 10 hari dan sekaligus mempunyai kewajiban bayar kaffarat sumpah. Lalu dia memberi makan 10 orang miskin dengan niat fidyah sekaligus kaffarat sumpah. Maka ini tidak syah digabungkan, karena kedua jenis ibadah ini (fidyah dan kaffarat) adalah ibadah yang berdiri sendiri (arab: Maqshudah li dzatiha), dalam artian keduanya mempunyai maksud dan tujuan dasar yang berbeda. Satu sebagai pengganti puasa, sementara yang lainnya sebagai penggugur dosa karena telah melanggar sumpah.

    Nah, bertolak dari uraian di atas, kita bisa mengetahui kalau jawaban dari pertanyaan di atas adalah:

    TIDAK BOLEH MENGGABUNGKAN NIAT ANTARA AQIQAH/NASIKAH DENGAN QURBAN/UDHHIAH

    Kenapa? Karena kedua ibadah ini berdiri sendiri (arab: Maqshudah li dzatiha), dimana keduanya disyariatkan untuk maksud dan tujuan yang berbeda sehingga tidak bisa saling mewakilkan. Aqiqah/nasikah disyariatkan sebagai rasa syukur dan tebusan untuk anak yang baru lahir, sementara qurban/udh-hiah disyariatkan sebagai tebusan untuk diri sendiri.Dan ini adalah pendapat Malikiyyah (Lihat Mawaahibul Jaliil 4/393), Syafi’iyyah (Lihat Al-Fatawa Al-Kubraa Al-Fiqhiyyah 4/256), dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad (Lihat Furu’ 6/112).–wallahu a’lam-

    Kesimpulannya:


    Tidak boleh menyembelih hewan dengan niat qurban sekaligus untuk aqiqah karena alasan di atas.

    Ini adalah mazhab Al-Malikiah dan Asy-Syafi’iyah, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad rahimahumullah.

    Pendapat ini yang dipilih oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Al-Huda wa An-Nur, kaset no. 689. Namun alasan yang beliau gunakan adalah karena suatu ibadah yang wajib tidak bisa menggantikan ibadah wajib yang lainnya. Hal itu karena beliau memandang aqiqah dan qurban adalah wajib.

    Asy-Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah berkata menjawab pertanyaan mengenai hukum menggabungkan udhhiah dengan aqiqah dalam satu sembelihan, jika Idul Adhha bertepatan dengan hari ketujuh kelahiran anak:

    “Sebagian ulama berpendapat, jika hari Idul Adh-ha bertepatan dengan hari ketujuh kelahiran anak, kemudian dilaksanakan udhhiah, maka tidak perlu lagi melaksanakan aqiqah. Sebagaimana pula jika seseorang masuk masjid dan langsung melaksanakan shalat fardhu, maka tidak perlu lagi dia melaksanakan shalat tahiyatul masjid. Hal itu karena kedua ibadah tersebut adalah ibadah yang sejenis dan waktu pelaksanaannya sama. Maka satu ibadah sudah menutupi ibadah yang lainnya.

    Hanya saja, saya sendiri memandang bahwa: Jika Allah memberi kecukupan rezeki, maka hendaknya dia berqurban dengan satu kambing, ditambah beraqiqah dengan satu kambing (jika anaknya perempuan) atau beraqiqah dengan dua kambing (jika anaknya laki-laki).” (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il: 25/287-288)

    Tanya:
    Trus, jika saya ingin menyembelih pada hari raya qurban dalam keadaan saya atau anak saya belum aqiqah, atau hari raya qurban bertepatan dengan hari ke-7 kelahiran anak saya. Apa yang harus saya lakukan?
    Jawab:
    Jika anda mempunyai keluasan rezeki, maka tidak diragukan jika anda menyembelih untuk keduanya, sembelihan untuk qurban sendiri dan sembelihan untuk aqiqah juga sendiri.

    Tanya:
    Jika uang saya tidak cukup, mana yang saya dahulukan: Qurban dulu atau aqiqah (untuk anak atau untuk diri sendiri) dulu?
    Jawab:
    Sebaiknya anda lebih mendahulukan qurban daripada aqiqah, karena waktu pelaksanaan qurban itu terbatas, yakni hanya 4 hari dalam setahun (10-13 Dzulhijjah). Sementara waktu pelaksanaan aqiqah bisa kapan saja sepanjang tahun. Wallahu a’lam.


    Sumber:
    - Ustadz Abdullah Roy di http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com/2009/11/menggabungkan-antara-aqiqah-dan-qurban.html

    - Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah) di http://www.konsultasisyariah.com/menggabungkan-akikah-dengan-kurban/ Disadur dari: http://www.islamqa.com/ar/ref/106630

    - http://al-atsariyyah.com/hukum-menggabungkan-aqiqah-dan-qurban-dalam-satu-sembelihan.html

    Sunnah atau Adab Ketika Bersin

    Sunnah Ketika Bersin

    Semua orang normal pasti pernah bersin, namun banyak di antara mereka yang tidak mengetahui sunnah-sunnah yang dilakukan ketika bersin. Berikut akan disebutkan beberapa riwayat yang menyebutkan tuntunan adab tersebut, semoga bermanfaat.

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ وَزِيرٍ الْوَاسِطِيُّ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ، عَنْ سُمَيٍّ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَطَسَ غَطَّى وَجْهَهُ بِيَدِهِ أَوْ بِثَوْبِهِ وَغَضَّ بِهَا صَوْتَهُ

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waziir Al-Waasithiy : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Sa’iid, dari Muhammad bin ‘Ajlaan, dari Sumaiy, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila bersin, beliau menutupi wajahnya dengan tangannya atau dengan pakaiannya, seraya merendahkan suara (bersin)-nya [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2745, dan ia berkata : ‘hadits hasan shahih’].

    حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ، وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ، فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ، فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ، وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِذَا قَالَ: هَا ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ

    Telah menceritakan kepada kami Aadam bin Abi Iyaas : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi’b : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid Al-Maqburiy, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Oleh karena itu, apabila salah seorang dari kalian bersin lalu ia memuji Allah, maka kewajiban bagi setiap muslim yang mendengarnya untuk bertasymit (mengucapkan yarhamukallaah). Adapun menguap, maka tidaklah ia datang kecuali dari setan. Maka, hendaklah menahannya (menguap) semampunya. Jika ia sampai mengucapkan ‘haaah’, maka setan akan tertawa karenanya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6223].

    حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَإِذَا قَالَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ "

    Telah menceritakan kepada kami Maalik bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Abi Salamah : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Diinaar, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan : ‘Alhamdulillah (segala puji hanya untuk Allah)’. Dan saudara atau rekannya (yang mendengar ucapan tersebut) hendaknya mengucapkan kepadanya : ‘yarhamukallaah (semoga Allah memberikan rahmat kepadamu)’. Apabila rekannya tersebut mengucapkan kepadanya ‘yarhamukallah’, hendaknya ia membalas : ‘yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberikan hidayah kepa kalian dan memperbaiki keadaan kalian)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6224].

    حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيل، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ: الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ، وَلْيَقُلْ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، وَيَقُولُ هُوَ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ "

    Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin ‘Abdillah bin Abi Salamah, dari ‘Abdullah bin Diinaar, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan : ‘Alhamdulillahi ‘alaa kulli haal (segala puji bagi Allah dalam segala kondisi)’. Dan saudara atau rekannya (yang mendengar ucapan tersebut) hendaknya mengucapkan : ‘yarhamukallaah’. Dan hendaknya ia (yang bersin) membalas : ‘yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 5033; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan Abi Daawud, 3/236].

    حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا رِفَاعَةُ بْنُ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيُّ، عَنْ عَمِّ أَبِيهِ مُعَاذِ بْنِ رِفَاعَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَطَسْتُ، فَقُلْتُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ، فَقَالَ: " مَنِ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ؟ " فَلَمْ يَتَكَلَّمْ أَحَدٌ ثُمَّ قَالَهَا الثَّانِيَةَ: " مَنِ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ؟ " فَلَمْ يَتَكَلَّمْ أَحَدٌ ثُمَّ قَالَهَا الثَّالِثَةَ: " مَنِ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ " فَقَالَ رِفَاعَةُ بْنُ رَافِعٍ ابْنُ عَفْرَاءَ: أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: " كَيْفَ قُلْتَ؟ " قَالَ: قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدِ ابْتَدَرَهَا بِضْعَةٌ وَثَلَاثُونَ مَلَكًا أَيُّهُمْ يَصْعَدُ بِهَا ".

    Telah menceritakan kepada kami Qutaibah : Telah menceritakan kepada kami Rifaa’ah bin Yahyaa bin ‘Abdillah bin Rifaa’ah bin Raafi’ Az-Zuraqiy, dari paman ayahnya, dari ayahnya, ia berkata : Aku pernah shalat di belakang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku bersin. Aku mengucapkan : ‘Alhamdulillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu Rabbunaa wa yardlaa (segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak, baik, diberkahi di dalamnya serta diberkahi di atasnya, sebagaimana Rabb kami senang dan ridla)’. Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, beliau berpaling seraya bersabda : “Siapakah yang berbicara tadi waktu shalat?”. Tidak ada seorang pun yang menjawab, sehingga beliau bertanya untuk kedua kalinya : “Siapakah yang berbicara tadi waktu shalat?”. Tidak ada seorang pun yang menjawab, sehingga beliau bertanya untuk ketiga kalinya : “Siapakah yang berbicara tadi waktu shalat?”. Maka Rifaa’ah bin Raafi’ bin ‘Afraa’ berkata : “Aku wahai Rasulullah”. Beliau bersabda : “Apa yang engkau ucapkan tadi?”. Aku menjawab : “Aku mengucapkan : ‘Alhamdulillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu Rabbunaa wa yardlaa”. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ada tiga puluh lebih malaikat saling berebut untuk membawa naik kalimat tersebut” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 404, dan ia berkata : ‘hadits hasan’].

    أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، حَدَّثَنَا هُدْبَةُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لَمَّا نَفَخَ فِي آدَمَ، فَبَلَغَ الرُّوحُ رَأْسَهُ عَطَسَ، فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَقَالَ لَهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَرْحَمُكَ اللَّهُ "

    Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Hasan bin Sufyaan : Telah menceritakan kepada kami Hudbah bin Khaalid : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Tsaabit Al-Bunaaniy, dari Anas bin Maalik : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ketika Allah meniup ruuh pada diri Aadam, maka sampailah ruh di kepalanya, Aadam pun bersin. Lalu ia mengucapkan : ‘Alhamdulillahi Rabbil-‘aalamiin (segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam)’. Allah tabaaraka wa ta’alaa berfirman kepadanya : ‘Yarhamukallah” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 6165; dishahihkan oleh Al-Arna’uth dalam takhriij Shahiih Ibni Hibbaan 14/37].

    حَدَّثَنَا حَامِدُ بْنُ عُمَرَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ أَبِي جَمْرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ، يَقُولُ إِذَا شمّت عَافَانَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ النَّارِ، يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ "

    Telah menceritakan kepada kami Haamid bin ‘Umar, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awaanah, dari Abu Jamrah, ia berkata : Aku mendengar Ibnu ‘Abbaas mengucapkan tasymiit : ‘’Aafaanallaahu wa iyyaakum minan-naar, yarhamukumullah (semoga Allah menyelamatkan kami dan kalian dari api neraka, dan semoga Allah memberikan rahmat kepada kalian)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad no. 929; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Al-Adabil-Mufrad hal. 343-344].

    عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا عَطَسَ، فَقِيلَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، قَالَ: " يَرْحَمُنَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ وَيَغْفِرُ لَنَا وَلَكُمْ "

    Dari Naafi’ : Bahwasannya ‘Abdullah bin ‘Umar apabila bersin, lalu dikatakan kepadanya : ‘Yarhamukallah’. Ia (Ibnu ‘Umar) berkata : “Yarhamunallaahu wa iyyaakum wa yaghfiru lanaa wa lakum (semoga Allah memberikan rahmat kepada kami dan kepada kalian, dan semoga Allah memberikan ampunan kepada kami dan kepada kalian)” [Diriwayatkan oleh Maalik no. 1939; dishahihkan oleh Saliim Al-Hilaaliy dalam Takhrij Al-Muwaththa’ 4/443].

    أَخْبَرَنَا أَبُو طَاهِرٍ الْفَقِيهُ، أنا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ الْقَطَّانُ، نا أَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ السَّلَمِيُّ، نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أنا سُفْيَانُ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّلَمِيِّ، أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ، كَانَ يَقُولُ: " إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَلْيَقُلْ مَنْ يَرُدُّ عَلَيْهِ: يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ، وَلْيَقُلْ: يَغْفِرُ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ ".هَذَا مَوْقُوفٌ، وَهُوَ الصَّحِيحُ

    Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Thaahir Al-Faqiih : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain Al-Qaththaan : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yuusuf As-Sulamiy : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq : Telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan, dari ‘Athaa’ bin As-Saaib, dari Abu ‘Abdirrahmaan As-Sulamiy : Bahwasannya Ibnu Mas’uud pernah berkata : “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan : ‘Alhamdulillahi rabbil-‘aalamiin’. Dan orang yang menjawabnya hendaklah mengucapkan : ‘Yarhamukumullah (semoga Allah memberikan rahmat kepada kalian)’. Orang yang bersin tadi hendaknya mengucapkan : ‘Yaghfirullaahu lii wa lakum (semoga Allah memberikan ampunan kepadaku dan kepada kalian)’” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan no. 9342; dan ia berkata : ‘Riwayat ini mauquuf, dan itulah yang shahih’].

    Dalam riwayat Al-Haakim, Ibnu Mas’uud berkata:

    إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ، فَلْيَقُلِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلْيُقَلْ لَهُ: يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ، فَإِذَا قِيلَ لَهُ: يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ، فَلْيَقُلْ: يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ

    “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan : ‘Alhamdulillah’. Dan hendaklah dikatakan kepadanya : ‘Yarhamukumullah’. Dan apabila dikatakan kepadanya ‘yarhamukumullah, hendaklah ia mengucapkan : ‘Yaghfirullaahu lanaa wa lakum (semoga Allah memberikan ampunan kepada kami dan kepada kalian)” [Al-Mustadrak, 4/262-263].

    حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الأَحْمَرُ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ: " كَانَ أَصْحَابُ عَبْدِ اللَّهِ إِذَا عَطَسَ الرَّجُلُ، فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، قَالُوا: يَرْحَمُنَا اللَّهُ وَإِيَّاكَ، وَيَقُولُ هُوَ: يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ

    Telah menceritakan kepada kami Abu Khaalid Al-Ahmar, dari Al-A’masy, dari Ibraahiim (An-Nakha’iy), ia berkata : “Adalah shahabat-shahabat ‘Abdullah (bin Mas’uud) apabila ada seseorang bersin mengucapkan ‘alhamdulillah’, mereka mengucapkan : ‘yarhamunallaahu wa iyyaaka’. Dan orang yang bersin itu menjawab : ‘yaghfirullaahu lanaa wa lakum” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 26400; sanadnya hasan].

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي ابْنُ شِهَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلَامِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ، وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ "

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad : Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Abi Salamah, dari Al-Auzaa’iy, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Ibnu Syihaab, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Sa’iid bin Al-Musayyib : Bahwasannya Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu pernah berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada lima : menjawab salam, menjenguk orang yang sakit, mengikuti jenazah (hingga ke kuburnya), memenuhi undangan, dan mengucapkan tasymiit terhadap orang yang bersin” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1240].

    حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ، عَنْ إِيَاسِ بْنِ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " يُشَمَّتُ الْعَاطِسُ ثَلَاثًا فَمَا زَادَ، فَهُوَ مَزْكُومٌ "

    Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Muhammad : Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari ‘Ikrimah bin ‘Ammaar, dari Iyaas bin Salamah bin Al-Akwa’, dari ayahnya, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Orang bersin dibacakan tasymiit sebanyak tiga kali. Selebih dari itu maka ia sedang kena flu" [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 3714; dishahihkan oleh Basyaar ‘Awwaad Ma’ruuf dalam Takhriij Sunan Ibni Maajah 4/5/285].

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ حَكِيمِ بْنِ دَيْلَمَ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: " كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ: " يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ، فَيَقُولُ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ "

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyaar : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan bin Mahdiy : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Hakiim bin Dailam, dari Abu Burdah, dari Abu Muusaa, ia berkata : “Dulu ada seorang Yahudi bersin di sisi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan mengharapkan agar beliau mengucapkan kepada mereka ‘yarhamukumullah’. Namun beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan : ‘yahdikumullahu wa yushlihu baalakum” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2739, dan ia berkata : ‘hadits hasan shahih’].

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلامٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَخْلَدٌ، قَالَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ: عَطَسَ ابْنٌ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ إِمَّا أَبُو بَكْرٍ، وَإِمَّا عُمَرُ، فَقَالَ: آبَّ، فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: " وَمَا آبَّ؟ إِنَّ آبَّ اسْمُ شَيْطَانٍ مِنَ الشَّيَاطِينِ جَعَلَهَا بَيْنَ الْعَطْسَةِ وَالْحَمْدِ "

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salaam, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Makhlad, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Juraij : Telah mengkhabarkan kepadaku Ibnu Abi Najiih, bahwasannya ia mendengar Mujaahid berkata : “Seorang anak dari ‘Abdullah bin ‘Umar – mungkin ia Abu Bakr atau ‘Umar (perawi ragu – Abul-Jauzaa’) - bersin, lalu mengucapkan : ‘aaabba’. Ibnu ‘Umar berkata : “Apa itu Aaabba ?. Sesungguhnya Aabba adalah nama setan di antara setan-setan yang sengaja ditempatkan antara bersin dan ucapan tahmiid” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad no. 937; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Al-Adabil-Mufrad, hal. 347].

    Sebagian faedah yang dapat diambil:

    1. Sesungguhnya Allah mencintai bersin.

      Bersin dapat menyehatkan dan menyegarkan badan karena berkaitan dengan proses imunitas.
    2. Disunnahkan untuk menutup wajah dengan tangan atau kain, serta memelankan suara ketika bersin.
    3. Disunnahkan untuk mengucapkan tahmiid ketika bersin, dan wajib bagi yang mendengarnya untuk bertasymit kepadanya.
    4. Mengucapkan tasymiit merupakan hak yang harus ditunaikan seorang muslim apabila ia mendengar muslim lainnya yang bersin (dan mengucapkan tahmiid). Hukumnya adalah fardlu ‘ain bagi setiap yang mendengarnya. Ibnul-‘Utsaimiin rahimahullah berkata:

      أنه ذهب بعض العلماء إلى أن التشميت فرض كفاية، فإذا كنا جماعة وعطس رجل وقال: الحمد لله؛ فقال أحدنا له: يرحمك الله، كفى، وقال بعض العلماء: بل تشميته فرض عين على كل من سمعه؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((كان حقًا على كل من سمعه أن يقول: يرحمك الله)) وظاهر هذا أنه فرض عين؛ فعلى هذا كل من سمعه يقول له: (يرحمك الله)

      “Bahwasannya sebagian ulama berpendapat ucapan tasymiit hukumnya fardlu kifaayah. Apabila kita sekelompok orang dan salah seorang bersin seraya mengucapkan ‘alhamdulillah, dan kemudian salah seorang di antara kita mengucapkan yarhamukallaah, mencukupi. Sebagian ulama lain berpendapat ucapan tasymiit hukumnya fardlu ‘ain bagi setiap orang yang mendengarnya, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘wajib bagi setiap orang yang mendengarnya untuk mengucapkan yarhamukallaah’. Dan yang dhahhir hukum permasalahan ini adalah fardlu ‘ain. Oleh karena itu, setiap orang yang mendengarnya mengucapkan padanya yarhamukallaah” [Syarh Riyaadlish-Shaalihiin, 1/272].
    5. Disunnahkan untuk mengeraskan suara pujian kepada Allah (tahmiid) sekedar untuk terdengar oleh orang-orang yang ada di sekitarnya sehingga mereka dapat mengucapkan tasymit kepadanya. Al-Baghawiy rahimahullah berkata setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah:

      وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي أَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ بِالتَّحْمِيدِ حَتَّى يُسْمِعَ مَنْ عِنْدَه حَتَّى يَسْتَحِقَّ التَّشْمِيتَ

      “Dalam hadits tersebut merupakan dalil bahwa orang yang bersin hendaknya mengeraskan suaranya dengan tahmiid hingga terdengar oleh orang yang ada di sisinya hingga ia berhak mendapatkan ucapan tasymiit” [Syarhus-Sunnah, 12/307]. Tetap disunnahkan mengucapkan tahmiid ketika bersin meskipun sedang shalat, namun orang yang mendengarnya dilarang mengucapkan tasymiit jika ia sedang shalat karena dapat membatalkan shalatnya.

      حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ، أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَتَقَارَبَا فِي لَفْظِ الْحَدِيثِ، قَالَا: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيل بْنُ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ حَجَّاجٍ الصَّوَّافِ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ هِلَالِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ، قَالَ: بَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ، فَقُلْتُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ، فَقُلْتُ: وَا ثُكْلَ أُمِّيَاهْ، مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ؟ فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ، فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي، لَكِنِّي سَكَتُّ، فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي، مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ، وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ، فَوَاللَّهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي، قَالَ: إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ، لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ، إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ

      Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Ash-Shabbaah (حِ), dan Abu Bakr bin Abi Syaibah – dan keduanya berdekatan dalam lafadh haditsnya - , mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ibraahiim, dari Hajjaaj Ash-Shawwaaf, dari Yahyaa bin Abi Katsiir, dari Hilaal bin Abi Maimuunah, dari ‘Athaa’ bin Yasaar, dari Mu’aawiyyah bin Al-Hakam As-Sulamiy, ia berkata : Saat aku shalat bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba ada seseorang bersin. Aku kemudian berkata : ‘Yarhamukallaah’ (semoga Allah merahmatimu). Maka orang-orang saling memandangku. Aku pun berkata : ‘Kenapa kalian memandangku demikian ?’. Mereka menepuk-nepuk paha dan aku lihat mereka mengisyaratkan agar aku diam. Akhirnya aku pun diam. Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan shalatnya, demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya, aku belum pernah melihat seorang pendidik yang lebih baik dari beliau sebelumnya. Beliau tidak menghardikku, tidak memukulku, dan tidak pula mencemoohku. Beliau (hanya) bersabda : ‘Sesungguhnya shalat ini tidak boleh sedikitpun dicampuri dengan pembicaraan manusia. Ia hanyalah berisi tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur’an” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 537].

      An-Nawawiy rahimahullah berkata:

      وَفِي هَذَا الْحَدِيث : النَّهْي عَنْ تَشْمِيت الْعَاطِس فِي الصَّلَاة ، وَأَنَّهُ مِنْ كَلَام النَّاس الَّذِي يَحْرُم فِي الصَّلَاة وَتَفْسُد بِهِ إِذَا أَتَى بِهِ عَالِمًا عَامِدًا

      “Dalam hadits ini merupakan larangan mengucapkan tasymiit bagi orang yang bersin dalam shalat, karena ia termasuk pembicaraan manusia yang diharamkan diucapkan dalam shalat, dan dapat membatalkan shalat apabila dilakukan dalam keadaan mengetahui dan sengaja”.

      وَأَمَّا الْعَاطِس فِي الصَّلَاة فَيُسْتَحَبّ لَهُ أَنْ يَحْمَد اللَّه تَعَالَى سِرًّا ، هَذَا مَذْهَبنَا ، وَبِهِ قَالَ مَالِك وَغَيْره ، وَعَنْ اِبْن عُمَر وَالنَّخَعِيّ وَأَحْمَد - رَضِيَ اللَّه عَنْهُمْ - أَنَّهُ يَجْهَر بِهِ ، وَالْأَوَّل أَظْهَر ؛ لِأَنَّهُ ذِكْر ، وَالسُّنَّة فِي الْأَذْكَار فِي الصَّلَاة الْإِسْرَار إِلَّا مَا اِسْتَثْنَى مِنْ الْقِرَاءَة فِي بَعْضهَا وَنَحْوهَا

      “Adapun orang yang bersin dalam shalat, maka disunnahkan baginya untuk menggucapkan tahmiid kepada Allah ta’ala secaa pelan (sirr). Inilah madzhab kami. Dan pendapat itulah yang dipegang oleh Maalik dan yang lainnya. Adapun dari Ibnu ‘Umar, An-Nakha’iy, Ahmad – radliyallaahu ‘anhum – berpendapat untuk mengeraskan tahmiid. Pendapat pertama yang lebih benar, karena ia merupakan dzikir. Dan sunnah dalam dzikir-dzikir dalam shalat adalah diucapkan secara pelan, selain yang dikecualikan dari qira’at (Al-Qur’an) di sebagiannya dan yang semisalnya" [Syarh Shahiih Muslim, 5/21]. Namun yang nampak dalam hadits, bacaan tahmiid tersebut dilakukan secara keras sebagaimana jika dilakukan di luar shalat. Tidaklah Mu’aawiyyah bin Al-Hakam mengucapkan tasymiit kecuali karena ia mendengar tahmiid orang yang bersin tadi, wallaahu a’lam.
    6. Barangsiapa yang tidak mengucapkan tahmiid atau mengucapkan dengan suara pelan sehingga tidak terdengar, maka ia tidak berhak mendapatkan ucapan tasymiit.

      حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: " عَطَسَ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَمَّتَ أَحَدَهُمَا وَلَمْ يُشَمِّتِ الْآخَرَ، فَقَالَ الرَّجُلُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، شَمَّتَّ هَذَا وَلَمْ تُشَمِّتْنِي، قَالَ: إِنَّ هَذَا حَمِدَ اللَّهَ وَلَمْ تَحْمَدِ اللَّهَ "

      Telah menceritakan kepada kami Aadam bin Abi Iyaas : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah : Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan At-Taimiy, ia berkata : Aku mendengar Anas radliyallaahu ‘anhu berkata : “Dua orang bersin di sisi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau bertasymit kepada salah seorang dari keduanya, namun tidak bertasymit kepada yang lain. Berkatalah orang yang tidak diucapkan tasymit oleh beliau : "Wahai Rasulullah, engkau bertasymit pada orang ini, namun engkau tidak bertasymit kepadaku". Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya orang ini mengucapkan tahmid, sedangkan engkau tidak mengucapkan tahmid” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6225].
    7. Bacaan tahmiid bagi orang yang bersin antara lain adalah :
      1. Alhamdulillah
      2. Alhamdulillahi rabbil-‘aalamiin
      3. Alhamdulillahi ‘alaa kulli haal.
      4. Alhamdulillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu Rabbunaa wa yardlaa.

      Semua bacaan tahmiid merupakan pilihan yang kesemuanya benar.

      An-Nawawiy rahimahullah berkata:

      اتفق العلماء على أنه يستحب للعاطس أن يقول عقب عطاسه الحمد لله , ولو قال الحمد لله رب العالمين لكان أحسن ,فلو قال الحمد لله على كل حال كان أفضل

      “Para ulama sepakat bahwa disunnahkan bagi orang yang bersin untuk mengucapkan setelah bersinnya : Alhamdulillah. Seandainya ia mengucapkan ‘alhamdulillahi rabbil-‘aalamiin’, lebih baik. Dan apabila ia mengucapkan ‘alhamdulillahi ‘alaa kulli haal’, maka lebih utama” [Al-Adzkaar, hal. 231].

      قَالَ الْقَاضِي : وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاء فِي كَيْفِيَّة الْحَمْد وَالرَّدّ ، وَاخْتَلَفَتْ فِيهِ الْآثَار ، فَقِيلَ : يَقُول : الْحَمْد لِلَّهِ . وَقِيلَ : الْحَمْد لِلَّهِ رَبّ الْعَالَمِينَ ، وَقِيلَ : الْحَمْد لِلَّهِ عَلَى كُلّ حَال ، وَقَالَ اِبْن جَرِير : هُوَ مُخَيَّر بَيْن هَذَا كُلّه ، وَهَذَا هُوَ الصَّحِيح وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ مَأْمُور بِالْحَمْدِ لِلَّهِ.

      “Al-Qaadliy berkata : Para ulama berselisih pendapat tentang kaifiyyah ucapan tahmiid dan menjawabnya. Beberapa riwayat dalam masalah tersebut menyebutkan berbeda-beda. Dikatakan, orang yang bersin mengucapkan : Alhamdulillah. Dikatakan pula : ‘alhamdulillahi rabbil-‘aalamiin’. Dikatakan pula : ‘alhamdulillahi ‘alaa kulli haal’. Ibnu Jariir berkata : ‘Semua itu merupakan pilihan, dan inilah yang benar. Dan mereka (para ulama) bersepakat bahwa orang yang bersin diperintahkan untuk mengucapkan pujian terhadap Allah” [Syarh Shahiih Muslim, 18/120].
    8. Bacaan tasymiit bagi orang yang mendengar tahmiid dari orang yang bersin antara lain adalah:
      1. Yarhamukallaah.
      2. Yarhamukumullaah.

      Inilah yang marfuu’.

      Ucapan ‘Yarhamunallaahu wa iyyaaka’ sebagaimana diriwayatkan dari shahabat-shahabat Ibnu Mas’uud, secara makna tidak berbeda, hanya saja doa tersebut ditambahkan permohonan limpahan rahmat kepada diri sendiri. Namun demikian, riwayat marfuu’ dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tetap lebih diutamakan.

      Adapun ucapan tasymiit :
      1. ’Aafaanallaahu wa iyyaakum minan-naar, yarhamukumullah’ - dari riwayat Ibnu ‘Abbaas;
      2. Yarhamunallaahu wa iyyaakum wa yaghfiru lanaa wa lakum – dari Ibnu ‘Umar

      Maka kemungkinan tambahan merupakan ijtihad mereka berdua. Sebagaimana sebelumnya, riwayat marfuu’ lebih didahulukan karena siapapun selain Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ada kemungkinan keliru atau tidak mengetahui sebagian ilmu yang diketahui oleh yang lain. Dan khususnya Ibnu ‘Umar, jika tambahan tersebut merupakan kelaziman baginya, maka besar kemungkinan ucapan tersebut berasal dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang ia ketahui, karena ia (Ibnu ‘Umar) pernah melarangan tambahan bacaan shalawat ketika bersin.

      حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ، حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ الرَّبِيعِ، حَدَّثَنَا حَضْرَمِيٌّ مَوْلَى آلِ الْجَارُودِ، عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ رَجُلًا عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ، فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، قَالَ ابْنُ عُمَرَ: وَأَنَا أَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَنَا، أَنْ نَقُولَ: " الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ "

      Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mas’adah : Telah menceritakan kepada kami Ziyaad bin Ar-Rabii’ : Telah menceritakan kepada kami Hadlramiy maulaa Aali Al-Jaaruud, dari Naafi’ : Bahwasannya ada seseorang bersin di samping Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, lalu dia berkata : “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasulihi (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasul-Nya)”. Maka Ibnu ‘Umar berkata : “Dan saya mengatakan, alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah. Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Akan tetapi beliau mengajari kami untuk mengatakan : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2738; dihasankan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/93-94].

      Sebagaimana diketahui, Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu adalah salah seorang shahabat yang paling bersemangat dalam meniru Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahkan hingga pada hal-hal yang hanya merupakan kebiasaan beliau saja. Kemungkinan ini sangat kuat.

      An-Nawawiy rahimahullah berkata:

      وَأَمَّا لَفْظ ( التَّشْمِيت ) فَقِيلَ : يَقُول : يَرْحَمك اللَّه ، وَقِيلَ ، يَقُول : الْحَمْد لِلَّهِ يَرْحَمك اللَّه ، وَقِيلَ : يَقُول : يَرْحَمنَا اللَّه وَإِيَّاكُمْ .

      “Al-Qaadliy berkata : Adapun lafadh tasymiit; dikatakan, ia mengucapkan : ‘yarhamukallah’. Dikatakan pula, ia mengucapkan : ‘alhamdulillah, yarhamukallaah’. Dikatakan pula, ia mengucapkan : ‘yarhamunallaah wa iyyaakum’” [Syarh Shahiih Muslim, 18/120].

      Catatan :
      Saya belum menemukan riwayat yang menyebutkan pensyari’atan lafadh tasymit : ‘alhamdulillah, yarhamukallaah’.

    9. Balasan ucapan tasymiit adalah : ‘yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum’.
      Adapun ucapan yang ternukil dari Ibnu Mas’uud dan shababat-shahabatnya :
      1. Yaghfirullaahu lii wa lakum
      2. Yaghfirullaahu lanaa wa lakum

      maka kemungkinan:
      1. merupakan ijtihad pribadi Ibnu Mas’uud yang kemudian diikuti oleh murid-muridnya, sehingga riwayat marfu’ tetap lebih diutamakan;
      2. merupakan riwayat marfuu’ yang ia ketahui berasal dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, karena ia (Ibnu Mas’uud) – sebagaimana Ibnu ‘Umar – juga merupakan shahabat yang paling ketat dalam pengamalan sunnah. Ia pernah mengoreksi tambahan huruf alif dan wawu dalam bacaan tasyahud yang dilakukan oleh Al-Aswad dan murid-murid Ibnu Mas’uud yang lain.

        وَحَدَّثَنَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، قَالَ: نا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ الأَسْوَدِ، قَالَ: كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ فِي الصَّلاةِ، فَيَأْخُذُ عَلَيْنَا الأَلِفَ وَالْوَاوَ

        Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Fudlail, dari Al-A’masy, dari Ibraahiim, dari Al-Aswad, ia berkata : “Ibnu Mas’uud mengajari kami tasyahud dalam shalat, dan ia mengambil (tambahan) huruf alif dan wawu dari kami” [Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam Musnad-nya no. 1629; shahih].
        Kemungkinan ini sangat kuat.

      An-Nawawiy rahimahullah berkata:

      قَالَ : وَاخْتَلَفُوا فِي رَدّ الْعَاطِس عَلَى الْمُشَمِّت ، فَقِيلَ : يَقُول : يَهْدِيكُمْ اللَّه وَيُصْلِح بَالكُمْ ، وَقِيلَ : يَقُول : يَغْفِر اللَّه لَنَا وَلَكُمْ ، وَقَالَ مَالِك وَالشَّافِعِيّ : يُخَيَّر بَيْن هَذَيْنِ ، وَهَذَا هُوَ الصَّوَاب ، وَقَدْ صَحَّتْ الْأَحَادِيث بِهِمَا .

      “Al-Qaadliy : berkata : Para ulama juga berselesih pendapat dalam jawaban orang yang bersin terhadap orang yang mengucapkan tasymiit. Dikatakan, ia mengucapkan : ‘yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum’. Dikatakan pula, ia mengucapkan : ‘yaghfirullaahu lanaa wa lakum’. Maalik dan Asy-Syaafi’iy berkata : ‘Diberikan kebebasan memilih diantara dua bacaan ini’. Inilah pendapat yang benar. Telah shahih beberapa hadits yang menyebutkan dua bacaan tersebut” [Syarh Shahiih Muslim, 18/120-121].

    10. Orang bersin hanya dibacakan tasymit maksimal tiga kali (yaitu untuk tiga kali bersin). Selebih dari itu, maka tidak lagi menjadi kewajiban untuk mengucapkannya, karena orang yang bersin tersebut menderita flu – atau sebab lainnya.

      An-Nawawiy rahimahullah berkata:

      إذا تكرر العطاس من الإنسان متتابعاً , فالسنة أن يشمته لكل مرة إلى أن يبلغ ثلاث مرات

      “Apabila seseorang bersin berulang kali secara berturutan, maka disunnahkan mengucapkan tasymiit kepadanya untuk setiap kali bersin hingga maksimal tiga kali” [Al-Adzkaar, hal. 233].

    11. Tidak diperbolehkan mengucapkan tasymiit kepada orang kafir yang bersin meskipun ia mengucapkan tahmiid.

    12. Tidak diperbolehkan mendoakan rahmat kepada orang kafir, namun boleh mendoakan agar mereka diberikan hidayah (Islam) dan kebaikan dalam perkara dunia

    13. Dilarang mengucapkan aaabba ketika bersin, karena ia merupakan salah satu nama diantara nama-nama setan. Diriwayat lain, nama Aabba disebutkan dengan sebutan Asyhaab.

      حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، قَالَ: عَطَسَ رَجُلٌ عِنْدَ ابْنِ عُمَرَ، فَقَالَ: أَشْهَبُ، فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: " أَشْهَبُ اسْمُ شَيْطَانٍ، وَضَعَهُ إِبْلِيسُ بَيْنَ الْعَطْسَةِ وَالْحَمْدِ لِيُذْكَرَ "

      Telah menceritakan kepada kami ‘Iisaa bin Yuunus, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Najiih, dari Mujaahid, ia berkata : “Ada seorang laki-laki bersin di sisi Ibnu ‘Umar, lalu laki-laki tersebut berkata : “Asyhab”. Maka Ibnu ‘Umar berkata : “Asyhab adalah nama setan yang diletakkanIbliis antara bersin dan ucapan tahmiid agar namanya diingat” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Adab no. 337; shahih].
    Wallaahu a’lam.

    Semoga artikel ini ada manfaatnya.

    Oleh: Ustad Doni Arif Wibowo
    di http://abul-jauzaa.blogspot.com/2014/08/bersin.html

    Daulah Islamiyah Iraq dan Syam (ISIS) Dalam Tinjauan Ahlussunnah Waljamaah

    ISIS Dalam Tinjauan Ahlussunnah

    Pendahuluan

    Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam buat nabi kita yang mulia Muhammada shalallahu’alaihi wassalam beserta keluarga dan para sahabat beliau. Berangkat dari rasa ingin saling menasehati sesama muslim, kami meluangkan waktu untuk membahas salah satu topik aktual dewasa ini. Yaitu tentang Daulah Islamiyah Iraq dan Syam (داعش) yang lebih popular dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Syam). Jika kita amati isu ISIS telah menjadi polemik baru di tengah-tengah masyarakat. Adanya pro dan kontra terhadap sesuatu yang baru muncul itu hal yang biasa. Akan tetapi suatu hal yang tidak bisa diterima dan dibenarkan sama sekali adalah memanfaatkan isu ISIS untuk menolak Islam dari jarak jauh dan dekat, lalu dikait-kaitkan dengan dakwah Ahlussunnah yang sedang bersemi di bumi nusantara ini. Dengan kata lain: memancing di air keruh…

    Semoga tulisan kecil ini dapat menggambarkan siapa sebanarnya ISIS? dan bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap ISIS? selamat membaca! Semoga bermanfaat…

    Sejarah kelahiran ISIS

    Gerakan ISIS bermula dari dibentuknya “Jamah Tauhid dan Jihad” di Iraq pada tahun 2004 oleh Abu Mush’ab Zarqowy. Kemudian pada waktu yang bersamaan Zarqowy menyatakan pembai’atannya terhadap pimpinan tertinggi Al Qoidah Usamah bin Ladin, dengan demikian ia langsung menjadi perwakilan resmi Al Qoidah di Iraq. Ketika Amerika menjajah Iraq pasukan Zarqowy sangat agresif dalam menentang penjajahan tersebut. Hal ini menyebabkan banyak pejuang Iraq yang bergabung dengan pasukan Zarqowy. Meskipun secara idologi mereka berbeda, akan tetapi kondisi perang menyebabkan mereka untuk bergabung dengan segala kekuatan dalam melawan penjajahan Amerika terhadap rakyat Iraq. Dengan berlalunya waktu pengaruh Zarqowy semakin kuat di tengah-tengah para pejuang Iraq dan jumlah pasukannya semakin bertambah dan membesar.

    Pada tahun 2006 Zarqowy mengumumkan melalui sebuah rekaman tentang pembentukan ‘Majlis Syura Mujahidin” yang diketuai oleh Abdullah Rosyid Bagdady. Tujuan dari pembentukan “Majlis Syura Mujahidin” ini adalah untuk mengantisipasi perpecahan dikemudian hari antara berbagai kelompok pejuang yang tersebar di berbagai pelosok daerah Iraq. Namun sebulan setelah pernyataannya tersebut Zarqowy terbunuh, lalu posisinya digantikan oleh salah seorang tokoh Al Qoidah yang bernama Abu Hamzah Al Muhajir.
    Kemudian pada akhir tahun 2006 sebagian besar pasukan “Majlis Syura Mujahidin” berhasil mengambil sebuah keputusan bersama untuk mendirikan Negara Islam Iraq di bawah pimpinan Abu Umar Bagdadi.

    Lalu pada tanggal 19 April 2010 pasukan Amerika mengadakan penyerangan udara besar-besaran terhadap salah satu daerah Iraq yang bernama Tsar-tsar. Sehingga terjadilah pertempuran sengit antara pasukan pejuang Iraq dengan penjajah Amerika. Satu minggu setelah pertempuran tersebut pasukan Al Qoidah memberikan pernyataan melalui internet bahwa Abu Umar Bagdadi (Pimpinan Negara Islam Iraq) dan Abu Hamzah Muhajir (Pimpinan Majlis Syura Mujahidin) telah terbunuh dalam pertempuran tersebut di kediaman mereka. Sekitar sepuluh hari berselang dari meninggalnya kedua orang tersebut diadakanlah rapat Majlis Syura Negara Islam Iraq. Dalam rapat Majlis Syura tersebut terpilihlah Abu Bakar Bagdadi sebagai pengganti Abu Umar Bagdadi menjadi Pimpinan Negara Islam Irag.

    Abu Bakar Bagdadi, nama aslinya Ibrohim bin ‘Awad bin Ibrohim Al badri lahir disalah satu daerah di Iraq yang bernama Saamuraa’ pada tahun 1971. Ia adalah Alumni S3 Universitas Islam Bagdad yang berprofesi sebagai pengajar/ dosen. Saat Amerika menjajah Iraq Abu bakar Bagdadi bangkit ikut berjuang bersama rakyat Iraq di Saamuraa’, seketika itu ia hanya memimpin sebuah pleton kecil. Kemudian ia berkerjasama dengan beberapa orang yang terindikasi memiliki ideologi teroris untuk membentuk sebuah pasukan perang tersendiri. Saat Zarqowi mengumumkan pembentukan “Majlis Syura Mujahidin” tahun 2006 ia termasuk diantara pimpinan pasukan mujahidin yang bergabung kedalamnya. Saat itu ditunjuklah ia sebagai anggota Majlis Syura sekaligus menduduki posisi untuk menangani bagian pembentukan dan pengaturan urusan kesyariatan dalam “Majlis Syura Mujahidin”. Pada akhirnya ia menjadi orang kepercayaan Abu Umar Bagdadi dan ditunjuk sebagai penggantinya oleh Abu Umar Bagdadi sebagai pimpinan Negara Islam Iraq setelahnya. Inilah sekilas kronologi terpilihnya Abu Bakar Bagdadi sebagai pimpinan Negara Islam Iraq yang kemudian setelah meluaskan sayapnya ke Suriah dan mengklaim daerah-daerah yang sudah dibebaskan oleh para mujahidin lain dari kekuasan Basyar Asad dan menamakan kekuasaanya dengan Negara Islam Iraq dan Syam (ISIS) pada tanggal 9 April 2013.

    Sekilas bagaimana berdirinya ISIS

    Setelah terjadinya perperangan di Suriah pada tahun 2011 antara tentara Basyar Asad dengan pasukan penentang penguasa, sebagian kelompok-kelompok mujahidin di Iraq ikut bergabung membantu pasukan penentang penguasa. Pada awal tahun 2014 pasukan penentang penguasa berhasil menguasai sebagian besar dari wilayah suriah, terutama perbatasan antara Suriah dan Iraq. Di antara pasukan yang membantu perjuangan Rakyat Suriah melawan pemerintahan Basyar Asad adalah pasukan Jabhah Nusroh yang merupakan pewakilan Al Qoidah untuk wilayah Syam di bawah pimpinan Abu Muhammad Al Faatih dan lebih popular dengan panggilan Al Jauwlaany. Diantara tokoh-tokoh Al Qoidah yang loyal dengan pasukan Jabhah Nusroh adalah Aiman Zawahiri, Abu Qotadah Palestini dan Abu Muhammad Maqdisi.

    Pada tanggal 9 April 2013 Abu Bakar bagdadi mengumumkan melalui sebuah rekaman bahwa pasukan Jabhah Nusroh adalah bagian dari Negara Islam Iraq. Dan ia mengganti penyebutan Jabhah Nusroh dengan nama Negara Islam Iraq dan Syam (ISIS). Selang beberapa hari setelah itu Abu Muhammad Al Jaulaany sebagai pimpinan Jabhah Nusroh menjawab pernyataan Abu Bakar Bagdadi dalam sebuah rekaman pula. Dalam rekaman tersebut ia menjelaskan tentang hubungan antara Negara Islam Iraq dengan Jabhah Nusroh. Kemudian ia menyatakan penolakan keinginan Abu bakar Bagdadi untuk menggabungkan Jabhah Nusroh kedalam Negara Islam Iraq yang dipimpin Bagdadi. Setelah itu ia manyatakan pembai’atannya terhadap pasukan Al Qoidah di Afganistan. Selang beberapa hari setelah itu pimpinan Al Qoidah yang lainnya mendukung pernyataan penolakan terhadap pernyataan Abu Bakar Bagdadi. Secara tegas Aiman Zawahiri sekitar bulan November 2013 menyatakan bahwa ISIS bukan bagian dari Al Qoedah dan Al Qoidah berlepas diri dari ISIS yang kejam dan bengis terhadap sesama muslim. Bahkan para tokoh Al Qoedah di berbagai Negara menyebut bahwa ISIS adalah kaum Khawarij kotemporer karena sangat eksrim terhadap muslim di luar kelompok mereka, dengan sebutan murtad. Mereka melakukan aksi-aksi kekerasan yang sangat naif terhadap rakyat sipil dan pasukan mujahidin lain, baik di Iraq maupun di suriah.

    Pada awalnya Abu Bakar Bagdadi hanya ditugaskan untuk pembebasan Iraq, adapun Suriah sudah dibawah kendali pimpinan Al Qoidah Syam. Alasan lain adalah akan terjadinya kekacauan antara sesama kelompokmu.

    Mujahidin yang sedang berjihad dilapangan tempur bila ada pengleman pendirian Negara, karena hal ini perlu dibicarakan dengan seluruh elemen yang berjuang dalam pembebasan Suriah. Dari saat itu mulailah terjadi gesekan antara ISIS dengan pasukan-pasukan lain yang sedang berjuang melawan pasukan Basyar Asad di Suriah. Hari demi hari ISIS semakin menunjukkan kebiadabannya baik terhadap mujahidin lain yang diluar pasukan mereka maupun terhadap rakyat sipil yang tidak berdosa. Mereka meledakkan pos-pos mujahidin dan tempat-tempat pengunsian sipil dengan bom mobil.

    Bahkan mereka menghadang konvoi bantuan makanan dan kesehatan di tengah perjalanan yang disalurkan oleh relawan kemanusian dari berbagai Negara muslim di dunia untuk rakyat suriah yang sedang berada di pengungsian. Lalu bantuan bahan makanan dan kesehatan tersebut mereka rampas, bahkan sebahagian dari tim relawan yang membawa natuan tersebut ada yang mereka siksa atau mereka bunuh.
    Pada tgl 29 Juni 2014 juru bicara ISIS memaklumatkan Abu Bakar Bagdadi sebagai Kholifah Muslimin dan penyebutan Negara dirubah dari ISIS menjadi Negara Islam. Dari sinilah ISIS melihat setiap orang yang enggan untuk membai’at Abu Bakar Bagdadi adalah kafir karena telah menetang penegakan Negara Islam dan penerapan syariat Islam. Dan mereka melihat memerangi dan membunuh kaum murtad didahulukan dari memerangi orang kafir asli. Sehingga tidak sedikit kaum muslimin yang mereka bunuh, baik dari kalangan mujahidin, maupun rakyat sipil dari wanita dan anak-anak dengan cara yang amat keji dan kejam. Perbuatan biadab tersebut mereka sebarkan melalui internet. Tujuan mereka memperlihatkan kekejian tersebut adalah sebagai ancaman dan untuk membuat ketakutan bagi orang yang enggan menerima keputusan mereka. Semenjak diprolamirkan berdirinya ISIS, semenjak itu pula terjadi pembunuhan dan pembantaian terhadap sesama muslim dan terhadap jiwa-jiwa tidak berdosa baik di Iraq maupun di Suriah.

    Simak video tentang ISIS oleh beberapa ustadz dan masyaikh pada Tanya Jawab, Sejarah, Realita dan Sepak Terjang ISIS Dalam Pandangan Islam

    Kesesatan Ideologi ISIS

    Berikut ini kita sebutkan beberapa kesesatan ISIS yang paling fatal dan persis sama dengan sifat-siafat Khawarij yang dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi, diantara adalah:

    Pertama: Mengklaim bahwa pimpinan mereka adalah sebagai Khalifah yang wajib dibai’at dan dita’ati oleh setiap muslim.

    Semenjak kemunculan khawarij dalam sejarah Islam mereka selalu mengklem bahwa pemimpin mereka adalah pemimpin yang sah dan mutlak untuk ditaati. Karena menurut mereka seorang pemimpin harus terlepas dari dosa-dosa besar. Bila seorang pemimpin terjatuh kedalam dosa besar maka menurut mereka pemimpin tersebut wajib diganti. Bahkan harus dibunuh karena ia telah kafir dengan dosa tersebut, kecuali taubat dan menyatakan keislamannya kembali. Oleh sebab itu sejak dulu Negara Khawarij tidak pernah stabil dan bertahan lama. Selama pemimpin mereka manusia, maka ia sangat berpeluang untuk jatuh kedalam dosa. Sangat sulit dan tidak akan pernah ada pemimpin yang bebas dari dosa.

    Pengklaiman seorang penguasa tentang dirinya sebagai Khalifah umat Islam sudah sering terjadi dalam sepanjang sejarah umat Islam setelah umat Islam mengalami kemunduran dalam kekuatan politik semenjak masa Dinasti Umawiyah, Abasiyah sampai Dinasti Utsmaniyah. Bahkan tidak sedikit pula diantara mereka yang mengaku sebagai Imam Mahdi akhir zaman. Terakhir peristiwa pengkleman tesebut dilakukan oleh kelompok Juhayman di kota Makkah pada tahun 1979 . Peristiwa-peristiwa tersebut telah memakan korban yang cukup banyak dari kalangan kaum muslimin. Hal yang melatar belakangi peristiwa-peristiwa serupa biasanya dimulai dari proses dalam pembelajaran agama yang jauh dari bimbingan para ulama. Terutama dalam memahami dalil-dalil yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di akhir zaman. Kemudian ditambah lagi oleh kondisi umat yang memprihatinkan, membuat sebagian orang ingin menjadi pahlawan di siang bolong. Dan sebab yang lebih dominan adalah kecintaan terhadap kekuasaan, sebagian orang ada yang menjadikan argumentasi agama demi mencapai tujuan hawa nafsunya. Maka Abu Bakar Bagdady bukanlah orang pertama yang mengaku dirinya sebagai Khalifah dalam sejarah Islam. Bahkan di antara mereka yang mengaku sebagai Khalifah terdapat orang jauh lebih baik kepribadiannya dari Abu Bakar Bagdadi. Akan tetapi pengakuan mereka tersebut berlaku pada wilayah yang mereka kuasai semata. Disebut khalifah karena ia pengganti penguasa sebelumnya, bukan dalam artian khalifah sebagai penguasa umat Islam di seluruh penjuru dunia .
    Maka khalifah dalam pengertian tersebut, bisa disamakan pada setiap pemimpin muslim yang memimpin kaum muslimin di wilayah Negara manapun.

    Dijelaskan oleh Syeikh Muhamad Mubarakfuri bahwa pada abad ke 5H banyak sekali penguasa yang menyebut dirinya khalifah. Di Andalus ada lima orang, masing-masing menyebut dirinya khalifah dan termasuk pula penguasa Mesir dan Dinasti Abasiyah di Bagdad, sampai yang mengaku khalifah di berbagai penjuru dunia dari kalangan Alawiyah dan khawarij. Hal inilah yang dimaksud oleh sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam: “Akan terdapat khalifah-khalifah yang terlalu banyak” . (HR. Muslim).

    Hal yang senada juga dijelaskan imam Nawawi dalam kitabnya “Syarah Shohih Muslim” .

    Adapun Khilafah dalam artian melindungi segenap umat Islam di seluruh pelosok sedunia, telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bahwa pemerintahan yang berbentuk kekhalifahan seperti ini hanya berlangsung selama 30 tahun setelah beliau wafat. Kemudian setelah itu bentuk pemerintahan akan berubah menjadi kerajaan.

    Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda:

    «الخلافة في أمتي ثلاثون سنة ثم ملك بعد ذلك». رواه الترمذي وصححه الألباني.

    “Kekhilafahan di tengah umatku selama tiga puluh tahun, kemudian setelah kerajaan” .

    Kedua: Mengkafirkan setiap muslim yang tidak mau membai’at khalifah mereka.

    Salah satu dari kebiasaan orang-orang khawarij sejak dulu kala adalah kegemaran mereka dalam mengkafirkan orang muslim yang tidak mau menerima pandangan dan pendapat mereka. Jika duhulu mereka berani mengkafirkan seperti Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu sahabat yang mulia dan dijamin masuk surga oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam, bagaimana dengan pemimpin setelahnya atau pemimpin-pemimpin yang ada saat ini? Jika zaman sekarang mereka berani mengkafirkan Syeikh Bin Baz bagaimana dengan ulama yang lainnya?

    Sesuai dengan berbagai informasi yang kita peroleh dari berbagai sumber, pasukan ISIS sangat mudah mengobral ponis kafir terhadap muslim yang di luar kelompok mereka.

    Rasul kita Muhammad shalallahu’alaihi wassalam telah memperingatkan umatnya dari jauh-jauh hari agar mereka tidak bermudah-mudah dalam memponis murtad atau kafir antara sesama mereka. Dimana bila seorang muslim dituduh kafir oleh sorang muslim lain, maka ucapan tersebut melekat pada salah seorang mereka. Bila yang dituduh tidak demikian adanya, maka ucapan tersebut kembali kepada orang yang menuduh kafir.

    «إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا». رواه البخاري ومسلم.

    “Apabila seseorang mengkafirkan saudaranya maka sungguh salah seorang dari keduanya telah terkena kalimat tersebut” .
    Dalam riwayat lain berbunyi:

    « أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لأَخِيهِ يَا كَافِرُ. فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ ».

    “Siapaun yang berkata kepada saudaranya: Hai kafir! maka sungguh salah seorang dari keduanya telah terkena kalimat tersebut, jika adanya seperti ia ucapkan, dan jika tidak maka ucapan tersebut kembali kepada yang mengucapkannya” .

    Ketiga: Menghalalkan darah setiap orang yang tidak mau membai’at khilafah mereka.

    Diantara kesesatan khawarij dari sejak dulu kala dengan menghalalkan darah orang yang di luar kelompok mereka. Bahkan sesama kelompok khawarij sekalipun dengan alasan yang sangat sepele mereka dengan mudah melakukan pembunuhan. Meskipun orang yang akan mereka eksekusi nyata-nyata mengucapakan dua kalimat syahadat di hadapan mereka secara jelas, akan tetapi mereka tetap menyiksa dan membunuhnya dengan cara sadis dan kejam. Bahkan mereka meledakkan masjid yang dipenuhi oleh jamaah menunaikan sholat jum’at.
    Dalam dokrin ISIS memerangi muslim yang di luar kelompok mereka yang mereka sebut sebagai orang yang murtad lebih utama untuk dibunuh dan diperangi sebelum memerangi orang-orang kafir asli.

    Lihatlah bagaimana yang dilakukan oleh pendahulu mereka terhadap seorang sahabat nabi yang bernama Abdullah bin Khabbaab, mereka membunuhnya dan membelah perut isterinya sedang hamil di hadapannya.

    Sesuai dengan informasi yang kita dapatkan dari orang yang langsung menyasikan kekejam ISIS, sungguh perbuatan mereka jauh lebih keji, lebih kejam, lebih sadis dan lebih hina dari khawarij-khawarij yang terdahulu.

    Bahkan mereka melakukan pembunuhan secara membabi buta, tanpa memperdulikan orang baik atau bukan, orang yang diberi jaminan keamanan atau bukan.

    Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda:

    «مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلاَ يَتَحَاشَ مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلاَ يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّى وَلَسْتُ مِنْهُ». رواه مسلم

    “Barangsiapa yang meninggalkan ketaatan kepada pemimpin dan keluar dari jama’ah (persatuan)! Lalu ia mati, maka ia mati dalam kejahilian. Barangsiapa yang berperang di bawah bendera kesesatan, ia marah demi kelompok tertentu atau karena mengajak kepada kelompok tertentu, atau karena mendukungnya! Lalu ia terbunuh, maka ia terbunuh dalam kajahilian. Barangsiapa yang memberontak atas umatku, ia membunuh orang baik maupun yang jahat, dan tidak memperdulikan orang beriman sekalipun, demikian pula tidak menepati janji bagi orang yang diberi perjanjian! Maka ia tidak termasuk bagian dariku dan aku tidak termasuk bagian darinya” . (HR. Muslim).
    Berkata Imam Bukhari: Oleh sebab itu Ibnu Umar memandang mereka adalah seburuk-buruk makhluk, karena mereka mengambil ayat-ayat yang turun tentang orang kafir lalu mereka menjadikannya untuk orang-orang mukmin .

    Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam senantiasa memberikan nasehat kepada pasukan yang beliau utus untuk sebuah perperangan agar tidak membunuh anak-anak:

    «اغْزُوا بِاسْمِ اللَّهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ اغْزُوا وَلاَ تَغُلُّوا وَلاَ تَغْدِرُوا وَلاَ تَمْثُلُوا وَلاَ تَقْتُلُوا وَلِيدًا» رواه مسلم.

    “Berperanglah di jalan Allah dengan menyebut nama Allah! perangi orang yang kafir kepada Allah! Jangan berbuat curang! jangan mengambil harta rampasan perang sebelum pembagian! Jangan lakukan penyiksaan! Dan jangan kalian bunuh anak-anak!” .
    Dalam sebuah perperangan Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam mendapatkan kabar ada anak-anak kecil yang terbunuh, lalu beliau bersabda:

    ((مَا بَالُ أَقْوَامٍ جَاوَزَهُمُ الْقَتْلُ الْيَوْمَ حَتَّى قَتَلُوا الذُّرِّيَّةَ]، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا هُمْ أَوْلاَدُ الْمُشْرِكِينَ، فَقَالَ: “أَلاَ إِنَّ خِيَارَكُمْ أَبْنَاءُ الْمُشْرِكِينَ ثُمَّ قَالَ: “أَلاَ لاَ تَقْتُلُوا ذُرِّيَّةً أَلاَ لاَ تَقْتُلُوا ذُرِّيَّةً)). رواه أحمد وصححه الألباني.

    “Apa gerangan ada kaum pada hari ini melampoi batas dalam membunuh sehingga ada yang membunuh anak-anak. Lalu seseorang berkata: Ya Rasulullah! Mereka tersebut anak-anak orang musyrikin. Beliau menjawab: Bukahkah orang yang terbaik diantara kalian hari ini adalah anak-anak orang musyrikin? Kemudian beliau bersbada: “Ketahuilah, Jangan kalian membunuh anak-anak! Ketahuilah jangan kalian membunuh anak-anak” .

    Dalam aksinya orang-orang ISIS tidak segan-segan meledakan masjid yang dipenuhi oleh jama’ah sedang menunaikan sholat Jum’at. Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam melarang melakukan penyerangan terhadap perkampungan yang ada masjid di dalamnya atau terdengar suara azan dari kampung tersebut.

    «إِذَا رَأَيْتُمْ مَسْجِدًا أَوْ سَمِعْتُمْ مُؤَذِّنًا فَلاَ تَقْتُلُوا أَحَدًا». رواه أبو داود وصححه الألباني

    “Apabila kalian melihat masjid atau mendengar suara Muadzin maka jangan kalian membunuh seorangpun” .

    Kalau kita perhatikan di masa kekhalifahan Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu ada sebagian kaum muslimin yang tidak mau membai’at beliau. Akan tetapi beliau tidak pernah mengkafirkan apalagi membunuh mereka. Bahkan orang-orang khawarij yang mengkafirkan dan menentang beliau tidak beliau kafirkan. Meskipun beliau pada akhirnya meninggal karena dibunuh oleh seorang khawarij yang bernama Ibnu Muljam.

    Jika Amirul mukminin Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu tidak mau melakukan pemaksaan terhadap orang yang tidak mau membai’at beliau. Lalu apakah Abu Bakar Bagdadi layak untuk memaksa agar orang harus membai’atnya? Tidakkah ia merasa malu terhadap dirinya sendiri.

    Keempat: Mewajibkan setiap muslim untuk membatalkan bait’at mereka kepada pemimpin Negara mereka masing-masing.

    Hal ini sangat berpontesi menjadikan kaum muslimin untuk dicurigai dan dimata-matai oleh pemerintah mereka, bahkan menyebabkan sebagian mereka ditangkap dan dihukum. Namun apakah mereka mendapat pembelaan dari orang-orang ISIS di sana? Apakah ISIS tahu tentang keadaan mereka dan dapat berbuat sesuatu untuk mereka?

    Bahkan yang lebih fatal lagi dari itu semua, hal ini akan memancing terjadinya pemberontakan dan pembunuhan di banyak Negara muslim. Perbuatan mereka jelas-jelas sangat menentang dalil-dalil agama. Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam telah memperingatkan umat terhadap kondisi ini dalam sabdanya:

    «وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ فَتَكْثُرُ». قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ «فُوا بِبَيْعَةِ الأَوَّلِ فَالأَوَّلِ وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ». رواه البخاري ومسلم.

    “Akan terdapat khalifah-khalifah yang terlalu banyak”, para sahabat bertanya: apa perintahmu untuk kami? Jawab Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam: “Penuhi bai’at yang pertama terlebih dahulu dan berikan hak mereka, sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka terhadap apa yang Allah tugaskan kepada mereka” .

    Hadits ini menegaskan kepada kaum muslimin dalam kondisi banyaknya orang mengaku dirinya sebagai kholifah untuk tetap taat dan setia terhadap pemimpin mereka yang pertama.

    Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam telah memperingatkan umat Islam tentang bagaimana menyikapi orang yang memecah bela persatuan kaum muslimin. Berkata ‘Arfajah: aku mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda:

    «إِنَّهُ سَتَكُونُ هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ الأُمَّةِ وَهْىَ جَمِيعٌ فَاضْرِبُوهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ».

    “Sesungguhnya akan terjadi kekacauan dan kekacauan, Barangsiapa yang ingin memecah bela persatuan umat ini sedangkan mereka bersatu (dibawah pemimpin), maka hendaklah kalian penggal leher orang tersebut dengan pedang siapapun orangnya” .

    Hadits ini memberikan ketegasan untuk menjaga persatuan di bawah penguasa yang resmi. Dan kita wajib melakukan penolakan terhadap setiap orang yang berusaha memecah bela antara kaum muslimin dengan pemimpin mereka.

    Kelima: Kebodohan mereka tentang ajaran agama terutama perkara yang berkaitan jihad dan khilafah.

    Maka sifat-sifat mereka persis sama dengan sifat orang-orang Khawarij yang yang telah digambarkan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam dalam sunnahnya. Oleh sebab itu tidak ada perbedaan pendapat di tengah para ulama Ahlussunnah untuk menyebut mereka sebagai Khawarij kontemporer. Bahkan tokoh-tokoh dari kalangan kelompok Al Qoidah sendiri menyebut ISIS sebagai kelompok Khawarij yang paling eksrim dalam sejarah.

    Berbagai sepak terjang yang dilakukan oleh ISIS terhadap kaum muslimin di luar kelompok mereka. Seperti penyembelihan dan pembunuhan yang mereka lakukan terhadap orang-orang muslim dan nyawa-nyawa yang tidak berdosa adalah bukti kejahilan mereka dengan ajaran agama yang mulia ini. Terlebih-lebih lagi bila kita mendengarkan berbagai alasan mereka dalam melakukan tindakan biadap tersebut. mereka benar-benar persis dengan sifat khawarij yang terdapat dalam hadits-hadits berikut ini.

    عن يسير بن عمرو قال قلت لسهل بن حنيف: هل سمعت النبي shalallahu’alaihi wassalam يقول في الخوارج شيئا؟ قال سمعته يقول وأهوى بيده قبل العراق ((يخرج منه قوم يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الإسلام مروق السهم من الرمية)). رواه البخاري.

    Yasir bin Amru bertanya kepada Sahal bin Hanif: Apakah kamu pernah mendengar Nabi shalallahu’alaihi wassalam berbicara tentangKhawarij? Jawab Sahal: Aku mendengar beliau bersabda sambil menunjuk dengan tangannya ke arah Bagdad. “Akan keluar dari daerah sana sekelompok kaum yang gemar membaca Al qur’an akan tetapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama Islam seperti keluarnya anak panah dari busurnya” .

    Para ulama menerangkan maksud dari kata-kata “gemar membaca Al qur’an akan tetapi tidak melewati kerongkongan mereka” mereka tidak memahami tentang apa yang mereka baca dan bacaan tersebut tidak memperbaiki keyakinan mereka, karena isi bacaan mereka tersebut tidak masuk kedalam hati mereka dalam bentuk ilmu. Tentu hal ini yang menyebabkan mereka bodoh tentang ajaran agama. Bahkan digambarkan kecepatan mereka keluar dari agama bagaikan secepat anak panah dari busurnya.

    Dalam hadits yang lain diperjelas lagi tentang gambaran kebodohan mereka. Berkata Ali bin Abi tholib radhiallahu ‘anhu aku mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda:

    «سَيَخْرُجُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ». متفق عليه.

    “Akan keluar di akhir zaman sekelopok orang, berusia muda, berpikiran dungu. Mereka mengatakan sebaik-baik ucapan manusia. Mereka gemar membaca Al qur’an akan tetapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama Islam seperti keluarnya anak panah dari busurnya” .

    Dalam melakukan berbagai aksinya orang-orang khawarij menggunakan simbol-simbol agama dan merasa membela agama Allah. Tetapi tanpa mereka sadari, pada hakikatnya mereka merobohkan agama Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam tentang mereka:

    «سَيَكُونُ فِى أُمَّتِى اخْتِلاَفٌ وَفُرْقَةٌ قَوْمٌ يُحْسِنُونَ الْقِيلَ وَيُسِيئُونَ الْفِعْلَ -إلى أن قال- يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ». رواه أبو داوه وصححه الأباني

    “Akan terjadi di tengah-tengah umatku perselisihan dan perpecahan, sekelompok kaum yang indah dalam ungkapan namun buruk dalam perbuatan”. (sampai pada ungkapan beliau): “Mereka mengajak kepada kitab Allah,tetapi mereka tidak termasuk kedalamnya sedikitpun. Orang yang menetang mereka lebih baik di sisi Allah dari pada mereka” .

    Dalam lafazh yang lain berbunyi:

    «يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ ».

    “Mereka membaca Al Qur’an, hal itu mereka kira (hujjah) bagi mereka namun sesungguhnya hal itu (hujjah) di atas mereka” .

    Tingkatan Khawarij dalam pengkafiran dan pembunuhan:

    1. Mengkafirkan Pejabat Tinggi Negara saja.
    2. Mengkafirkan Pejabat Tinggi dan Pasukan Kemanan yang menangulangi teroris.
    3. Mengkafirkan Pejabat Tinggi dan seluruh Pasukan Keamanan Negara.
    4. Mengkafirkan penguasa secara mutlak dan para ulama yang loyal kepada mereka
    5. Mengkafirkan penguasa secara mutlak dan setiap orang yang loyal kepada mereka.
    6. Mengkafirkan penguasa dan rakyat secara mutlak,tetapi mereka tidak menjadikan rakyat sipil sebagai sasaran pembunuhan.
    7. Mengkafirkan penguasa dan rakyat secara mutlak, sekaligus menjadikan rakyat sipil sebagai sasaran pembunuhan yang berada di lokasi perlawanan mereka.
    8. Mengkafirkan penguasa dan rakyat secara mutlak dan membunuh setiap pribadi yang diluar kelompok mereka, kecuali wanita dan anak-anak.
    9. Mengkafirkan penguasa dan rakyat secara mutlak dan membunuh dengan sadis setiap pribadi yang diluar kelompok mereka sekalipun orang tua renta, wanita dan anak-anak kapan dan dimanapun mereka berada.
    Dalam tingkatan Khawarij melakukan pengkafiran dan pembunuhan sebagaimana yang terdapat dalam uraian di atas, maka ISIS menempati urutan terakhir yaitu tingkat yang paling eksrim dalam pengkafiran dan paling sadis dalam pembunuhan.

    Kesimpulan

    • ISIS adalah pecahan dari kelompok Al Qoidah, yang jauh lebih eksrim dan sadis dalam melakukan pembunuhan dari kelompk Al Qoidah lainnya.
    • Mereka lebih tepat untuk disebut sebagai Khawarij kontemporer yang harus dicegah dan diantipasi perkembangannya.
    • ISIS adalah kelompok yang menyimpang dari ajaran Islam baik secara dokrin maupun prilaku.
    • Segala sikap dan prilaku mereka tidak boleh disandarkan kepada Islam, apalagi dikatakan sebagai ajaran Islam.
    • Setiap muslim hendaknya melakukan kewaspadaan diri dan keluarga mereka dari pengaruh dorin dan gerakan ISIS.

    Penutup

    Demikian sekilas tentang hakikat Negara ISIS, berikuti ini berberapa sumber yang bisa dirujuk dalam pembahasan ini:

    - http://www.alalam.ir/news/1552479
    - http://www.ahraralsham.com/?p=2941
    - http://www.dawaalhag.com/?p=8114
    - http://justpaste.it/dls1
    - http://justpaste.it/dlai
    - http://halabnews.com/news/36562
    - http://halabnews.com/news/36822
    - http://halabnews.com/news/39875
    - http://halabnews.com/news/42816
    - http://halabnews.com/news/44617
    - http://youtube.com/user/sada1altwed
    - http://www.youtube.com/watch?v=x4Cx3khjyu0
    - http://www.youtube.com/watch?v=p4F0xV529Ps
    - https://www.youtube.com/watch?v=ZtwhsBDbj7I
    - https://www.youtube.com/watch?v=38G_pkidJBo
    - https://www.youtube.com/watch?v=uSeccbk0O60
    - https://www.youtube.com/watch?v=PLH5AmP4gRY
    - https://www.youtube.com/watch?v=87OkMlChTQ4

     Oleh: Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA.
     Sumber:  http://dzikra.com/isis-dalam-tinjauan-ahlussunnah/

    Biarkan Mereka ke Bulan, Mari Kita ke Surga

    Biarkan Mereka ke Bulan, Mari Kita ke Surga

    Segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah bagi Muhammad Rasulillah, para sahabat dan pengikutnya.

    Kerap dalam beberapa diskusi religi, nyata maupun maya, kita mendengar atau membaca dialog seperti ini:

    A: Jadi akhi, berdasarkan dalil-dalil tersebut, para Ulama menyimpulkan bahwa memelihara jenggot hukumnya adalah wajib dan memangkasnya adakah haram. Begitu akh…

    B: Tapi Ulama lain ada yang membolehkan Akh… Syaikh Fulan pun potong jenggot…

    C: Sudahlah, orang kafir sudah sampai ke bulan, kita masih sibuk debat soal jenggot.

    Dialog seperti ini kerap muncul dalam diskusi/debat masalah keagamaan lainnya, seperti masalah hukum isbal[1] dan memelihara jenggot, jambang dan rambut di wajah bagi laki-laki, hukum musik dan sebagainya yang memang masih sering diperdebatkan oleh sebagian kalangan kaum muslimin. Yang menarik perhatian dari dialog tersebut dan menjadi topik bahasan dalam tulisan ini adalah perkataan pihak ketiga (C): “…sudahlah, orang kafir sudah sampai ke bulan, kita masih sibuk debat soal jenggot (isbal, dst…)“.

    Saudaraku sekalian yang dirahmati Allah, mari kita cermati dengan baik perkataan di atas berdasarkan timbangan metodologi ilmiah dalam Islam.

    Ke Bulan, Kedudukannya dalam Islam

    Islam mendorong kita untuk menuntut ilmu-ilmu yang bermanfaat. Para ulama[2] mengatakan, bahwa ilmu (yang Islam memotivasi untuk mempelajarinya -pen), terbagi menjadi dua:
    1. ilmu yang hukum mempelajarinya adalah fardhu ‘ain (wajib dipelajari oleh setiap individu muslim dan ia tidak boleh bodoh dalam ilmu ini –pen), karena setiap muslim memerlukan ilmu tersebut dalam masalah agama, akhirat dan muamalahnya;
      Contoh ilmu yang fardhu ‘ain antara lain: ilmu akidah dan tauhid, juga ilmu tentang tata cara wudhu dan shalat yang benar. Setiap orang wajib mempelajari hal-hal tersebut. Karena ia tidak akan bisa berwudhu dan mengerjakan shalat dengan benar selain dengan mempelajari hal-hal mengenai hal tersebut[3].
    2. ilmu yang hukum mempelajarinya fardhu kifayah, yaitu ilmu tambahan yang faedah mempelajarinya dibutuhkan orang banyak, walau tidak begitu mendesak bagi individu tertentu, sehingga jika sudah ada sejumlah orang yang mempelajarinya dan jumlahnya telah mencukupi kebutuhan, maka gugurlah kewajiban mempelajarinya bagi yang lainnya.
      Contoh ilmu yang fardhu kifayah antara lain: ilmu kedokteran, ilmu perekonomian, ilmu pengelolaan air bersih dan energi (listrik, bahan bakar) dan sebagainya, yang memang faedah mempelajarinya dibutuhkan untuk kemashlahatan orang banyak.

    Berdasarkan pembahasan tentang dua ilmu di atas, yang mempelajarinya memang diperintahkan dalam syari’at, lalu masuk dalam kategori manakah ilmu tentang cara mendarat di bulan? Yang pasti bukan fardhu ‘ain karena ilmu ini bukan penunjang agama, akhirat dan muamalah seorang muslim, bukan pula ilmu yang belajar dan pengamalannya akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Kalau dikatakan fardhu kifayah, maka pendapat ini lemah dalam sisi urgensi, karena hidup manusia dapat terus berlangsung walau tidak ada yang pernah ke bulan. Bahkan, ke bulan dalam realitanya tidak lebih dari sekedar pertunjukkan kebanggaan negara kafir untuk mengkerdilkan kita (kaum muslimin) dan membuat kita selalu merasa ‘tertinggal’ atau ‘terbelakang’, lantas berupaya mengejar mereka hingga akhirnya kita melupakan kewajiban menuntut ilmu agama.

    Sementara, bagaimanakah kedudukan pembahasan masalah halal haram atau wajib tidaknya sesuatu dalam Islam, seperti halal haram memotong jenggot dan isbal untuk laki-laki, halal haram musik dan seterusnya, meskipun dianggap remeh bagi sebagian kaum muslimin?

    Merujuk pada definisi dua ilmu yang telah lewat, maka ilmu tentang masalah-masalah di atas termasuk kategori ilmu yang fardhu ‘ain (walau tingkat kewajibannya bisa jadi berbeda antara laki-laki dan perempuan). Hal ini dikarenakan masalah-masalah tersebut menjadi bahasan penting bagi Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para sahabat dan para ulama (salafush sholih) setelah mereka. Benar salahnya penyikapan kita terhadap masalah di atas akan menunjang baik dan tidaknya agama, akhirat dan muamalah kita. Terlebih lagi, berbagai dalil Al-Qur’an dan hadits seputar masalah haramnya memotong jenggot dan isbal bagi laki-laki, haramnya musik dan sebagainya, kebanyakan mengandung ancaman neraka bagi pelanggarnya. Ini menunjukkan bahwa Islam menganggap penting masalah yang oleh sebagian kita dianggap tidak lebih penting daripada pencapaian orang kafir ke bulan. Yah, kecuali dalil-dalil tersebut tidak lagi penting dalam kehidupan kita di dunia.

    Kalau begitu, pantaskah “ke bulan” yang bukan ilmu yang didorong Islam untuk mempelajarinya, dianggap lebih urgent daripada ilmu tentang jenggot, isbal, musik, yang merupakan ilmu yang fardhu ‘ain? Seremeh itukah ancaman neraka pada berbagai dalil yang Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebutkan tentang masalah-masalah tersebut untuk, ya sudahlah, tidak usah kita bahas dan sebaiknya ditinggalkan saja karena orang kafir sudah ke bulan, kita masih sibuk berdebat masalah itu?

    Ke Bulan, Kedudukannya Bagi Orang Kafir

    10 tahun lalu penulis pernah melihat di siaran salah satu TV nasional, film sains dokumenter yang dibuat oleh ilmuwan akademisi di US, yang membantah kebohongan klaim NASA bahwa mereka pernah mengirimkan manusia ke bulan. Dengan berbagai eksperimen dan analisis, baik terhadap kondisi alam untuk mencapai bulan, maupun terhadap video pendaratan ke bulan yang selama ini diklaim oleh NASA, mereka menyimpulkan bahwa sampainya NASA ke bulan hanya bohong belaka.

    Kami melihat bahwa jargon “ke bulan” hanya sekedar kebanggaan orang kafir untuk membuat kaum muslimin ‘minder’, hingga akhirnya sibuk mengejar ‘prestasi ke bulan’ dan melupakan urgensi mempelajari agama Islam?

    Allah Ta’ala berfirman,

    وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُم

    Orang-orang Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak akan rela kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al Baqarah: 120)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah bersabda,

    ]لَتَتّبِعُنّ سَنَنَ الّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ. شِبْراً بِشِبْرٍ، وَذِرَاعاً بِذِرَاعٍ. حَتّىَ لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبَ لاَتّبَعْتُمُوهُمْ” قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللّهِ آلْيَهُودُ وَالنّصَارَىَ؟ قَالَ “فَمَنْ؟”[

    "Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai bila mereka masuk ke liang dhabb (sejenis biawak padang pasir), niscaya kalian pun akan mengikuti mereka.” Kami berkata: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Kalau bukan mereka lalu siapa lagi?” (HR. Bukhari no. 3456 dan Muslim no. 2669, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

    Teman, mari bertanya, apakah kita pernah merasakan faedah nyata dari ‘orang kafir bisa ke bulan’? Apakah Anda yakin bahwa mereka yang berhasil ke bulan –seandainya nyata– akan tanpa pamrih membagi manfaatnya pada kita? Atau sebenarnya kita hanya dibuat merasa perlu mengejar jalan mereka?

    Seandainya pun nyata, lebih berhargakah 'ke bulan' daripada mempelajari tauhid, shalat, perhitungan dan pembagian zakat dan warisan, puasa dan haji beserta masalah nawazilnya (masalah terkini), hukum seputar jual beli, bentuk-bentuk riba, muamalat kontemporer, dan cabang ilmu agama lainnya, seperti halal haram memotong jenggot dan isbal bagi laki-laki, halal haram musik, hingga layak dikatakan, "…sudahlah, itu tidak usah dibahas. Orang kafir sudah ke bulan, kita masih sibuk berdebat masalah itu"?

    Akhirnya kami perlu mengatakan, toh kebanggaan kaum kafir semuanya akan berakhir kala datang hari kiamat.

    Ke Bulan, Kedudukannya Bagi Si Penengah

    Kami bersangka baik, bahwa bisa jadi si penengah dalam dialog yang kami ungkap di awal tulisan ini, hanya 'sekedar mencari contoh' kemajuan orang kafir yang belum bisa dicapai umat Islam –artinya tidak terbatas tentang ke bulan saja–, dan ia hanya 'sekedar ingin mengingatkan' agar kita tidak sibuk membahas masalah agama hingga melupakan ketertinggalan mereka dari orang kuffar.

    Namun yang perlu disadari, syubhat yang timbul dari slogan "ke bulan" ini, manakala terpatri di benak sebagian orang, membentuk mindset bahwa mempelajari ilmu duniawi, seperti membuat inovasi baru dalam teknologi, di zaman ini lebih penting daripada mempelajari agama yang toh, topiknya bagi sebagian orang remeh pula, seperti masalah jenggot, isbal dan sebagainya.

    Allahul musta'an, ini pun menjadi fenomena nyata di kalangan kita, kaum muslimin. Banyak di antara kita yang menghabiskan umur untuk mempelajari sains dan teknologi, namun 'kosong' dalam ilmu agama. Banyak dari kita yang bergelar master, doktor, bahkan profesor, namun belum benar cara berwudhu dan shalatnya. Cabang-cabang ilmu tentang aqidah, ibadah, muamalah, terlebih lagi ilmu alatnya, seperti fawaid bahasa Arab, ilmu ushul fiqh, ilmu musthalah al-hadits, dan lainnya seakan hanya monopoli orang-orang yang mau 'jadi ustadz' dan tidak untuk scientist (ilmuwan). Ya, mungkin karena sebagian kita memang sibuk juga mengejar ‘sampai ke bulan’.

    Beragama yang Ilmiah

    Kebanyakan perkataan di atas kami temui pada kalangan kaum muslimin yang belum mampu berargumentasi ilmiah yang ditunjang dengan ilmu yang benar. Bisa jadi karena orangnya enggan mempelajarinya, dan bisa jadi karena belajar dengan/dari manhaj (metodologi beragama) yang memang tidak menekankan pemahaman terhadap ilmu-ilmu alat (bahasa Arab, qowa’id, ushul, dan lainnya) sehingga tidak mampu berargumentasi dengan hujjah yang kuat. Akhirnya, ‘ke bulan’ menjadi andalan untuk menghindari diskusi yang seharusnya bisa ilmiah.

    Dari sini, kami menghimbau kepada seluruh kaum muslimin, untuk bersungguh-sungguh menuntut ilmu agama dengan baik, dengan/dari manhaj yang lurus. Manhaj yang lurus adalah yang membawa kepada pemahaman agama yang benar ditunjang dengan ilmu-ilmu alatnya. Manhaj yang ketika berbicara suatu masalah agama, tidak lepas dari nukilan nash Al-Qur’an dan hadits.

    Terakhir, kami kutip perkataan yang baik, “Wahai para pemuda, jangan sia-siakan waktu Anda untuk terkesima dengan beragama dengan cara haroki. Terkesan indah namun tidak asli. Terkesan aktual dan popular namun tidak hakiki. Terkesan modern dan hebat namun tidak lestari. Seperti mainan anak-anak kecil di masanya, akan lenyap dengan cepat diganti oleh gaya dan trend yang lebih gokil dan terkini[4].”

    Fawaid


    1- Ilmu agama adalah bekal kebahagiaan bagi manusia dalam kehidupannya di dunia dan akhirat. Seremeh apapun topiknya bagi sebagian orang, mempelajarinya tetaplah merupakan kewajiban bagi umat Islam. Keutamaan dan pahala mempelajarinya tidak akan setara dibandingkan dengan ‘sekedar ke bulan’ ataupun ilmu sains lainnya.

    2- Jargon-jargon kemajuan kaum kafir kebanyakan hanya untuk mengkerdilkan kaum muslimin. Berusaha mengejar mereka dengan menghabiskan umur tanpa mempelajari agama tidaklah mendatangkan kemuliaan di sisi Allah ‘azza wa jalla.

    3- Kebaikan kaum muslimin tidaklah terletak pada kemajuan teknologi yang mampu mereka ciptakan. Kebaikan mereka terletak pada ilmu agama dan penerapannya dalam kehidupan hari-hari mereka, dengan mencontoh pengamalan generasi pendahulu mereka dalam Islam. Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata,

    لا يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ اْلأمَّةِ إِلا بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا

    Yang bisa memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini hanyalah hal yang telah berhasil memperbaiki keadaan genarasi awalnya”.[5]

    Semoga Allah menjadikan tulisan ini sebagai sarana dakwah yang ikhlas untuk agama-Nya dan menjadi nasehat yang dapat diterima oleh saudara-saudara kami yang membacanya.


    Penulis: Ustadz Muflih Safitra bin Muhammad Saad Aly

    Editor: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

    Artikel http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/biarkan-mereka-ke-bulan-mari-kita-ke-surga.html

    Catatan:


    [1] Menjulurkan pakaian/celana/sarung melebihi mata kaki

    [2] Di antaranya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di ketika menjelaskan Qoidah Fiqhiyyah kedua dalam kitab beliau Al-Qawa’id wal-Ushul al-Jami’ah wal-Furuq wat-Taqasim al-Badi’ah an-Nafi’ah (Majmu’ Muallafat Syaikh Al-’Allamah Abdurrahman as-Sa’di 7: 12, cetakan pertama, 1432 H (2011 M), Muassasah Al-Anood Al-Khairiyyah, Riyadh). Nuskhoh kitab ini beserta tahqiqnya oleh Dr. Khalid bin ‘Ali bin Muhammad al-Musyaiqih dapat didownload di link: http://www.islamhouse.com/p/205540.

    [3] Islam mendorong umatnya untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut, meskipun setiap orang berbeda tingkat kewajibannya sesuai kondisinya. Contohnya, seseorang yang akan naik haji tahun ini berkewajiban mempelajari manasik haji dengan tingkat kewajiban yang lebih tinggi daripada orang yang akan naik haji beberapa tahun lagi, dst.

    [4] Dari blog: http://andyoctavian.org/2012/10/29/kita-bisa-seperti-mereka-insyaa-allaah/.

    [5] Asy Syifa fi Huquuqil Musthofa 2/88, oleh Al Qadhi ‘Iyadh.


    Nama-Nama Dajjal Nabi Palsu Pendusta Dan Penyesat Agama

    Nama-Nama Dajjal Nabi Palsu Pendusta Dan Penyesat Agama

    Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi sebelum dibangkitkan para dajjal (pendusta) yang berjumlah sekitar tiga puluh orang. Semuanya mengklaim bahwa dirinya adalah Rasul (utusan) Allah”. (HR: Al-Bukhari dan Muslim).

    NABI PALSU SEBELUM ZAMAN ISLAM:

    • Zoroaster (Persia, 660-583 SM), kitab suci: Avesta. Mati terbunuh dalam perang melawan Bactria (Balkh).
    • Marcion (Roma, ± 144 M), pembentuk gereja Marcionite dan pemahaman Marcionisme .
    • Mani (Persia, ± 242 M), pendiri agama Manichaeisme (al-Maniwiyah). Mati dibunuh, dikuliti, dan kulitnya diisi jerami dan digantung oleh Bahram.
    • Daishan, pendiri aliran Daishaniyah yaitu suatu aliran ber-tuhan dua di Persia dari agama Majusi.
    • Mazdak (Persia, 487-523 M), pendiri aliran Mazdakiyah (Serba Boleh dan Semua Halal), kitab suci: Zanda. Mati dibunuh.

    NABI PALSU DI ZAMAN JAHILIYAH:

    • Amru bin Luhayyi, (dari Kabilah Khuza’ah), orang yang pertama kali merubah agama Nabi Ibrahim dan Ismail menjadi kemusyrikan dan penyembahan berhala.

    NABI PALSU DI MASA RASULULLAH SHALALLAHU ALAIHI WASALLAM:

    1. Al-Aswad al-Ansi (11 H/632 M) atau Abhalah bin Ka’ab bin Auf al-Ansi al-Madzhiji , seorang dukun dari Yaman. Mati dibunuh oleh Fairuz, kerabat istri al-Aswad
    2. Musailamah al-Kadzdzab (usia 150 tahun, mati tahun 12 H/633 M). Memiliki pasukan 40.000 orang. Mati dibunuh oleh Wahsyi dengan tombaknya pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

    NABI PALSU SETELAH MASA RASULULLAH SHALA-LAHU ALAIHI WASALLAM:

    • Sajah binti Al-Harits bin Suwaid bin Aqfan at-Tamimiyah dari Bani Yarbu (mati tahun 55 H/675 M). Seorang dukun wanita yang mengaku Nabi di zaman Abu Bakar ash-Shiddiq dan kemudian dinikahi oleh Musailamah al-Kadzdzab. Setelah Musailamah terbunuh, Sajah melarikan diri ke Irak kemudian masuk Islam dan mati dalam keadaan Islam.
    • Thulaihah al-Asadi (mati tahun 21 H/642 M). Masuk Islam tahun 9 H, kemudian murtad dan mengaku Nabi di Nejd pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq. Setelah Abu Bakar ash-Shiddiq wafat, Thulaihah bertaubat (masuk Islam) kemudian mati syahid dalam penaklukkan Persia.
    • Abdullah bin Muawiyah bin Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib. Sempalan Syiah yang meyakini reinkarnasi (kembalinya ruh orang yang sudah mati) dari satu orang ke orang lain. Dia mengaku Tuhan dan Nabi sekaligus.
    • Al-Mukhtar bin Abi Ubaid (Thaif, 622-687 M/67 H), pe-nganut Syiah yang mengaku Nabi dan mendapat wahyu. Dia adalah saudara iparnya Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu. Mati dibunuh oleh Mush’ab bin Az-Zubair di Harura.
    • Mirza Ali Mohammad (abad 19). Pendiri agama Babisme dan penganut Syiah, dihukum mati oleh pemerintah Iran tahun 1843.
    • Mirza Husein Ali. Pendiri agama Bahaisme (pengganti Babisme) dan penganut Syiah. Mengaku Nabi tahun 1862 dan mati tahun 1892, kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Abbas Efendy yang berpusat di Chicago.
    • Mirza Ghulam Ahmad (India 1835-1908). Pendiri agama Ahmadiyah. Kitab suci: Tadzkirah. Mati terkena wabah penyakit kolera.
    • Rashad Khalifa (Mesir, 1935-1990), penganut Tasawuf dan perintis Ingkarus Sunnah. Mati dibunuh oleh pengikutnya dengan disembelih dan ditusuk-tusuk dengan pisau dapur.
    • Asy-Syaikhah Manal Wahid Manna, wanita tersebut mulai melontarkan kesesatan sejak tahun 1995. Dan dipenjara oleh pemerintahan Mesir.
    • Tsurayya Manqus, seorang wanita peneliti, cendekiawan dalam bidang sejarah dari Yaman.
    • Muhammad Bakri, asal Yaman dan dibunuh oleh pengikutnya, kemudian disalib di atas papan kayu.
    • Muhammad Abdur Razak Abul ‘Ala, asal Sudan. Bekerja sebagai tukang jahit di Kairo.
    • Dan masih ada beberapa Dajjal yang mengaku Nabi dari berbagai negara lainnya seperti di Sudan, Saudi Arabia, Mesir, Libanon dan lainnya. dan akan selalu muncul dajjal-dajjal hingga hari kiamat

    NABI-NABI PALSU DI INDONESIA:

    1. Ahmad Musaddeq atau H. Abdul Salam (Lahir Jakarta, 1942), mengaku menjadi Nabi tanggal 23 Juli 2006. Pemim-pin Al-Qiyadah Al-Islamiyah di rezim Presiden Susilo Bam-bang Yudhoyono. Kitab suci: Al-Qur’an dengan pemahaman sendiri. Mengaku bertaubat tanggal 9 November 2007.
    2. Lia Aminuddin, pendiri agama Salamullah. Mengaku men-dapat wahyu dari malaikat Jibril dan mengklaim dirinya Nabi dan Rasul serta Imam Mahdi. Divonis hukuman 3 tahun penjara oleh Mahkamah Agung.
    3. Ahmad Mukti, putra dari Lia Aminuddin yang dianggap sebagai Nabi Isa.
    4. dan akan masih ada yang akan menambah deretan nabi palsu ini di indonesia dan dunia

    Diambil dari buku “Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat” oleh Hartono Ahmad Jaiz. Printed by Maktabah Salman 2008)

    Sumber: https://www.facebook.com/notes/abu-fahd-negaratauhid/daftar-nama-nama-dajjal-pendusta/382885926711

    Bahaiyyah (Bahai) Agama Baru di Indonesia - Konspirasi Zionis Yahudi dan Syiah Iran untuk Melemahkan Kaum Muslimin

    Bahaiyyah (Bahai) Agama Baru di Indonesia - Konspirasi Zionis Yahudi dan Syiah Iran untuk Melemahkan Kaum Muslimin

    Pemerintah Indonesia sekarang menambah daftar agama baru yang secara resmi diakui. Setelah Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Khonghucu, pemerintah menyatakan bahwa Baha'i merupakan agama yang keberadaannya diakui konstitusi.

    Hal itu diutarakan Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin melalui akun Twitter, @lukmansaifuddin. Politikus PPP tersebut menjelaskan alasan dan dasar pengakuan Baha'i sebagai agama yang diakui pemerintah dalam 10 serial kultwit. (baca: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/07/24/n97vws-menag-akui-bahai-sebagai-agama-baru-di-indonesia)

    --------------Selesai kutipan---------------

    Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

    لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلاَثِينَ، كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللهِ

    Tidak akan terjadi kiamat sampai muncul para dajjal pendusta, jumlah mereka mendekati 30 orang, setiap mereka mengaku sebagai utusan Allah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
    Sejarah Singkat Agama Baha’i dan “Nabi” Pencetusnya

    Agama Baha’i atau Al-Baha’iyyah berawal dari seorang pengikut sekte sesat Syi’ah yang mengaku sebagai nabi baru di Iran, bernama Mirza Ali Muhammad Asy-Syirozi yang mendirikan agama Al-Baabiyyah, pada malam Kamis 23 Maret 1844 M / 5 Jumadl Ula 1260 H, yang sampai hari ini dirayakan sebagai hari kelahiran agama tersebut dan penganutnya mengharamkan bekerja pada hari itu.[1]

    Lalu muridnya yang bernama Mirza Husain Ali bin Mirza Abbas An-Nuri Al-Mazindaroni yang bergelar Al-Baha’.[2] Ia lahir pada tahun 1233 H / 1817 M.[3] Ia belajar di Teheran, Iran, bergaul dengan orang-orang Sufi, kemudian bertemu dengan orang-orang Al-Baabiyah sampai akhirnya ia mencetuskan agama Al-Bahaa’iyyah sebagai pelanjut Al-Baabiyyah, ia meninggal tahun 1309 H / 1892 M dan dikuburkan di kota ‘Akkaa, Palestina, setelah mewasiatkan kepada anaknya yang bernama Abdul Baha’ untuk melanjutkan agamanya.[4]

    Hubungan Baha’i dengan Zionis Yahudi sangat kuat, mereka mendapat bantuan-bantuan Zionis Yahudi untuk mengembangkan agamanya, terutama berkaitan dengan kepentingan penjajahan Yahudi terhadap Palestina.[5]

    Sebagaimana orang-orang Baha’i juga memiliki hubungan baik dengan Inggris ketika menjajah Iran. Inggris memanfaatkan mereka untuk memecah belah kaum muslimin, seperti yang dilakukan Inggris di India dengan mendirikan agama boneka Ahmadiyah.[6]

    Beberapa Contoh Ajaran Sesat Al-Bahaiyyah:[7]

    1. Meyakini bersatunya Allah dengan sebagian makhluk-Nya, dan bahwa Allah telah bersatu dengan Al-Bab (Pendiri agama Al-Baabiyyah) dan muridnya Al-Baha’ (Pendiri agama Al-Bahaa’iyyah)
    2. Meyakini adanya reinkarnasi, dan bahwa pahala dan dosa hanya berlaku untuk ruh
    3. Meyakini semua agama benar, dan bahwa Taurat dan Injil belum dirubah-rubah (masih asli), dan memandang pentingnya menyatukan seluruh agama ke dalam agama Baha’i
    4. Meyakini kenabian Budha, Konfusius, Brahma, Zoroaster dan semisal mereka dari kalangan filosof India, Cina dan Persia
    5. Meyakini disalibnya Nabi Isa ‘alaihissalaam sebagaimana keyakinan Kristen
    6. Mengingkari mukjizat para nabi dan mengingkari adanya malaikat, jin, surga dan neraka
    7. Mengharamkan hijab (jilbab) bagi wanita, menghalalkan nikah kontrak (mut’ah), dan menyerukan ideologi sosialisme untuk wanita dan pengelolaan harta
    8. Meyakini bahwa agama Al-Baabiyah telah menghapuskan syari’at Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam
    9. Mentakwil kiamat dengan munculnya Al-Baha’ (Pendiri agama Bah’ai), adapun kiblat mereka ke Bahjah di ‘Akkaa Palestina, bukan Masjidil Haram
    10. Sholat mereka hanya 3 waktu dalam sehari, setiap sholat 3 raka’at, Shubuh, Zhuhur dan Sore. Berwudhu harus dengan air kembang, kalau tidak ada maka cukup membaca basmalah dengan lafaz “Bismillaah Al-Athhar Al-Athhar” sebanyak lima kali
    11. Tidak membolehkan sholat jama’ah kecuali sholat jenazah
    12. Mengkeramatkan angka 19, dan meyakini jumlah bulan dalam setahun 19 bulan, dan jumlah hari dalam setiap bulan 19 hari
    13. Berpuasa pada bulan Bahai saja, yaitu bulan Al-‘Alaa yang dimulai tanggal 2-21 Maret, dan ini adalah akhir bulan Baha’i, wajib menahan diri tidak makan dimulai dari terbitnya matahari sampai terbenam, setelah bulan puasa mereka masuk bulan berikutnya untuk merayakan hari raya Nairuz (hari raya Persia kuno)
    14. Mengharamkan jihad, membawa senjata dan mengacungkannya kepada musuh-musuh kafir, ini tanda pelayanan mereka terhadap kepentingan penjajahan
    15. Mengingkari Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam sebagai nabi terakhir, dan mengklaim bahwa wahyu masih berlanjut sepeninggal beliau
    16. Menihilkan syari’at haji ke Makkah, haji mereka ke kuburan Bahaaullaah di Bahjah, ‘Akka Palestina.

    Fatwa-fatwa Ulama Besar Dunia

    Fatwa Mufti Saudi Arabia Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ibnu Baz rahimahullah:


    س: الذين اعتنقوا مذهب ( بهاء الله ) الذي ادعى النبوة، وادعى أيضا حلول الله فيه , هل يسوغ للمسلمين دفن هؤلاء الكفرة في مقابر المسلمين؟

    ج : إذا كانت عقيدة البهائية كما ذكرتم فلا شك في كفرهم، وأنه لا يجوز دفنهم في مقابر المسلمين; لأن من ادعى النبوة بعد نبينا محمد صلى الله عليه وسلم فهو كاذب وكافر بالنص وإجماع المسلمين ; لأن ذلك تكذيب لقوله تعالى مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

    ولما تواترت به الأحاديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه خاتم الأنبياء لا نبي بعده، وهكذا من ادعى أن الله سبحانه حال فيه , أو في أحد من الخلق فهو كافر بإجماع المسلمين ; لأن الله سبحانه لا يحل في أحد من خلقه بل هو أجل وأعظم من ذلك، ومن قال ذلك فهو كافر بإجماع المسلمين مكذب للآيات والأحاديث الدالة على أن الله سبحانه فوق العرش قد علا وارتفع فوق جميع خلقه وهو سبحانه العلي الكبير الذي لا مثيل له ولا شبيه له

    Tanya: Orang-orang yang memeluk mazhab Bahaaulllah (agama Baha’i) yang mengklaim kenabian untuk pencetusnya, juga mengklaim bersatunya Allah dengan dirinya, apakah boleh bagi kaum muslimin menguburkan orang-orang kafir itu di pekuburan kaum muslimin?

    Jawab: Apabila keyakinan Baha’i seperti yang kalian katakan maka tidak diragukan lagi tentang kekafiran mereka, dan tidak boleh mereka dikuburkan di pekuburan kaum muslimin; karena orang yang mengaku sebagai nabi setelah diutusnya Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam adalah pendusta (dajjal) dan kafir berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah serta ijma’ (kesepakatan seluruh ulama) kaum muslimin, karena mendustkan firman Allah ta’ala,

    مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

    Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” [Al-Ahzab: 40]

    Dan telah mutawatir hadits-hadits dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bahwa beliau adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelah beliau.

    Demikian pula orang yang mengaku bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menyatu dengannya, atau dengan salah satu makhluk-Nya maka ia kafir berdasarkan ijma’ (kesepakatan seluruh ulama) kaum muslimin, karena Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah bersatu dengan salah satu makhluk-Nya, karena Allah lebih mulia dan lebih agung dari hal itu, barangsiapa yang mengatakan demikian maka ia kafir menurut ijma’ (kesepakan seluruh ulama) kaum muslimin, ia telah mendustakan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala di atas ‘arsy, di atas dan tinggi atas seluruh makhluk-Nya, dan Allah subhanahu wa ta’ala Maha Tinggi lagi Maha Besar yang tidak ada satu pun makhluk yang semisal dan serupa dengan-Nya…” [Majmu’ Al-Fatawa, 13/169-170]

    Fatwa Ulama Universitas Al-Azhar Mesir:

    “Alhamdulillaah, washholaatu wassalaamu ‘ala Rasulillaah Muhammad bin Abdillaah wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa man waalaah, waba’du:

    Sesungguhnya muncul agama Al-Baabiyyah atau Al-Bahaaiyyah di negeri Persia (Iran), sebuah ajaran bid’ah yang disebarkan oleh orang-orang yang membuat makar terhadap Islam…” [Fatawa Kibar Ulama Al-Azhar Asy-Syarif fil Bahaaiyyah wal Qodiyaaniyah, hal. 29]

    وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

    Catatan Kaki:
    1. Khafaaya Al-Bahaaiyyah, hal. 33, Ushul wa Tarikh Al-Firoq Al-Islamiyah, 2/74.
    2. Khafaaya Al-Bahaaiyyah, hal. 111, Ushul wa Tarikh Al-Firoq Al-Islamiyah 2/83.
    3. Al-Baabiyun wal Bahaaiyun, hal. 53, 58, 59, Ushul wa Tarikh Al-Firoq Al-Islamiyah 2/84.
    4. Ibid
    5. Lihat Khafaaya Al-Bahaaiyyah, hal. 115-119, Al-Baabiyyah wal Bahaaiyyah fil Mizan, hal. 23, Ushul wa Tarikh Al-Firoq Al-Islamiyah, 2/86.
    6. Al-Baabiyyah wal Bahaaiyyah fil Mizan, hal. 23, Ushul wa Tarikh Al-Firoq Al-Islamiyah, 2/86.
    7. Diterjemahkan dari: http://articles.islamweb.net/media/index.php?page=article&lang=A&id=74897
    Sumber:http://sofyanruray.info/sekte-sesat-bahai-melecehkan-islam-konspirasi-zionis-yahudi-dan-syiah-iran-untuk-melemahkan-kaum-muslimin/

Tauhid